
Hari pernikahan Tama dan Vanes pun tiba, gedung tempat berlangsungnya acara ijab qobul sudah dihias dengan indah, meskipun hanya akan ada acara ijab qobul tanpa resepsi, namun tempat acara tetap di di gelar di tempat yang cukup megah, nuansa putih dan biru menjadi tema di acara pernikahan Tama dan Vanes, mereka semua tengah sibuk mempersiapkan diri masing-masing, begitu juga Tama, dia masih asik menatap pantulan nya di cermin.
Sedangkan Vanes tengah dirias sekarang, namun sedari tadi perut Vanes merasa tak nyaman, beberapa kali juga Vanes merasa mual.
"Mba Vanes ngga papa?" tanya sang perias.
"Nggak papa kok, saya cuman masuk angin," jawab Vanes.
"Oh begitu mba, ya sudah kami lanjutkan ya," perias pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Namun disisi lain, suasana haru tengah dirasakan oleh keluarga Keysha dan Marvel, mereka tengah sedih, karena Putri sulung mereka akan pergi jauh ke Amerika.
"Kamu sudah siap Nak?" tanya Marvel.
"Sudah Pah," jawab Kanaya.
"Kami antar sampai bandara ya?" tanya Keysha.
"Nggak perlu mah, aku berpamitan disini saja, mamah dan papah harus datang ke pernikahan Tama dan Vanes, nggak enak sama Tante Anisa dan om Oki, biar bagaimanapun berkat om Oki aku jadi punya banyak pengalaman di bidang kesehatan."
"Baiklah Nak, kamu hati-hati ya," Keysha memeluk Putri nya sendu, rasanya berat sekali melepaskan Kanaya untuk pergi ke Amerika.
"Pah," Kanaya bergantian memeluk Marvel.
"Kamu jaga diri disana baik-baik Nak," ucap Marvel.
"Kak," Raka memeluk kakaknya, Raka juga berat hati melepas Kanaya pergi.
"Kamu belajar yang rajin ya," ucap Kanaya menasehati.
"Iya Kak, aku mau belajar yang rajin, supaya bisa kuliah di Amerika, terus bisa jagain kakak disana, iya kan Pah?" tanya Raka meminta persetujuan.
"Nggak bisa, kamu kuliah di Indonesia aja, banyak kok tempat kampus yang bagus," ucap Keysha.
"Mamah...." rengek Raka.
"Udah nggak usah nangis, nanti kalau libur sekolah kan, kamu bisa datang ke Amerika sama Mamah dan Papah," ujar Kanaya.
"Tuh, denger apa kata kakak kamu," ujar Marvel.
"Ya sudah Mah, Pah aku berangkat ya," Kanaya menyalimi tangan kedua orangtuanya, setelah itu diapun menyeret koper dan masuk kedalam mobil.
Keysha, Marvel dan Raka masih menatap mobil yang dinaiki Kanaya hingga benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
"Kanaya akan baik-baik aja kan Pah?" tanya Keysha sendu.
"Tenanglah, aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," jawab Marvel, dia memang sudah menyiapkan apartemen dengan tingkat keamanan tinggi, serta kendaraan mobil yang akan Kanaya gunakan selama di Amerika.
"Ya sudah, kita ke acara pernikahan Tama sekarang," ajak Marvel, karena mereka semua sudah siap, Marvel, Keysha dan Raka pun langsung berangkat menuju lokasi.
Kanaya menatap layar ponselnya, dia sudah memblokir semua akses agar Tama dan Kanaya tak lagi saling berhubungan, bagi Kanaya ini adalah jalan yang terbaik.
"Selama tinggal Tama, restuku menyertai pernikahan kamu, ini adalah ikhlas ku yang paling serius, semoga kamu dan Vanes selalu bahagia." Batin Kanaya.
Kanaya memang meninggalkan Indonesia, namun tidak kenangannya, semua yang terjadi sudah di simpan rapi dalam memori ingatan nya, lalu bagaimana dengan hati? biarlah waktu yang akan menjawab.
Disisi lain, Keluarga Marvel baru saja tiba, Keysha dan Marvel menemui Anisa dan Oki yang kini berada di ruangan mempelai pria.
"Om, Tante," Tama menyalimi tangan Keysha dan Marvel.
"Kok baru dateng?" tanya Anisa.
"Iya ada keperluan tadi," jawab Keysha.
"Oh iya? Kanaya mana?" tanya Anisa.
"Iya Om, Tante, aku belum lihat Kanaya, apa Kanaya datang dengan Indira?" tanya Tama.
"Kak Kanaya nggak akan datang," sela Raka.
"Tidak akan datang? kenapa?" tanya Tama bingung, namun Keysha, Marvel, dan Raka nampak enggan menjawab.
"Apa Kanaya masih marah denganku?" pikir Tama.
"Key, Kanaya kenapa? jangan bikin aku panik," ucap Anisa, namun berbeda dengan Oki, dia nampak tenang, karena Oki sebelum nya sudah tahu.
"Kanaya pergi keluar negeri hari ini, dia mendapatkan tawaran pekerjaan disana" jawab Marvel.
"Papah tahu?" tanya Anisa kepada suaminya.
"Iya, Kanaya sudah memberikan surat pengunduran dirinya kemarin," jawab Oki.
"Kenapa papah nggak bilang?" tanya Anisa.
"Ini amanat dari Kanaya, tentu papah menjaganya," jawab Oki.
"Lalu, kemana Kanaya pergi Om, Tante?" tanya Tama.
"Kamu nggak perlu tahu Tam, karena ini memang dirahasiakan dari siapapun, kamu fokus saja untuk acara pernikahan kamu, Kanaya menitipkan salam juga untuk kalian semua, Kanaya juga mendoakan semua yang terbaik untuk kamu dan Vanes, semoga kalian selalu bahagia." Ujar Keysha.
"Ya sudah, kami ke tempat tamu undangan ya?" pamit Marvel, mereka pun pergi meninggalkan keluarga Pratama.
Tama langsung mencari ponselnya mencoba menghubungi Kanaya, namun tidak bisa, dia juga mencari lewat sosial media namun tidak ketemu.
"Kenapa aku sama sekali tidak bisa menghubungi Kanaya?" batin Tama.
"Mah, pinjam ponselnya," ujar Tama.
"Ini, buat apa sih?" tanya Anisa.
"Hubungin Kanaya," jawab Tama. Dia pun mencoba menghubungi Kanaya.
Kanaya yang baru saja sampai di bandara menatap layar ponselnya, karena mendengar suara nada dering ponsel.
"Tante Anisa?" batin Kanaya, dia pun menggeser tombol hijau.
"Halo, Kanaya?"
Deg ... Deg ... Jantung Kanaya berdebar ketika mendengar suara Tama yang menyapanya, tak mau luluh lagi. Kanaya pun langsung mengakhiri panggilan telepon Tama dan menonaktifkan ponselnya.
"Maafkan aku Tam," batin Kanaya, dia melangkah tanpa ragu.
"Kok mati sih," ucap Tama kesal.
"Kenapa aku nggak bisa menghubungi Kanaya? tapi pakai ponsel mamah bisa," batin Tama.
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Kanaya sudah mulai bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Amerika, dia nampak canggung karena harus beradaptasi kembali dengan lingkungan yang baru. Kanaya memilih berjalan kaki menuju rumah sakit, karena memang apartemen dengan rumah sakit tempat Kanaya bekerja tidak terlalu jauh.
Saat Kanya tengah berjalan di koridor rumah sakit, seseorang menabrak Kanaya dari belakang karena terburu-buru, hingga Kanaya hampir jatuh, beruntung seseorang sigap menangkap tubuh Kanaya.
Seperkian detik mereka saling berpandangan, namun langsung mengubah posisi menjadi berdiri tegak, rasa canggung mulai melanda keduanya.
"Thank you" ucap Kanaya.
"Your welcome," jawab lelaki itu.
"Are you the new doctor? (Apakah kamu dokter baru?)" tebak pria itu.
"Yes, I'm from Indonesia ( Ya, saya dari Indonesia)." jawab Kanaya.
"Benarkah? Wah berati kita satu negara," lelaki itu bersorak senang. Kanaya terkejut, rupanya dia juga dari Indonesia.
"Kamu dari Indonesia juga?" tanya Kanaya.
"Iya, kota Medan."
"Wah, akhirnya ketemu orang Indonesia juga, kenalkan aku Kanaya, dari Jakarta."
"Aku Nando dari Medan," Mereka berdua pun saling berjabat tangan.
"Kamu mau kemana?" tanya Nando.
"Ke kepala rumah sakit disini," jawab Kanaya.
"Ya sudah ayo aku antar."
"Emang nggak ganggu?" tanya Kanaya tak enak.
"Enggak kok, ganggu apa? ya sudah ayo aku antar." Nando pun mengantar kan Kanaya menuju tempat tujuannya, dan mulai dari sanalah hubungan Nando dan Kanaya terus terjalin, Nando mangantar kan Kanaya ke tempat yang belum Kanaya tahu.
Kehadiran Nando, membuat Kanaya melupakan tentang Tama, bahkan Kanaya pun tak pernah menanyakan tentang pernikahan Tama dan Vanes. Mungkinkah Kanaya perlahan sudah melupakan Tama? lewat kehadiran Nando? hanya hati Kanaya yang tahu.