
Devan tengah menghadiri suatu acara, yaitu reuni bersama
teman SMA nya, namun sepertinya Devan kurang tertarik dengan acara reuni kali
ini, karena banyak yang menanyakan tentang pernikahan, atau ada juga wanita
yang dengan terang-terangan mendekati Devan. Devan sendiri memilih untuk duduk
dikursi pojok yang cukup sepi, disana juga ada 2 sahabatnya yang tengah duduk
sambil menyesap minumannya dan mengepulkan asap yang keluar dari bibir mereka.
“Kenapa loe kusem amat tuh muka,” tanya Nando salah satu
sahabat Devan.
“Paling masalah perjodohan lagi,” sahut Alby.
Devan pun menghela napas nya lelah, “kakek gue tambah kacau,
dia jodohin gue sama cucu temenya berasal dari kampung,” ucap Devan kesal.
Sontak saja jawaban Devan malah membuat kedua temannya
tertawa terbahak-bahak.
“Devan … Devan … loe itu masih muda, baru 26 tahun, apa sih
yang kakek loe takutin, sampe dia ngebet banget loe nikah,” ujar Nando setelah
meredakan tawanya.
“Gue juga gak tahu,” jawab Devan seraya mengedikkan bahunya
acuh.
“Emang loe nggak bisa nolak permintaan kakek loe?” tanya
Alby.
“Enggak bisa, kakek mengancam akan mencabut semua fasilitas,
dan gue bakalan dicabut dari ahli waris,” jawab Devan.
“Kejam banget kakek loe,” ucap Alby seraya bergidik ngeri.
“Udahlah Dev, nggak usah mikirin perjodohan dulu, mending
sekarang loe nikmatin deh acaranya,” ucap Nando memberikan saran.
Merekapun akhirnya mengganti topic pembicaraan menjadi
seputar pekerjaan, Devan adalah seorang pebisnis muda yang sukses, diusianya
yang masih cukup muda yaitu 26 tahun, Devan sudah menjadi pebisnis yang cukup
terkenal, karena bisa memajukan perusahaan hingga berkembang semakin pesat.
Devan hanya tinggal memiliki ibu, karena ayahnya sudah
meninggal saat Devan berusia 18 tahun, dan diusianya yang masih menginjak
remaja itulah Devan dididik sedemikian rupa agar bisa menguasi ilmu bisnis,
kakeknya sendiri yang tak lain bernama Ilham lah yang mendidik Devan, hingga
Devsn bisa sesukses sekarang ini.
Devan baru saja pulang dari acara reuninya, padahal malam sudah
cukup larut, Devan juga sebenarnya tahu kalau hari ini wanita yang akan
dijodohkan dengannya akan datang, namun nampaknya Devan tak tertarik sama
sekali, Devan langsung melangkah menuju kamarnya karena dia merasa badannya mulai
letih, tadi di kantor Devan sempat mandi lebih dulu karena badannya terasa
lengket setelah seharian bekerja, belum lagi dia juga harus datang keacara
reuni. Akrinya sampailah Devan dikamar nya, kamar yang menurutnya tempat paling
privasi bagi Devan, itulah sebabnya Devan melarang orang lain untuk masuk
kedalam kamarnya,bahkan bagi asisten rumah tangga yang ingin membersihkan kamarnya pun harus diawasi
oleh Devan langsung.
Devan langsung merebahkan ditubuhnya diranjang, setelah
lebih dulu Devan melepaskan kemeja dan jasnya, kini Devan hanya mengenakan kaos
oblong serta boxer yang panjangnya hanya diatas lutut, karena lampu yang redup,
Devan tidak menyadari kalau ada orang lain yang tengah tertidur dikamarnya.
Devan memejamkan matanya yang lelah, mencoba mengistirahatkan badan nya, namun
Devan mencium aroma yang sangat dia kenal, aroma yang sama dengan wanita yang
telah menolongnya beberapa tahun lalu, aroma tersebut membuat Devan semakin
tenang, hingga tanpa sadar Devan memeluk Anyelir yang tengah tertidur pulas
disampingnya, karena Devan memang sudah sangat lelah dia pun tertidur dengan
lelapnya, tak dapat dipungkiri hanya mencium aroma tubuh itu saja, Devan
langsung merasa tenang.
Olivia keluar dari kamarnya, setelah sebelumnya mengecek
penampilannya lewat pantulan cermin, Olivia harus terlihat sempurna dan menarik
dihadapan Devan, kenapa? tentu saja karena Olivia menyukai Devan, Olivia memang
Olivia ingin menemani Farah, kedua orangtua Olivia berada di Amerika, mereka tengah
mengolah bisnis disana.
Sebenarnya sudah lama Olivia memendam perasaannya kepada
Devan, namun Olivia belum berani mengungkapkan perasaannya, Devan juga begitu
baik kepada Olivia, karena Devan sendiri sudah menganggap Olivia selayaknya
adik kandung sendiri.
Olivia menatap pintu kamar Devan yang masih tertutup rapat,
merasa penasaran dia pun mendekatkan telinganya kearah tangga.
“Kenapa nggak ada suara rebut-ribut sama sekali?” batin
Olivia, dia pun mencoba mengetuk pintu kamar Devan.
Suara ketukan pintu membangunkan dua orang yang masih
bergulung dibawah selimut, hingga akhirnya keduanya saling menatap, karena
posisi mereka berdua adalah saling memeluik. Devan dan Anyelir membelalakkan
matanya, Anyelir juga berteriak karena terkejut ada lelaki yang berada satu
ranjang dengannya.
“siapa kamu?” tanya Anyelir seraya menutup tubuhnya dengan
selimut, padahal bajunya juga masih lengkap, karena semalam mereka tidak
melakukan apapun.
“Hei, harusnya aku yang tanya, siapa kamu? dan kenapa kamu
ada di kamar ku?” tanya Devan sengit.
“Apa? Ini kamar kamu?” tanya Anyelir, dia pun mencoba
mengingat kembali ketika dia masuk kedalam kamar Devan.
“Pantas saja kamar ini banyak peralatan lelaki, belum lagi
cat dikamar ini, aaarrgghh bodoh kamu Anyelir, harusnya kamu tidak mudah
percaya dengan wanita itu, dia pasti sengaja menjebakku,” batin Anyelir
merutuki dirinya sendiri.
“Hei, aku tanya kenapa kamu ada disini?” tanya Devan lagi
dengan tidak sabaran.
“Ini karena Olivia sendiri yang menyuruhku datang kemari, “
jawab Anyelir berani.
Devan tertawa meledek, “kamu pikir aku percaya? Untuk apa
Olivia melakukan hal itu hah?” raut wajahnya berubah sengit.
“Ya mana aku tahu,” jawab Anyelir malas.
“Dasar pembohong,” seru Devan.
Anyelir menatap mata Devan penuh kebencian, dia sangat kesal
karena dicap pembohong oleh Devan, “sudah cepat katakan dimana kamarku,” ujar
Anyelir tak kesal.
“Disamping kamar ini, sekarang juga keluar dari kamarku, dan
jangan pernah lagi masuk kedalam kamar ku tanpa seizinku,” ucap Devan penuh
penekanan
“Tanpa kamu minta pun aku sudah tahu,” jawab Anyelir, dia
pun segera keluar dari kamar Devan dengan membawa kopernya keluar,tak lupa juga
Anyelir mengambil barang-barang dan pakaian kotornya yang ada di kamar mandi,
saat keluar dari kamar, Anyelir melihat sepupu Devan yang tak lain Olivia
tengah berdiri tak jauh dari pintu, Anyelir tersenyum smirk, dia punya rencana untuk
membalas perbuatan Olivia.
Anyelir berhenti tepat didepan Olivia, “terimakasih ya
Olivia, berkat kamu semalam aku tidur dengan nyenyak, karena Devan memelukku
sepanjang malam, dan aku rasa, aku dan Devan akan segera menikah, karena
hubungan kami benar-benar baik, Devan juga menerima perjodohan ini, sekali lagi
terimakasih ya,” setelah mengatakan itu, Anyelir meninggalkan Olivia yang
tengah ersulut emosi karena cemburu.
Kamar Devan memang kedap suara, jadi tentu saja Olivia tidak
mendengar suara keributan antara Devan dan juga Anyelir, tentu Olivia percaya
dengan ucapan Anyelir, Anyelir sendiri langsung pergi meninggalkan Olivia yang
tengah mengepalkan tangannya kuat karena emosi.