Keysha

Keysha
Season 2 (Mulai terungkap)



Jam makan siang sudah tiba, semua orang yang tenagh berkutat


dengan pekerjaan perlahan mulai membubarkan diri dan mengistirahatkan tenaga


mereka dengan memberikan asupan untuk perut mereka supaya kembali bertenaga. Seperti


Kanaya dan teman-temannya, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju


restaurant Indira yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bekerja. Saat mereka


tiba di parkiran, mereka melihat mobil Indira dan disampingny ada lelaki yang


tidak mereka kenal. Seseorang itu tidak lain adalah Agus, kini Agus tengah


menerima telepon yang entah dari siapa.


“Siap bos … semua aman,” ujar Agus menjawab sambungan


telepon.


“….”


“Baik bos.” Sambungan telepon pun terputus, Kanaya, Anita


dan Anggel pikir lelaki itu mungkin ingin berbuat sesuatu pada mobil Indira,


jadi sebelum masuk ke restaurant, mereka melaporkan lelaki yang mencurigakan


itu kepada satpam yang berjaga.


“Pak, orang yang disamping mobil Indira kok aneh ya?


jangan-jangan mau berbuat macam-macam,” ujar Anita.


“OH … itu supir baru bu Indira kok mba Anita,” jawab satpam.


“Hah? Supir?” Kanaya nampak agak terkejut.


“Ya udah Pak, makasih ya …” Anggel pun meminta


teman-temannya untuk segera masuk ke restaurant.


Rupanya didalam restaurant, Indira sudah menunggu ketiga


sahabatnya, dari wajah Indira sangat terlihat kalau Indira punya banyak


pikiran.


“Loe kenapa? sakit?” tanya Kanaya perhatian.


“Enggak kok, capek aja,” jawab Indira, dia merasa butuh


liburan sekarang ini.


“Sopir loe baru Ra?” tanya Anita yang penasaran, karena bagi


Anita supir lama Indira jauh lebih baik, ramah dan tidak seram, sedangkan supir


baru Indira terlihat menyeramkan karena wajahnya tidak ramah dan mahal senyum.


“Iya … Nando yang minta, karena kata Nando, pak Agus jago


bela diri, jadi Nando bisa tenang kalau aku sedang bepergian,” jawab Indira


menjelaskan.


“Loe nggak serem?” tanya Anggel, namun langsung disenggol


oleh Kanaya.


“Sebenernya serem sih, pak Agus susah diajak ngobrol,” keluh


Indira.


“Supir loe kerja dua tempat?” tanya Kanaya penasaran.


“Enggak, pak Agus stay kok di rumah,” jawab Indira, hal ini


malah memancing kecurigaan Kanaya, karena tadi Kanaya sempat mendengar Agus


berbicara lewat sambungan telepon dan memanggil dengan sebutan bos.


“Emang kenapa Nay?” tanya Indira penasaran, Kanaya pun


menjelaskan kecurigaannya kepada Indira, karena Kanaya mau Indira lebih hati-hati


dengan supir barunya.


“Intinya, loe harus jaga-jaga Ra, loe bilang aja sama kita


kalau loe punya kecurigaan sama supir loe ya?” pinta Anita, dan Indira pun


mangangguk paham, karena sebenarnya dia juga merasa agak aneh dengan supir nya


itu.


Ketika Indira mencurigai supirnya, Kanaya dan yang lain


justru curiga dengan Nando, karena Nando lah yang tiba-tiba mengganti supir


Indira, mereka yakin Nando punya alasan kenapa tiba-tiba mengganti supir.


“Loe sering pergi ke rumah mertua loe Ra?” tanya Anggel


tiba-tiba.


“Iya kadang waktu gue mau ke resto gue mampir sih, emang


kenapa?” tanya Indira.


“Loe ngabarin dulu kalau mau kesana?” kali ini Anita yang


bertanya.


Mendengar pertanyaan Anita, Indira malah tertawa, “ya enggak


lah, ngapain gue ngomong dulu, kalau mau y ague tinggal dateng,” jawab Indira


santai seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tapi hal ini malah


diartikan lain oleh teman-teman Indira.


 Mereka yakin ada


keterkaitan  dengan semua ini, entah


kenapa feeling mereka sangat kuat Nando menyembunyikan sesuatu, dan soal Nando


yang mengganti supir Indira pun pastinya membuat mereka semua curiga. Sebab,


selama ini supir lama Indira tidak pernah melakukan kesalahan, dan selama ini


Indira juga selalau aman.


Ponsel Indira bergetar, dan ternyata itu notifikasi pesan


“Kenapa?” tanya Anita, entah kenapa setiap perubahan kecil


pada Indira membuat mereka risau.


“Nando bilang mala mini dia nggak pulang, karena rumah sakit


lagi ramai banget, jadi mungkin Nando menginap,” jawab Indira.


“Ya udah, boleh nggak gue sama Anita menginap?” tanya


Anggel, dan tentu saja Indira memperbolehkan, jadi Indira tidak merasa


kesepian.


Jam makan siang sudah berakhir, mereka bertiga pun mulai


menyusun rencana selama perjalanan pulang.


“Gue curiga sama apa yang Nando lakuin,” ucap Kanaya.


“Nah maka dari Nay, kita bakal cari bukti disana, gue yakin


kita bisa nemuin petunjuk,” entah kenapa mereka sangat yakin kalau perlakuan


Nando tidak tulus pada Indira, mereka yakin bertahannya Nando dengan Indira


hanya karena mereka takut dengan ancaman Indira yang akan memasukkan Nando ke


penjara.


Rupanya Nando tidak pulang ke rumah bukan karena


pekerjaannya, melainkan dia ingin menghabiskan waktu bersama Amanda, kini Nando


sudah bersama istri keduanya itu, Nando membawakan produk kecantikan dengan


merek yang sama dipakai oleh Indira. Nando tidak takut kalau Indira akan curiga


dengannya, karena Nando sudah punya Agus yang akan selalu melaporkan semua yang


terjadi pada Nando, termasuk tentang teman-teman Indira yang datang untuk


menginap.


“Kamu suka sayang?” tanya Nando pada Amanda.


“Suka mas …” Amanda langsung mencoba produk kecantikan yang


dibawa oleh Nando.


Sedangkan disisi lain, Indira, Anita dan ANggela tengahj


melakukan sesuatu, tapi mereka tidak berbicara sama sekali, melainkan mereka


berbicara lewat whatsapp, mereka berbicara lewat group chat yang hanya terisi


oleh mereka berempat, yaitu Kanaya, Indira, Anita dan Anggela.


Anggela mulai mengetik pesan, dia meminta izin pada Alena


untuk melihat kamarnya, awalnya Indira merasa heran kenapa mereka tidak


berbicara secara langsung, tapi tatapan Anita seolah mengatakan, bahwa Indira


hanya perlu percaya pada mereka. Akhirnya Indira pun mengizinkan kedua temannya


untuk melihat kamarnya dengan Nando, dan satu hal lagi, kedua temannya


lagi-lagi meminta Indira untuk tetap diam.


Anggela mulai mengeluarkan suatu alat yang ternyata alat


pendeteksi apakah di kamar Indira ada penyadap suara, dan ternyata benar, tepat


di meja rias Indira alat itu berbunyi, mereka pun menemukan alat penyadap


dibawah laci, tentu saja Indira cukup terkejut, karena dia baru tahu selama ini


ada penyadap suara di kamarnya, apalagi meja rias yang tentu saja sering Indira


gunakan. Dan mereka kembali mencari namun nihil. Mereka juga tidak menemukan


adanya kamera cctv di kamar Indira, jadi mereka sudah bisa memastikan kamar


Indira sudah aman.


“Ra … loe harus denger gue, loe nggak bisa 100% percaya sama


suami loe, loe lihat buktinya kan?” ujar Anita seraya menunjukkan alat penyadap


suara yang sudah dia hancurkan.


“Jadi kemungkinan besar Nando yang taruh penyadap suara itu?”


tanya Indira dengan risau.


“Iya Ra, dan kita semua yakin ada yang Nando sembunyiin dari


loe, gue juga yakin digantinya supir pribadi loe itu semua adalah bagian dari


rencana Nando,” ucap Anggel menjelaskan.


“Kalau memang benar, lalu apa yang seharusnya gue lakuin?”  tanya Indira frustasi, dia tidak tahu kenapa


Nando melakukan semua ini.


“Tetap tenang, dan kita akan cari cara supaya kita bisa


tahu, apa sebenarnya yang Nando sembunyikan. Besok Kanaya libur jadi kita akan


coba rundingin di rumah dia, karena cuman disana tempat yang aman,” ucap Anita


menenangkan Indira.


Indira masih belum mengerti apa alasan sebenarnya Nando


seolah ingin tahu gerak-gerak Indira, lalu apa yang sebenarnya Nando


sembunyikan, semua masih belum jelas, dan Indira akan mengikuti semua rencana dari


teman-temannya, Indira ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dibelakang


Indira, apakah benar jika selama ini yang suami dan kedua mertuanya tunjukkan


dihadapan Indira adalah bohong belaka? Indira juga mulai berpikir,


jangan-jangan apa yang Nando lakukan, semua hal romantis yang Nando tunjukkan


tidak lain hanya untuk cari aman, karena Nando takut dengan ancaman Indira,


Nando tidak tulus mencintainya.