Keysha

Keysha
Season 2 (Malam hangat)



Disisi lain, Nando langsung masuk kembali kedalam kamar, dan melihat Indira yang nampak melamun, dia pun mendekat kearah Indira dan memegang pundaknya perlahan.


"Indria," Lirih Nando.


Indira terkesiap melihat Nando yang sudah berada disampingnya, "eh Nando," ucap Indira.


"Kamu kenapa? ada yang kamu pikirkan?" tanya Nando halus.


"Nan, jangan perlakukan aku kaya gini, tolong bersikaplah biasa, atau kamu acuhkan aku," ucap Indira.


"Loh kenapa?" tanya Nando bingung.


"Aku takut, nanti aku bisa jatuh cinta sama kamu," ucap Indira seraya menunduk.


"Bukan kah itu bagus? Kitakan suami istri," ucap Nando.


Nando memegang dagu Indira agar Indira menatapnya, "dengar Indira, aku menikahi kamu dan mempertahankan rumah tangga kita, bukan sekedar karena janji ku pada kakek Harun, tapi karena aku merasa aku sudah berjanji didepan Yang Maha Kuasa, dan bagiku, pernikahan bukan main-main," jelas Nando.


Tiba-tiba saja, suara petir terdengar sangat kencang membuat Indira terkejut dan sontak memeluk Nando dengan erat, tak lama hujan pun turun membuat udara menjadi dingin saat itu juga.


Indira menatap Nando, dan pada saat itu pandangan mereka bertemu, Nando pun mendekat kan wajahnya dengan Indira mengikis jarak keduanya, dan bibir mereka pun bertemu, Nando ******* bibir Indira perlahan membiarkan Indira juga merasakan sensasinya lebih dulu, semakin lama ******* itu menjadi semakin dalam dan menuntut, dan malam itu menjadi malam pertama bagi Indira dan Nando, Indira sudah menyerahkan mahkotanya kepada suaminya yang tak lain kekasih dari sahabatnya sendiri.


Kanaya yang tengah makan malam dengan Raka menatap jendela yang basah karena guyuran air hujan, entah kenapa perasaannya tak enak, dia sudah menghubungi kedua orangtuanya dan keadaan mereka pun baik-baik saja.


Tiba-tiba, Kanaya teringat pada Nando yang telah membohonginya, "apa mungkin kegelisahan ku ini karena Nando?" batin Kanaya.


Keesokan harinya, Kanaya melihat ponselnya dan ternyata isu pesan dari Nando yang mengajak Kanaya bertemu pukul 2 siang nanti disalah satu cafe favorit Kanaya dan Nando, tentu saja Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan kekasih nya itu, dia juga ingin meminta penjelasan pada Nando kemana sebenarnya Nando semalam.


Kanaya pun bersemangat untuk joging keliling komplek, tepat didepan rumah dia melihat Felly yang tengah berlari kecil dengan Tama. Melihat pemandangan itu Kanaya merasa ikut senang, dia pun menghampiri ayah dan anak itu.


"Pagi," sapa Kanaya.


"Pagi aunty cantik," sapa Felly lagi.


"Wah, olahraga nih," tanya Kanaya.


"Iya aunty, sama Papah, iya kan Pah," ucap Felly kepada Tama.


"Iya sayang," jawab Tama seraya mengelus kepala Felly lembut, melihat perlakuan Tama kepada Fellysia Kanaya menjadi tersentuh, Tama benar-benar sudah berubah, sikapnya menjadi lebih dewasa.


"Kanaya, mau joging bareng?" tanya Tama.


Kanaya pun tersenyum mendengar ajakan dari Tama, "boleh," jawab Kanaya semangat.


"Ya sudah ayo." mereka bertiga pun mulai berlari kecil menyeimbangkan langkah kecil Felly, tetangga yang melihat Kanaya, Tama dan Felly ikut tersenyum, karena mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, begitu serasi.


Ditengah perjalanan, Felly mengeluh lelah, akhirnya mereka pun memutuskan untuk beristirahat di lapangan komplek, disana juga cukup ramai banyak anak-anak dan orang tua yang tengah berolahraga kecil, atau sekedar bermain.


"Felly capek?" tanya Kanaya.


"Iya aunty," jawab Felly seraya mengusap peluh di dahinya.


"Sinih," Kanaya membawa Felly untuk duduk didepannya seraya meluruskan kaki, begitupun Kanaya, tidak lupa Kanaya juga memijit kecil kaki Fellysia agar lebih rilex.


"Gimana enak?" tanya Kanaya.


"Enak aunty," jawab Felly seraya tersenyum, melihat kedekatan Kanaya dan Felly, senyum Tama terbit, selama ini Felly hanya merasakan kasih sayang seorang ayah darinya, Felly belum benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Nay, aku pamit beli minum dulu ya?" pamit Tama.


"Iya," jawab Kanaya.


Tak lama Tama pun kembali dengan membawa 3 botol, kemudian memberikan kepada Kanaya dan Felly.


"Aku gak pernah lagi lihat Nando datang kerumah kamu," ucap Tama, topik tengang Nando menjadi awal pembicaraan mereka.


"Iya, Nando lagi sibuk," jawab Kanaya sekenanya.


"Oh iya, kamu udah tahu belum, kakek Harun meninggal kemarin."


Sontak Tama terkejut mendengar berita itu, "apa? kok nggak ada yang ngasih kabar sih?" tanya Tama.


"Iya, kemarin aja aku kaget," jawab Kanaya.


"Innalilahiwainnailaihirojiun, meninggal kenapa?" tanya Tama.


"Aku nggak tahu pasti, tapi kayaknya sakit."


"Aku pengen ketemu Indira, mau nggak kamu nemenin aku Nay?" tanya Tama.


"Nanti sore ya, jam 2 aku mau ketemu Nando dulu, habis ketemu Nando aku langsung anter kamu kok," ucap Kanaya.


"Ya udah aku anter aja kamu sekalian kesana, soalnya aku juga mau beli kue deket situ, itu kesukaan Tante Bella."


"Kalau lama gimana?" tanya Kanaya tak enak.


"Nggak papa aku tunggu," jawab Tama.


"Oke deh, jam 2 jangan lupa," ucap Kanaya lagi mengingatkan.


Nando dan Indira tengah berada di perjalanan menuju rumah sakit, karena mereka tidak libur, namun jam 2 nanti praktek mereka selesai.


"Kamu yakin, hari ini kamu akan mengatakan semuanya kepada Kanaya?" tanya Indira.


"Iya, bagaimana pun aku harus jujur dengan Kanaya, aku tidak mau terus menerus menyimpan rahasia besar ini sayang," ucap Nando kepada Indira, panggilan sayang Nando yang biasa dia gunakan untuk Kanaya, kini sudah dia panggil untuk Indira.


"Semoga Kanaya bisa mengerti ya?" ucap Indira penuh harap.


"Iya sayang," jawab Nando.


Jam 2 siang, Nando dan Indira sama-sama pergi menuju cafe tempatnya akan bertemu dengan Kanaya, mereka lebih dulu tiba di cafe, sedari tadi Nando terus meyakinkan Indira, bahwa dia akan selalu disisi Indira apapun yang terjadi.


Disisi lain, Kanaya juga dalam perjalanan menuju cafe bersama Tama, mereka tak hanya berdua melainkan ada supir Tama juga.


Selama perjalanan Kanaya merasa gelisah, hatinya terus berdebar, dia tidak tahu kenapa, tapi firasat nya mengatakan ada hal yang akan terjadi, dan itu hal buruk.


"Mamah sama papah jelas udah aman, karena mereka udah pulang, terus kenapa ya? Nando aja udah di cafe," batin Kanaya.


Sedari tadi, Tama memperhatikan Kanaya, sangat terlihat kalau Kanaya nampak risau, dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Kanaya tengah gelisah.


"Kamu kenapa Nay?" tanya Tama.


Kanaya terkesiap ternyata Tama memperhatikan nya, "aku nggak papa kok Tam," jawab Kanaya.


"Nggak usah bohong Naya, aku tahu kamu lagi gelisah," ujar Tama.


Kanaya pun menunduk dalam, "entahlah Tam, sejak kemarin aku selalu gelisah, apalagi semalam aku mendapati Nando membohongi ku."


"Nando membohongi kamu apa?" tanya Tama penasaran.


"Semalam Nando bilang dia berada di apartemennya, tapi saat aku datang kesana, menurut satpam Nando pergi sejak siang dan belum kembali, dan sifat Nando berubah, panggilannya tak sehangat dulu," jelas Kanaya sendu.


"Mungkin dia ingin memberikan kamu kejutan, kan banyak laki-laki yang melakukan prank dengan cara membuat pasangannya kesal, tapi ternyata dia malah melamar kekasihnya, kamu pernah lihat acara seperti itu kan?" tanya Tama.


"Iya sih," jawab Kanaya ragu.


"Yakinlah, Nando tidak akan berbuat yang macam-macam ke kamu Kanaya," ucap Tama meyakinkan.


"Iya Tam, makasih ya."


"Sama-sama."


Akhirnya, merekapun sampai di cafe tempat Kanaya dan Nando akan bertemu, Kanaya masuk kedalam cafe sedangkan Nando masuk kedalam toko kue.