
Bella berpikir keadaan Indira sudah jauh lebuh baik dan
tenang, sudah tidak seemosi tadi, jadi dia mengajak Indira untuk makan siang
bersama, mereka berdua beriringan
melangkah menuju meja makan, namun betapa terkejutnya Indira dan Bella, kala
melihat Nando tengah menata makanan di atas meja.
“Loh, ini baru matang?” tanya Bella, dia melihat makanan
yang terkepul asap menandakan makanan itu masih sangat panas.
“Iya Mah, aku sengaja masak special buat Mamah dan juga
Indira,” jawab Nando.
Bella pun tersenyum menatap Indira dengan meledek, “tuh lihat,
suami kamu sangat perhatian,” goda Bella, hal itu membuat Indira tersenyum
malu.
.
.
Disisi lain, Kanaya juga baru saja kembali ke rumah sakit,
karena dijam makan siang tadi, Kanaya memilih makan dirstorant dekat rumah
sakit bersama teman-teman sejawatnya, tapi tiba-tiba Kanaya mendapatkan
informasi bahwa dia dipanggil oleh direktur utama rumah sakit, yang tidak lain
Oki Pratama.
“Permisi, Dokter memannggil saya?”
“Iya Dokter Kanaya, silahkan masuk,” Oki pun mempersilahkan
Kanaya untuk masuk kedalam ruangan pribadinya.
“Silahkan duduk,” ujar Oki mempersilahkan.
“Terimaksih Dok.”
“Baiklah Kanaya, kita berbicara secara pribadi, karena saya
tidak akan membahas tentang pekerjaan,” ucap Oki.
“Baik om Oki,” jika tidak dalam ranah pekerjaan, maka Kanaya
akan memanggil Oki om, seperti ketika berada di rumah.
“Tadi pagi, saya begitu terharu melihat kedekatan kamu
dengan Fellycia, terimakasih banyak karena kamu sudah menyayangi cucu om dengan
tulus Nak.”
“Saya memang menyayangi Fellycia semenjak kami bertemu
pertama kali om, entah kenapa saya selalu mempunyai perasaan untuk menjaga
Fellycia,” jawab Kanaya jujur.
“Itu karena kamu sudah
menyayangi Fellycia, kamu tahu kan Kanaya, alasan Tama belum menikah sampai
sekarang?”
“Saya tidak tahu pasti Om,”
jawab Kanaya.
“Baiklah, maka Om yang akan
menjelaskan, alasan Tama belum menikah sampai sekarang karena dia juga trauma
dengan kisah percintaannya yang harus berakhir tepat dihari pernikahan, dan
yang kedua, Tama belum mau menikah karena dia belum bisa percaya kepada orang
lain, bagaimana pun kini dia sudah memiliki Fellycia. Kami semua yakin, banyak
orang yang menerima Tama dengan senang hati, tapi dengan Fellycia, mereka belum
tentu tulus.”
“Tapi pada diri kamu Nak, Om
melihat semuanya itu ada pada diri kamu, kamu menyayangi Fellycia dengan sangat
tulus, dan Om juga sangat yakin kalau kamu adalah jodoh terbaik untuk Tama,”
ujar Oki.
Sontak Kanaya melebarkan
matanya sangkin terkejut dengan ucapan Oki, “Dokter pasti salah Dok, jodoh Tama
pasti bisa jauh lebih baik dari saya, banyak kok orang dialur sana yang lebih
baik dari sayam,” ujar Kanaya merendah.
Oki tersenyum, “sejujurnya
Om malu mengatakan ini, karena Om merasa Tama bukanlah laki-laki yang baik,
karena masalalunya dulu, tapi … melihat bagaimana Tama beberapa tahun
kebelakang, setelah adanya kehadiran Fellycia, Om yakin Tama sudah bisa
dikatakan pria bertanggung jawab, terbukti dengan adanya dia masih setia
menyembunyikan identitas Fellycia yang sebenarnya, meski gossip miring terus
hinggap dalam kehidupan Tama, menyangkut pautkan dengan Fellycia, tapi Tama
tidak pernah sedikitpun berpikiran untuk membongkar siapa sebenarnya orangtua
Fellycia.” Jelas Oki.
Memang, setelah keberadaan
Fellycia diketahui khalayak umum, gossip miring terus melekat pada diri Tama,
rumor tentang Tama yang sering bermain wanita sampai memiliki anak diluar nikah
pun menjadi perbincangan hangat selama ini, namun Tama tidak pernah sedikitpun
adalah putrinya, kebanggaannya.
“Nak, kalau kamu berkenan,
Om ingin melamar kamu untuk putra Om, jika kamu bersedia maka Om akan datang
secara langsung kepada kedua orangtua kamu,” ucap Oki menyampaikan maksud
keinginannya.
“Tapi Om, bukankah ini
terlalu cepat?” tanya Kanaya risau.
“Niat baik bukankah sebainya
disegerakan? Bagaimana?”
“Eemmmm” Kanaya meremas tangannya karena dia bingung harus menjawab apa.
“Kamu diam, Om anggap
jawaban kamu Iya, dan nanti malam Om, tante da Tama akan menemui kedua orangtua
kamu,” ucap Oki memutuskan sepihak.
“Eh .. eemm tapi .. Om,”
Kanaya hendak protes.
“Terimakasih ya Kanaya … oh
iya ini sudah hampir satu jam kita ngobrol, kamu kembali ke ruangan kamu ya?
takutnya ada pasien yang menunggu, saya juga lagi sibuk, daah Kanaya,” Oki
mengusir halus Kanaya, dan tentu saja mau tidak mau Kanaya harus pergi.
“Berhasil Mah,” Oki mengirimkan
pesan itu kepada Anisa, Oki pun tersenyum bangga terhadap dirinya, karena dia
merasa kerja kerasnya untuk meyakinkan Kanaya berhasil.
“Yess sebentar lagi mau
mantu,” ujar Oki tertawa renyah.
Sedangkan Kana, yang kini
sudah berada di ruang kerjanya, tengah bingung dengan apa yang baru saja
terjadi, dia masih tidak habis pikir kenapa Oki bisa secepat itu menyimpulkan
bahwa dia mau untuk menjadi istri Tama, kalau menjadi mamah untuk Fellycia,
Kanaya masih mau, tapi kalau untuk menjadi istri Tama …. Nampaknya Kanaya masih
harus berpikir lagi.
“Duh gimana dong ini, gimana
kalau bener om Oki dan tante Anisa dating ke rumah? Gue harus apa?” ucap Kanaya
seraya mengetukkan jarinya diatas meja.
“Gue harus hubungin Tama,”
batin Kanaya, dia segera mncari nomor telepon Tama dan menghubunginya.
Namun, sudah 5x Kanaya terus
menghubungi Tama, tapi sama sekali tidak diangkat, sontak hal itu membuat
Kanaya kesal.
“Dasar ya tuh si Tama,
giliran butuh malah susah banget dihubungin,” ucap Kanaya kesal.
Tama sendiri mengernyit
heran melihat ponselnya yang sedari tadi dia silent mendapat 5 notifikasi
panggilan tak terjawab dari Kanaya, Tama yakin ada sesuatu yang terjadi
sampai-sampai Kanaya menghubunginya, tiba-tiba Tama teringat dengan Fellycia,
Tama berpikir mungkin saja Fellycia tengah pergi dengan Kanaya, dan terjadi hal
buruk dengan Fellycia.
Tama pun segera menghubungi
Kanaya balik, namun sekarang giliran Kanaya yang tidak menerima panggilannya,
Tama pun menjadi khawatir, dia sgera bergegas keluar dari ruang kerjanya, membuat
semua karyawan menatap Tama bingung.
Tama dengan tidak sabar
mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dimana Kanaya bekerja, karena bisa
saja Kanaya membawa Fellycia kesana, saat sampai di rumah sakit, tentu saja
Tama langsung menjadi pusat perhatian, karena ketampanan dan charisma Tama memang sangat memikat.
Samar-samar, Tama mendengar
beberapa suster berbisik.
“Kasihan ya Dokter Kanaya,”
bisik salah satu suster.
“Kanaya?” batin Tama, pikiran Tama pun menjadi tidak enak, “apa
mungkin terjadi sesuatu dengan Kanaya?” batin Tama.
“Dimana Kanaya?” tanya Tama
pada salah satu suster, kemudian Tama pun langsung melangkah menuju keberadaan
Kanaya, setelah mendapat informasi dari suster.
Saat Tama tengah kebingungan
kemana dia harus melangkah, dia melihat Kanaya yang tengah duduk di kursi ruang
tunggu sembari menyenderkan kepalanya, membuat Tama semakin berpikir buruk.