
Kanaya yang tengah duduk di ruang kerjanya sedari tadi merasa gelisah, entah kenapa pikirannya terus tertuju pada Nando.
"Aku chat Nando tapi belum dibales, mau aku telepon tapi takut ganggu," batin Kanaya bingung.
Disisi lain, semua sudah siap untuk acara ijab qobul antara Nando dan Indira.
"Mas Nando, mahar apa yang akan diberikan kepada mba Indira?" tanya penghulu.
"Saya cuman ada uang cash 2jt, tunggu pak," Nando merogoh tas kerjanya, "ini cincin seberat 3 gram," Nando memberikan cincin beserta surat-suratnya kepada penghulu supaya dicek.
Sebenarnya, cincin itu adalah cincin yang akan Nando berikan kepada Kanaya, namun sekarang tak mungkin Nando memberikan cincin itu kepada Kanaya, karena Indira yang lebih berhak.
"Baiklah, bisa acara kita mulai?" tanya penghulu.
"Bisa Pak," jawab Nando yakin.
"Mas Nando, jabat tangan saya, dan nanti ikutiperkataan saya."
"Baik Pak."
Nando pun mengucapkan ijab qobul nya dengan sekali tarikan napas, entahlah dibenak Nando dia tak memiliki keraguan ataupun beban sedikitpun tentang pernikahan yang mendadak ini.
Harun sendiri tersenyum teduh melihat cucunya sudah menikah, tak ada lagi beban yang dia rasakan.
"Selamat ya Nak, sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri," ucap Harun.
"Kakek berharap keluarga kalian akan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, dan kepada kamu Nando, saya titip cucu saya, tolong jaga Indira, jangan tinggalkan Indira apapun yang terjadi," pinta Harun dengan iba.
"Iya Kek, Nando janji akan menjaga Indira sekuat tenaga Nando," ucap Nando yakin.
"Sekarang, kakek bisa pergi dengan tenang," ujar Harun dengan tersenyum.
"Pak, jangan bilang seperti itu," ucap Desi seraya menahan tangis.
"Kakek, aku yakin Kakek akan sembuh," ucap Indira.
"Pak, sekarang Indira sudah menikah, jadi Bapak pasti akan sembuh, ya pak?" ucap Bella.
"Tidak, aku ... sudah tidak kuat," napas Harun mulai berat, dia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Bapak," Aditya dan semuanya pun mulai panik, dan Harun pun menghembuskan napas terakhir, matanya terpejam dengan damai, seolah dia tengah tertidur.
Isak tangis histeris begitu terdengar memilukan, Indira, Desi dan Bella tak kuasa menahan tangis mereka karena kehilangan sosok, kakek, suami dan ayah yang selama ini selalu menemani mereka.
Hari itu juga, jenazah Harun langsung diurus untuk dimakamkan, tak lupa Bella juga memberi tahu kepada Keysha, orang yang juga sudah dianggap anak oleh Harun, tentang kepergian Harun kepada sang Khaliq.
Keysha begitu terkejut ketika mendengar kabar bahwa Harun telah berpulang, dia yang tengah duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat bersama Marvel, sontak menjatuhkan gelas yang tengah dia pegang ketika membaca pesan dari Bella.
"Ada apa sayang?" tanya Marvel khawatir.
"Pak Harun, dia meninggal," jawab Keysha dengan terisak. Keysha juga ikut merasakan kehilangan yang teramat dalam atas kepergian mantan mertuanya dulu.
Hari itu juga mereka langsung menuju kediaman Aditya, tak lupa Keysha dan Marvel juga menghubungi Kanaya dan Raka, karena biar bagaimanapun, Harun juga sudah dianggap kakek oleh anak-anaknya
Jenazah Harun sudah tiba dirumah Duka, tetangga Aditya juga tak lupa ikut membacakan surat Yasin untuk Harun, Indira masih terus terisak, rasa bersalah yang dia rasakan begitu dalam, namun Nando senantiasa disisi Indira memberikan support kepada wanita yang baru saja berstatus sebagai istrinya.
Melihat hal itu, Bella menjadi khawatir, karena biar bagaimanapun Nando dan Indira tak boleh tetap dekat seperti itu, karena sebentar lagi keluarga Keysha akan datang, Bella melangkah mendekati Indira dan Nando.
"Keluarga Kanaya sebentar lagi akan datang," bisik Bella.
Indira pun tersadar, belum saatnya keluarga Kanaya tahu tentang pernikahan nya dengan Nando, mereka akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.
"Lalu harus bagaimana mah?" tanya Indira dengan suara serak.
"Nando, kamu tunggu dikamar Indira saja ya? nanti Indira biar Mamah yang temani," ucap Bella.
"Baiklah Mah," jawab Nando patuh.
"Indira, kamar kamu dimana?" tanya Nando. Indira pun menjelaskan letak kamarnya, kemudian Nando bergegas kekamar Indira, sebelum keluarga Kanaya datang.
"Indira, loe harus kuat ya?" ucap Kanaya, dia juga ikut terisak.
Melihat Kanaya yang begitu peduli dan perhatian kepada Indira, rasa bersalah Bella menjadi semakin dalam, dia pun semakin tak kuasa menahan tangisnya. Bella tak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi jika semua rahasia terbongkar, pasti Kanaya akan kecewa kepada Bella dan keluarganya, terutama Indira dan Nando.
Akhirnya, jenazah Harun pun dibawa ke musholah untuk di sholatkan, setelah itu barulah jenazah Harun dibawa ketempat peristirahatan terakhir nya.
Sepanjang jalan Indira terus terisak di pelukan Kanaya, ada dua hal yang membuatnya menangis, kepergian Harun dan juga pernikahannya dengan Nando, yang sudah bisa Indira prediksi persahabatan nya dengan Kanaya tak bisa berjalan seperti dulu.
Disisi lain, Nando masih berada di apartemennya, setelah rombongan mengantarkan jenazah Harun, Nando memutuskan untuk ke apartemen mengambil beberapa pakaiannya, Nando tengah merenung tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Cepat atau lambat, aku harus menjelaskan semuanya kepada Kanaya, bagaimanapun Kanaya dan keluarganya harus tahu tentang pernikahan ku dan Indira," ucap Nando seraya menyugar rambutnya.
Dia pun berkemas karena harus kembali ke rumah Indira kembali, namun sebelum itu dia harus memastikan keluarga Kanaya benar-benar sudah pergi dari kediaman Indira.
Peziarah sudah mulai kembali kerumah masing-masing, begitupun keluarga Aditya dan Kanaya, mereka melangkah dengan berat kembali kerumah.
"Aditya, Bella, ibu, kami pamit pulang ya?" ucap Keysha.
"Loh tidak mampir dulu?" tanya Desi.
"Iya, biar aku kenalkan juga pada seseorang," ucap Aditya.
"Seseorang? siapa om?" tanya Kanaya penasaran.
"Sua..."
Uhukk ... Uhukkk ...
Belum selesai Aditya menjawab, namun suara batuk Bella mengalihkan perhatian.
"Dadaku sakit mas," ucap Bella seraya memegangi dadanya.
"Ya ampun sayang, kenapa? kita kerumah sakit ya?" ucap Aditya. Bella pun menggeleng pelan.
"Mungkin, karena Bella terlalu banyak menangis Dit, lebih baik kamu ajak Bella istirahat," saran Marvel.
"Ya sudah Bella, kamu istirahat ya, aku dan keluargaku pamit dulu," ucap Keysha.
"Terimakasih ya Nak," ucap Desi seraya memeluk Keysha.
"Sama-sama Bu, kalau begitu kami pamit," Setelah keluarga Keysha berpamitan mereka pun masuk kedalam mobil, dan meninggalkan kediaman Aditya.
Didalam mobil, Kanaya masih memikirkan tentang ucapan Aditya yang sempat terputus karena fokus pada Bella.
"Mah, tadi om Aditya mau ngenalin siapa ya?" tanya Kanaya penasaran.
"Sepupunya kali kak," jawab Raka santai.
"Iya sayang, mungkin sepupunya dari jauh," jawab Keysha membenarkan ucapan Raka.
"Oh iya kali ya Mah," ucap Kanaya mengiyakan. Meskipun Kanaya mencoba percaya, namun hati kecilnya tak mampu berbohong, dia merasa ada yang Indira sembunyikan, dan Aditya juga ingin mengenalkan orang lain, tapi apa?
Disisi lain, Aditya mengajak Bella untuk masuk kedalam rumah, karena cuaca juga mulai mendung, terlebih Desi juga harus banyak istirahat, karena pasti berat bagi Desi kehilangan suaminya yang sudah menemani Desi dari dulu.
"Ya sudah sayang, ayo kita istirahat." ajak Aditya kepada Bella.
Indira menatap Bella, dia tahu Bella hanya mengalihkan perhatian, supaya Aditya tak melanjutkan kata-katanya.
"Kakek benar, mamah Bella memang sangat menyayangi aku, dia selalu sigap melindungi ku salam keadaan apapun," batin Indira.
"Aku janji, aku akan selalu menyayangi mamah, dan papah," batin Indira.
...**Haii readers, follow IG ku yuk, nanti akan ada sedikit bocoran tentang bab yang akan aku Up, jangan lupa ya setelah Follow kalian DM aku supaya aku Follback ...
...Terimakasih...
IG: ajenglarasati5927**