
Keesokan harinya Kanaya dan Arya mengajak Erland pergi
jalan-jalan tanpa Raissa dan Abimanyu, tapi mereka lebih dulu pergi ke hotel
dimana Anjani menginap.
“Mom, Dad … kok kita kesini?” tanya Erland bingung.
“Iya sayang, ada orang yang ingin bertemu dengan kamu,”
jawab Kanaya, dan tidak lama orang yang Kanaya sebut pun datang.
“Hai Erland,” Anjani menyapa Erland dengan halusnya.
“Aunty Anjani?” lirih Erland, Anjani tersenyum dan langsung
memeluk Erland dengan rasa rindu.
“Happy birthday ya sayang.” Anjani menyerahkan kado untuk
Erland.
“Terimakasih aunty,” jawab Erland seraya menerima kado dari
Anjani.
“Kamu sudah sarapan sayang?” tanya Arya kepada Anjani.
“Udah kok mas..”
“Ya sudah, kita berangkat sekarang ya?” usul Arya, mereka
berempat pun naik ke mobil, dengan posisi Arya yang menyetir dan Erland duduk
disamping Arya, sedangkan Kanaya juga Anjani duduk di kursi penumpang.
Kanaya dan Anjani menikmatai perjalanan dengan melihat
pemandangan dan sesekali mengobrol, sedangkan Erland masih diam, terlihat
Erland kurang berminat dengan jalan-jalannya kali ini.
“Erland kenapa ya? tadi sewaktu dari rumah dia sangat
exited, tapi setelah bertemu dengan Anjani, kenapa wajahnya murung?” batin Ara.
“Aku memang senang bisa jalan-jalan dengan Mommy dan Daddy,
tapi kenapa harus ada aunty Anjani? aku ingin seperti keluarga normal pada
umumnya, yang pergi berlibur hanya dengan orangtua kandung, tanpa orang lain,”
batin Erland.
Mereka memulai perjalanan ke kebun binatang, dan
tempat-tempat yang sekiranya pernah Kanaya dan Erland datangi, namun dari raut
wajahnya, sangat terlihat kalau Erland kurang nyaman, hal itu membuat Kanaya
khawatir.
“Kamu kenapa sayang?” lirih Kanaya.
“Nggak kenapa-napa kok Mom,” jawab Erland bohong.
“Mommy tahu, kamu sedang tidak baik-baik saja, jawab ada
apa?”
Erland nampak menghela napasnya, “Erland kurang suka dengan
jalan-jalan kita Mom, yang Erland mau, kita pergi bertiga, hanya aku, Mommy dan
daddy,” ujar Erland.
“Erland, dengarkan Mommy, aunty Anjani sangat merindukan
kamu Nak, dia sangat ingin bertemu dengan kamu, seharusnya kamu juga bisa
sebaliknya dengan aunty Anjani, kamu harus bisa menyayangi aunty Anjani seperti
kamu menyayangi Daddy,” ujar Kanaya.
“Iya Mom, aku akan berusaha,” jawab Erland, Kanaya pun
mencium lembut putranya.
Selesai puas jalan-jalan, mereka memutuskan untuk makan
siang di salah satu restoran yang cukup terkenal, Kanaya pun tahu restoran itu,
karena Raissa dan Abimanyu dulu selalu mengajak nya kesana. Berlibur ke
Prancis, membuat Kanaya jadi ingat dengan perjuangannya disana, dulu di Negara
ini Kanaya melahirkan Erland, dan disini pula Kanaya membesarakan Erland.
Dalam perjalanan Kanaya berbicara kepada Erland, supaya
Erland tidak berbicara apapun kepada Raissa dan Abimanyu tentang Anjani yang
juga ikut dengan mereka.
“Kenapa aku tidak boleh bilang kepada Grandma dan Grandpa,
Mom?”
Kanaya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan putranya,
“Erland kan tahu, kalau Grandma dan Grandpa tidak suka dengan aunty Anjani,”
jawab Kanaya.
Erland nampak berpikir sejenak, “baiklah Mom,” Erland pun
setuju untuk merahasiakan tentang keberadaan Anjani di Prancis.
Dan sesampainya Erland, Kanaya juga Arya di rumah, Erland
menepati janjinya, dia sama sekali tidak menyebut nama Anjani ketika Raissa
bertanya tentang perjalanan mereka.
Sudah 1 mingu mereka berada di Prancis, dan kini mereka baru
saja tiba di Bandara, sejujurnya Kanaya masih betah berlama-lama disana, karena
dia bisa dekat dengan putranya.
“Sayang, aku antar kamu dulu ya, karena setelah ini aku akan
di rumah Anjani,” ucap Arya.
“Iya mas.”
Keesokan harinya Kanaya bersiap untuk menjenguk Anjani,
karena Arya bilang kondisi Anjani tengah kurang sehat, Kanaya juga membawakan
makanan kesukaan Anjani.
“Semogax mba Anjani suka dan mau makan,” batin Kanaya, dia
pun mengetuk pintu rumah Anjani, dan keluarlah seseorang yang membuat Kanaya
terkejut.
“Kamu?”
“Aldo?” Kanaya terkejut karena ternyata Aldo yang membukakan
pintu.
“Jadi kamu sudah kembali lagi?” tanya Aldo dengan nada
congaknya, tidak lupa nada tatapan sinis yang Aldo tujukan untuk Kanaya.
“Iya, aku kembali,” jawab Kanaya dengan santai.
“Dan kamu juga kembali menjadi penggoda suami kakak ku?”
tanya Aldo semakin menjadi.
Amarah Kanaya memuncak, “dengarkan ini baik-baik Aldo, aku
tidak pernah menggoda mas Arya, bukankah mba Anjani dan mas Arya sudah
menjelaskan ketika konferensi perss? Harusnya kamu tahu.”
Aldo tersenyum sinis, “aku tidak perduli, karena dimata ku
kamu akan tetap menjadi wanita penggoda,” tegas Aldo.
“Mau aku menjelaskan sampai mulutku berbusa pun percuma,
karena hati kamu memang sudah dipenuhi oleh kebencian tentangku, jadi kamu
tidak akan bisa menerima setiap pembelaan ku,” Kanaya langsung mendorong tubuh
Aldo, supaya dia bisa masuk dan bertemu dengan Anjani.
“Hai!! Siapa yang menyuruhmu masuk!” seru Aldo, tapi Kanaya
tidak menggubris, Aldo pun berusaha untuk mengejar Kanaya, tapi dicegah oleh
Desi.
“Bi, saya mau menghentikan dia,” ucap Aldo.
“Jangan tuan, biarkan ibu Kanaya bertemu dengan ibu Anjani,”
cegah Desi.
Akhirnya Arya pun membiarkan Kanaya untuk menemui kakakya,
meskipun Aldo masih berusaha untuk mengawasi kakaknya dari jarak jauh.
“Mba…” sapa Kanaya.
“Hai Nay, kamu dateng?” Anjani nampak terkejut melihat
kedatangan Kanaya, apalagi saat ini adiknya juga ada di rumah.
“Maaf ya mba, aku ganggu istirahatnya mba Anjani.”
“Enggak sama sekali kok … oh iya, apang kamu ketemu …”
“Iya mba, aku ketemu sama Aldo, adik mba Anjani,” Kanaya
paham apa yang ingin Anjani tanyakan.
“Apa Aldo berbicara kasar terhadap kamu Kanaya?” tanya
Anjani dengan khwatir.
Kanaya pun tersenyum, “enggak kok mba, mba Anjani nggak
perlu khawatir,” jawab Kanaya menenangkan Anjani, namun Anjani tidak percaya,
dia sangat yakin kalau adiknya itu mengatakan hal-hal yang menyakiti Kanaya.
“Aku minta maaf ya Nay, tentang adikku,” Anjani terlihat
tidak enak hati.
“Sudahlah mba, jangan memikirkan itu, lagi pula aku juga
tidak mempermasalahkan kok.”
“Oh iya mba Anjani sakit apa?” pasalnya Kanaya melihat wajah
Anjani yang sangat pucat.
“Aku cuman kelelahan kok, kamu nggak usah khawatir Kanaya,”
jawab Anjani, dia berusaha untuk menyembunyikan sakitnya.
“Tapi mba Anjani belum ke rumah 88dfsakit kan untuk mengecek
kondisi mba, atau gini aja mba, aku anterin mba ya??” tawar Kanaya.
Anjani menggeleng, “enggak Nay, aku nggak papa kok serius,”
Anjani berusaha meyakinkan Kanaya.
“Ya sudah kalau begitu mba, mba Anjani makan dulu ya? aku
buatin makanan kesukaan mba Anjani loh,” Kanaya membuka tempat makannya.
“Wah jadi ngerepotin kamu Kanaya.”
“Enggak kok mba … aku suapin ya?” Kanaya pun menyiapkan
makanan untuk Anjani, dan membantu
Anjani menyuapkan makanan, Aldo yang melihat semua itu berpikir bahwa Kanaya
melakukan semua itu hanya untuk mencari muka, karena sebenarnya Kanaya bahagia
melihat Anjani tengah sakit.
Malam hari, Anjani merasa kepalanya sangat sakit, beberapa
hari ini memang Anjani sering mengeluhkanhal itu, semakin lama sakit kepala
Anjani menjadi sangat sering, dan kini Anjani merasa penglihatannya menjadi
buram.
“Mas Arya …” lirih Anjani, namun Arya kini berada di ruang
kerjanya, jadi dia tidak mendengar
panggilan Anjani, sebenarnya sedari tadi Arya menemani istri pertamanya itu,
namun karena Arya tidak mau menggangu Anjani yang tengah istirahat, dia pun
memutuskan untuk mengerjakan beberapa file di ruang kerja, setelah lebih dulu
memastikan keadaan Anjani baik-baik saja.
Anjani pun mencari ponselnya, untuk menghubungi Arya, namun
karena ponselnya yang jauh dari
jangkauan Anjani, membuatnya sulit untuk menggapai. Semakin lama rasa sakit
dikepala Anjani semakin terasa, Anjani merasa kepala nya terasa akan pecah.
“Akkkhhhhh” Anjani menjerit karena sangkin sakitnya, sampai
terdengar di ruang kerja Arya.
“Anjani?” Arya kaget mendengar suara jeritan Anjani, dia pun
segera berlari menuju kamar dimana istrinya berada.
“Anjani?” Arya yang terkejut melihat kondisi Anjani, langsungmenghampirinya.
“Sakit mas,” rintih Anjani seraya menjambak rambutnya.
Tanpa menunggu lama, Arya pun segera menggendong Anjani
untuk dibawa ke rumah sakit, Aldo yang tengah dilantai bawah, terkejut kala
melihat Arya tergesa-gesa membawa Anjani dengan raut wajah cemas.
“Kak, kak Anjani kenapa?” tanya Aldo, karena kini Anjani
sudah pisang.
“Aku tidak tahu persis, makanya aku ingin bawa Anjani ke
rumah sakit,” jawab Arya dengan panic.
“Ya sudah kak, biar aku yang menyetir mobil,” ujar Aldo,
mereka pun segera membawa Anjani masuk kedalam mobil, dengan Aldo yang memegang
kemudi.
Sesampainya di rumah sakit, dokter mengarahkan agar Anjani
dibawa ke IGD, Arya dan Aldo pun menunggu dokter memeriksa Anjani dengan
harap-harap cemas, tidak lama dokter keluar dengan raut wajah nampak khawatir.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”
“Kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut pak,” jawab Dokter.
“Memangnya keadaan kakak saya separah apa dok?” tanya Aldo
dengan cemas.
“Kami belum bisa memberitahukan sebelum kami memastikan dulu
Pak, yang bisa kita lakukan hanya berdoa, semoga hasilnya sama seperti apa yang
kita harapakan.”
Aldo dan Arya pun kembali menunggu, karena Anjani akan
dilakukan tindakan pemeriksaan lebih lanjut, pemeriksaan berjalan sangat lama
disbanding tadi, dan hal itu membuat Arya maupun Aldo menjadi semakin khawatir.
“Kenapa lama sekali ya kak?” tanya Aldo dengan risau.
“Entahlah, tapi kita berdoa saja semoga tidak ada hal yang
menkhawatirkan ya?”
“Iya kak …”
Tidak lama, Dokter keluar dengan raut wajah yang sulit untuk
dijelaskan, namun sangat terlihat kalau Dokter tengah khawatir.
“Dok, bagaimana?” tanya Arya dengan tidak sabar.
“Kami sudah memeriksa keadaan ibu Anjani, dan bahkan kami
melakukan sebanyak dua kali supaya kami benar-benar yakin dengan hasil diagnose
kami, hasilnya ibu Anjani mengidap penyakit kanker otak stadium 3,” dengan
berat hati Dokter menjelaskan penyakit Anjani.
Baik Arya maupun Aldo sama-sama terkejut mendengar
penjelasan dokter, mereka nampak tidak percaya dengan hasil diagnose Dokter.
“Nggak mungkin, Dokter pasti salah,” ucap Aldo dengan
tatapan sendu, dia sangat berharap kalau Dokter benar-benar salah membaca hasil
pemeriksaan Anjani.
“Tidak Pak, kami sudah melakukan pemeriksaan intensif selama
dua kali,” jawab Dokter meyakinkan.
“Dok, tapi masih ada harapan sembuh kan?” tanya Arya, dia
sangat berharap kalau Anjani bisa sembuh, dan Arya berjanji dalam hatinya,
bahwa dia akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk Anjani, asalkan Anjani
bisa sembuh.
“Kesempatan sembuh ada, tapi itu sangat kecil Pak.”
Arya dan Aldo nampak menyugar rambut mereka frustasi.
“Sekecil apapun itu Dok, saya mohon lakukan yang terbaik
untuk kakak saya,” mohon Aldo.
“Kita bisa melakukan kemo terapy, dan untuk lebih lanjutnya,
kita bisa bicara diruangan saya,” ajak Dokter. Arya dan Aldo pun menitipkan
Anjani kepada perawat, setelah itu barulah mereka megikuti langkah Dokter
menuju keruangannya.
Dokter menjelaskan apa itu kemo terapy, dan apa saja
dampaknya, Dokter juga menjelaskan apa saja yang akan terjadi pada tubuh Anjani
setelah dia melakukan kemo. Setelah Arya mengetahui semua informasi kemo, dia
nampak ragu, karena takut Anjani akan kesakitan, namun Arya juga tidak memiliki
pilihan lain, hanya ini cara untuk pengobatan Anjani.
“Bagaimana Kak?” tanya Aldo.
“Kita harus tetap menjalankan kemo untuk Anjani, karena
hanya ini jalan pengobatannya sekarang,” jawab Arya.
“Baiklah Kak, semoga mba Anjani kuat menjalankan semua
pengobatannya ya?” ucap Aldo.
Malam ini, mereka berdua tidak pulang, karena baik Arya
maupun Aldo tetap berada di rumah sakit menjaga Anjani, Arya tidak bisa tidur,
dia masih betah menatap Anjani yang masih dalam pengaruh obat, karena jika
siuman nanti, Anjani akan mengadu kesakitan.
“Anjani, kenapa kamu harus mengalami semua ini sayang, aku
tidak kuasa melihat kamu yang terbaring lemah seperti ini,” batin Arya seraya
terisak, Arya selalu berdoa semoga ada keajaiban dan Anjani bisa sembuh dari
penyakitnya.
.
.
Keesokan harinya, Kanaya begitu terkejut ketika dia membaca
sebuah pesan dari Arya, yang mengatakan kalau Anjani dilarikan ke rumah sakit,
yang membuat Kanaya semakin terkejut, Arya juga mengabarkan bahwa Anjani
mengidap penyakit kanker otak stadium 3.
“Ya Allah mba Anjani,” air mata langsung terjun bebas
membasahi pipi Kanaya, “kenapa kamu harus mengidap penyakit menakutkan itu
mba,” Kanaya ikut terpukul mendengar penyakit yang tengah menggerogoti tubuh
Anjani.
“Aku harus ke rumah sakit, tidak perduli jika nantinya Aldo
melarang ku, yang penting aku bisa melihat keadaan mba Anjani,” Kanaya begitu
khawatir dengan kondisi Anjani, dia pun langsung bergegas untuk bersiap, tidak
lupa Kanaya meminta kepada pelayan rumah untuk membawakan makanan 2 porsi,
niatnya akan Kanaya berikan kepada Arya juga Aldo.
Kanaya juga tidak lupa membawakan baju ganti untuk Arya,
setelah dirasa sudah siap, Kanaya langsung bergegas pergi menuju rumah sakit
dimana Anjani tengah dirawat secara intensif.
“Mas Arya?”
Arya begitu terkejut, ketika mendengar suara yang begitu dia
kenal, kini Kanaya sudah berdiri di depannya.
“Kanaya?” ucap Arya, dia agak was-was karena ada adik
iparnya juga, Arya sangat tahu kalau sampai kapanpun Aldo tidak akan bisa
menerima Kanaya, dan Arya takut kalau nantinya Aldo akan menolak kedatangan
Kanaya, dan berakhir dengan diusirnya Kanaya.
“Ngapain kamu disini?” apa yang Arya takutkan terjadi, nada
suara Aldo nampak tidak bersahabat melihat kedatangan Kanaya.
“Aku datang untuk menjenguk mba Anjani,” jawab Kanaya dengan
santai.
“Aku tidak mengizinkan kamu,” tolak Aldo.
“Mba Anjani itu istri mas Arya, sedangkan mas Arya saja
mengizinkan aku untuk datang dan menjenguk mba Anjani, jadi kamu tidak punya
hak, karena kamu Cuma adik mba Anjani. Ingat Aldo, setelah menikah, istri
adalah tanggung jawab suaminya,” jawab Kanaya menantang.
Aldo nampak diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena
sudah merasa kalah, dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Kanaya dan juga
Arya dengan raut wajah kesal.
Kanaya duduk disamping Arya, Kanaya tahu pasti kini keadaan
Arya tengah tidak baik, suami mana yang tidak sedih mendengar istrinya tengah
tterbaring lemah serta berjuang melawan penyakit yang teramat mematikan.
“Lalu tindakan apa yang akan Dokter lakukan mas?” tanya
Kanaya sendu.
“Kita tengah menunggu kondisi Anjani stabil, supaya Dokter
bisa melakukan tindakan kemo,” jawab Arya.
Kanaya menggenggam tangan Arya, “mas, Dokter tidak bisa
menentukan hidup matinya seseorang, jika Allah sudah berkehendak, aku yakin mba
Anjani akan sembuh, yang bisa kita lakukan sekarang adalah, kita doakan mba
Anjani, supaya mba Anjani bisa diberi kesehatan,” ujar Kanaya.
“Iya sayang … terimakasih ya?”
“Sama-sama mas,” Kanaya menyerahkan paperbag berisi makanan
kepada Arya, “ini, aku bawakan makanan untuk kamu dan Aldo.”
“Kamu makan dulu aja mas, sama Aldo, biar mba Anjani aku
yang jagain, ada suster juga kok.”
“Ya sudah, aku ajak Aldo makan dulu ya?” Arya pun berpamitan
untuk ke kantin rumah sakit, karena jika mereka makan disana, suasananya akan
terus tegang, karena Aldo tidak pernah suka dengan Kanaya.
Kanaya masuk kedalam ruangan Anjani, dapat Kanaya lihat
wajah Anjani yang begitu pucat, padahal baru kemarin mereka bertemu, tapi kini
Kanaya melihat keadaan Anjani yang tengah terbaring lemah diatas ranjang
pesakitan.
“Mba, kamu harus sembuh mba, aku yakin kamu adalah wanita yang
kuat, dan kamu pasti akan sembuh,” ucap Kanaya seraya menggenggam tangan
Anjani.
Disisi lain, Arya tengah mencari Aldo, dan dia melihat Aldo
yang tengah duduk di kursi taman dengan raut wajah sendu.
“Aldo …” panggil Arya lirih.
“Kak Arya? Kok kakak disini? Kak Anjani sama siapa?”
“Ada Kanaya kok didalam,” jawab Arya santai, tapi raut wajah
Aldo berubah khawatir.
“Mau kemana?” Arya langsung menahan tubuh Aldo ketika dia
hendak bangkit dari duduknya.
“Kak, aku mau jagain kak Anjani,” ucap Aldo.
“Nggak usah khawatir Al, sudah ada Kanaya kok, dan Kanaya
tidak akan macam-macam, karena dia tulus dengan menyayangi Anjani,” ucap Arya.
“Tapi …”
“Sudah, jangan berpikir macam-macam, sebaiknya kamu makan,”
perintah Arya, akhirnya mereka berdua pun makan bersama, tanpa Aldo tahu kalau
itu adalah pemberian dari Kanaya.
Keesokan harinya, Anjani sudah siuman, Dokter juga langsung
memeriksa kondisi Anjani, dan mereka semua bersyukur karena kondisi Anjani
sudah stabil.
“Mas? Apa yang terjadi dengan ku? Aku sakit apa? tanya
Anjani dengan suara lemahnya.
“Sudah ya, kamu yang penting istirahat, jangan berpikir
macam-macam,” ucap Arya, dia tidak tega untuk jujur kepada Anjani tentang sakit
yang tengah dia derita, karena Arya takut nantinya Anjani akan memikirkan
penyakitnya.
“Mas, jawab pertanyaan ku, aku sakit apa?” Anjani merasa ada
yang Arya dan Aldo sembunyikan.
“Sayang, kamu harus yakin dan percaya kalau kamu akan
sembuh, percayalah aku akan berusaha keras untuk mencarikan pengobatan terbaik
bagi kamu,” ujar Arya.
“Pengobatan? Apa sakit ku separah itu mas?” tanya Anjani
dengan was-was.
“Iya sayang, kamu mengidap kanker otak stadium 3,” jawab
Arya dengan berat hati.
penyakit apa yang tengah diderata.
“Kanker otak? Stadium 3?” air mata Anjani langsung lolos
begitu saja.
“Apa aku akan meninggal mas?” tanya Anjani seraya terisak.
Arya pun menggeleng dengan cepat, “tidak sayang, aku yakin
kamu akan sembuh, aku akan melakukan pengobatan terbaik untuk kamu,
percayalah,” ucap Arya meyakinkan.
Setelah itu, dokter pun memberikan obat penenang untuk
Anjani, agar Anjani bisa kembali beristirahat, sedangkan Arya masih duduk
menemani Anjani, dia tatap wajah istrinya yang memucat.
“Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan kamu
sayang,” batin Arya sendu.
Karena kondisi Anjani yang sudah dinilai stabil, Dokter pun
langsung mengambil tindakan kemo untuk Anjani, dan Arya harus benar-benar
siaga, karena pasca kemoterapi Dokter menjelaskan bahwa Anjani mungkin saja
akan sering mengalami mual, dan nafsu makan juga menurun, jadi fisik Anjani
pasti akan melemah.
Beberapa hari kemudian, Anjani sudah diperbolehkan untuk
pulang, Kanaya yang mendengar kepulangan Anjani pun sigap untuk menyambut
kedatangan Anjani.
“Ngapain sih dia disini?” batin Aldo, Aldo baru saja pulang
menjemput Anjani di rumah sakit, dan mood nya langsung buruk ketika melihat
Kanaya ada di kediaman kakaknya.
“Selamat mba Anjani,” sapa Kanaya.
“Kamu datang Kanaya?” tanya Anjani dengan senyum yang
tak pernah luntur.
“Iya mba, aku sangat senang mendengar mba Anjani sudah
diperbolehkan pulang,” jawab Kanaya dengan tulus, kemudian Kanaya mengambil
alih kursi roda Anjani.
“Mba, aku bawain bubur buat mba, mba Anjani makan ya?”
“Boleh, aku juga kangen masakan kamu Kanaya.”
Kanaya pun menyuapa Anjani dengan perlahan, namun baru
beberapa kali suapan, Anjani sudah memuntahkan makanannya, bukan karena tidak
enak, tapi memang karena perut Anjani yang terasa mual, Anjani merasa setelah
kemo dia jadi mudah mual.
“Maaf ya Kanaya,” Anjani merasa tidak enak karena
memuntahkan makanan dari Kanaya.
“Nggak apa-apa kok mba, aku bersihin sebentar ya?” Kanaya hendak beranjak dari duduknya, namun
langsung ditahan oleh Anjani, karena Anjani merasa tidak enak jika Kanaya harus
membersihkan bekas muntahannya. Namun Kanaya meyakinkan kepada Anjani, bahwa
itu tidak masalah baginya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Kanaya selesai membersihkan
semuanya, Kanaya pun mengajak Anjani untuk beristirahat dalam kamar.
“Kanaya …” lirih Anjani.
“Iya mba?” tanya Kanaya.
“Kapan Erland datang ke Indonesia?” tanya Anjani, dia sangat
merindukan Erland, karena Anjani sudah menganggap Erland selayaknya putra
kandung sendiri.
“Nanti mungkin mba, kalau Erland libur sekolah, sekitar 2
bulan lagi,” jawab Kanaya.
“Lama sekali,” raut
wajah Anjani berubah sendu.
“Mba Anjani harus sembuh dulu, nanti kalau mba Anjani
sembuh, kita yang mengunjungi Erland lagi,” Kanaya mencoba menyemangati Anjani.
“Tapi … aku tidak yakin kalau aku akan sembuh Kanaya,”
Anjani sudah pasrah dengan penyakitnya, karena dia merasa tubuhnya sudah tidak
kuat dengan pengobatan yang dijalankan.
Kanaya menggenggam tangan Anjani, “mba jangan bilang begitu
dong, aku yakin mba Anjani akan sembuh,” mata Kanaya sudah mulai berkaca-kaca.
Anjani tersenyum dan menggeleng, “Kanaya, kamu harus janji
sama aku, apapun yang terjadi antara kamu dan mas Arya, kalian harus selalu
sama-sama, aku nggak mau kalian berpisah, kalian harus membesarkan Erland
bersama.”
“Mba, kita akan bersama-sama mendampingi mas Arya, dan kita akan membesarkan Erland
juga,” ujar Kanaya yakin, dia pun memeluk Anjani erat, menumpahkan isak
tangisnya.
“Aku mohon ya mba, mba Anjani tidak boleh patah semangat,
mba Anjani harus yakin kalau mba Anjani bisa sembuh, mba Anjani ingatkan apa
kata mas Arya? mas Arya akan mencariksan pengobatan terbaik untuk mba Anjani,
supa mba bisa dan sehat seperti sedia kala.”
Anjani merasa beruntung bisa memiliki madu seperti Kanaya,
disaat dirinya tengah berbaring lemah, Kanaya tidak pernah meninggalkannya,
bahkan Kanaya terus memberikan semangat kepada Anjani.
Kanaya yang hendak beristirahat, merasa terusik karena
adanya pergerakan disamping tempat tidurnya. Kanaya terkejut kala dia melihat
Arya sudah berbaring disamping tempat tidurnya dengan wajah lelah.
“Mas Arya?” lirih Kanaya.
“Sayang, aku ganggu istirahat kamu ya?” tanya Arya tidak
enak.
“Enggak kok mas,” Kanaya menggeleng, “mas Arya kenapa ada
disini?”
“Memangnya kenapa? kan mala mini sudah waktunya aku bersama
kamu,” jawab Arya.
Kanaya pun tersenyum, dia beralih duduk disampin Arya dan
memijit kepala Arya supaya lebih rilex, Kanaya sangat tahu kalau suaminya sudah
sangat lelah.
“Aku mengerti mas, kamu pasti lelah, dan au tidak mau
menuntut waktu dari kamu, mala mini kamu bisa menginap disini, tapi besok kamu
menginaplah di rumah mba Anjani, karena mba Anjani lebih membutuhkan kamu mas,”
ujar Kanaya masih memberikan pijatan lembut pada kepala Arya dan turun ke
pundaknya.
“Tapi bagaimana dengan kamu sayang?” tanya Arya.
“Kamu jangan mikirin aku mas, kamu fokus dulu pada
pengobatan mba Anjani, aku nggak apa-apa kok,” jawab Kanaya meyakinkan Arya.
“Terimakasih ya sayang,” Arya merasa beruntung karena Kanaya
bisa mengerti kondisi saat ini.
“Kamu sudah makan?” tanya Kanaya, dan Arya pun menggeleng
sebagai jawaban.
“Ya sudah, aku buatkan makanan untuk kamu ya?” Kanaya pun
mengajak Arya untuk keluar dari kamar, dan menunggu di meja makan, sedangkan
Kanaya menuju dapur untuk membuatkan makanan.
Kanaya memilih menu yang sangat mudah untuk dibuat, namun
juga menggugah selera makan Arya, yaitu nasi goreng seafood, hanya mencium
aroma masakan Kanaya, sudah membuat air liur Arya hampir menetes, perutnya pun
semakin keroncongan.
Tidak lama Kanaya keluar dari dapur dan menghidangkan nasi
goreng buatannya didepan Arya.
“Silahkan mas,” ujar Kanaya.
“Kamu nggak makan sayang?” tanya Arya, pasalnya Kanaya hanya
menghidangkan satu porsi didepan Arya,
“Enggak mas, aku masih kenyang,” jawab Kanaya, “kamu makan
aja ya? aku nemenin kamu kok disini.”
Arya pun menyantap makan malamnya, Arya paham dengan kondisi
Anjani sekarang yang tengah sakit parah, sangat tidak memungkinkan bagi Anjani
untuk mengurus Arya, dan Arya tidak merasa keberatan sama sekali. Arya tahu,
didepan Anjani dia harus selalu terlihat baik-baik saja, dia harus
memperlihatkan wajah semangatnya, meskipun didalanya sebenarnya Arya sangat
lelah.
“Aku, mba Anjani dan Erland sangat bangga mas memiliki kamu,
kamu harus jaga kesehatan ya? kami sangat menyayangi kamu,” ujar Kanaya
memberikan semangat.
Arya tersenyum kearah Kanaya, dia pun bangkit dari duduknya
dan memeluk Kanaya erat, “makasih ya sayang, terimakasih atas semangatnya,”
ujar Arya.
“Kita hadapi semuanya sama-sama ya mas? Aku ada disini buat
kamu,” ucap Kanaya.
.
.
Keesokan harinya, setelah Kanaya mengantarkan Arya sampai
depan pintu, Kanaya langsung bergegas mengambil barang-barangnya yang sudah dia
siapkan dalam koper, Kanaya kembali
memantapkan hatinya.
“Apapun yang terjadi, aku harus bisa membawa Erland pulang,
mba Anjani harus bertemy dengan Erland, aku yakin Erland adalah salah satu
penyemangat mba Anjani,” batin Kanaya, dia langsung masuk kedalam mobil dan
mengatakan kepada supir tentang tujuannya.
Setelah mendengar penuturan Anjani yang ingin bertemu dengan
Erland, Kanaya langsung memesan tiket penerbangan ke Prancis, namun Kanaya
tidak memberitahukan apapun kepada Arya maupun Anjani, karena Kanaya takut,
kalau Arya adan Anjani akan mencegah Kanaya.
“Semoga usaha ku tidak sia-sia, semoga ayah dan bunda mau
menerima mba Anjani, dan Erland juga mau ikut dengan ku ke Indonesia.” Batin
Kanaya.
Siang hari Arya menghubungi Desi untuk memastikan keadaan
Anjani, Arya bersyukur karena menurut Desi keadaan Anjani sudah jauh lebih
baik, tapi Arya bingung ketika dia menanyakan keberadaan Kanaya.
“Apa Kanaya datang?” tanya Arya dengan santai.
“Tidak tuan,” jawab Desi jujur.
“Apa? kamu yakin?” tanya Arya memastikan.
“Saya yakin tuan, sedari tadi ibu Anjani bersama saya, dan
ibu Kanaya memang tidak datang sama sekali,” jelas Desi.
“Aneh, aku kan sudah berpesan kepada Kanaya untuk melihat
kondisi Anjani siang ini, tapi kenapa Kanaya tidak datang, padahal dia bilang
dia akan datang,” batin Arya bertanya.
“Ya sudah, kalau Kanaya datang kamu hubungi saya ya?”
“Baik tuan.”
Setelah menutup teleponnya dengan Desi, Arya mencoba
menghubungi Kanaya, karena Arya takut terjadi sesuatu dengan Kanaya, namun
sayang ponselnya tidak aktif. Ary pun mencoba menghubungi telepon rumahnya,
mungkin saja ponsel Kanaya mati dan Kanaya lupa menchargernya.
“Dimana Kanaya?” tanya Arya to the point.
“Nyonya Kanaya sudah pergi tuan.”
“Pergi kemana?” tanya Arya lagi.
“Saya tidak tahu tuan, karena nyonya membawa koper cukup
besar,” jelas pelayan rumah Arya.
Arya pun terkejut, “membawa koper besar?” beo Arya, “ya
sudah, kalau Kanaya kembali kalian kabari saya.”
“Baik Tuan.
Arya semakin pusing kemana sebenarnya Kanaya pergi, karena
semalam Kanaya tidak berbicara apapun kepada Arya tentang rencana kepergiannya
itu, pikiran Arya mulai kalut, dia takut kalau Kanaya akan pergi
meninggalkannya lagi, tapi pikiran itu coba Arya tepis.
“Prancis? Apa mungkin Kanaya menemui Erland? tapi kan kita
juga baru saja dari sana,” batin Arya bingung.
.
.
Setelah menempuh perjalan sangat lama, dan membuat Kanaya
lelah, akhirnya Kanaya sampai di Prancis, Kanaya mengabari Raissa supaya supir
menjemputnya di Bandara, mendengar Kanaya yang datang lagi sendirian ke
Prancis, firasat Raissa dan Abimanyu tidak enak, mereka takut kalau Arya dan
Kanaya kembali bertengkar, sampai membuat Kanaya datang ke Prancis.
“Ada apa ya Yah? apa mungkin terjadi sesuatu dengan
pernikahan mereka? Padahal niatan kita disini, juga untuk menghindari kesalahan
kita dimasa lalu, supaya kita tidak lagi ikut campur dengan urusan rumah tangga
mereka,” ujar Raissa sendu.
“Bunda, jangan berpikiran negative dulu, coba kita dengar
penjelasan Kanaya nanti, semoga apa yang kita pikirkan tidak terjadi,” ucap
Abimanyu menenangkan Raissa.
Mereka pun sudah menyiapkan jamuan untuk Kanaya, mereka yakin Kanaya pasti sangat lelah, dan
nantinya mereka ingin Kanaya beristirahat lebih dulu.
Tidak lama, terdengar suara mesin mobil, yang mereka yakini
itu adalah Kanaya, Raissa dan Abimanyu langsung keluar untuk menyambut putri
mereka,
“Selamat datang Kanaya…” Raissa membuka tangannya supaya
Kanaya bisa memeluk.
“Bunda …” Kanaya begitu lega setelah sampai di rumah,
setelah Abiimanyu dan Raissa membawa Kanaya masuk kedalam rumah.
“Kanaya, kenapa kamu datang sendirian Nak?” tanya Abimanyu.
“Tidak terjadi sesuatu yang burukkan Nak, terhadap
pernikahan kalian?” tanya Raissa dengan khawatir.
Kanaya menggeleng seraya tersenyum, “tidak Ayah, Bunda … hubungan
aku dan mas Arya baik-baik saja,” jawab Kanaya.
“Syukurlah kalau memang kalian baik-baik saja,” Abimanyu dan
Raissa tersenyum lega, setelah mendengar penjelasan Kanaya.
“Iya Ayah, Bunda … tapi mba
Anjani ..”
“Iya Ayah, Bunda … tapi, mba Anjani yang sedang kurang
baik,” jawab Kanaya.
“Anjani?” beo Raissa dan Abimanyu bersamaan.
“Mba Anjani sedang sakit parah Ayah, Bunda , dan kedatangan
aku kesini aku ingin Ayah dan Bunda ikut dengan ku ke Indonesia, bersama Erland
juga, kita jenguk mba Anjani,” ajak Kanaya dengan nada memohon.
“Tidak Kanaya kami tidak mau berurusan dengan wanita itu,”
ujar Abimanyu.
“Ayah, aku mohon … buang rasa benci Ayah dan Bunda terhadap
mba Anjani, dia tengah sakit keras Yah…” ucap Kanaya dengan nada memohon.
“Sakit keras?” Raissa bertanya dengan raut wajah bingung.
“Iya Bunda, mba Anjani didiagnosis sakit kanker otak stadium
3.”
Raissa dan Abimanyu terkejut mendengar kabar tersebut,
sampai menutup mulut mereka, “benarkah?” tanya Abimanyu memastikan.
“Benar Yah, aku tidak bohong, maka dari itu aku mohon dengan
sangat, Ayah dan Bunda mau ya ikut aku?” tanya Kanaya lagi.
“Aku ikut,” itu bukan suara Abimanyu atau Raissa, melainkan
Erland.
“Erland?” Abimanyu dan Raissa tidak menyadari kalau Erland
sudah pulang sekolah.
“Aku mau ikut untuk menjenguk aunty Anjani, aku mau
menemuinya Mom,” jawab Erland dengan yakin.
Kanaya tersenyum dan memeluk putranya, “terimakasih Nak.”
“Baiklah, Ayah dan Bunda akan ikut kamu ke Indonesia, kita
berangkat nanti malam,” Abimanyu sebagai kepala rumah tangga akhirnya
memutuskan, dan mala mini juga mereka akan berangkat, sedangkan Abimanyu
langsung memerintahkan orang kepercayaannya untuk menyiapkan pemberangkatannya
ke Indonesia menggunakan jet pribadi.
Malam harinya, ketika Arya merasa sudah senggang, dia
mencoba kembali menghubungi Kanaya untuk memastikan kemana sebenarnya Kanaya,
apakah benar seperti dugaan Arya kalau Kanaya terbang ke Prancis, dan Arya juga
ingin tahu apa sebenarnya alasan Kanaya mendadak terbang kesana.
“Hallo Kanaya?”
“Iya mas?”
Arya bernafas lega karena akhirnya Kanaya menerima
teleponnya, “aku sulit sekali menghubungi kamu Kanaya, sejak kemarin aku terus
mencoba menghubungi kamu, tapi nomor kamu selalu tidak aktif,” keluh Arya.
“Iya mas, aku minta maaf karena tidak mengabari kamu
sebelumnya, karena aku takut nanti kamu memaksa ikut, aku sekarang ada Prancis
mas,” jelas Kanaya.
Benar dugaan Arya, kalau Kanaya kini berada di Prancis,
“kapan kamu sampai?” tanya Arya.
“Tadi pagi mas, aku minta maaf ya, karena sudah membuat kamu
cemas,” nada suara Kanaya terdengar tak
enak.
“Iya sayang tidak apa-apa, lalu bisa kamu jelaskan apa yang
membuat kamu terbang kesana tanpa berpamitan padaku?”
“Aku … aku ingin meminta ayah dan bunda datang ke Indonesia
dan menemui mba Anjani mas, bahkan bukan hanya ayah dan bunda, aku juga akan
mengajak Erland,” Kanaya menyampaikan apa alasannya terbang kesana.
“Untuk apa Kanaya? kamu tahu kan? itu hal yang mustahil,
karena ayah dan bunda tidak pernah menyukai Anjani, bahkan mereka sangat
membenci Anjani, lalu Erland, kamu mungkin bisa membujuknya, tapi aku yakin
ayah dan bunda tidak akan pernah setuju. Kanaya aku sarankan kamu pulang, aku
akan suruh orang untuk menjemput kamu, atau kalau tidak aku yang akan kesana,”
Arya benar-benar bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
“Mas, kamu tidak boleh mendahului takdir,” Kanaya
mengingatkan.
“Ini bukan mendahului takdir Kanaya, aku hanya melihat
dengan logika ku, aku tahu betul bagaimana sifat kedua orangtuaku, akan sangat
sulit membujuk mereka.”
“Tapi sekarang aku, Erland, ayah dan bunda sudah bersiap
untuk pemberangkatan kami mas, mala mini juga,” jawab Kanaya dengan senyum yang
tak pernah luntur, dia begitu ingin mempertemukan Anjani dengan kedua orangtua
Arya, dan Kanaya yakin Anjani akan bahagia ketika dia melihat dengan mata
kepalanya sendiri, kedua orangtua Arya datang menemui Anjani tanpa raut wajah
sinis, karena selama ini Anjani menginginkan restu dari kedua orangtua Arya,
yang teramat sulit untuk mereka gapai.
“Benarkah?” Arya mencoba memastikan pendesArya dan Anjani,
dan ini semua berkat Kanaya. Kanaya adalah orang yang mempunyai andil besar
dalam hal ini.
“Terimakasih Kanaya, terimakasih banyak,” ucap Arya seraya
tersenyum bahagia, air mata haru tak luput ikut membasahi pipi Arya, karena dia
sangat bahagia.
“Jangan berterimakasih padaku mas, ini semua juga berkat
Yang Maha Kuasa, yang sudah membolak-balikkan hati ayah dan bunda, sampai ayah
dan bunda akhirnya mau, kamu doakan perjalanan kami ya mas, supaya perjalanan
kami lancar dan bisa tiba di Indonesia dengan selamat.
“Iya sayang, pasti … kamu hati-hati ya?”
“Iya mas, ya sudah aku harus siap-siap dulu ya? kamu tunggu
aku dan Erland.”
“Iya sayang.”
Setelah menutup telepon, Arya beralih menatap Anjani yang
sudah tertidur dikamarnya.
“Sebentar lagi keinginan terbesar kita akan terwujud
skayang,” batin Arya.
.
.
Keesokan harinya setelah rombongan Kanaya menempuh
perjalanan 16 jam, akhirnya mereka sampai pukul 10 pagi, Arya juga sudah
bersiap menunggu di Bandara bersama Rangga.
“Daddy …!!” Erland berlari kearah Arya, Ary langsung
melebarkan tangannya dan memeluk putra semata wayangnya dengan Kanaya.
“Apa kabar putra Daddy?”
“Baik Dad,” jawab Erland, “Dad, kata Mommy aunty Anjani
sakit?” raut wajah Erland berubah sendu.
“Iya sayang, makanya aunty Anjani tidak bisa ikut jemput
Erland.”
“Aku mau ketemu aunty Anjani Dad,” rengek Erland.
“Erland … kita istirahat dulu ya Nak, kasihan Mommy,” Raissa
mencoba membujuk Erland, karena dia juga harus mempertimbangkan Kanaya, yang
sudah bolak-balik Jakarta – Prancis, dan pasti sangat melelahkan karena
perjalanannya yang memang memakan waktu lama.
“Iya sayang, apa yang Grandma katakan memang benar, kasihan
Mommy kalau kita langsung kerumah aunty Anjani, kita pulang dulu ya?” bujuk
Abimanyu.
“Erland anak pintar kan? Erland juga anak yang penurut, jadi
Erland harus menurut,” ujar Arya.
“Iya Dad,” Erland pun mengangguk menurut.
“Ya sudah ayo kita pulang.” Ajak Arya.