
Kanaya masuk kedalam cafe dan mencari Nando, rupanya Nando duduk di dekat jendela, namun mata Kanaya menangkap ada yang aneh, karena Nando datang bersama Indira, namun Kanaya menepis jauh-jauh pikiran buruknya, dia mencoba berpikir positif.
"Mungkin Nando ingin menghibur Indira, karena Indira tengah sedih," batin Kanaya.
"Hai," sapa Kanaya setelah dia mendekat kearah Nando dan Indira.
"Hai Nay," sapa Indira dan Nando bersamaan. Jantung mereka berdua sama-sama berdetak kencang, karena takut dengan respon Kanaya nanti.
"Duduk Nay, tadi aku udah pesen minum buat kamu," ujar Nando.
"Makasih ya."
"Oh iya, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kanaya penasaran.
Nando menyesap minuman nya, karena tenggorokannya terasa kering, gugup itulah yang Nando rasakan.
"Jadi begini Nay, aku ... aku sudah menikah dengan Indira," ucap Nando dengan terbata.
Kanaya menatap Nando dan Indira yang tengah menunduk secara bergantian, kemudian Kanaya mengingat tentang pembicaraan Tama soal prank, Kanaya pun tertawa mendengar pengakuan Nando tadi.
Sontak Nando dan Indira pun menatap Kanaya bingung.
"Kamu kenapa Nay?" tanya Indira.
"Kalian tuh lucu tau gak sih, aku tahu kalian pasi ngerjain aku kan? berharap aku nangis terus nanti kalian bilang prank," ucap Kanaya dengan tertawa.
"Nay, tapi ini serius aku bersumpah aku dan Indira sudah menikah," ucap Nando lagi.
Dan senyum Kanaya pun luntur setelah dia menatap Nando dan Indira secara bergantian, wajah mereka memperlihatkan bahwa mereka bersungguh-sungguh, apalagi Kanaya melihat dengan jelas tanda merah dileher Indira, Kanaya tahu itu apa, bahkan dari raut wajah Indira, Kanaya bisa menebak kalau Indira sudah tidak lagi Virgin.
"Kapan?" tanya Kanaya singkat, nada bicara Kanaya terkesan dingin.
"Kemarin Nay, itu semua permintaan Kakek Harun Nay, karena saat itu keadaan kakek Harun kritis," jelas Nando.
"Iya Nay, dan aku akan menyesal kalau aku tidak memenuhi keinginan terakhirnya," ucap Indira.
"Jangan menjual nama almarhum kakek Harun, kalau kamu menjelaskan bahwa kamu pacar aku, pasti kakek Harun akan mengerti dan nggak akan mungkin memaksa kalian menikah," seru Kanaya, dan itu membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian pengunjung cafe, yang memang pada saat itu tengah ramai.
"Nay, tolong pelan sedikit ya, malu dilihat orang-orang," ucap Indira mencoba menenangkan Kanaya.
"Malu? harusnya sebelum kamu rebut Nando dari aku, kamu sudah menyiapkan diri kamu," seru Kanaya seraya menatap Indira penuh kekecewaan.
"Nay, aku dan Nando juga terpaksa harus menikah saat itu, karena kondisi kakek Harun yang sudah mengkhawatirkan, aku nggak punya waktu untuk berpikir," jelas Indira membela diri.
Kanaya tersenyum remeh, "terpaksa? jangan membohongi diri kamu sendiri, karena aku nggak melihat keterpaksaan itu sama sekali, itu terlihat dari wajah dan leher kamu," ucap Kanaya.
Sontak Indira teringat kegiatan malamnya dengan Nando dan meninggalkan jejak kepemilikan dileher, Indira segera membetulkan rambutnya yang sengaja digerai.
"Nay, aku mohon jangan tolong kamu bisa mengerti," Nando mencoba menggapai tangan Kanaya, namun langsung ditepis oleh Kanaya dengan kasar.
"Cukup!" sentak Kanaya, "sebelum kamu menikahi dia, apa kamu berpikir bagaimana perasaan aku Nando?"
"Nay, aku siap untuk dimadu, jadi kamu masih bisa menjalin hubungan dengan Nando," ucap Indira.
"Aku menyesal karena telah mengenal kalian, seterusnya jangan pernah muncul dihadapan aku lagi, kita SELESAI," setelah mengatakan itu Kanaya pun pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, air mata terus membanjiri pipi Kanaya.
Bisik-bisik mulai terdengar, mereka membicarakan Indira dan Nando dengan ucapan-ucapan yang cukup menohok, bahkan mereka terang-terangan memberikan Indira julukan musuh dibalik selimut, ada juga yang memberikannya julukan perusak hubungan orang.
Nando mencoba menenangkan Indira yang terlihat sangat bersedih, dia pun mengajak Indira untuk pulang, karena suasana sudah tidak lagi kondusif, saat Nando berjalan melewati beberapa pengunjung, mereka pun menyoraki kedua pasangan itu.
"Dasar bibit pelakor."
"Jadi orang ketiga kok bangga." Itulah salah satu cemoohan yang ditujukan untuk Indira, Indira hanya menunduk, dia teramat malu untuk menunjukkan wajahnya.
Sedangkan Kanaya dia langsung masuk kedalam mobil Tama dan menangis sejadi-jadinya, Tama yang memang sedari tadi sudah berada di dalam mobil pun begitu terkejut ketika melihat Kanaya yang datang dengan keadaan menangis.
"Kamu kenapa Nay?" tanya Tama khawatir.
Tanpa menjawab pertanyaan Tama, Kanaya langsung memeluk Tama dengan erat, dia butuh ketenangan sekarang ini. Tama pun membuka Kanaya menangis di pelukan nya, tak lama Tama melihat Indira dan Nando yang berjalan bersama menuju mobil.
"Apa ini yang membuat Kanaya menangis?" batin Tama, tanpa sadar tangan Tama terkepal erat, namun dia masih menahan emosinya, karena ada Kanaya.
Tangis Kanaya mereda, Tama pun memberikan tisu dan air minum kepada Kanaya.
"Bisa kamu ceritakan Kanaya, apa yang membuat kamu seperti ini?" tanya Tama hati-hati.
Kanaya mengangguk, "Nando sudah menikah, dengan Indira," lagi-lagi Kanaya terisak ketika menceritakan apa yang baru saja dia dengar tadi.
"Kamu yakin?" tanya Tama memastikan.
"Mereka bilang sendiri, pernikahan mereka berlangsung kemarin, dan mereka bilang itu adalah keinginan terakhir kakek Harun, tapi seandainya kalau Nando menceritakan kalau dia memiliki hubungan dengan ku, aku yakin kakek Harun tidak akan memaksa Nando dan Indira."
"Aku masih nggak nyangka, kalau Indira bisa setega itu sama kamu Nay," ucap Tama.
Punggung Kanaya bergetar karena Isak tangisnya, Tama pun meminta supir untuk melakukan mobilnya.
"Menangis lah Nay, tapi hanya untuk hari ini, besok air mata ini sudah tidak boleh lagi menetes untuk mereka, karena mereka tidak pantas membuat kamu menangis," ucap Tama.
Tama tahu pasti perasaan Kanaya tengah hancur, dia dikhianati oleh 2 orang kepercayaan nya sekaligus, yang pertama kekasihnya dan kedua sahabatnya yang paling dekat dengan Kanaya, Tama juga tak menyangka, Indira bisa setega itu dengan Kanaya.
Mobil tiba-tiba berhenti, dan membuat Kanaya bingung, karena mereka belum sampai ditempat tujuan.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Kanaya.
"Kita sholat ashar dulu, sudah waktunya," jawab Tama.
"Tapi aku gak bawa mukenah," ucap Kanaya malu.
Tama mengambil sesuatu di dalam tas, "ini punya Natasha, baru dicuci kok," ujar Tama.
"Ayo." ajak Tama, Kanaya dan Tama pun turun dari mobil, begitu juga supir Tama, mereka masuk kedalam masjid yang sangat megah.
Kanaya tak menyangka Tama benar-benar sudah berubah, bahkan Tama menjadi lebih religius sekarang, kedatangan Felly benar-benar membawa perubahan yang positif bagi Tama, dan Kanaya kagum itu, melihat Tama yang membawa sarung sendiri, Kanaya yakin Tama taat dalam menjalankan ibadah sholatnya.