
Akhirnya hari ini Nando dan Amanda harus kembali ke Jakarta,
sebenarnya berat pagi pasangann pengantin baru itu untuk kembali berpisah,
karena mereka berdua tahu kalau mereka sudah tiba di Jakarta nanti pastinya
Nando tidak akan bisa meluangkan banyak waktu untuk Amanda. Tapi ini sudah
menjadi keputusan Amanda, dia sudah mau menjadi istri kedua dan dinikahi secara
siri oleh Nando, maka dia harus bisa menerima konsekuensi bahwa waktu Nando
bukan hanya untuk nya, bahkan Amanda juga harus terima kalau dia tidak
diprioritaskan.
Kini Nando sedang berada di apartement Amanda, dia tengah
menikmati sisa waktu mereka berdua sebelum akhirnya Nando harus kembali pada
Indira istri pertamanya. Ingin sekali Amanda bisa memiliki Nando sepenuhnya,
tapi Amanda sadar kalau saat ini Nando bukan hanya suaminya, melainkan suami
wanita lain juga, dan saat ini ada wanita lain yang berstatus menjadi istri sah
Nando tengah menantikan kepulangan suaminya.
“Aku pamit pulang dulu yaa…” Nando mencoba berpamitan kepada
Amanda, dan yang bisa Amanda lakukan adalah mengiyakan suaminya pulang ke
pelukan wanita lain.
“Hati-hati ya mas …” ucap Amanda, dia memeluk suaminya
seolah berat untuk berpisah, padahal satu minggu mereka menikmati waktu berdua.
Amanda pun mengantarkan Nando untuk keluar dari apartementnya, dan pada saat
itu mereka berpapasan bertemu dengan kedua orangtua Nando yaitu Harlan dan
Lailla.
“Waah yang baru pulang dari bulan madu,” goda Lailla kepada
anak dan menantu keduanya.
“Mamah ….” Amanda terlihat
malu dengan godaan yang Lailla ucapkan.
“Udah dong Mah jangan godain Amanda terus,” ujar Nando
seraya merangkul pundak istrinya.
“Iya dehh percaya penganten baru …” ledek Harlan.
“Ya udah Mah, Pah aku titip Amanda yaa … aku harus pulang
sekarang,” pamit Nando, dia harus pulang sekarang karena takut Indira curiga.
“Ya sudah kamu pulang istirahat,” ujar Lailla.
“Sayang aku pulang yaa?” Nando mencium kening istrinya dan
berlalu pergi, Amanda menatap punggung Nando yang kian menjauh dengan sendu.
“Jangan sedih Nak, meskipun raganya kini tidak bersama kamu,
tapi percaya lah hati dan pikirannya terus tertuju pada kamu Nak,” ujar Lailla
menenangkan Amanda, membuat Amanda tersenyum senang.
“Iya Mah … aku percaya dengan cinta mas Nando,” ujar Amanda
dengan yakin, “ya udah Mah, Pah ayo masuk.” Ajak Amanda.
“Tidak Nak, kami tahu pasti kamu sangat lelah, jadi lebih
baik kamu beristirahat saja,” Harlan memberikan saran.
“Ya sudah Pah, aku masuk dulu yaa …” pamit Amanda dan
diangguki oleh Harlan juga Lailla.
Kini Nando sendiri baru saja tiba di rumahnya, dia sudah
langsung disambut oleh Indira yang sengaja tidak pergi ke restaurant hari ini
demi menyambut kepulangan suami tercintanya yang sudah sangat dia rindukan.
“Akhirnya kamu pulang mas…” Indira langsung memeluk suaminya
dengan mesra.
“Kangen aku yaa??” tanya Nando menggoda Indira.
“Iya lah pake nanya,” ujar Indira seraya mengerucutkan
bibirnya lucu.
“Sayang … aku mandi dulu yaa … aku ngerasa badanku gatel
semua,” ucap Nando seraya mengeliatkan tubuhnya yang terasa kaku.
“Ya udah, kamu mandi biar aku yang urus baju kotor kamu ya??”
“Iya sayang, dan oh iya, dalam koper ada paperbag itu semua
buat kamu yaa …” Nando memang sengaja sudah menyiapkan oleh-oleh untuk Indira,
mendengar suaminya membawakan oleh-oleh, Indira berpikir kalau dalam keadaan
berjauhan pun Nando masih memikirkan dirinya.
Indira membuka koper Nando, dia melihat beberapa paperbag
berisi tas, spatu dan perhiasan dari merk terkenal, Indira tersenyum bahagia
karena Nando kini lebih sering memanjakan dirinya.
“Mas … ini kan semuanya pasti mahal,” lirih Indira
menggelengkan kepalanya, dia beralih mengambil baju kotor Nando, dan membawanya
ke belakang. Tapi saat Indira tengah memilah pakaian kotor Nando, Indira
melihat ada noda lipstick di salah satu kemeja Nando.
“Bekas lipstick siapa?” batin Indira, dia kemudian
mendekatkan kemeja tersbeut ke hidungnya, Indira mencium parfum wanita yang
diyakini itu bukanlah parfum milik Nando.
“Bu ….” Saat Indira tengah mencoba berpikir, tiba-tiba
asiten rumah tangga datang menghampiri Indira.
“Oh iya Bi ada apa?” tanya Indira.
“Dicari Bapak.”
“Oh iya, tolong lanjutkan ini ya Bi, saya mau ke kamar dulu,”
Indira melangkah menuju kamarnya dengan pikiran yang kalut.
‘Parfum siapa? Tidak mungkin kan kalau …. Ah tidak-tidak,
tidak mungkin Nando berkhianat dari aku, itu pasti tidak sengaja, aku yakin Nando
tidak mungkin melakukan hal itui,’ batin Indira, dia menepis semua pikiran
buruknya tentang Nando suaminya.
^^^
Natasha tengah berjalan menuju kantor Nathan, dia membawakan
makan siang yang dibuat khusus olehnya, dengan langkah yang santai, Nathasa
memasuki gedung pencakar langit milik ayah Nathan yang kini dikelola oleh
Nathan dan kakaknya Alden.
“Natasha?” Natasha menoleh saat suara yang dia kenal menyapa
pendengarannya.
“Kak Alden??” secara kebetulan Nathasha bertemu dengan kakak
Nathan.
“Mau ketemu Nathan yaa?” tebak Alden, dan diangguki oleh
Natasha.
“Ya udah yuk, kakak temenin,” ajak Alden, dia baru saja dari
luar kantor tadi. Selema perjalanan menuju ruangan Nathan, Alden dan Natasha
berbincang sedikit seputar kabar dan pekerjaan mereka.
“Ya udah kak, kita berpisah disini,” lantai ruangan Nathan
dan Alden memang berbeda.
“Iya have fun yaa pacarannya,” ledek Alden membuat Nathasa
tersipu malu. Natasha datang ke kantor Nathan tanpa memberi tahu kan terlebih
dahulu pada kekasihnya, karena Natasha bermaksud memberikan kejutan, Natasha
merasa bebeapa bulan terakhir ini hubunga mereka mulai berbeda, entah kenapa
Natasha merasakan kalau Nathan tidka lagi sehangat dulu, sikap Nahthan seolah
acuh dan dingin padanya.
Natasha berpikir mungkin saja rasa bosan sudah mulai
menjalar dalam benak Nathan, karena hubungan mereka yang terkesan monoton, tapi
Natasha akan berusaha menumbuhkan benih cinta itu lagi, karena bagi Natasha,
kini hubungan yang tengah mereka jalin bukan lagi hubungan yang hanya untuk
kesenangan semata, bagi Natasha dia menjalin hubungan dengan Nathan untuk
menuju ke jenjang yang lebih serius.
“Loh kok mba Melly nggak ada?” Natasha melihat meja Melly
yang tidak lain sekretaris Nathan kosong, dia pun melangkah menuju ruangan
Natan, dan memegang handle pintu, kemudian membukanya perlahan. Tapi apa yang
dilihat oleh Natasha benar-benar membuatnya terkejut bukan main, dia melihat
dengan mata kepalanya sendiri, kalau Nathan tengah bercumpu mesra dengan
Nabila, wanita yang tidak lain kekasih Raka dan sudah menjadi tunangan Raka.
“Kalian …. Braakkkk” kotak makanan yang Natasha bawa untuk Alden
jatuh berserakan ke lantai, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya didepan
mata, bukan hanya Natasha tapi juga Nabila dan Nathan.
“Natasha??” sontak, mereka berdua langsung menjauhkan diri
karena ulah Nathan, sedangkan Nathan duduk santai dengan kancing kemeja yang
sudah terbuka, tidak hanya itu, terdapat juga bekas lipstick didadanya yang
membuat Natasha jijik melihatnya.
Natasha mendekati pasangan yang baru saja tertangkap basah
tengah berbuat mesum itu, dia menatap mereka berdua dnegan tatapan penuh
kekecewaa, kecewa atas pengkhianatan yang mereka lakukan. Apalagi Nabila
notabennya teman Natasha, meski mereka tidka terlalu dekat, sedangkan Nathan jelas
sangat mengenal Raka, karena mereka satu sekolah bahkan satu kelas.
“Aku nggak nyangka dengan kalian berdua, menjijikkan,” ucap
Natasha disertai tatapan jijik kepada mereka berdua.
“Natasha … aku bisa jelaskan,” Nabila mencoba mendekat namun
Natasha langsung memberikan isyarat supa Nabila menjauh.
“Kamu masih bisa duduk tenang Nathan? Padahal kamu sudah
tertangkap basah seperti ini? apa tidak ada penyesalan sedikitpun?” tanya
Natasha tak percaya dengan sikap Nathan.
“Menyesal?” tanya Nathan seraya menatap Natasha dengan
santai, “tidak, justru aku bersyukur karena akhirnya kamu melihat ku dengan
Nabila, ya seperti inilah hubungan kami dibelakang kamu dan Raka,” ucap Nathan
tanpa rasa bersalah sedikitpun, semakin membuat Natasha kecewa dengan sikapnya
yang acuh.
“Kamu keterlaluan Nathan!’ seru Natsha.
“Aku keterlaluan? Ya memang, tapi mau bagaimana lagi, aku
bosan dengan kamu Natasha, aku bosan menjalani hubungan seperti ini dengan
kamu, perasaan aku ke kamu udah nggak ada, dan malah perasaan aku berpaling ke
Nabila,” Nathan menatap Nabila dengan senyumannya.
“Jangan gila kamu Nathan, sejak awal kita jalani ini hanya
untuk melampiaskan perasaan kita yang bosan terhadap hubungan yang monoton, aku
udah bilang kan? jangan berharap lebih,” ucap Nabila kesal.
“Kalian sama-sama menjijikkan,dan kamu Nathan,” Natasha
menunjuk wajah Nathan, namun Nathan masih berekspresi sama yaitu, tenang, “kita
putus,” ujar Natasha, dia pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kamu nggak mau kejar Natasha?” tanya Nabila tak percaya.
“Buat apa? aku udah nggak cinta sama dia,” jawab Nathan santai,
tapi Nabila langsung berlari mengejar Natasha.
“Sya tunggu …” Nabila menghentikan Natsha yang tengah
menunggu lift.
“Apa lagi?” ketus Natasha.
“AKu tahu aku salah, dan maaf sudah membuat hubungan kamu
dan Nathan hancur, tapi aku mohon, jangan beritahu Raka soal ini,” pinta Nabila
dengan memohon.
Natasha tersenyum miris, dia tidak percaya Nabila masih
punya muka untuk meminta itu pada Natasha.
“Kamu pikir aku bodoh dan mau melakukan hal itu untuk kamu?
jangan harap,” jawab Natasha ketus.
“Sya, tolong pikirin lagi, apa kamu mau membuat tante Keysha
da nom Marvel kecewa dan sedih, apalagi kamu tahu kan betapa Raka sangat
mencintai aku? aku mohon Sya, aku janji bakalan ninggalin Nathan dan nggak akan
lagi menjalin hubungan dengan dia,” ujar Nabila mencoba meyakinkan Natasha.
Natasha terdiam sejenak, dia memikirkan perkataan Nabila, ‘benar
apa yang dikatakan oleh Nabila, Raka begitu mencintai Nabila, dan pastinya Raka
akan hancur jika dia tahu apa yang sudah terjadi antara Nabila dan Nathan. Om Marvel
dan tante Keysha juga pasti akan hancur jika melihat putra mereka hancur, aku
nggak mau bikin mereka sedih,’ batin Natasha.
“Oke, aku kasih satu kesempatan untuk kamu, dan aku pegang
janji kamu Nabila, aku akan tutup mulut dan menjaga rahasia ini, tapi dengan
satu syarat kamu harus setia dengan Raka dan tidak akan mengulangi kesalahan
kamu lagi, dan janji bahwa kamu akan meninggalkan Nathan,” ucap Natasha.
“Iya aku janji,” jawab Nabila dengan yakin. Mendengar jawaban
Nabila yang sudah berjanji akan meninggalkan Nathan, Natasha pun pergi, dia
ingin menangkan dirinya atas semua yang terjadi. Natasha masih tidak menyangka
kalau Nathan yang dulu dikenalnya kini sudah sangat jauh berbeda.
‘Kenapa kamu setega ini Nathan? Aku sudah berusaha untuk
mempertahan kan hubungan kita, aku mencoba tidak perduli dengan sikap dingin
kamu pada ku, tapi apa? kamu seakan semakin acuh terhadapku, bahkan berselingkuh
dengan kekasih teman mu sendiri,’ batin Natasha terisak.
Kini, Natasha paham, lamanya suatu
hubungan tidak menjamin bahwa pasangan kita akan setiab, contohnya Natsha dan
Nathan, lalu Raka dan Nabila, hubungan mereka sudah terjalin saat duduk di
bangku SMA.
Natasha masih sangat ingat, saat
dulu dia duduk di bangku SMA, saat itu Natasha masih mencintai Raka, dan
berharap kalau Raka akan melihatnya dan menyambut cintanya. Tapi, semua sirna
ketika kabar bahwa Raka dan Nabila sudah resmi berpacaran berhambus kencang,
juga dengan mata kepalanya sendiri Natasha melihat bagaimana Raka memperlakukan
Nabila dengan penuh cinta. Hancur, ittu yang Natasha rasakan pada saat itu, dan
Nathan hadir mengobati luka di hati Natasha, menjadi pelipur lara Natasha
hingga akhirnya Natasha bisa melupakan cintanya untuk raka.
Sampai suatu hari, dengan tidak
terduga Nathan mengutarakan cintanya kepada Natasha dengan dibantu teman-teman
basketnya, Nathan mengutarakan perasaannya saat pertandingan basket antar kelas
mereka menang, Nathan dengan penuh percaya diri mengutarakan perasaan hingga
akhirnya tepat hari itu mereka berdua resmi memiliki hubungan special.
Tapi kini, semua sudah hancur,
kenangan indah antara Nathan dan Natasha menjadi kenangan yang sangat ingin
Natasha lupakan, Natasha tidak menyangka, kalau Nathan akan semudah itu
berpaling darinya dan menjalin hubungan dengan tunangan temannya sendiri, hanya
karena bosan. Natasha jelas tahu apa
yang di maksud monoton oleh Nathan dan Nabila, hal itu menjurus pada kegiatan
ranjang yang memang sangat Natasha hindari, Natasha menolak hubungan ***
sebelum menikah, karena baginya belum tentu mereka berdua berjodoh. Kalau mereka
menjalin hubungan karena menuruti hawa nafsu, lalu bagaimana hubungan mereka
setelah menikah nanti? Pastinya tidak akan ada yang special lagi, karena semua
sudah diberikan saat masih berstatus kekasih.
“Gue nggak boleh nangis terus, gue
harus bisa bangkit dan lupain Nathan, gue bisa hidup tanpa dia karena dia bukan
segalanya,” ujar Natasha menyemangati dirinya sendiri, “lalu gimana sama Raka?”
batin Natasha was-was. Dia dilanda kebingungan, rasanya dia tidak tega dengan
Raka dan keluarganya, Natasha tidak tega jika nantinya Raka tahu tapi sudah
terlambat.
“Tapi … kalau gue ngomong sama
Raka, apa dia bakalan percaya? Sedangkan gue nggak punya bukti,” lirih Natasha
risau, Natasha jelas tahu, betapa besar perasaan Raka kepada Nabila dan Raka
sangat mempercayai kekasihnya itu, tidak mudah untuk mendapatkan rasa percaya Raka,
dan Natasha yakin kalau Raka malah akan menganggap Natasha berbohong jika
Natasha memberitahukan semuanya tanpa adanya bukti yang kuat.
“Tapi … Nabila juga udah janji
nggak akan ngulangin lagi, sebaiknya aku kasih dia kesempatan lebih dulu,
Natasha juga janji kalau dia bakalan ninggalin Nando, jadi aku hanya tinggal
lihat buktinya,” ujar Natasha lagi berbicara dengan dirinya sendiri.
Begitulah perangai Natasha yang
mudah luluh, dia mudah diperdaya oleh orang lain karena dia muda percaya dengan
janji, termasuk janji Nabila yang akan setia denga Raka dan akan meninggalkan
Nathan, tapi yang namanya setan kita nggak pernah tahu kan? manusia yang mudah
membuat janji nyatanya mereka juga mudah ingkar dengan janjinya dan bahkan
mereka sering berpura-pura lupa dengan janji yang pernah dikatakan.