
Tama tengah duduk diruang kerjanya, bukan karena dia sedang
menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda di kantor tadi, melainkan dia tengah
menatap fotonya bersama para sahabat. Foto yang diambil dulu, ketika mereka
masih duduk dibangku SMA, namun hanya ada sat wajah yang dipandangi oleh Tama,
yaitu Kanaya yang tidak lain kini sudah menjadi calon istri Tama.
“Sejak pertemuan kita pertama kali, setelah kepulangan kamu
dari Amerika, pada saat itu aku mulai menyadari kalau perasaan ku mulai tumbuh
untuk mu Kanaya. Maaf kalau aku mengatas namakan Fellycia, maaf kalau aku belum
bisa jujur dengan perasaan ku, itu semua karena aku takut kamu menngira aku
tengah mengambil keuntungan dalam kasus kamu dengan Nando,” batin Tama.
“Awalnya aku merasa malu untuk mengakui diriku sendiri bahwa
aku sudah jatuh pada kamu, tapi semakin lama aku mengingkari perasaan ku,
semakin aku merasa tersiksa, rasa ingin memilikimu semakin besar, ditambah saat
kamu begitu terpuruk kala pengkhianatan yang dilakukan oleh Nando dan Indira,
tahukah kamu Kanaya, aku sangat ingin menghancurkan mereka berdua menggunakan
tangan ku sendiri, karena mereka telah menyakitimu.”
“Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku
akan menjaga kamu Kanaya, dan aku akan berusaha membuat kamu yakin pada diriku,
karena aku tahu kamu akan mencintai aku dan menerimaku setelah kamu melihat
ketulusan ku, aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia, bersama
dengan Fellycia,” Tama menatap foto Kanaya seraya tersenyum teduh.
Cinta yang dimiliki Tama begitu tulus, tapi mampukah Tama
membangun kembali cinta Kanaya untuk Tama dulu yang kini sudah hilang? Atau sebenarnya
cinta itu masih ada?
Hari ini, hari yang ditunggu oleh Nando dan Indira, ya hari
pesta pernikahan mereka. Kediaman Aditya sudah disulap menjadi tempat resepsi
yang elegan, setiap ruangan sudah ditata dan dihias sedemikian rupa, kursi dan
meja untuk para tamu undangan pun sudah tertata rapi, bahkan kursi untuk kedua
mempelai dan kedua orangtua mempelai sudah disiapkan.
Indira sudah siap dengan gaun pernikahannya yang berwarna
putih, sesuai warna kesukaannya, sedangkan Nando mengenakan jas berwarna hitam,
Nando dan Indira melangkah menuruni tangga dengan berjalan beriringan. Senyum merekah
dari keduanya tak pernah luntur.
Indira menatap sekeliling seolah mencari seseorang, dan yang
Indira cari adalah keberadaan sahabat-sahabatnya, mungkin Indira tidak
berharap banyak Kanaya datang diacaranya
hari ini, karena Indira tahu Kanaya masih begitu kecewa dengan dirinya dan juga
Nando, namun sahabat yang lain?
“Mereka tidak ada yang datang satupun,” batin Indira.
Nando mengajak Indira untuk duduk dikursi pelaminan, dia
tahu ada yang mengganjal di hati Indira.
“Ada apa sayang?” bisik Nando.
“Aku mencari sahabat ku yang lain, nampaknya mereka
benar-benar tidak datang,” lirih Indira.
“Jangan dipikirkan ya? aku tidak mau kamu terlalu memikirkan
mereka, karena hari ini adalah hari yang penting untuk kita,” Nando mencoba
menghibur istrinya, “senyum dong.”
Indira pun sebisa mungkin menyunggingkan senyum nya kembali,
karena dia juga tidak mau para tamu undangan berpikir salah paham tentang
dirinya, jika mereka menyadari Indira bersedih dihari resepsi pernikahannya.
Acara pun terus berjalan, Bella mengajak besannya untuk
menemui tamu undangan yang lain, tidak lupa Bella juga memperkenalkan Lailla
kepada tamu undangannya. Bella begitu terkejut karena ternyata Zahra dan Alena
datang memenuhi undangan dari Bella.
“Zahra, Alena? Kalian datang?” Bella masih belum percaya
kalau Zahra dan Alena yang notabennya sahabt Keysha, masih berkenan hadir.
“Tentu, kita kan mau melihat bagaimana kedua pengkhianat
bersanding … ups,” Zahra menutup mulutnya, seolah dia tidak sengaja mengatakan
Bella nampak kurang nyaman, dan sangat tidak suka mendengar
jawaban Zahra, namun dia juga tidak bisa gegabah karena sekarang sedang banyak
tamu, apalagi Bella juga tengah bersama Lailla yang sudah menjadi besannya.
“Aku tahu, apa yang Indira dan Nando lakukan itu sangat
menyakiti Kanaya, tapi bukankah ini menjadi pertanda kalau Kanaya dan Nando
tidak berjodoh?” Bella masih mencoba membela Indira.
“Yang disayangkan disini bukan tentang jodoh atau tidak
jodoh, melainkan cara Indira menikah dengan Nando. Indira kan sahabat baik
Kanaya, dan Indira sangat tahu bahwa Nando adalah kekasih Kanaya, tapi kok
Indira tega ya menikah dengan kekasih sahabat nya sendiri, bukannya itu yang
dinamakan teman makan teman?” celetuk Alena.
“Iya, kalau Indira menikah dengan Nando dengan posisi Nando
sudah putus dengan Kanaya, pasti Kanaya tidak akan sesakit hati ini, tapi
caranya itu bukankah seperti perusak hubungan orang?” Dewi kembali menimpali.
“Lebih tepatnya, orang ketiga,” celetuk Zahra.
Tangan Bella terkepal erat, telinganya panas ketika dia
harus mendengar semua gunjingan yang tertuju untuk Indira, namun sebisa mungkin
Bella menahannya.
“Kenapa? marah? Mau nampar kami?” rupanya Alena melihat
tangan Bella.
“Ya udah lah ya, kita pulang aja, males lama-lama disini,”
ucap Zahra seraya menatap sinis kearah Bella. Zahra, Alena, dan Dewi pun
meninggalkan acara resepsi Indira dan Nando, padahal acara masih berjalan.
“Memalukan, apa aku disini hanya untuk dipermalukan?” batin
Lailla kesal.
.
Disisi lain, Kanaya juga tengah berkutat dengan pekerjaannya,
tiba-tiba Kanaya teringat kalau hari ini adalah hari resepsi pernikahan Indira,
Kanaya menatap foto Indira yang masih dia simpan dalam laci meja kerjanya.
Kanaya ingat, dulu mereka pernah berjanji satu sama lain,
bahwa kelak jika mereka menikah, maka baik Kanaya maupun Indira akan menjadi
bridesmaidnya, namun Kanaya kembali murung setelah teringat dengan kondisi
persahabatannya dengan Indira.
“Seandainya kalian tidak mengkhianati aku, seandainya kalian
menikah setelah Nando sudah menyelesaikan hubungannya denganku, mungkin aku
masih bisa terima, aku tidak akan sekecewa ini dengan kalian, kalian menyayat
hatiku terlalu dalam, pengkianatan yang kalian lakukan secara bersamaan membuat
luka ku sulit untuk diobati. Seberusaha apapun aku, kecewa itu akan tetap ada,”
batin Kanaya sendu, dia menyimpan kembali foto Indira dengan dirinya dalam laci
meja, rasanya masih terlalu sakit menerima kenyataan bahwa sahabat kita sendiri
yang sudah sangat kita percaya, tega menggoreskan luka yang begitu dalam.
Notofikasi pesan grub chat Kanaya begitu ramai, karena
waktunya tengah senggang Kanaya pun membuka pesan itu, Kanaya berpikir mungkin mereka
datang ke acara Indira, dan mengirimkan foto di group, karena memang nomor
Indira masih ada dalam group.
Namun Kanaya begitu terkejut ketiga semua teman-temannya
malah mengupload foto dimana mereka tengah berada di café. Kanaya pun
menggerakkan jarinya, menanyakan apakah mereka tidak datang keacara Indira.
Kanaya
Loe semua dimana? Udah balik dari acara Indira?
Bara
Nggak ada yang dateng,
kita semua lagi sibuk nongki. Loe dimana Nay? Gabung yuk dicafe biasa.
Kanaya begitu terkejut mendengar jawaban dari Bara, karena
semua sahabatnya tidak ada yang datang keacara Indira, bahkan mereka
terang-terangan mengupload foto kebersamaan mereka di group chat, padahal
Indira juga masih terdaftar, dan pastsi nanti Indira akan melihatnya.