Keysha

Keysha
Rencana untuk Indira



Sudah 2 hari, Felly menginap di kediaman Kanaya, gadi kecil


itu nampak sangat nyaman dan betah tinggal bersama Kanaya dan keluarganya.


Setiap berangkat sekolah, maka Kanaya yang akan mengantar, namun jika siang


hari saat Felly pulang, maka Tama yang akan menjemput dan dibawa ke kantor.


Keadaan Keysha sudah jauh lebih baik, bahkan suster sudah tidak lagi datang


untuk mengecek kondisi Keysha, karena memang sudah tinggal proses pemulihan.


Namun ada satu hal, Marvel belum juga mencabut tuntutannya.


Dia sengaja melakukan itu, karena Marvel punya rencana besar untuk Indira,


sebagai hadiah karena sudah menghancurkan hati putrinya dan juga istri


tercintanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Kanaya baru saja


selesai membacakan dongeng untuk Felly, kini gadis mungil itu sudah terlelap


dari tidurnya. Kanaya menatap lekat wajah Felly yang begitu cantik, Kanaya


sudah benar-benar menyayangi Felly dan bahkan sudah menganggap Felly seperti


putri kandungnya sendiri.


Cup… Kanaya mencium kening Felly penuh sayang, “selamat


malam sayang, mimpi indah yaa,” ucap Kanaya lirih. Dia pun keluar dari


kamarnya, karena mamah, papah serta adik Kanaya masih berkumpul diruang


keluarga.


“Felly udah tidur sayang?” tanya Keysha.


“Udah Mah,” jawab Kanaya sembari duduk di samping Raka.


“Wahh lagi training nih,” ledek Raka.


“Apaan sih,” Kanaya mencubit lengan adiknya karena kesal,


tapi semua itu terhenti ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi.


“Biar aku aja Mah,” ucap Raka ketika melihat Keysha hendak


bangkit dari duduknya. Raka pun menuju pintu utama, rupanya Tama yang datang.


“Wahh ternyata calon kakak ipar yang dateng,” ledek Raka.


“Apa sih Raka, Felly mana?” Tama mencoba mengalihkan ledekan


dari Raka, Tama merasa salah tingkah ketika Raka memanggilnya dengan sebutan


itu.


“Kak Tama gimana sih, kalau kangen kak Kanaya bilang aja,


nggak usah pake nanyain Felly segala. Jam segini ya Felly udah tidur kak,”


jawab Raka seraya tertawa, semakin membuat Tama salah tingkah.


“Ya udah ayo kak masuk,” ajak Raka.


Tama nampak tidak enak, hari sudah cukup malam, “enggak deh,


udah cukup malam aku disini aja, nggak enak juga sama tetangga, meski kami


nggak sendiri tapi kan tetangga bisa berpikir lain,” tolak Tama halus.


“Ya udah, kalau gitu aku panggil kak Kanaya aja ya?” Raka


pun kembali masuk dan memanggil kakaknya yang tengah bercengkrama dengan Marvel


dan Keysha.


“Kak, ada kak Tama tuh didepan.”


“Loh, kok nggak disuruh masuk?” tanya Marvel.


“Udah Pah, tapi kak Tama nolak, katanya nggak enak takut


tetangga salah sangka,” jelas Raka.


“Ya udah sayang, kamu temuin Tama gih,” ujar Keysha kepada


putri sulungnya.


“Iya Nak, salam aja ya buat Tama, Papah sama Mamah nggak


bisa nemuin Tama, kasihan Mamah,” Keysha memang masih pemulihan, jadi Marvel


benar-benar membatasi gerak Keysha, bahkan Keysha juga dilarang kena angina malam.


“Iya Pah,” jawab Kanaya paham.


“Bawain apa kek Kak, buat calon suami, kasihan baru pulang


kerja,” ledek Raka, akhirnya dia pun mendapatkan hadiah jitakan dikepalanya


dari Kanaya yang gemas karena adiknya itu terus saja menggoda dirinya.


Kanaya melangkah menuju teras rumah, setelah sebelumnya dia


membuatkan sandwich untuk Tama, karena takut Tama belum makan malam. Kanaya


duduk disamping Tama yang dibatasi oleh meja bundar kecil.


“Pasti capek ya ngurus Felly?” tanya Tama, dia juga tengah


menikmati sandwich buatan Kanaya.


sama Felly itu hal yang menyenangkan,” jawab Kanaya.


“Makasih ya Nay, kamu udah sayang sama Felly, makasih udah


mau jadi ibu buat Felly … selama ini dia selalu berharap bisa merasakan kasih


sayang seorang ibu, yang nggak pernah bisa dia dapatkan dari dulu,” ucap Tama.


“Jangan berterimakasih Tama, apa yang aku lakukan, itu semua


sama seperti apa yang kamu lakukan juga.”


“Oh iya, besok kata Mamah kita harus ke butik buat fitting,”


ujar Kanaya menyampaikan pesan dari Keysha.


“Iya, aku pastikan besok akan pulang sama dengan jam pulang


kamu Kanaya, besok aku antar kamu ke kantor ya?”


“Boleh,” kemudian mereka berdua kembali melanjutkan obrolan


seputar persiapan pernikahan mereka. Tama menceritakan detail nuansa dekorasi,


itu semua sama seperti apa yang Kanaya impikan. Secara tidak sadar, Kanaya juga


menantikan hari H itu tiba, namun dia masih malu untuk mengakuinya.


Disis lain, Marvel baru saja mengantarkan Keysha ke kemarnya


untuk beristirahat, setelah itu dia kembali ke ruang keluarga berbincang dengan


Raka putra bungsunya.


“Pah, jadi kapan Papah mau bebasin Indira. sejak kemarin


tante Bella terus hubungin Mamah, tapi untung aja aku yang lihat pertama kali,


dan aku langsung blok nomor tante Bella, takut dia ngadu ke mamah soal Papah


yang masukin Indira ke penjara.”


“Tapi Papah tenang aja, aku udah chat tante Bella dan


memberikan dia peringatan supaya dia lebih sabar lagi, aku mengancam tante


Bella kalau dia terus meneror mamah, maka bisa aja Papah berubah pikiran untuk


mencabut tunttutan.” Jelas Raka dengan bangga.


Marvel tersenyum dengan kerja putranya itu, “kerja bagus,”


puji Marvel.


“Tapi untuk kapan Papah mencabut tuntutan, Papah masih


menunggu waktu yang tepat,” jawab Marvel seraya menyeringai.


“Kapan Pah?” tanya Raka penasaran.


“Kamu tunggu saja,” rupanya Marvel dan Tama sudah memiliki


rencana untuk menghancurkan Indira, dan semua mimpinya. Jahat? Jangan berpikir


Marvel jahat, karena apa yang Marvel lakukan tidak sebanding dengan apa yang


sudah Indira dan Bella lakukan kepada dua wanita yang paling berarti dalam


hidup Marvel.


Sebagai seorang suami, dan juga Ayah, Marvel tidak akan


terima melihat putrinya disakiti dan dikhianti, Marvel juga tidak terima


melihat istrinya yang begitu jahatnya dipermalukan, dikatai dan difitnah. Maka dari


itu Marvel mengambil langkah tegas, dia tidak mau keluarganya terus menerus


diinjak-injak oleh keluarga Aditya, Marvel akan menunjukkan siapakah itu Marvel


Atmadja.


^^^


Disisi lain, Bella tengah kesal karena dia merasa dibohingi


oleh Marvel, padahal Marvel sudah berkata bahwa dia kan membebaskan Indira,


namun sudah sampai sekarang belum juga ada kabar apapun dari Marvel. Bella dan


Aditya hanya diminta untuk bersabar dan terus bersabar tanpa kejelasan yang


pasti. Bella benar-benar tidak tega melihat kondisi Indira yang begitu


memprihatinkan selama dalam sel, belum lagi karir Indira, masa skors dan cuti


Indira sudah hampir habis, dan dua hari lagi Indira sudah harus mulai kembali


bekerja.


“Gimana ini mas? Kamu apa nggak kepikiran sama anak kita?”


tanya Bella sembari terus mondar-mandir.


“Bell, kalau kamu terus panic begini, kau malah jadi bingung


sendiri. Aku sudah berusaha, tapi kamu dengarkan? Kita harus sabar atau usaha


kita hanya akan sia-sia. Dan aku peringatkan kamu untuk tidak bertindak


gegabah.” Ujar Aditya memperingatkan istrinya yang selalu saja bertindak


sesukanya sendiri.