
Kanaya benar-benar menyusul para sahabatnya ke café tempat
mereka biasa berkumpul bersama, sejujurnya Kanaya merasa tidak enak, karena
takut ketidak hadiran teman-temannya keacara Indira ada sangkut pautnya dengan
Kanaya.
“Hai Nay…” sapa Bara.
Kanaya masih mengatur napasnya, karena tadi dia berjalan
dengan cukup cepat.
“Kenapa kalian malah disini? Kenapa nggak ada yang dateng ke
acara Indira?” tanya Kanaya to the point.
“Kita nggak mau kenal lagi sama Indira, kita benci liat dia,”
jawab Nathan.
“Karena gue? karena permasalahan gue sama Indira?” tebak
Kanaya, dan semua sahabatnya terdiam.
Kanaya menghela napasnya, “ini masalah gue sama Indira,
harus nya kalian nggak perlu sampai segininya sama Indira. Gue yakin Indira
pasti sedih banget karena nggak ada satupun dari kita yang dateng keacaranya.”
“Nay, meskipun disini loe yang disakitin, tapi kita semua
juga ikut sakit, karena kita udah sama-sama dari kecil,” ucap Bara.
“Iya Kanaya, sebagai seorang perempuan gue juga bisa ngerasain
gimana sakinya diposisi loe, dua orang yang paling loe percaya dengan teganya
mengkhianati loe,” ucap Anita.
“Dan naluri kami sebagai sahabat loe mengatakan, kalau kami
nggak nggak perlu datang kesana,” timpal Anggel.
Kanaya merasa terharu dengan solidaritas sahabatnya,
beruntungnya Kanaya yang dikelilingi orang-orang yang baik.
“Semoga kalian selalu bahagia, terlepas dari apa yang pernah
kamu lakukan padaku Indira, aku berharap hal itu tidak akan terjadi pada kamu,”
batin Kanaya.
Malam harinya, Indira mencoba membuka ponselnya untuk
manyakan kenapa tidak ada satupun sahabatnya yang datang keacara Indira, namun
betapa terkejutnya Indira ketika melihat postingan foto pada group chat
pertemanannya.
“Mereka nggak dateng ekeacara resepsi pernikahan ku, tapi
mereka malah pergi ke café?” batin Indira, dia menggelengkan kepalanya tidak
percaya.
“Pasti Kanaya sudah menghasut mereka supaya mereka tidak
Kanaya.
Hari ini Indira sangat bahagia, karena Lailla ibu mertuanya
mengajak Indira pergi keluar, Lailla bilang ingin menikmati waktu bersama
menantunya. Indira berharap ini adalah awal mula yang baik untuk hubungannya
dan juga ibu mertuanya.
“Kita mau kemana mah?” tanya Indira antusias.
“Ke butik, mamah ingin mengajak kamu memilih gaun yang kamu
suka, kan waktu pernikahan kalian mamah belum sempat memberikan sesuatu, karena
mendadak” ujar Lailla.
Indira tersenyum senang, dalam hatinya dia bersyukur karena
kini ibu mertuanya sudah mulai bersikap lembut padanya.
“Harusnya Mamah nggak perlu repot-repot Mah,” ujar Indira
basa-basi.
“Tidak, ini tidak merepotkan kok, Mamah berharap semoga ini
bisa menjadi awal yang baik bagi kita berdua,” jawab Lailla. Kemudian dia
meminta driver untuk mengemudikan mobilnya ke butik yang sudah dia katakana sedari
awal.
Indira tidak menaruh curiga sedikitpun kepada ibu mertuanya,
karena dia merasa ibu mertuanya berkata jujur dan tidak mungkin melakukan hal
yang berbahaya kepada Indira. namun betapa terkejutnya Indira setelah mobil
menepi di parkiran butik, dan Indira tahu siapa pemilik butik tersebut.
“Mah, ini kan butiknya …” belum selesai Indira berbicra,
namun Lailla sudah memotongnya lebih dulu.
“Sudahayo masuk,” Lailla menyeret tangan Indira, saat Lailla
dan Indira masuk kedalam butik, semua mata seolah menatap Indira, karena berita
Kanaya, Indira dan Nando sudah terjalin cukup luas.
“Kak Indira?” Nabila datang dan menyapa.
“Hai Nabila,” Indira balik menyapa adik dari Bara yang tidak
lain sahabat Indira.
“Oh iya, kenapa kamu tidak datang Nabila keacara ku?” tanya Alena.
“Maaf kak, aku hanya menghargai perasaan kak Kanaya, karena
biar bagaimana pun kak Kanaya adalah calon kakak iparku,” jawab Nabila.
Alena tertunduk lesu, karena semua orang selalu membela
Kanaya, namun hal berbalik malah diterima oleh Indira, yaitu makian dan
cemoohan orang-orang terhadapnya.