Keysha

Keysha
Season 2 (Perasaan Tama)



Tama tengah duduk diruang kerjanya, bukan karena dia sedang


menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda di kantor tadi, melainkan dia tengah


menatap fotonya bersama para sahabat. Foto yang diambil dulu, ketika mereka


masih duduk dibangku SMA, namun hanya ada sat wajah yang dipandangi oleh Tama,


yaitu Kanaya yang tidak lain kini sudah menjadi calon istri Tama.


“Sejak pertemuan kita pertama kali, setelah kepulangan kamu


dari Amerika, pada saat itu aku mulai menyadari kalau perasaan ku mulai tumbuh


untuk mu Kanaya. Maaf kalau aku mengatas namakan Fellycia, maaf kalau aku belum


bisa jujur dengan perasaan ku, itu semua karena aku takut kamu menngira aku


tengah mengambil keuntungan dalam kasus kamu dengan Nando,” batin Tama.


“Awalnya aku merasa malu untuk mengakui diriku sendiri bahwa


aku sudah jatuh pada kamu, tapi semakin lama aku mengingkari perasaan ku,


semakin aku merasa tersiksa, rasa ingin memilikimu semakin besar, ditambah saat


kamu begitu terpuruk kala pengkhianatan yang dilakukan oleh Nando dan Indira,


tahukah kamu Kanaya, aku sangat ingin menghancurkan mereka berdua menggunakan


tangan ku sendiri, karena mereka telah menyakitimu.”


“Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku


akan menjaga kamu Kanaya, dan aku akan berusaha membuat kamu yakin pada diriku,


karena aku tahu kamu akan mencintai aku dan menerimaku setelah kamu melihat


ketulusan ku, aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia, bersama


dengan Fellycia,” Tama menatap foto Kanaya seraya tersenyum teduh.


Cinta yang dimiliki Tama begitu tulus, tapi mampukah Tama


membangun kembali cinta Kanaya untuk Tama dulu yang kini sudah hilang? Atau sebenarnya


cinta itu masih ada?


Hari ini, hari yang ditunggu oleh Nando dan Indira, ya hari


pesta pernikahan mereka. Kediaman Aditya sudah disulap menjadi tempat resepsi


yang elegan, setiap ruangan sudah ditata dan dihias sedemikian rupa, kursi dan


meja untuk para tamu undangan pun sudah tertata rapi, bahkan kursi untuk kedua


mempelai dan kedua orangtua mempelai sudah disiapkan.


Indira sudah siap dengan gaun pernikahannya yang berwarna


putih, sesuai warna kesukaannya, sedangkan Nando mengenakan jas berwarna hitam,


Nando dan Indira melangkah menuruni tangga dengan berjalan beriringan. Senyum merekah


dari keduanya tak pernah luntur.


Indira menatap sekeliling seolah mencari seseorang, dan yang


Indira cari adalah keberadaan sahabat-sahabatnya, mungkin Indira tidak


berharap  banyak Kanaya datang diacaranya


hari ini, karena Indira tahu Kanaya masih begitu kecewa dengan dirinya dan juga


Nando, namun sahabat yang lain?


“Mereka tidak ada yang datang satupun,” batin Indira.


Nando mengajak Indira untuk duduk dikursi pelaminan, dia


tahu ada yang mengganjal di hati Indira.


“Ada apa sayang?” bisik Nando.


“Aku mencari sahabat ku yang lain, nampaknya mereka


benar-benar tidak datang,” lirih Indira.


“Jangan dipikirkan ya? aku tidak mau kamu terlalu memikirkan


mereka, karena hari ini adalah hari yang penting untuk kita,” Nando mencoba


menghibur istrinya, “senyum dong.”


Indira pun sebisa mungkin menyunggingkan senyum nya kembali,


karena dia juga tidak mau para tamu undangan berpikir salah paham tentang


dirinya, jika mereka menyadari Indira bersedih dihari resepsi pernikahannya.


Acara pun terus berjalan, Bella mengajak besannya untuk


menemui tamu undangan yang lain, tidak lupa Bella juga memperkenalkan Lailla


kepada tamu undangannya. Bella begitu terkejut karena ternyata Zahra dan Alena


datang memenuhi undangan dari Bella.


“Zahra, Alena? Kalian datang?” Bella masih belum percaya


kalau Zahra dan Alena yang notabennya sahabt Keysha, masih berkenan hadir.


“Tentu, kita kan mau melihat bagaimana kedua pengkhianat


bersanding … ups,” Zahra menutup mulutnya, seolah dia tidak sengaja mengatakan


Bella nampak kurang nyaman, dan sangat tidak suka mendengar


jawaban Zahra, namun dia juga tidak bisa gegabah karena sekarang sedang banyak


tamu, apalagi Bella juga tengah bersama Lailla yang sudah menjadi besannya.


“Aku tahu, apa yang Indira dan Nando lakukan itu sangat


menyakiti Kanaya, tapi bukankah ini menjadi pertanda kalau Kanaya dan Nando


tidak berjodoh?” Bella masih mencoba membela Indira.


“Yang disayangkan disini bukan tentang jodoh atau tidak


jodoh, melainkan cara Indira menikah dengan Nando. Indira kan sahabat baik


Kanaya, dan Indira sangat tahu bahwa Nando adalah kekasih Kanaya, tapi kok


Indira tega ya menikah dengan kekasih sahabat nya sendiri, bukannya itu yang


dinamakan teman makan teman?” celetuk Alena.


“Iya, kalau Indira menikah dengan Nando dengan posisi Nando


sudah putus dengan Kanaya, pasti Kanaya tidak akan sesakit hati ini, tapi


caranya itu bukankah seperti perusak hubungan orang?” Dewi kembali menimpali.


“Lebih tepatnya, orang ketiga,” celetuk Zahra.


Tangan Bella terkepal erat, telinganya panas ketika dia


harus mendengar semua gunjingan yang tertuju untuk Indira, namun sebisa mungkin


Bella menahannya.


“Kenapa? marah? Mau nampar kami?” rupanya Alena melihat


tangan Bella.


“Ya udah lah ya, kita pulang aja, males lama-lama disini,”


ucap Zahra seraya menatap sinis kearah Bella. Zahra, Alena, dan Dewi pun


meninggalkan acara resepsi Indira dan Nando, padahal acara masih berjalan.


“Memalukan, apa aku disini hanya untuk dipermalukan?” batin


Lailla kesal.


.


Disisi lain, Kanaya juga tengah berkutat dengan pekerjaannya,


tiba-tiba Kanaya teringat kalau hari ini adalah hari resepsi pernikahan Indira,


Kanaya menatap foto Indira yang masih dia simpan dalam laci meja kerjanya.


Kanaya ingat, dulu mereka pernah berjanji satu sama lain,


bahwa kelak jika mereka menikah, maka baik Kanaya maupun Indira akan menjadi


bridesmaidnya, namun Kanaya kembali murung setelah teringat dengan kondisi


persahabatannya dengan Indira.


“Seandainya kalian tidak mengkhianati aku, seandainya kalian


menikah setelah Nando sudah menyelesaikan hubungannya denganku, mungkin aku


masih bisa terima, aku tidak akan sekecewa ini dengan kalian, kalian menyayat


hatiku terlalu dalam, pengkianatan yang kalian lakukan secara bersamaan membuat


luka ku sulit untuk diobati. Seberusaha apapun aku, kecewa itu akan tetap ada,”


batin Kanaya sendu, dia menyimpan kembali foto Indira dengan dirinya dalam laci


meja, rasanya masih terlalu sakit menerima kenyataan bahwa sahabat kita sendiri


yang sudah sangat kita percaya, tega menggoreskan luka yang begitu dalam.


Notofikasi pesan grub chat Kanaya begitu ramai, karena


waktunya tengah senggang Kanaya pun membuka pesan itu, Kanaya berpikir mungkin mereka


datang ke acara Indira, dan mengirimkan foto di group, karena memang nomor


Indira masih ada dalam group.


Namun Kanaya begitu terkejut ketiga semua teman-temannya


malah mengupload foto dimana mereka tengah berada di café. Kanaya pun


menggerakkan jarinya, menanyakan apakah mereka tidak datang keacara Indira.


                                                                                                                                                                        Kanaya


                                                                                                        Loe semua dimana? Udah balik dari acara Indira?


Bara


Nggak ada yang dateng,


kita semua lagi sibuk nongki. Loe dimana Nay? Gabung yuk dicafe biasa.


Kanaya begitu terkejut mendengar jawaban dari Bara, karena


semua sahabatnya tidak ada yang datang keacara Indira, bahkan mereka


terang-terangan mengupload foto kebersamaan mereka di group chat, padahal


Indira juga masih terdaftar, dan pastsi nanti Indira akan melihatnya.