
Setelah beberapa hari, akhirnya Nando juga keluar dari rumah sakit, namun Indira tidak
sama sekali berniat untuk menjemput suaminya, Nando pulang dengan diantar oleh
kedua orangtuanya. Sikap kedua orangtua Nando, masih tidak jauh beda dengan
dulu, mungkin mereka masih belum bisa menerima kenyataan kalau Indira tidak
bisa memberikan keturunan, padahal semua itu juga bukan keiginan Indira,
melainkan sudah takdir dari Yang Maha Kuasa.
“Suami pulang, bukannya disambut, malah kamu santai di rumah?” ketus Lailla.
“Lalu gimana sama Mamah? Apa ada dari kalian yang datang kecara pemakamam orangtua
aku? kalian mau aku menghargai Nando, tapi kalian juga nggak bisa menghargai
aku dan juga keluarga ku?” sentak Indira, kini dia sudah berani menjawab karena
sudah memegang kartu as Nando.
“Kamu …”
“Mah,” tahan Harlan, dia menggelengka kepalanya seolah memberikan isyarat bahwa jangan
gegabah, tentu Indira tahu apa makdu ayah mertuanya itu. Dia talut putra semata
wayangnya akan dilaporkan ke polisi dan berakhir di penjara.
“Sebaiknya sekarang kita pulang, dan biarkan Nando beristirahat,” ajak Harlan.
“Indira…” Nando mendekat kearah istrinya.
“Dengar Nando, aku masih menerima kamu sebagai suami ku setelah apa yang kamu lakukan,
jadi jangan macam-macam dengan aku, atau kamu akan menyesal,” ancam Indira
membuat Nando menelan salivanya kasar. Nando tidak bisa meragukan Indira,
karena memang Indira bisa saja menuntut nya atas semua yang terjadi.
^^^
Malam ini, Tama mengajak Kanaya makan malam diluar, namun hanya mereka berdua, karena Tama
ingin meetime bersama istri tercinta. Tama sudah menyiapkan tempat makam malam
yang pastinya romantic.
“Silahkan duduk,” Tama menggeser kursi untuk Kanaya.
“Terimakasih,” mereka berdua nampak serasi.
“Tama, ngapain sih kita kesini, pake acara makan malam romantic segala,” tanya Kanaya.
“Yaa kan kita belum sempet bulan madu, jadi kita makan malam aja dulu,” jawab Tama santai.
“Tapi kenapa kita nggak ajak Felly sekalian? Kasihan kan dia?” Kanaya memikirkan bagaimana Felly sekarang.
“Kamu jangan pusing mikirin Felly, sekarang dia malah lagi seneng,” Tama memperlihatkan video di ponsel nya, dimana Felly tengah bersama dengan Raka menikmati wahanya permainan, “aku sengaja nggak ajak Felly, supaya kita bisa menikmati waktu kita berdua,” jawab Tama menjelaskan.
Pelayan pun datang dan menatan pesanan Tama dimeja, setelah selesia mereka langsung meninggalkan pasangan suami istri yang nampak seperti pasangan muda baru pacaran, masih canggung katanya. Kanaya menatap makanan dimeja makan, dimana semua menu itu makanan kesukaannya.
“Kamu yang pesen?” tanya Kanaya dengan polos kepada Tama.
“Iya, kenapa kurang?” tanya Tama, dan dia hendak memanggil pelayang lagi namun
langsung ditahan oleh Kanaya.
“Bukan begitu ….” Gemas Kanaya, “lagian makanannya juuga udah banyak kok, kurang dari mana coba,” gerutu Kanaya. Dia kembali fokus pada topic pembicaraan yang ingin ditanyakan oleh Kanaya, “ini semua kan makanan kesukaan aku, dari mana kamu tahu?” tanya Kanaya penasaran, namun menurut feelingnya Tama tahu dari Keysha, ibunya.
“Aku
selalu menatap kamu saat makan, dan melihat lauk dan menu apa saja yang
biasanya kamu ambil, dari hasil pengamatan ku ternyata benar, kamu suka makanan
yang ada di sini,” Tama nampak bangga karena semua tebakan Tama benar.
“Aku
rasa kamu lebih pantas jadi detektif deh,” ujar Kanaya seraya tersneyum, mereka
pun mulai menikmati makan malam.
“Kanaya
….” Panggil Tama liriH.
“Iya??”
“Boleh,
aku meminta sesuatu?”
“Apa
itu?”
“Belajara
mencintai aku,” ujar Tama dengan tatapan serius, “aku ingin ini menjadi
pernikahan terakhir kita, aku mencintai kamu Kanaya, dan semua yang aku katakana
pada acara resepsi pernikahan kita, benar adanya.”
Kanaya
membeku, dia masih diam belum tahu harus bagaimana? Dan merespone apa, namun
kembali Kanaya bertanya pada hati kecilnya, benarkah Kanaya tidak mencintai
Tama? Tidak adakah sisa rasa untuk Tama?
Kanaya
menatap Tama dengan tatapan teduh, “ayo kita sama-sama membuka lembaran baru
Tama, aku akan membuka hati untuk mu, dan kita mulai dari awal. Aku yakin,
lambat laun perasaan akan tumbuh seiring berjalannya waktu, hanya saja aku
butuh waktu,” jawab Kanaya.
“Aku
akan sabar menunggu, karena kamu adalah istriku,” Tama mengelus lembut pipi
Kanaya.
Kanaya
dan Tama sama-sama sadar, mereka pernah gagal dalam menjalani suatu hubungan,
mereka sama-sama pernah merasakan sakitnya dikhianati oleh cinta mereka, hal
itu menjadikan Kanaya dan Tama tidak ingin menjadi seorang pengkhianat karena
tidak ingin menyakiti perasaan satu sama lain.
Meski Tama sudah menikahi Kanaya secara sah dimata hukum
dan agama, namun Tama tidak akan memaksa Kanaya untuk menerimanya dengan
tergesa-gesa, Tama yakin dengan jodoh yang sudah tertulis, sekuat tenaga Tama
mengejar Kanaya, kalau memang bukan jodoh maka mereka tidak akan bersama,
namun, dengan jalan Allah Tama dan Kanaya bisa bersama dan menyandang sebagai
pasangan suami istri.
Scenario
yang sudah ditulis Yang Maha Kuasa untuk para hambanya, jauh lebih indah, baik
untuk kita tapi belum tentu baik bagi sang Maha Pencipta, karena sesungguhnya
Yang Maha Kuasa lah yang menentukaan dan membolak-balikkan perasaan umat
manusia. Tama yakin dengan kekuatan doa, dia bisa dan mampu memenangkan hati
Kanaya.
Kanaya
begitu kagum dengan kedewasaan Tama dan sikapnya yang jauh berbeda dengan Tama
yang dulu. Sikap Tama yang menjadi lebih bijak, membuat Kanaya menemukan sosok
tangganya tidak hanya akan tercipta diawal pernikahan saja, semoga di hari, minggu,
bulan dan tahun berikutnya pernikahan mereka akan selalu bahagia.
“Tama,
kita pulang yuk,” ajak Kanaya, dia merasa tidak bisa meninggalkan Felly,
padahal sekarang ini Felly malah tengah bersenang-senang.
“Kamu
kepikiran Felly?” tanya Tama, memang semenjak menikah, Kanaya nampak sulit jika
diajak pergi berdua, jikalau pun mau paling hanya sebentar, dan ingatannya akan
tertujuu pada Felly. Padahal Tama tidak pernah sembarangan menitipkan putrinya,
dia hanya menitipkan Felly pada orangtuanya kalau tidak pada orangtua Kanaya.
“Iyaa …
aku tahu banget sifat Raka, dia terlalu nurut sama Felly, bisa-bisa malam-malam
begini Raka beliin Felly ice cream satu ember,” ujar Kanaya, tanpa Kanaya
rasakan sifat keibuannya pun mulai muncul, dan ini yang membuat Tama semakin
jatuh hati pada Kanaya, karena sifatnya dan perhatiannya pada Felly yang tulus
dan tidak terkesan dibuat-buat.
“Ya
sudah, kita langsung jempul Felly ya?” akhirnya mereka berdua menyudahi acara
makan malam.
^^^
Hari
ini Nando sudah mulai kembali bertugas dirumah sakit, sedangkan Indira sudah
tidak lagi menjadi tenaga medis, dia akan melanjutkan usaha warisan dari
Aditya, karena Indira tidak mau usaha yang dibangun oleh ayahnya sedari nol,
harus gulung tikar. Karena Indira satu-satunya pewaris, maka Indira lah yang
harus melanjutkan restaurant tersebut. Namun, Indira sudah cukup tenang karena
mendapatkan arahan dari Marvel, dan juga Alby yang memang ahli dalam bidangnya,
bahkan Alby juga masih memantau kinerja Indira sebelum akhirnya nanti Alby akan
melepas Indira untuk mengurus semuanya sendiri.
Indira
merasa sangat beruntung, dia sadar banyak sekali kesalahan yang sudah dirinya
lakukan terutama kepada keluarga Keysha dan juga Kanaya, namun mereka masih
sangat perduli pada Indira. keperdulian mereka kepada Indira, membuat Indira
sadar dan membuka mata hatinya, bahwa keluarga Keysha memang keluarga
baik-baik.
“Jadi
kamu sudah mulai mengurus restaurant sayang?” tanya Nando.
“Iya,
kalau bukan aku siapa lagi?” tanya Indira ketus.
“Baiklah,
semoga hari kamu menyenangkan ya? dan semoga semuanya berjalan dengan lancar,”
ujar Nando.
“Terimakasih
atas doanya,” jawab Indira singkat. Indira nampaknya masih trauma atas kejadian
kecelakaan, jadi dia menggunakan supir pribadi, dan menggunakan mobil yang berbeda
dari Nando. Melihat Indira yang terus acuh padanya, membuat Nando muak. Namun,
Nando tidak bisa berbuat apa-apa, karena jika sampai Nando melawan maka masa
depan, dan karirnya akan dipastikan hancur dalam sekejap.
^^^
Sesampainya
Nando dirumah sakit, dia mendapatkan ucapan belasungkawa dari rekan sesame tenaga
medis, Nando memasang wajah sendu untuk menarik perhatian.
“Tolong
ya, saya masih cukup trauma mengingat kejadin itu, dan baying-bayang itu masih
sering menghantui saya, jadi saya mohon jangan bahas tentang tragedy itu,” ujar
Nando, itu adalah jawaban dari Nando jika ada yang bertanya tentang siapa yang
sudah menyetir mobil tersebut. Nando tentunya tidak mau buka suara, karena jika
sampai mereka tahu Nando yang berada dibalik kemudi, mereka akan mencurigai
Nando.
“Kami
paham Dokter Nando, pastinya sangat berat ya? yaa semoga Dokter Nando dan Dokter Indira selalu diberi kesabaran dan
juga ketabahan.” Ujar rekan sejawat Nando yang merasa iba atas musibah yang
sudah menimpanya.
Nando benar-benar
sangat ahli dalam bersandiwara, padahal dirinya adalah penyebab kecelakaan
tersebut, andai saja Nando bisa fokus pada saat itu, dan tidak terlalu terbakar
api cemburu setelah melihat kemesraan Kanaya dan Tama diacara resepsi. Bukan salah
Kanaya maupun Tama yang memamerkan kemesraan mereka, hanya saja kenapa Nando
harus cemburu? Sedangkan dahulu dia sendiri yang langsung menyerahkan diri
untuk menikah dengan Indira tanpa adanya paksaan, dan Nando sudah memilih untuk
bersanding dengan Indira, lalu kenapa harus cemburu? Bukankah itu berarti Nando
tipikal lelaki yang plinplan?
Nando
bahkan mencari cara aman dengan selalu berlaku romantic pada Indira, dia takut
kalau Indira akan melaporkan dan menuntutnya atas kejadian kecelakaan yang
menawaskan seluruh anggota keluarga Indira. Dihadapan Indira, dia bisa berlaku
manis namun dibelakang Indira dia menyumpah serapahi istrinya sendiri.
Malang kan Indira? dia harus dimunafiki oleh
suaminya yang tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, bahkan kedua orangtua
suaminya hanya menyalahkan Indira yang kini sudah tidak bisa lagi memberikan
Nando keturunan. Mereka selalu menuntut Indira untuk sempurna, tapi mereka
tidak pernah berkaca pada diri mereka sendiri, pernahkah mereka menganggap
Indira? pernahkah mereka sedikit saja merasa khawatir dengan kondisi Indira?
adakah rasa belas kasih mereka kepada Indira yang sudah ditinggal pergi
orangtua serta nenek dan kakeknya? Jawabannya tidak.