
Keysha Putri Alvaro
Marvel Dwi Atmadja
Anak:
- Kanaya Putri Atmadja 24 tahun
- Raka Dwi Atmadja 18 tahun
Anisa Putri
Oki Pratama
Anak:
- Tamasha Pratama 25 Tahun
- Natasha Putri Pratama 18 tahun
4.Isabella
Aditya Wijaya
Anak:
Indira Kirania Wijaya 24 tahun
Alena Kanya Dewi
7.Dimas Manggala
Anak:
- Bara Yudha Manggala 24
- Nabila Ayunda 17 tahun
Zahra Jasmine
Arya Sinathrya
Anak:
-Alden Sinathrya 25 tahun
- Nathan Sinathrya 18 tahun
Farel Saputra
Lavanya Kirana
Anak:
- Anggela Anastasia 23
- Rangga Saputra 19 tahun
Alby
Anak:
- Anita Lestari 23 tahun
Suara-suara ******* kenikmatan dua manusia terdengar dengan indah, sepasang kekasih tengah menikmati penyatuan mereka, keringat membanjiri, namun tak menyulutkan semangat keduanya untuk mencapai pelepasan bersama.
"Sekarang sayang..." suara wanita mendesah dengan mencengkeram kuat sprei nya.
Akhir nya tubuh mereka pun memegang, setelah mencapai pelepasan untuk kesekian kalinya. Kecupan singkat di bibir menjadi tanda berakhirnya permainan mereka malam ini.
"Tama ..." panggil wanita itu manja.
"Ada apa sayang," Tama menjawab seraya mengusap keringat wanita nya.
"Aku ingin pasang KB implan, aku tidak mau minum pil KB lagi," keluh Vanes, wanita yang sudah 3 tahun ini menjalin hubungan dengan seorang Tamasha Pratama, pebisnis muda yang sukses membangun usaha nya sendiri di bidang properti. Tama menduduki nomor 3 besar pebisnis paling sukses, dengan yang pertama adalah Marvel Atmadja.
"Memang kenapa dengan pil nya? hmm?" tanya pemuda itu, seraya mengelus pipi Vanes
Vanes pun mengelus perut six pack milik Tama, karena posisi mereka masih sama-sama telanjang, hanya selimut yang membalut tubuh mereka.
"Aku takut lupa meminumnya, jadi akan lebih aman kalau aku pasang KB kan?" tanya Vanes.
"Baiklah, besok kita ke dokter."
"Oke," Vanes mencium bibir Tama dengan lembut.
"Kita istirahat ya? besok aku ada meeting pagi," ujar Tama sembari menguap.
"Iya sayang," jawab Vanes, sepasang kekasih itu pun terlelap, setelah lelah dengan aktivitas malam mereka.
Di sisi lain, seorang wanita cantik, berjalan dengan anggun di koridor rumah sakit, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Dia adalah Kanaya Putri Atmadja, Kanaya mempunyai jalan sendiri dalam meniti karir, dia memilih menjadi dokter bedah di rumah sakit milik Oki Pratama, atau Ayah dari Tama.
Kanaya tersenyum kearah seorang lelaki paruh baya, meskipun usianya tidak lagi muda, namun parasnya tak pernah luntur. Masih nampak gagah dan berkharisma, dialah Marvel Atmadja.
"Papah ..." Kanaya tersenyum ke arah Marvel, dia tak menyangka, ayah nya akan datang secara langsung untuk menjemput putrinya itu.
"Sudah selesai sayang?" tanya Marvel seraya merangkul pundak Kanaya.
"Sudah Pah ... kenapa papah yang jemput?"
"Memang nya tidak boleh, kalau papah menjemput dokter Kanaya?" ledek Marvel kepada putrinya. Mereka pun masuk ke dalam mobil, setelah sopir membukakan pintu.
"Bukan begitu Pah, aku cuman takut papah kelelahan," ujar Kanaya penuh perhatian.
"Kan ada dokter yang akan merawat Papah," ujar Marvel seraya tersenyum.
Kanaya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, berbicara dengan papah nya tak akan pernah menang, "Papah jarang sekali melihat Tama ke rumah sakit." Ujar Marvel.
"Buat apa Tama ke rumah sakit? Itu kan bukan ranah nya pah," jawab Kanaya bingung.
"Papah hanya heran, dulu kamu, Tama, Alden, dan Indira sangat dekat, tapi sekarang hubungan kalian dengan Tama nampak jauh," ujar Marvel.
Kanaya terdiam sejenak, benar apa yang dikatakan oleh Marvel, hubungan mereka menjauh setelah Tama menjalin hubungan dengan Vanes. Vanes melarang Tama dekat dengan Kanaya dan Indira, menurut Vanes tak ada persahabatan antara pria dan wanita.
Kanaya pun membenarkan apa ucapan Vanes, karena sebenarnya, Kanaya memiliki perasaan terhadap Tama, namun dia hanya bisa memendamnya, karena Tama hanya menganggap Kanaya sebatas teman. Mungkin lebih tepatnya, cinta dalam diam.
"Kanaya?" Marvel menyentuh pundak putrinya yang tengah melamun.
"Eh iya Pah," Kanaya terkejut karena sentuhan di pundaknya.
"Kok bengong?" tanya Marvel.
"Nggak papa kok pah, Kanaya cuman Laper jadi nggak fokus," jawab Kanaya dengan senyum nya.
"Ya sudah, sebentar lagi kita sampai, mamah sudah masak makanan yang enak buat kamu, nanti papah temani ya," ujar Marvel, karena ini sudah jam 11 malam tentu Marvel sudah makan malam.
Waktu sudah menunjukkan jam 06.00 pagi, Keysha membantu para pelayan di rumah menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Tidak lama Raka putra ke dua Keysha pun sudah duduk di meja makan, dan di susul oleh Kanaya.
"Tinggal papah yang belum?" tanya Keysha.
"Papah sudah ada di sini, " Marvel menuruni tangga menuju meja makan, dan memulai sarapan.
Disisi lain, Tama baru saja selesai mandi, dia juga sudah rapi mengenakan setelan jas untuk pergi ke kantor, sedangkan Vanes masih bergelung dalam selimut, belum ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun.
"Sayang, aku kekantor dulu, jam makan siang nanti aku jemput kamu," pamit Tama, tidak lupa dia mencium kening Vanes sebelum keluar dari apartemen.
Pagi hari di kota besar memang terlihat sibuk, karena orang-orang mulai beraktivitas kembali, tak terkecuali anak sekolah.
Raka baru saja mengeluarkan motor, dan tepat di depan nya ada gadis cantik dengan senyum manis nya yang selalu menyambut pagi hari Raka.
"Hai Raka," sapa gadis remaja itu, dia adalah Natasha, adik dari Tama.
"Udah siap?" tanya Raka, pasalnya mereka memang sering berangkat bersama, karena mereka satu sekolah.
"Ayo naik," ujar Raka. Tanpa menunggu lama, Natasha pun naik ke atas motor Raka.
"Tama ..." panggil Natasha.
"Apa?" jawab Raka ketus.
"Kamu bisa nggak sih, bersikap lebih baik ke aku?" tanya Natasha dengan wajah cemberut nya.
"Nggak, kalau bukan karena mamah yang minta, gue juga males berangkat sama loe," ujar Raka. Karena memang, Keysha lah yang meminta Raka berangkat bersama Natasha, toh mereka satu sekolah, jadi tidak masalah.
Natasha tidak peduli bagaimana sikap Raka padanya, yang penting bagi Natasha, Raka bisa dekat dengannya. Karena Natasha memang menaruh rasa lebih kepada Raka. Namun nampaknya cinta Natasha bertepuk sebelah tangan.
Merekapun akhirnya sampai di sekolah, seperti biasa, mereka akan selalu menjadi pusat perhatian, termasuk salah satu gadis yang tengah menatap jengah Raka dan Natasha.
"Hai Nabila," sapa Natasha kepada adik kelas satu tingkat nya itu.
"Hmm" hanya itu yang keluar dari bibir Nabila, terlihat sekali kalau Nabila sangat cemburu dengan kedekatan Natasha dan Raka.
"Raka, ayo kita ke kelas," ajak Natasha.
"Kita? Loe aja sana," setelah mengatakan itu Raka pun pergi kearah kantin.
"Raka!" seru Natasha memanggil Raka, namun tak sekalipun Raka menengok kebelakang.
"Cinta bertepuk sebelah tangan, tapi nempel terus kaya Ulee keket," sindir Nabila.
"Bilang aja iri," Natasha pergi dengan mengibaskan rambutnya.
Raka memang salah satu siswa terpopuler di SMAN Pancasila, bukan hanya Natasha atau Nabila yang yang dengan terang-terangan menyukai pemuda 18 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA itu, melainkan para mahasiswi lain pun mengidolakan Raka, namun mereka tak seberani Natasha dan Nabila.
Raka duduk menghampiri teman-temannya yang sudah lebih dulu berada di kantin sekolah, seperti biasa, lagi hari mood Raka akan buruk jika berangkat bersama Natasha. Namun apa boleh buat, Raka hanya bisa pasrah ketika mamah cantik nya itu sudah meminta Raka berangkat bersama Natasha, dengan alasan supaya Raka tidak bolos.