
Mendengar ucapan Nando, Kanaya malah dibuat bingung, namun
dia juga malu karena orang-orang yang disekitar mulai melihat mereka dengan
tatapan bertanya.
“Loe bisa nggak sih bicara biasa aja, nggak usah
teriak-teriak,” Kanaya menekan kata-katanya, ingin sekali Kanaya menyumpal
mulut Nando dengan batu besar.
“Kenapa? Loe malu Kanaya? loe takut semua orang tahu siapa
loe sebenarnya hah!!” seru Nando yang semakin membuat orang-orang menatap
mereka dengan tatapan tidak biasa.
“Loe mabuk ya? bicara loe ngaco tahu nggak sih,” Kanaya
hendak melangkah meninggalkan Nando, namun tangannya langsung dicekal oleh pria
itu, sekuat tenaga Kanaya berusaha melepas cekalan tangan Nando sampai Kanaya
jatuh terduduk di lantai, dan membuat luka ditelapak tangannya.
Melihat luka ditelapak tangan Kanaya, Nando pun tersadar dia
sudah cukup kasar dengan Kanaya, dna
bermaksud menolong mantan kekasihnya itu, namun langsung ditepis kasar oleh
Kanaya.
“Loe pikir gue cewek lemah? Yang berdiri dengan kaki sendiri
aja gue nggak bisa!” kini giliran Kanaya yang berbicara dengan nada intonasi
tinggi.
“Apa nggak cukup dengan loe nyakitin hati gue? apa nggak
cukup loe sayat hati gue Nando? Apa itu semua belum cukup!!”
“Kenapa sih Nay, loe terus aja nyudutin gue sama Indira,
padahal loe sendiri juga salah. Loe sama gue cuman pelampiasan kan? loe nerima
gue cuman karena loe pengen lupain perasaan loe sama Tama kan? secara nggak
langsung, loe manfaatin gue!” Kanaya terkejut mendengar penuturan Nando.
‘Darimana Nando tahu gue pernah punya rasa sama Tama,
sedangkan oranglain aja nggak tahu kecuali ….’ Nampaknya Kanaya sudah tahu
siapa yang sudah membocorkan rahasianya, yaitu Indira.
Kanaya tertawa seolah ucapan Nando adalah bahan lawakan, “
memutar tubuhnya meninggalkan Nando.
“Loe jahat Nay, gue nyesel pernah kenal sama loe! Gue tahu Tama berkuasa, tapi
apa harus loe nyuruh dia siapa Indira dipecat?” seru Nando, dan ucapan Nando berhasil
membuat Kanaya menghentikan langkahnya.
“Indira dipecat?” lirih Kanaya, dia tahu betul kalau
cita-cita Indira sedari dulu adalah sebagai dokter spog, bahkan Indira ingin
memiliki klinik sendiri. Kanaya tidak mau dianggap lemah, dia pun tetap
melanjutkan langakahnya dan untuk masalah ini akan Kanaya bicarakan langsung
dengan orang yang ersangkutan, yaitu Tama.
Tepat pada saat Kanaya keluar dari gerbang rumah sakit, Raka
datang dan menghampiri Kanaya dengan tergesa-gesa.
“Maaf ya Kak, aku terlambat,” ujar Raka tidak enak, dia
yakin kakaknya sudah lama menunggu. Namun, tidak ada respon sama sekali dari
Kanaya membuat Raka berpikir mungkin saja kakaknya marah karena dia sudah
datang terlambat.
“Apa kamu tahu tentang Indira yang dipecat dari rumah sakit?”
tanya Kanaya dengan tatapan serius.
Raka terdiam, ‘kenapa Kak Kanaya bisa tahu? Siapa yang
memberitahunya?’ batin Raka bingung, tiba-tiba saja dia melihat dari dari
telapak tangan Kanaya. “Kak darah,” Raka nampak khawatir dan berusaha untuk
melihat luka Kanaya namun langsung ditepis.
“Jangan mengalihkan pembicaraan Raka, sekarang kakak tanya
lagi, apa kamu tahu soal itu?” kali ini Kanaya terlihat lebih serius.
“Iya aku tahu kak,” jawab Raka jujur.
“Kenapa? dan siapa yang merencanakan? Apa Tama? Atau Papah?”
“Kak Tama dan Papah yang sudah merencanakannya kak,” Raka
tidka bisa lagi menutupi apapun dari kakaknya, mengelak pun tidak akan bisa
karena Raka yakin sudah ada yang memberitahukannya kepada Kanaya, namun Raka
masih bingung siapakah orangnya.