
Malam ini, Tama datang kerumah Kanaya bersama dengan Felly,
tujuan utamanya agar Kanaya tidak terlalu marah dengan Tama. Ide yang bagus
bukan? Namun dugaan Tama masih salah, dia pikir dengan membawa Felly, Kanaya
akann lupa tapi ternyata tidak, Kanaya memang tidak ketus kepada Felly, tapi
dengan Tama? Masih terlihat sorot mata Kanaya yang taja.
Melihat calon kakak iparnya tengah membujuk Kanaya, Raka pun
punya ide. Dia dengan sengaja membawa Felly dengan alasan membeli ice cream,
padahal hal itu dia lakukan supaya Tama dan Kanaya bisa berbicara dengan lebih
leluasa.
“Kanaya?” lirih Tama.
“Hmm,” jawab Kanaya singkat tanpa melirik Tama.
“Aku tahu kamu pasti marah pada ku, bahkan mungkin sangat.
Tapi aku punya penjelasan Kanaya,” ujar Tama.
“Penjelasan apa Tama? Penjelasan tentang kamu yang sudah
membuat Indira kehilangan pekerjaannya? Penjelasan tentan kamu yang sudah
menghancurkan karirnya? Cita-citanya bahkan mimpinya. Kamu jelas tahu kan Tama
bagaimana perjuangan Indira untuk berada diposisi sekarang ini,” ujar Kanaya
dengan nada kecewa.
“Aku tahu Kanaya, bahkan sangat tahu. Tapi disini, aku juga
melindungi apa yang sudah Papah aku capai, rumah sakit yang dia bangun dengan
susah payah karena hasil kerja kerasny sedari nol, sampai rumah sakit itu bisa
memiliki nama dan citra yang baik dimata masyarakat bukanlah hal yang mudah
Kanaya. lagi pula, kalau aku hanya melindungan Indira, bagaimana dengan nasib
tenaga kesehatan yang lain, disana juga ada puluhan tenaga kesehatan Kanaya,
kalau terjadi sesutau dengan rumah sakit karena aku tidak memecat Indira, lalau
bagaimana dengan mereka?”
Kanaya terdiam, dia berpikir bahwa benar apa yang sudah Tama
katakana. Bagaimanapun, disini Oki selaku pemilik rumah sakit yang sudah jelas
pada nama baik rumah sakit yang akhirnya akan sulit dipercaya lagi oleh
masyarakat dan berimbas pada tenaga kesehatan yang lain.
“Iya Tama, kamu benar, maaf karena aku sudah berpikir
terlalu egois dan salah paham. aku pikir kamu hanya ingin balas dendam terhadap
Indira,” ujar Kanaya tak enak hati.
“Tidak apa-apa Kanaya, aku sadar dan aku paham, bagaimanapun
dulu kamu dan Indira adalah sahabat dekat, pastinya rasa belas kasih dan juga
rasa sayang kamu terhadap Indira belum sepenuhnya menghilang terlepas dari apa
yang sudah pernah Indira lakukan terhadap kamu,” jawab Tama maklum.
Kanaya menangguk, “benar … terkadang aku masih tidak percaya
dan menyayangkan atas apa yang terjadi antara aku dan Indira, aku menyayangkan
persahabatan ku dengan Indira yang akhirnya hancur hanya karena seorang lelaki,”
ujar Kanaya sendu, terkadang Kanaya memang merindukan masa-masa nya dengan
Idira, persahabatan yang sudah terjalin sejak mereka kecil harus hancur karena
pengkhianatan.
^^^
Hari ini, undangan pernikahan antara Kanaya dan Tama akan
disebar, mereka mengundang cukup banyak orang, karena dari Oki dan Anisa
sendiri memiliki kerabat dan juga rekan yang cukup banyak juga, sedangkan
Marvel dan Kanaya tidak perlu diragukan lagi, mereka seorang pebisnis yang juga
memiliki kolega dan client yang cukup banyak karena nama mereka yang cukup
tersohor.
Sedangkan Tama dan Kanaya memiliki teman yang sama, namun
Tama juga tidak lupa mengundang beberapa koleganya, untuk Kanaya dia memanggil
rekan-rekan tenaga medis untuk hadir dan ikut merasakan kebahagiaan mereka
berdua.