
Sudah 2 hari, Felly menginap di kediaman Kanaya, gadi kecil
itu nampak sangat nyaman dan betah tinggal bersama Kanaya dan keluarganya.
Setiap berangkat sekolah, maka Kanaya yang akan mengantar, namun jika siang
hari saat Felly pulang, maka Tama yang akan menjemput dan dibawa ke kantor.
Keadaan Keysha sudah jauh lebih baik, bahkan suster sudah tidak lagi datang
untuk mengecek kondisi Keysha, karena memang sudah tinggal proses pemulihan.
Namun ada satu hal, Marvel belum juga mencabut tuntutannya.
Dia sengaja melakukan itu, karena Marvel punya rencana besar untuk Indira,
sebagai hadiah karena sudah menghancurkan hati putrinya dan juga istri
tercintanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Kanaya baru saja
selesai membacakan dongeng untuk Felly, kini gadis mungil itu sudah terlelap
dari tidurnya. Kanaya menatap lekat wajah Felly yang begitu cantik, Kanaya
sudah benar-benar menyayangi Felly dan bahkan sudah menganggap Felly seperti
putri kandungnya sendiri.
Cup… Kanaya mencium kening Felly penuh sayang, “selamat
malam sayang, mimpi indah yaa,” ucap Kanaya lirih. Dia pun keluar dari
kamarnya, karena mamah, papah serta adik Kanaya masih berkumpul diruang
keluarga.
“Felly udah tidur sayang?” tanya Keysha.
“Udah Mah,” jawab Kanaya sembari duduk di samping Raka.
“Wahh lagi training nih,” ledek Raka.
“Apaan sih,” Kanaya mencubit lengan adiknya karena kesal,
tapi semua itu terhenti ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi.
“Biar aku aja Mah,” ucap Raka ketika melihat Keysha hendak
bangkit dari duduknya. Raka pun menuju pintu utama, rupanya Tama yang datang.
“Wahh ternyata calon kakak ipar yang dateng,” ledek Raka.
“Apa sih Raka, Felly mana?” Tama mencoba mengalihkan ledekan
dari Raka, Tama merasa salah tingkah ketika Raka memanggilnya dengan sebutan
itu.
“Kak Tama gimana sih, kalau kangen kak Kanaya bilang aja,
nggak usah pake nanyain Felly segala. Jam segini ya Felly udah tidur kak,”
jawab Raka seraya tertawa, semakin membuat Tama salah tingkah.
“Ya udah ayo kak masuk,” ajak Raka.
Tama nampak tidak enak, hari sudah cukup malam, “enggak deh,
udah cukup malam aku disini aja, nggak enak juga sama tetangga, meski kami
nggak sendiri tapi kan tetangga bisa berpikir lain,” tolak Tama halus.
“Ya udah, kalau gitu aku panggil kak Kanaya aja ya?” Raka
pun kembali masuk dan memanggil kakaknya yang tengah bercengkrama dengan Marvel
dan Keysha.
“Kak, ada kak Tama tuh didepan.”
“Loh, kok nggak disuruh masuk?” tanya Marvel.
“Udah Pah, tapi kak Tama nolak, katanya nggak enak takut
tetangga salah sangka,” jelas Raka.
“Ya udah sayang, kamu temuin Tama gih,” ujar Keysha kepada
putri sulungnya.
“Iya Nak, salam aja ya buat Tama, Papah sama Mamah nggak
bisa nemuin Tama, kasihan Mamah,” Keysha memang masih pemulihan, jadi Marvel
benar-benar membatasi gerak Keysha, bahkan Keysha juga dilarang kena angina malam.
“Iya Pah,” jawab Kanaya paham.
“Bawain apa kek Kak, buat calon suami, kasihan baru pulang
kerja,” ledek Raka, akhirnya dia pun mendapatkan hadiah jitakan dikepalanya
dari Kanaya yang gemas karena adiknya itu terus saja menggoda dirinya.
Kanaya melangkah menuju teras rumah, setelah sebelumnya dia
membuatkan sandwich untuk Tama, karena takut Tama belum makan malam. Kanaya
duduk disamping Tama yang dibatasi oleh meja bundar kecil.
“Pasti capek ya ngurus Felly?” tanya Tama, dia juga tengah
menikmati sandwich buatan Kanaya.
sama Felly itu hal yang menyenangkan,” jawab Kanaya.
“Makasih ya Nay, kamu udah sayang sama Felly, makasih udah
mau jadi ibu buat Felly … selama ini dia selalu berharap bisa merasakan kasih
sayang seorang ibu, yang nggak pernah bisa dia dapatkan dari dulu,” ucap Tama.
“Jangan berterimakasih Tama, apa yang aku lakukan, itu semua
sama seperti apa yang kamu lakukan juga.”
“Oh iya, besok kata Mamah kita harus ke butik buat fitting,”
ujar Kanaya menyampaikan pesan dari Keysha.
“Iya, aku pastikan besok akan pulang sama dengan jam pulang
kamu Kanaya, besok aku antar kamu ke kantor ya?”
“Boleh,” kemudian mereka berdua kembali melanjutkan obrolan
seputar persiapan pernikahan mereka. Tama menceritakan detail nuansa dekorasi,
itu semua sama seperti apa yang Kanaya impikan. Secara tidak sadar, Kanaya juga
menantikan hari H itu tiba, namun dia masih malu untuk mengakuinya.
Disis lain, Marvel baru saja mengantarkan Keysha ke kemarnya
untuk beristirahat, setelah itu dia kembali ke ruang keluarga berbincang dengan
Raka putra bungsunya.
“Pah, jadi kapan Papah mau bebasin Indira. sejak kemarin
tante Bella terus hubungin Mamah, tapi untung aja aku yang lihat pertama kali,
dan aku langsung blok nomor tante Bella, takut dia ngadu ke mamah soal Papah
yang masukin Indira ke penjara.”
“Tapi Papah tenang aja, aku udah chat tante Bella dan
memberikan dia peringatan supaya dia lebih sabar lagi, aku mengancam tante
Bella kalau dia terus meneror mamah, maka bisa aja Papah berubah pikiran untuk
mencabut tunttutan.” Jelas Raka dengan bangga.
Marvel tersenyum dengan kerja putranya itu, “kerja bagus,”
puji Marvel.
“Tapi untuk kapan Papah mencabut tuntutan, Papah masih
menunggu waktu yang tepat,” jawab Marvel seraya menyeringai.
“Kapan Pah?” tanya Raka penasaran.
“Kamu tunggu saja,” rupanya Marvel dan Tama sudah memiliki
rencana untuk menghancurkan Indira, dan semua mimpinya. Jahat? Jangan berpikir
Marvel jahat, karena apa yang Marvel lakukan tidak sebanding dengan apa yang
sudah Indira dan Bella lakukan kepada dua wanita yang paling berarti dalam
hidup Marvel.
Sebagai seorang suami, dan juga Ayah, Marvel tidak akan
terima melihat putrinya disakiti dan dikhianti, Marvel juga tidak terima
melihat istrinya yang begitu jahatnya dipermalukan, dikatai dan difitnah. Maka dari
itu Marvel mengambil langkah tegas, dia tidak mau keluarganya terus menerus
diinjak-injak oleh keluarga Aditya, Marvel akan menunjukkan siapakah itu Marvel
Atmadja.
^^^
Disisi lain, Bella tengah kesal karena dia merasa dibohingi
oleh Marvel, padahal Marvel sudah berkata bahwa dia kan membebaskan Indira,
namun sudah sampai sekarang belum juga ada kabar apapun dari Marvel. Bella dan
Aditya hanya diminta untuk bersabar dan terus bersabar tanpa kejelasan yang
pasti. Bella benar-benar tidak tega melihat kondisi Indira yang begitu
memprihatinkan selama dalam sel, belum lagi karir Indira, masa skors dan cuti
Indira sudah hampir habis, dan dua hari lagi Indira sudah harus mulai kembali
bekerja.
“Gimana ini mas? Kamu apa nggak kepikiran sama anak kita?”
tanya Bella sembari terus mondar-mandir.
“Bell, kalau kamu terus panic begini, kau malah jadi bingung
sendiri. Aku sudah berusaha, tapi kamu dengarkan? Kita harus sabar atau usaha
kita hanya akan sia-sia. Dan aku peringatkan kamu untuk tidak bertindak
gegabah.” Ujar Aditya memperingatkan istrinya yang selalu saja bertindak
sesukanya sendiri.