
Jam makan siang sudah tiba, semua orang yang tenagh berkutat
dengan pekerjaan perlahan mulai membubarkan diri dan mengistirahatkan tenaga
mereka dengan memberikan asupan untuk perut mereka supaya kembali bertenaga. Seperti
Kanaya dan teman-temannya, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju
restaurant Indira yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bekerja. Saat mereka
tiba di parkiran, mereka melihat mobil Indira dan disampingny ada lelaki yang
tidak mereka kenal. Seseorang itu tidak lain adalah Agus, kini Agus tengah
menerima telepon yang entah dari siapa.
“Siap bos … semua aman,” ujar Agus menjawab sambungan
telepon.
“….”
“Baik bos.” Sambungan telepon pun terputus, Kanaya, Anita
dan Anggel pikir lelaki itu mungkin ingin berbuat sesuatu pada mobil Indira,
jadi sebelum masuk ke restaurant, mereka melaporkan lelaki yang mencurigakan
itu kepada satpam yang berjaga.
“Pak, orang yang disamping mobil Indira kok aneh ya?
jangan-jangan mau berbuat macam-macam,” ujar Anita.
“OH … itu supir baru bu Indira kok mba Anita,” jawab satpam.
“Hah? Supir?” Kanaya nampak agak terkejut.
“Ya udah Pak, makasih ya …” Anggel pun meminta
teman-temannya untuk segera masuk ke restaurant.
Rupanya didalam restaurant, Indira sudah menunggu ketiga
sahabatnya, dari wajah Indira sangat terlihat kalau Indira punya banyak
pikiran.
“Loe kenapa? sakit?” tanya Kanaya perhatian.
“Enggak kok, capek aja,” jawab Indira, dia merasa butuh
liburan sekarang ini.
“Sopir loe baru Ra?” tanya Anita yang penasaran, karena bagi
Anita supir lama Indira jauh lebih baik, ramah dan tidak seram, sedangkan supir
baru Indira terlihat menyeramkan karena wajahnya tidak ramah dan mahal senyum.
“Iya … Nando yang minta, karena kata Nando, pak Agus jago
bela diri, jadi Nando bisa tenang kalau aku sedang bepergian,” jawab Indira
menjelaskan.
“Loe nggak serem?” tanya Anggel, namun langsung disenggol
oleh Kanaya.
“Sebenernya serem sih, pak Agus susah diajak ngobrol,” keluh
Indira.
“Supir loe kerja dua tempat?” tanya Kanaya penasaran.
“Enggak, pak Agus stay kok di rumah,” jawab Indira, hal ini
malah memancing kecurigaan Kanaya, karena tadi Kanaya sempat mendengar Agus
berbicara lewat sambungan telepon dan memanggil dengan sebutan bos.
“Emang kenapa Nay?” tanya Indira penasaran, Kanaya pun
menjelaskan kecurigaannya kepada Indira, karena Kanaya mau Indira lebih hati-hati
dengan supir barunya.
“Intinya, loe harus jaga-jaga Ra, loe bilang aja sama kita
kalau loe punya kecurigaan sama supir loe ya?” pinta Anita, dan Indira pun
mangangguk paham, karena sebenarnya dia juga merasa agak aneh dengan supir nya
itu.
Ketika Indira mencurigai supirnya, Kanaya dan yang lain
justru curiga dengan Nando, karena Nando lah yang tiba-tiba mengganti supir
Indira, mereka yakin Nando punya alasan kenapa tiba-tiba mengganti supir.
“Loe sering pergi ke rumah mertua loe Ra?” tanya Anggel
tiba-tiba.
“Iya kadang waktu gue mau ke resto gue mampir sih, emang
kenapa?” tanya Indira.
“Loe ngabarin dulu kalau mau kesana?” kali ini Anita yang
bertanya.
Mendengar pertanyaan Anita, Indira malah tertawa, “ya enggak
lah, ngapain gue ngomong dulu, kalau mau y ague tinggal dateng,” jawab Indira
santai seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tapi hal ini malah
diartikan lain oleh teman-teman Indira.
Mereka yakin ada
keterkaitan dengan semua ini, entah
kenapa feeling mereka sangat kuat Nando menyembunyikan sesuatu, dan soal Nando
yang mengganti supir Indira pun pastinya membuat mereka semua curiga. Sebab,
selama ini supir lama Indira tidak pernah melakukan kesalahan, dan selama ini
Indira juga selalau aman.
Ponsel Indira bergetar, dan ternyata itu notifikasi pesan
“Kenapa?” tanya Anita, entah kenapa setiap perubahan kecil
pada Indira membuat mereka risau.
“Nando bilang mala mini dia nggak pulang, karena rumah sakit
lagi ramai banget, jadi mungkin Nando menginap,” jawab Indira.
“Ya udah, boleh nggak gue sama Anita menginap?” tanya
Anggel, dan tentu saja Indira memperbolehkan, jadi Indira tidak merasa
kesepian.
Jam makan siang sudah berakhir, mereka bertiga pun mulai
menyusun rencana selama perjalanan pulang.
“Gue curiga sama apa yang Nando lakuin,” ucap Kanaya.
“Nah maka dari Nay, kita bakal cari bukti disana, gue yakin
kita bisa nemuin petunjuk,” entah kenapa mereka sangat yakin kalau perlakuan
Nando tidak tulus pada Indira, mereka yakin bertahannya Nando dengan Indira
hanya karena mereka takut dengan ancaman Indira yang akan memasukkan Nando ke
penjara.
Rupanya Nando tidak pulang ke rumah bukan karena
pekerjaannya, melainkan dia ingin menghabiskan waktu bersama Amanda, kini Nando
sudah bersama istri keduanya itu, Nando membawakan produk kecantikan dengan
merek yang sama dipakai oleh Indira. Nando tidak takut kalau Indira akan curiga
dengannya, karena Nando sudah punya Agus yang akan selalu melaporkan semua yang
terjadi pada Nando, termasuk tentang teman-teman Indira yang datang untuk
menginap.
“Kamu suka sayang?” tanya Nando pada Amanda.
“Suka mas …” Amanda langsung mencoba produk kecantikan yang
dibawa oleh Nando.
Sedangkan disisi lain, Indira, Anita dan ANggela tengahj
melakukan sesuatu, tapi mereka tidak berbicara sama sekali, melainkan mereka
berbicara lewat whatsapp, mereka berbicara lewat group chat yang hanya terisi
oleh mereka berempat, yaitu Kanaya, Indira, Anita dan Anggela.
Anggela mulai mengetik pesan, dia meminta izin pada Alena
untuk melihat kamarnya, awalnya Indira merasa heran kenapa mereka tidak
berbicara secara langsung, tapi tatapan Anita seolah mengatakan, bahwa Indira
hanya perlu percaya pada mereka. Akhirnya Indira pun mengizinkan kedua temannya
untuk melihat kamarnya dengan Nando, dan satu hal lagi, kedua temannya
lagi-lagi meminta Indira untuk tetap diam.
Anggela mulai mengeluarkan suatu alat yang ternyata alat
pendeteksi apakah di kamar Indira ada penyadap suara, dan ternyata benar, tepat
di meja rias Indira alat itu berbunyi, mereka pun menemukan alat penyadap
dibawah laci, tentu saja Indira cukup terkejut, karena dia baru tahu selama ini
ada penyadap suara di kamarnya, apalagi meja rias yang tentu saja sering Indira
gunakan. Dan mereka kembali mencari namun nihil. Mereka juga tidak menemukan
adanya kamera cctv di kamar Indira, jadi mereka sudah bisa memastikan kamar
Indira sudah aman.
“Ra … loe harus denger gue, loe nggak bisa 100% percaya sama
suami loe, loe lihat buktinya kan?” ujar Anita seraya menunjukkan alat penyadap
suara yang sudah dia hancurkan.
“Jadi kemungkinan besar Nando yang taruh penyadap suara itu?”
tanya Indira dengan risau.
“Iya Ra, dan kita semua yakin ada yang Nando sembunyiin dari
loe, gue juga yakin digantinya supir pribadi loe itu semua adalah bagian dari
rencana Nando,” ucap Anggel menjelaskan.
“Kalau memang benar, lalu apa yang seharusnya gue lakuin?” tanya Indira frustasi, dia tidak tahu kenapa
Nando melakukan semua ini.
“Tetap tenang, dan kita akan cari cara supaya kita bisa
tahu, apa sebenarnya yang Nando sembunyikan. Besok Kanaya libur jadi kita akan
coba rundingin di rumah dia, karena cuman disana tempat yang aman,” ucap Anita
menenangkan Indira.
Indira masih belum mengerti apa alasan sebenarnya Nando
seolah ingin tahu gerak-gerak Indira, lalu apa yang sebenarnya Nando
sembunyikan, semua masih belum jelas, dan Indira akan mengikuti semua rencana dari
teman-temannya, Indira ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dibelakang
Indira, apakah benar jika selama ini yang suami dan kedua mertuanya tunjukkan
dihadapan Indira adalah bohong belaka? Indira juga mulai berpikir,
jangan-jangan apa yang Nando lakukan, semua hal romantis yang Nando tunjukkan
tidak lain hanya untuk cari aman, karena Nando takut dengan ancaman Indira,
Nando tidak tulus mencintainya.