
Indira pulang dengan pikiran yang berkecamuk, dia tidak
menyangka ternyata buntut dari permasalahannya kemarin akan berdampak besar
pada masa depannya dan karirnya yang sudah menjadi cita-cita Indira sejak dulu.
Bella dan Desi yang tengah duduk santai di ruang keluarga, dibuat bingung
dengan Indira yang sudah pulang ke rumah dengan membawa beberapa
barang-barangnya.
“Sayang? kok kamu pulang?” tanya Bella dengan raut wajah
cemas, karena melihat raut wajah Indira yang nampak sendu.
“Kamu nggak apa-apa kan Indira?” tanya Desi ikut menimpali
Indira jatuh lunglai, dia terduduk di lantai, “aku hancur,
karir aku, cita-cita dan masa depan aku hancur, semuanya berakhir disini,”
jawab Indira seraya terisak. Membuat Bella dan Desi semakin tidak paham.
“Apa yang terjadi sebenarnya Indira? jelaskan ke Mamah,”
ujar Bella.
“Aku dipecat Mah!” seru Indira yang membuat Bella dan Desi
terkejut mendengar kabar itu.
“Kenapa kamu dipecat? Apa ada masalah?” kali ini Desi yang
bertanya.
“Tama,” ketika menyebut nama Tama, sangat terlihat kalau
Indira begitu membencinya, “ini semua karena Tama, dia memberitahukan kepada
kepala rumah sakit, bahwa aku adalah seorang mantan narapidana Mah, Nek,” isak
Indira semakin menyayat hati.
“Apa?” baik Bella maupun Desi sama-sama terkejut, melihat
Indira yang nampak tengah jatuh, Bella pun memeluk putrinya memberikan
kekuatan.
“Sabar sayang … Mamah akan coba bicara pada tante Anisa agar
mau membujuk suaminya dan bersedia menerima kamu lagi di rumah sakit,” ujar
Bella.
“Bella,” sentak Desi, “tidak seharus nya kamu berkata
demikian, ini adalah kebijakan rumah sakit, sekarang logika saja, rumah sakit
mana yang mau memperkerjakan seorang mantan napi, seharusnya kita bisa terima
ini dan cari jalan keluar lain. Mungkin memang bukan rezeki Indira,” ujar Desi
mencoba menasehati, dia tidak mau kalau Indira terus bergantung pada Bella dan
“Bu, harusnya Ibu tahu kalau menjadi Dokter adalah mimpi
Indira, dan Impian Indira sekarang ini adalah memiliki klinik sendiri. Kalau seperti
ini, maka semua nya akan berhenti disini Bu, dan aku nggak mau melihat Indira
sedih, sebagai seorang Ibu aku mau memberikan yang terbaik untuk Indira,” jelas
Bella mencoba memberikan pengertian pada Desi, dia seolah tidak mau mendengar
saran dari ibu mertuanya itu.
“Ibu tahu kamu sangat menyayangi Indira, tapi bukan begini
caranya Bella, bagaimanapun Indira harus belajar menerima konsekuensi atas
perbuatannya, supaya kelak dia bisa belajar dari kesalahan. Dengar ya Bella,
kalau sampai kamu menemui Anisa, maka kamu bukan lagi menantu Ibu, Ibu sudah
lelah mendengar permasalahan yang terus saja hadir dalam rumah ini karena
kalin,tolong beri jeda supaya rumah ini kembali seperti semuala.” Desi naik
darah, dia memilih pergi dari pada terus meladeni Bella dan Indira.
‘Tama, aku akan menunjukkan bagaimana rasanya menjadi
orangtua yang melihat anaknya disakiti,’ batin Bella.
^^^
Kanaya tengah menunggu Raka, karena hari ini Raka yang akan
menjemput Kanaya, namun saat Kanaya tengah bermain ponsel tiba-tiba ada yang
berdiri didepannya.
“Ada apa?” tanya Kanaya ketus, dia bahkan terlihat sungkan.
“Apa kamu begitu dendam dengan Indira? sampai kamu begitu
terhadapnya?” tanya Nando, iya Nando datang menemui Kanaya.
Alis Kanaya berkerut bingung, “apa maksud kamu?” Kanaya
mencoba mengingat, dan ingatannya
tertuju pada perkataan Bella yang mengatakan kalau Indira dipenjera, “apa karena
Indira di penjara? Bukannya dia sudah bebas?” Kanaya bersikap acuh dan nada
bicara yang tidak biasa.
“Memang, tapi hari ini kamu sudah berhasil menghancurkan
mimpi, cita-cita dan masa depan Indira!” seru Nando penuh amarah, hal itu
membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian karena Nando berbicara cukup
keras.