Keysha

Keysha
season 2 (Tidak menyangka)



Bella berpikir keadaan Indira sudah jauh lebuh baik dan


tenang, sudah tidak seemosi tadi, jadi dia mengajak Indira untuk makan siang


bersama,  mereka berdua beriringan


melangkah menuju meja makan, namun betapa terkejutnya Indira dan Bella, kala


melihat Nando tengah menata makanan di atas meja.


“Loh, ini baru matang?” tanya Bella, dia melihat makanan


yang terkepul asap menandakan makanan itu masih sangat panas.


“Iya Mah, aku sengaja masak special buat Mamah dan juga


Indira,” jawab Nando.


Bella pun tersenyum menatap Indira dengan meledek, “tuh lihat,


suami kamu sangat perhatian,” goda Bella, hal itu membuat Indira tersenyum


malu.


.


.


Disisi lain, Kanaya juga baru saja kembali ke rumah sakit,


karena dijam makan siang tadi, Kanaya memilih makan dirstorant dekat rumah


sakit bersama teman-teman sejawatnya, tapi tiba-tiba Kanaya mendapatkan


informasi bahwa dia dipanggil oleh direktur utama rumah sakit, yang tidak lain


Oki Pratama.


“Permisi, Dokter memannggil saya?”


“Iya Dokter Kanaya, silahkan masuk,” Oki pun mempersilahkan


Kanaya untuk masuk kedalam ruangan pribadinya.


“Silahkan duduk,” ujar Oki mempersilahkan.


“Terimaksih Dok.”


“Baiklah Kanaya, kita berbicara secara pribadi, karena saya


tidak akan membahas tentang pekerjaan,” ucap Oki.


“Baik om Oki,” jika tidak dalam ranah pekerjaan, maka Kanaya


akan memanggil Oki om, seperti ketika berada di rumah.


“Tadi pagi, saya begitu terharu melihat kedekatan kamu


dengan Fellycia, terimakasih banyak karena kamu sudah menyayangi cucu om dengan


tulus Nak.”


“Saya memang menyayangi Fellycia semenjak kami bertemu


pertama kali om, entah kenapa saya selalu mempunyai perasaan untuk menjaga


Fellycia,” jawab Kanaya jujur.


“Itu karena kamu sudah


menyayangi Fellycia, kamu tahu kan Kanaya, alasan Tama belum menikah sampai


sekarang?”


“Saya tidak tahu pasti Om,”


jawab Kanaya.


“Baiklah, maka Om yang akan


menjelaskan, alasan Tama belum menikah sampai sekarang karena dia juga trauma


dengan kisah percintaannya yang harus berakhir tepat dihari pernikahan, dan


yang kedua, Tama belum mau menikah karena dia belum bisa percaya kepada orang


lain, bagaimana pun kini dia sudah memiliki Fellycia. Kami semua yakin, banyak


orang yang menerima Tama dengan senang hati, tapi dengan Fellycia, mereka belum


tentu tulus.”


“Tapi pada diri kamu Nak, Om


melihat semuanya itu ada pada diri kamu, kamu menyayangi Fellycia dengan sangat


tulus, dan Om juga sangat yakin kalau kamu adalah jodoh terbaik untuk Tama,”


ujar Oki.


Sontak Kanaya melebarkan


matanya sangkin terkejut dengan ucapan Oki, “Dokter pasti salah Dok, jodoh Tama


pasti bisa jauh lebih baik dari saya, banyak kok orang dialur sana yang lebih


baik dari sayam,” ujar Kanaya merendah.


Oki tersenyum, “sejujurnya


Om malu mengatakan ini, karena Om merasa Tama bukanlah laki-laki yang baik,


karena masalalunya dulu, tapi … melihat bagaimana Tama beberapa tahun


kebelakang, setelah adanya kehadiran Fellycia, Om yakin Tama sudah bisa


dikatakan pria bertanggung jawab, terbukti dengan adanya dia masih setia


menyembunyikan identitas Fellycia yang sebenarnya, meski gossip miring terus


hinggap dalam kehidupan Tama, menyangkut pautkan dengan Fellycia, tapi Tama


tidak pernah sedikitpun berpikiran untuk membongkar siapa sebenarnya orangtua


Fellycia.” Jelas Oki.


Memang, setelah keberadaan


Fellycia diketahui khalayak umum, gossip miring terus melekat pada diri Tama,


rumor tentang Tama yang sering bermain wanita sampai memiliki anak diluar nikah


pun menjadi perbincangan hangat selama ini, namun Tama tidak pernah sedikitpun


adalah putrinya, kebanggaannya.


“Nak, kalau kamu berkenan,


Om ingin melamar kamu untuk putra Om, jika kamu bersedia maka Om akan datang


secara langsung kepada kedua orangtua kamu,” ucap Oki menyampaikan maksud


keinginannya.


“Tapi Om, bukankah ini


terlalu cepat?” tanya Kanaya risau.


“Niat baik bukankah sebainya


disegerakan? Bagaimana?”


“Eemmmm” Kanaya meremas tangannya karena dia bingung harus menjawab apa.


“Kamu diam, Om anggap


jawaban kamu Iya, dan nanti malam Om, tante da Tama akan menemui kedua orangtua


kamu,” ucap Oki memutuskan sepihak.


“Eh .. eemm tapi .. Om,”


Kanaya hendak protes.


“Terimakasih ya Kanaya … oh


iya ini sudah hampir satu jam kita ngobrol, kamu kembali ke ruangan kamu ya?


takutnya ada pasien yang menunggu, saya juga lagi sibuk, daah Kanaya,” Oki


mengusir halus Kanaya, dan tentu saja mau tidak mau Kanaya harus pergi.


“Berhasil Mah,” Oki mengirimkan


pesan itu kepada Anisa, Oki pun tersenyum bangga terhadap dirinya, karena dia


merasa kerja kerasnya untuk meyakinkan Kanaya berhasil.


“Yess sebentar lagi mau


mantu,” ujar Oki tertawa renyah.


Sedangkan Kana, yang kini


sudah berada di ruang kerjanya, tengah bingung dengan apa yang baru saja


terjadi, dia masih tidak habis pikir kenapa Oki bisa secepat itu menyimpulkan


bahwa dia mau untuk menjadi istri Tama, kalau menjadi mamah untuk Fellycia,


Kanaya masih mau, tapi kalau untuk menjadi istri Tama …. Nampaknya Kanaya masih


harus berpikir lagi.


“Duh gimana dong ini, gimana


kalau bener om Oki dan tante Anisa dating ke rumah? Gue harus apa?” ucap Kanaya


seraya mengetukkan jarinya diatas meja.


“Gue harus hubungin Tama,”


batin Kanaya, dia segera mncari nomor telepon Tama dan menghubunginya.


Namun, sudah 5x Kanaya terus


menghubungi Tama, tapi sama sekali tidak diangkat, sontak hal itu membuat


Kanaya kesal.


“Dasar ya tuh si Tama,


giliran butuh malah susah banget dihubungin,” ucap Kanaya kesal.


Tama sendiri mengernyit


heran melihat ponselnya yang sedari tadi dia silent mendapat 5 notifikasi


panggilan tak terjawab dari Kanaya, Tama yakin ada sesuatu yang terjadi


sampai-sampai Kanaya menghubunginya, tiba-tiba Tama teringat dengan Fellycia,


Tama berpikir mungkin saja Fellycia tengah pergi dengan Kanaya, dan terjadi hal


buruk dengan Fellycia.


Tama pun segera menghubungi


Kanaya balik, namun sekarang giliran Kanaya yang tidak menerima panggilannya,


Tama pun menjadi khawatir, dia sgera bergegas keluar dari ruang kerjanya, membuat


semua karyawan menatap Tama bingung.


Tama dengan tidak sabar


mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dimana Kanaya bekerja, karena bisa


saja Kanaya membawa Fellycia kesana, saat sampai di rumah sakit, tentu saja


Tama langsung menjadi pusat perhatian,  karena ketampanan dan charisma Tama memang sangat memikat.


Samar-samar, Tama mendengar


beberapa suster berbisik.


“Kasihan ya Dokter Kanaya,”


bisik salah satu suster.


“Kanaya?” batin Tama,  pikiran Tama pun menjadi tidak enak, “apa


mungkin terjadi sesuatu dengan Kanaya?” batin Tama.


“Dimana Kanaya?” tanya Tama


pada salah satu suster, kemudian Tama pun langsung melangkah menuju keberadaan


Kanaya, setelah mendapat informasi dari suster.


Saat Tama tengah kebingungan


kemana dia harus melangkah, dia melihat Kanaya yang tengah duduk di kursi ruang


tunggu sembari menyenderkan kepalanya, membuat Tama semakin berpikir buruk.