
Nando tengah gelisah, dia sangat merindukan Amanda saat ini,
tapi dia bingung harus beralasan apa, apalagi sekarang sudah jam 10 malam,
sangat aneh rasanya kalau Nando berpamitan pada Indira bahwa dia ingin keluar
mencari angina. Pastinya Indira juga tidak akan mengizinkan, atau lebih
parahnya Indira malah ikut dengan Nando.
“Mas …” lirih Indira memanggil suaminya yang tengah bermain
ponsel seraya menyenderkan kepalanya dikepala ranjang.
“Ehh iya sayang kenapa?” tanya Nando kaget, dia langsung
menyembunyikan ponselnya, karena tengah membalas pesan-pesan Amanda.
“Ada yang ingin aku bicarakan mas,” ujar Indira dengan
hati-hati.
“Ya sudah sayang, bicara saja, ada apa?” tanya Nando, dia
menepuk sisinya yang kosong agar Indira duduk disampingnya.
“Sayang … kamu kan tahu, kalau aku sudah tidak punya harapan
lagi untuk mengandung dan melahirkan, karena rahimku sudah diangkat. Dan aku
sudah memikirkan hal ini sejak lama, karena biar bagaimanapun kita butuh
keturunan untuk masa tua kita nanti, bagaimana kalau kita adopsi anak?” tanya
Indira meminta pendapat Nando.
“Mengadopsi anak?” tanya Nando memastikan.
“Iya, kita bisa cari bayi di panti asuhan kan? karena biar
bagaimanapun saat kita tua nanti anak kita lah yang akan merawat kita kan?
sedangkan aku tidak mungkin memberikan kamu keturunan,” ujar Indira.
‘Kamu yang gak bisa punya anak, sedangkan aku masih bisa,
aku akan mendapatkan anak dari Amanda, dan aku yakin itu, karena Amanda sehat
tidak seperti kamu,’ batin Nando kesal, tapi tetap saja di hadapan Indira,
Nando memasang senyum manisnya.
“Sayang … aku setuju dengan usulan kamu, tapi ….”
“Tapia pa?” tanya Indira penasaran.
“Beri aku waktu yaa? Aku masih ingin kita berdua seperti ini
dulu, menikmati waktu berdua, karena setelah kita adopsi anak nanti, pastinya
kita akan lebih fokus pada anak kita kan? dan kita akan jarang menikmati waktu
berdua seperti ini,” ujar Nando beralasan, sebenarnya dia tidak setuju jika
Indira adopsi anak, tapi dia mencari alasan supaya Indira tidak curiga.
“Iya sayang … aku setuju, ya sudah untuk kapan kita adopsi,
kita bicarakan nanti lagi ya? yang penting sekarang kamu sudah setuju untuk
mengadopsi anak nanti,” ucap Indira tersenyum.
“Iya sayang …” Nando memeluk Indira, namun raut wajahnya
terlihat bosan berada disamping Indira, karena dia ingin menemui Amanda istir
keduanya.
‘Merepotkan,’ batin Nando kesal.
Keesokan harinya, Nando sengaja berangkat lebih cepat dari
rumah, dia ingin menemui Amanda sebelum pergi ke rumah sakit, karena Nando
sangat merindukan istrinya itu.
“Sayang …” Nando langsung memeluk Amanda saat istrinya
membukakan pintu.
“Tumben pagi-pagi banget dateng?” tanya Amanda, meski
sebenarnya dia juga senang karena melihat suaminya datang berkunjung.
“Aku kangen kamu …” Nando mencium bibir Amanda sekilas.
“Oh iya, Mamah dan Papah bilang kalau kamu kesini, kamu
diminta menemui mereka mas,” ujar Amanda.
“Loh ada apa?” tanya Nando penasaran.
“Aku nggak tahu, tapi sebaiknya kamu temui mereka mas, siapa
tahu ada yang penting,” saran Amanda.
“Ya sudah, aku pergi dulu ya?” Nando pun berpamitan dengan
Amanda, karena takut ada hal penting yang ingin kedua orangtuanya bicarakan.
“Jadi ada apa Mah, Pah?” tanya Nando kepada kedua
orangtuanya.
“Ini masalah Indira,” jawab Harlan.
“Indira? kenapa Pah?” tanya Nando bingung.
Lailla pun menjelaskan kepada Nando soal Indira yang datang
ke apartement mereka saat Nando pergi ke Amsterdam bersama Amanda, mereka juga
menjelaskan bahwa hal ini akan menjadi bahaya jika Indira datang tanpa
sepengetahuan mereka. Nando mendengar penejalasan kedua orangtuanya dengan
seksama, dia juga membenarkan apa yang dikatakan kedua orangtuanya.
“Iya Papah dan Mamah benar, lalau apa yang sebaiknya aku
lakukan Pah?” tanya Nando meminta saran.
“Kirim mata-mata, jadikan supir Indira,” jawab Harlan.
“Baiklah, aku akan atur itu semua,” jawab Nando dengan
enteng. Mereka berdua benar-benar mengkhianati Indira, mereka menusuk Indira
dari belakang. Nando dan kedua orangtuanya masih bersenang-senang dengan
kebohongan mereka, tapi satu hal yang seharusnya mereka ingat, kalau Sang Maha
Pencipta tidak pernah tidur, pastinya perbuatan mereka ini akan mendapatkan
balasan setimpal nantinya.
“Oh iya Mah, Pah … Indira semalam minta persetujuan aku
untuk adopsi anak,” ujar Nando memberitahukan kepada kedua orangtuanya.
“Apa? adopsi? “ tanya Lailla, dan ternyata baik Lailla
maupun Harlan sama-sama tidak setuju jika Indira ingin mengadopsi anak, dengan
keras mereka menentangnya. Nando pun menjelaskan bahwa dia sudah mengatakan
pada Indira untuk menunda lebih dulu rencananya mengadopsi anak, dengan alasan
Nando masih mau menikmati waktu berdua bersama Indira. Kedua orangtua Nando pun
bernapas lega, karena Indira mau menuruti permintaan suaminya. Meski sebenarnya
mereka akan terus meminta Indira untuk menunda adopsi anak.
^^^
Disisi lain, Kanaya, Tama dan Felly tengah sarapan bersama,
tapi tiba-tiba saja Felly berbicara yang membuat Tama dan Kanaya hampir
tersedak karena kaget.
“Mah, Pah … Felly mau minta adik,” ucap Felly dengan polos,
membuat Tama dan Kanaya terkejut.
“Adik?” tanya Kanaya dan Tama bersamaan.
“Iya Mah, Felly sudah putuskan kalau Felly mau punya adik,
dan Felly mau jadi kakak yang baik buat adik, Felly akan jaga adik, boleh ya
Mah? Pah?” tanya Felly.
Tama dan Kanaya bingung harus menjawab apa, mereka berdua
malah saling berpandangan, “Felly yakin? Felly nggak takut lagi emangnya kalau
punya adik?” tanya Kanaya memastikan.
“Felly yakin kok Mah, boleh ya Mah? Pah? Felly punya adik?”
tanya Felly lagi dengan tatapan memohon membuat Kanaya dan juga Tama tidak
tega.
“ Ya sudah, iya nanti Papah dan Mamah akan kasih adik buat
Felly,” jawab Tama seraya tersenyum manis, lalu tatapan Tama beralih pada
Kanaya dan mengerlingkan matanya, membuat Kanaya bergidik ngeri, Kanaya yakin
Tama pasti akan semakin bersemangat sekarang, apalagi sudah mendapatkan restu
dari anaknya.
^^^
Setelah Nando berangkat, Indira berniat mampir ke rumah
orang tua Nando, karena Nandosepertinya lupa belum membawa oleh-oleh untuk
orangtuanya, jadi Indira berinisiatif untuk membawakannya. saat Indira hendak
menekan bel, tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita yang
Indiratafsir umurnya tidak jauh beda dengan Indira.
“Mah … Pah …” sapa Indira kepada ayah dan ibu mertuanya, mereka berdua nampak terkejut
dengan kedatangan Indira ke apartement mereka.
“Ohhh iya Nak,” ujar Lailla terbata.
Indira bingung dan bertanya dalam hati, memangnya tidak boleh seorang menantu
datang ke rumah mertuanya? Apa seorang menantu harus datang ke rumah mertuanya
ketika sedang ada perlu saja? begitu kira-kira yang Indira pikirkan.
Lailla nampak sadar bahwa apa yang ditanyakan oleh suaminya
itu kurang tepat, dia menyenggol lengan Harlan, “Papah ini gimana? Masa anak
perempuan datang nggak boleh, iya kan Indira??” ujar Lailla.
“Ohh iya-iya Papah ini pikun sekali yaa?” suasana menjadi
canggung sekarang, karena Indira sendiri merasa aneh dengan kedua mertuanya
yang bertingkah seolah mereka sedang bertingkah salah tingkah.
‘Jadi ini istri pertama mas Nando? Cantik, dan dari kulitnya
saja sangat terawat, pasti perawatannya mahal,’ batin Amanda yang diam-diam
memperhatikan Indira.
“Oh mungkin Papah kaget Mah, karena aku datang pagi-pagi,”
ujar Indira mencoba menyikapi dengan berfikir positif, “sebenernya aku juga mau
ke restaurant sih, tapi aku lihat ini oleh-oleh yang dari mas Nando, kayaknya
lupa deh soalnya gugup karena ada urgent. Jadi, aku inisiatif buat mampir dan
anterin ini Mah, Pah…” ujar Indira mencoba menjelaskan.
‘Jadi itu alasan yang mas Nando berikan kepada mba Indira?’
batin Amanda, dalam hatinya dia tersenyum karena Nando rela bangun lebih pagi
demi untuk menemui Amanda, bahkan sampai lupa dengan oleh-oleh yang seharusnya
diberikan untuk kedua orangtua Nando.
“Wah Indira, harusnya kamu nggak perlu repot-repot Nak,
pasti kamu sedang sibuk kan?” dalam hati Lailla dia beraharap agar Indira
segera pergi.
“Nggak apa-apa kok Mah,” jawab Indira seraya tersenyum, Indira
pun beralih menatap Amanda, “oh iya ini ….”
“Oh ini tetangga apartement, namanya Amanda,” ucap Lailla
dengan cepat memperkenalkan, Amanda dan Indira pun saling berjabat tangan
memperkenalkan diri masing-masing.
‘Tangan mba Indira sangat halus, beda dengan ku,’ batin
Amanda minder, karena Amanda berasal dari keluarga biasa, jadi dia harus
terbiasa dengan bekerja keras, dan kalau untuk perawatan kulit dan lain sebagainya
bagi Amanda itu sangat disayangkan. Berbeda dengan Indira yang lahir dari
keluarga berada, apalagi Indira juga seorang Dokter, jadi tentu saja kulitnya
sangat terawatt.
“Ya sudah, kalau begitu Indira pamit ya Mah .. Pah ..” pamit
Indira, karena dia harus segera pergi ke restauranyt.
“Oh iya Nak, hati-hati di jalan,” jawab Laila dan Harlan,
mereka bernafas lega setelah Indira pergi. Setelah itu Lailla dan Harlan pun
beralih menatap Amanda, mereka harus bisa membuat Amanda percaya bahwa Indira
bukanlah istri dan menantu yang baik, karena itu lah alasan yang diberikan oleh
Lailla dan Nando supaya Amanda mau menjadi istri kedua Nando.
Salah satu alasan Lailla mau menerima Amanda menjadi
menantunya, hanya karena Amanda bisa memberikan Nando keturunan. Secara logika
Lailla berpikir, mana ada wanita dari keluarga kaya, yang cantik, dan sukses
mau menjadi istri kedua, dan pilihan Lailla hanya satu, mencari wanita dari
keluarga biasa seperti Amanda.
“Jadi itu tadi mba Indira? istri pertama mas Nando, Mah?”
tanya Indira, dan Lailla menganggukan kepalanya.
“Iya Amanda, itu tadi adalah Indira,” jawab Lailla, dan Amanda
hanya menganggukan kepalanya.
“Kelihatannya mba Indira orang yang baik ya Mah, Pah …” ucap
Amanda membuat Lailla dan Harlan gelagapan.
“Kamu jangan tertipu dengan tipu muslihat Indira, Amanda …
Indira berlaku baik, setelah dia mengalami kecelakaan dan berakhir rahimnya
diangkat, jadi dia mulai mendekati kami supaya Nando tidak marah dan tidak
berakhir menceraikannya. Tapi … kamu tau kan Nak seperti apa perangai suami
kamu? Nando itu tipikal lelaki yang
tidak tegaan, apalagi karena kejadian kecelakaan itu, orangtua Indira serta
neneknya meninggal di tempat,” ujar Lailla, dia tidak menceritakan kalau Nando
juga terlibat dalam kecelekaan itu, bahkan Nando lah yang memegang kemudi.
“Iya Mah, itu juga yang membuat aku kasihan pada mas Nando,”
ujar Amanda sendu. “Ya sudah Mah, Pah kalau begitu Amanda pulang dulu,” pamit
Amanda.
“Iya Nak … terimakasih ya makanannya,” ucap Harlan, karena tadi Amanda datang membawakan
makanan untuk kedua mertuanya.
Dalam perjalanan, Indira kembali memikirkan pertemuannya
dengan Indira, bagi Amanda Indira adalah sosok wanita yang sempurna, sudah
terlihat jelas kalau Indira jauh lebih cantik dari Amanda, tapi hal itu malah
semakin membuat Indira percaya diri, karena dia berpikir kalau suaminya jauh
lebih mencintainya disbanding Indira.
‘Mas Nando lebih
memilih aku disbanding mba Indira yang jelas jauh lebih cantik, sedangkan aku jelas-jelas kalah jauh dari mba Indira,
dilihat dari cara berpakaiannya saja mba Indira jauh lebih fashionable,
sedangkan aku?’ batin Amanda.
‘Tapi, itu malah membuktikan kepadaku, kalau mas Nando
mencintai aku dan menerima aku apa adanya, dia tidak melihat dari segi fisik,
tapi dari segi hati. Mamah dan juga mas Nando bilang, mba Indira tidak bisa
menghargai mas Nando sebagai suaminya juga tidak pernah menganggap kedua
orangtua mas Nando ada, jadi bukan salah ku kan kalau mas Nando berpaling pada
ku?’ batin Amanda penuh percaya diri.
‘Aku harus menjadi istri yang jauh lebih baik lagi disbanding
mba Indira, aku harus menjadi istri dan menantu yang paling disayangi.’ Batin Amanda,
dia sudah bertekad akan lebih mengambil hati Nando lagi dan juga kedua mertuanya.
Indira sendiri yang saat ini dalam perjalanan menuju
restaurant kembali mengingat pertemuannya dengan Amanda, dia merasa ada yang
familiar, yaitu bau parfum Amanda.
‘Aku yakin, parfum itu adalah parfum yang sama dengan yang
aku temukan di kemeja mas Nando, aku nggak mungkin salah, tapi … mamah bilang,
Amanda adalah tetangga apartementnya? ‘ batin Indira bingung. Dia menggelengkan
kepalanya dengan perlahan, merasa konyol dengan apa dipikirkannya, ‘pasti itu
hanya kebetulan semata, mana mungkin Amanda itu selingkuhan mas Nando, apa lagi
simpanan,’ Indira tertawa sendiri karena merasa kkonyol dengan pemikirannya akhir-akhir ini yang
seolah dia malah mirip dengan detektife.
‘Tapi .. kenapa sikap papah dan mamah tadi cukup aneh ya?
mereka seolah terkejut dan salah tingkah karena kedatangan ku yang mendadak,
padahal waktu itu aku juga pernah datang kesana-tiba-tiba, tapi respone mereka
biasa saja. Apa karena …” Indira berpikir kembali menyangkut pautkan dengan
keberadaan Amanda disana, dan lagi-lagi Indira menepis pikirannya yang
menurutnya justru lucu.
‘Sebaiknya aku lebih fokus ke restaurant dulu, jangan
berpikir yang macam-macam, karena itu malah membuat aku gila, aku yakin mamah
dan papah hanya terkejut dengan kedatangan ku yang masih cukup pagi, jadi
membuat mereka seolah merasa salah bicara terus pada ku. Aku percaya kalau mas
Nando setia denganku dan nggak akan mengkhianati aku, karena apa yang sudah
kami lewati dulu cukup panjang untuk berada dihubungan yang sekarang,’ batin
Indira, dia begitu percaya dengan cinta dan juga suaminya. Sampai-sampai Indira
tidak mau berpikiran negative dentan suami dan juga kedua mertuanya, karena
satu, Indira ingin hidup tenang bersama suami dan juga kedua orangtua suaminya
yang mulai menerima kehadira Indira. Indira tidak mau gegabah, yang akhirnya
malah berakibat fatal.