
Kini mereka semua sudah berada dalam mobi, raut wajah
kebahagiaan sangat terpancar, apalagi Bella. Namun, berbeda dengan Indira, dia
malah terlihat tengah memikirkan sesuatu.
“Kamu mikirin apa sayang?” tanya Bella, dia tahu ada yang
menganggangu pikiran putrinya itu.
“Berita tentang aku yang dipenjara, apa sudah menyebar Mah?”
tanya Indira was-was.
“Belum kok, berita tentang kamu tidak tersebar sama sekali,
jadi semua aman sayang, termasuk karir kamu. ” jawab Bella.
“Syukurlah kalau begitu Mah,” Indira bernapas lega.
“Indira, apa kamu melihat Om Marvel tadi?” tanya Aditya.
“Iya Pah …” jawab Indira, mendengar Ayahnya menyebut nama
Marvel, membuat Indira kembali mengingat ucapan Marvel padanya tadi di kantor
polisi.
“Apa kamu sudah meminta maaf dan mengucapkan terimakasih?”
“Sudah Pah,” Indira nampak sendu menjawab pertanyaan Aditya.
“Kamu kenapa sayang? kok kaya sedih banget?” tanya Bella
dengan penuh perhatian. Meskipun Bella bukanlah ibu kandung Indira yangh sudha
mengandung dan melahirkannya, namun bagi Bella Indira sudah seperti separuh
jiwanya, jadi apapun yang tengah dirasakan atau disembunyikan oleh Indira,
Bella juga bisa merasakan.
“Om Marvel kayaknya marah banget sama aku Mah,” Indira
menundukkan wajahnya.
“Pantas lah Marvel marah, karena kamu tante Keysha sampai
masuk rumah sakit, belum lagi perkataan kamu yang menyakiti hati Kanaya.
Sebagai seorang ayah dan suami tentu saja akan sangat marah melihat keluarganya
diinjak-injak begitu.” Bella Aditya.
“Pah, harusnya kamu dengarkan dulu ucapan Indira, jangan
langsung membela Marvel begitu,” hardik Bella, namun Aditya hanya memutar bola
matanya malas, dia malas berdebat dengan
Bella yang terlalu membela Indira.
“Sayang … apa om Marvel mengatakan sesuatu kepada kamu?”
tanya Bella penasaran.
“Iya Mah, Om Marvel bilang … dia bisa saja menghancurkan aku
seperti debu, dan dia bilang aku dengan Kanaya tidak satu level, kita berdua
tidak setara,” jelas Indira, mendengar ucapan Indira tentuvsaja membuat Bella
merasa terhina. Tapi, berbeda dengan Aditya, dia tahu apa yang Marvel katakan hanya sebagai bentuk
kekecewaan atas apa yang sudah putrinya sudah lakukan.
Aditya masih mengingat betul, bagaimana dulu usahanya sempat
bangkrut, dan ditolong oleh om Marvel yang bernama Rayyan, jadi secara tidak
langsung apa yang Marvel kaatakan memang benar. Marvel bisa menghancurkan
keluarganya seperti debu, jika Marvel mau, namun Marvel masih memiliki hati
nampaknya.
“Apa? om Marvel bilang begitu sayang?” Bella nampak sangat
marah dan merasa diinjak-injak harga dirinya oleh perkataan Marel.
“Sombong sekali dia! Memangnya dia siapa!”
“Sudahlah Bella, tidak perlu terlalu emosi begitu,” ujar
Aditya menenangkan istrinya, namun Nando hanya diam, dia fokus menyetir mencoba
menulikan pendengarannya tentang perdebatan mertuanya itu.
“Kamu ini gimana sih mas, harusnya kamu juga bertindak
tegas, Marvel sudah menginjak-injak harga diri kita dan martabat keluarga
kita!” ucap Bella penuh emosi.
“Hanya karena itu kamu jadi marah begini? Lalu bagaimana
dengan Marvel yang sudah berulang kali kalian berdua kecewakan, berarti Marvel
tidak salah kan? memenjarakan Indira?” tanya Aditya.
“Kenapa kamu jadi membela mereka sih mas?”
“Aku tidak membela, aku hanya mengatakan apa yang
sebenarnya. Dengar Bella, kamu jangan melakukan hal bodoh apapun lagi, atau
jika sampai kamu bertindak nekat dan keluarga Marvel tidak terima dengan apa
yang kamu lakukan, maka aku tidak akan tanggung jawab dan aku akan meninggalkan
itu, aku tidak akan main-main dengan ucapanku.” Aditya nampaknya sudah sangat
lelah dan kecewa atas semua yang sudah terjadi, Aditya lelah terus menerus
Aditya langsung turun dari mobil, karena mereka memang sudah
sampai di rumah, sedangkan Bella masih terpaku karena mendengar ancaman dari
suaminya. Baru kali ini, Aditya mengatakan hal demikian.
“Ayo Mah,” Indira mengajak Bella untuk masuk dalam rumah.
Indira pikir kepulangannya akan disambut dengan baik oleh kedua orangtuanya,
namun ternyata hari kebebasan Indira, dia harus melihat pertengkaran kedua
orangtuanya.
Indira merasa kini kehidupannya, sudah jauh dari kata
tentram, kehidupan keluarga yang sudah jauh dari kata harmonis. Ini semua
terjadi setelah keluarganya berurusan dengan keluarga Atmadja. Indira merasa
lelah dengan semuanya, belum lagi dengan ibu mertuanya, yang beberapa hari lalu
sempat bersitegang dengannya.
“Indira?” Nando memanggil Indira lirih.
“Iya ??”
“Pasti berat ya selama berada di sana?” Nando merasa iba
mengingat Indira di lapas, dia yakin pasti sangat tidak nyaman berada disana.
“Memang berat, tapi kamu menjadi salah satu alasanku untuk
kuat menghadapi semuanya,” jawab Indira.
“Aku sempat frustasi karena om Marvel belum juga mencabut
tuntutannya, maaf ya waktu itu aku sempat berusaha menemui Kanaya. Karena aku
pikir Kanaya bisa membantuku untuk membebaskan kamu,” jelas Nando berusaha
jujur kapada Indira.
Bukannya marah karena Nando mencoba menemui mantan
kekasihnya, Indira malah tersenyum. Karena dia merasa Nando melakukan semua itu
demi dirinya, dengan begitu secara tidak langsung Nando sudah menunjukkan rasa
cintanya dihadapan Kanaya.
“Nggak apa-apa kok, kan kamu melakukan itu demi aku …”
Indira mencoba mengerti posisi Nando.
“Oh iya, aku dengar Kanaya dan Tama kini dekat ya?” tanya
Nando, dia mencoba mengulik informasi siapa tahu Indira tahu sesuatu.
“Oh iya? Jadi sekarang Kanaya dekat dengan Tama…” Indira
sedikit terkejut mendengar pertanyaan Nando.
“Iya, bahkan sepertinya mereka akan menikah.”
Indira tersenyum, “jadi Kanaya akhirnya mendapatkan cinta
pertamanya?”
“Apa? cinta pertama?” Nando terkejut dengan perkataan
istrinya itu, memang selema menjaalani hubungan dengan Kanaya, Kanaya tidak
pernah sekalipun mengatakan apapun tentang masalalunya apalagi tentang cinta
pertama.
“Iya, Kanaya bekerja di luar negeri sebenarnya karena dia
ingin menyembuhkan luka hatinya pada saat itu, karena tepat hari keberangkatan Kanaya hari itu juga Tama melangsungkan
pesta pernikahannya, namun gagal.” Indira pun menceritakan bagaimana masalalu Tama
dan keputusan Kanaya untuk pergi ke Amerika. Nando pun mendengarkan cerita
Indira dengan seksama, seolah tidak mau terlewat sedikipun.
‘Rupanya cinta Kanaya pada Tama tidak pernah hilang,
jangan-jangan pada saat itu aku hanya dijadikan pelarian. Kenapa sakit sekali
menerima kenyataan ini?’ batin Nando.
.
.
Sudah waktunya jam pulang bagi Kanaya, dia pun membereskan semua barang-barangnya, dan bergegas
keluar dari ruang praktek. Kanaya ingin menanyakan kepada Tama apakah dia tahu
tentang Indira yang masuk penjara karena laporan ayahnya. Karena Kanaya yakin
Tama tahu sesuatu, pasalnya beberapa hari ini Kanaya sering melihat Tama dan
Marvel sering berbicara cukup serius.
“Hai ….” Tama menyambut Kanaya dengan senyumnya, namun
Kanaya hanya membalas sekilas. Tama pun membukakan pintu mobil untuk calon
istrinya.
“Felly tidur?” tanya Kanaya setelah dia masuk kedalam mobil.
“Iya, aku jemput Felly saat pulang sekolah, dan aku bawa dia
kekantor,” jelas Tama.