
Tidak terasa usia kehamilan Keysha sudah memasuki usia 39 Minggu lebih 5 hari, itu berarti sudah mendekati waktu persalinan, Marvel sendiri menjadi lebih siaga, untuk urusan kantor Marvel lebih sering mengerjakan di rumah, Ryan dan Farel lah yang lebih sering berangkat ke kantor.
Lavanya sendiri kini tengah mengandung, usianya sudah memasuki 4 bulan, sedangkan Dewi juga tengah mengandung dan sudah memasuki usia 2 bulan.
Farah dan Bagas juga kini tengah berada di Jakarta, karena prediksinya Keysha akan melahirkan dalam waktu dekat,mumpung weekend kini Keysha tengah berjalan - jalan santai di sekitar rumah dengan Sinta dan Farah.
Namun tiba - tiba Keysha merasa perutnya sangat sakit, Keysha bahkan hampir terjatuh, namun dengan sigap Farah dan Sinta menopang tubuh Keysha.
"Marvel" Teriak Sinta. Marvel yang tengah bermain catur di teras rumah dengan Bagas pun terkejut, begitu juga dengan Ryan yang tengah melihat permainan catur.
"Kenapa mah?" tanya Marvel cemas.
"Seperti nya Keysha akan melahirkan," jawab Farah.
Mendengar kata melahirkan, Ryan dan Bagas sigap menyiapkan mobil, sedangkan Marvel karena panik, dia jadi bingung harus berbuat apa.
Marvel membawa Keysha masuk ke dalam mobil yang di kendarai Bagas, Sinta dan Farah pun ikut masuk ke kursi penumpang supaya bisa memberikan arahan kepada Keysha tentang pernafasan yang baik.
Sedangkan Ryan menyetir sendiri, tidak lupa Ryan meminta pelayan membawakan perlengkapan bayi ,juga perlengkapan untuk Keysha yang sudah di kemas beberapa waktu lalu oleh Keysha.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, beberapa perawat langsung membantu Keysha menuju ke ruang persalinan. Dokter kandungan pun sudah siap, mereka terlebih dahulu mengecek semua kondisi Keysha, serta mengecek apa kah Keysha sudah siap melahirkan.
"Pak, ini baru bukaan 5, jadi belum bisa," ujar dokter.
"Tapi istri saya sudah mulai sakit dok," ujar Marvel.
"Iya pak, tapi memang belum siap untuk keluar bayinya, dia masih mencari jalan. Nah untuk mempercepat proses pembukaan, bisa sambil berjalan santai di bantu suami," ujar dokter menjelaskan.
"Iya dok," bukan Marvel yang menjawab, melainkan Keysha.
"Sayang kamu yakin?" tanya Marvel memastikan.
"Iya Vel aku yakin," jawab Keysha, kemudian dokter dan beberapa perawat pun membantu Keysha untuk turun dari ranjang, setelah itu Keysha berjalan di sekitar kamar dengan di bantu Marvel.
Setelah merasa bosan, Keysha berjalan keluar, dimana keluarga nya sudah menantikan kabar bahagia. Kedua orang tua Keysha dan Marvel sebelumnya sudah di beritahukan tentang Keysha yang masih bukaan 5, jadi kini Sinta dan Farah tengah menemani Keysha untuk berjalan santai, Keysha berjalan dengan tertatih - tatih, karena dia juga menahan sakit di perutnya.
Tak lama Sinta melihat ada cairan yang keluar dan mengalir di kaki Keysha.
"Air ketuban sudah keluar, " ucap Sinta.
"Marvel panggil dokter dan suster," seru Farah.
Kemudian dokter dan suster pun menghampiri Keysha, Keysha pun kembali di bawa ke ruang persalinan karena Keysha akan melahirkan.
Marvel menemani Keysha di dalam ruang bersalin, dapat Marvel lihat bagaimana perjuangan Keysha melahirkan buah hati merek, Marvel tidak pernah berhenti untuk menyemangati istrinya, bahkan Keysha menggenggam tangan Marvel sekuat tenaga, seolah berbagi rasa sakit untuk Marvel, namun semua tidak di hiraukan oleh Marvel, yangg terpenting Keysha bisa melahirkan dan keduanya selamat dan sehat.
Setelah beberapa saat akhirnya tangis bayi pun terdengar, helaan nafas lega dari keluarga serta Marvel dan Keysha terdengar. Senyum terukir dari mereka semua, atas kelahiran anak pertama Marvel dan Keysha.
"Selamat ya Pak, Bu, bayinya perempuan, cantik dan sehat tanpa kurang suatu apapun," ujar dokter.
"Terimakasih dok," ucap Marvel,
"Sayang, putri kita sudah lahir," ucap Marvel seraya mencium kening Keysha.
"Terimakasih untuk perjuangan nya," ucap Marvel lagi. Namun Keysha hanya bisa meneteskan air mata dan mengangguk sebagai jawaban.
Kini Keysha sudah di pindahkan ke ruang rawat, begitu juga bayinya.
"Siapa namanya Vel?" tanya Farah yang tengah melihat cucu perempuan nya tertidur pulas di ranjang bayi.
"Kanaya Putri Atmadja, panggilannya Kanaya," ucap Marvel.
"Nama yang cantik," ucap Sinta.
"Halo Kanaya sayang," sapa Bagas dan Ryan.
Hari ini, keluarga Keysha dan Marvel sangat berbahagia atas kelahiran seorang putri penerus dari keluarga Atmadja dan Alvaro.
Saat kebahagiaan tengah menghampiri keluarga Keysha, ketegangan dan kecemasan malah tengah di rasakan oleh keluarga Aditya. Tiba - tiba saja, Rania jatuh pingsan tanpa sebab, sebelum nya Rania merasakan sakit yang teramat di kepalanya, dan setelah itu dia pun jatuh pingsan.
Aditya,Bella, Desi dan Harun langsung membawa Rania ke rumah sakit terdekat, dan kini Rania tengah di tangani oleh dokter.
Lantunan doa terus terucap untuk keselamatan Rania, rasa panik dan cemas tak dapat mereka sembunyikan, sejujurnya beberapa hari ini, Rania terlihat kurang vit, Bella, Aditya dan yang lain sudah meminta Rania untuk ke rumah sakit, check kesehatan, namun Rania menolak dengan berdalih ini hanya bawaan hamil.
Saat mereka tengah fokus berdoa, dokter pun keluar dari ruangan Rania dengan raut cemas.
"Maaf Pak, sebelum nya apa bapak mengetahui tentang penyakit yang di derita pasien?" tanya dokter.
"Penyakit?" semua orang berkata bingung, selama ini Rania tidak menceritakan penyakit apapun.
"Tidak dokter," jawab Aditya.
Terdengar helaan napas berat dari dokter, "kami sudah melakukan beberapa tes, bahkan sudah 2x untuk memastikan tidak ada kesalahan pak, dan dari pemeriksaan yang kami lakukan, pasien mengidap kanker otak stadium 4," ujar dokter menjelaskan.
Bagai dunia runtuh saat itu juga, saat mendengar pernyataan dokter bahwa Rania mengidap kanker otak stadium 4, yang artinya itu sudah sangat parah.
"Tapi, dari hasil pemeriksaan saya, pasien mengonsumsi obat yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker otak nya, berarti pasien sudah mengetahui tentang penyakit nya," ujar dokter.
Mendengar penjelasan dari dokter, membuat semua keluarga terkejut.
"Tapi Rania tidak pernah menceritakan apapun kepada kami dok," ujar Bella.
"Kira - kira sudah berapa Rania mengonsumsi obat tersebut dok?" tanya Harun.
"Obat tersebut, di buat khusus supaya kandungan pasien tetap aman, jadi saya rasa pasien sudah lama mengetahuinya nya, apa kah ketika check kandungan tidak ada yang menemani?" tanya dokter.
"Saya dan menantu saya selalu menemani nya dok," jawab Desi.
"Benar dok, tapi dari dokter kandungan mengatakan bahwa Rania baik-baik saja," ucap Bella.
"Apa mungkin, Rania sudah bersekongkol dengan dokternya? supaya kita tidak tidak tahu tentang penyakit nya?" ucap Harun.
"Bapak benar," jawab Aditya lesu.
"Lalu apa yang seharusnya kita lakukan dok?" tanya Aditya.
"Maaf sebelumnya Pak, Bu, tapi sel kanker pasien sudah memasuki stadium 4 atau bisa di sebut stadium akhir, jadi sangat kecil harapan untuk bisa sembuh," ujar dokter.
"Dok, pasti ada cara, tolong lakukan apapun yang terbaik untuk Rania," ujar Bella histeris.
"Maaf Bu, bahkan dengan berat hati kami harus melakukan operasi sesar, karena kondisi pasien yang mulai mengkhawatirkan," ucap dokter.
"Operasi sesar? apa itu tidak berbahaya dok?" tanya Aditya.
"Kami harus melakukan tindakan pak, menyelamatkan salah satu yaitu anak dalam kandungan ibunya," ujar dokter.
"Siapa yang bertanggung atas pasien?" tanya dokter.
"Kamu saja Aditya," ucap Harun.
"Saya dok," ucap Aditya.
"Baiklah,mari bapak ikut saya untuk menandatangani berkas, bahwa bapak setuju bahwa pasien melakukan tindakan operasi sesar." ujar dokter.
"Baik dok," Kemudian Aditya pun mengikuti dokter untuk menandatangani berkas yang diminta. Dengan berat hati, Aditya menandatangani nya, namun ini adalah yang terbaik, Aditya tidak mau menyiksa Rania dengan 2x kesakitan, yang pertama anaknya, dan kedua kankernya.
Selesai menandatangani berkas, dokter pun segera menyiapkan segala hal yang di butuhkan untuk tindakan operasi, Aditya berjalan lunglai menemui keluarga nya.
"Bagaimana mas?" tanya Bella.
"Sudah," Aditya mengangguk lemah, sekelebat bayangan di masa lalu pun muncul, bagaimana sikap Aditya kepada Rania yang acuh tak acuh, kini hanya penyesalan yang menggerogoti hati Aditya.
"Kenapa Rania merahasiakan nya dari kita?" ucap Desi terisak.
"Bu, sudahlah ... yang bisa kita lakukan sekarang adalah, kita harus berdoa, semoga ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa, sehingga Rania dan cucu kita bisa selamat," ujar Harun.
"Iya bu, semoga Allah SWT masih mau memberikan kesempatan supaya Rania bisa sembuh, kita pasrah kan semuanya kepada-Nya." ujar Bella.
Tak lama Rania pun keluar dibawa oleh beberapa perawat ke ruang operasi, Rania masih pingsan. Bella pun menggenggam tangan Rania, wanita yang sudah Bella anggap seperti adik sendiri.
"Rania, kamu harus kuat ya," ucap Bella terisak.
Perawat terus mendorong brankar Rania, hingga sampailah mereka di ruang operasi, suster pun melarang keluarga Aditya untuk masuk.
"Bapak, Ibu tolong tunggu di luar ya," ucap suster seraya menutup pintu.
Tidak lama lampu pertanda operasi menyala, itu tanda nya operasi sudah di mulai.Aditya, Bella, Harun dan Desi pun menunggu dengan harap-harap cemas.