
Sore hari Kanaya sudah membuat janji dengan teman-temannya, Yap temannya yang lain, Indira, Alden, dan Bara, Kanaya juga membawa serta Nando untuk diperkenalkan kepada temannya yang lain.
Teman-teman Kanaya yang lain juga membawa pasangan masing-masing, Alden ternyata menjalin hubungan dengan sekretaris Tama, yaitu Anggela, sedangkan Bara yang memiliki kantor Firma hukum menjalin hubungan dengan sekretaris nya, yaitu Anita Lestari.
Kanaya dan teman-temannya sudah berkumpul, mereka bahkan sudah berkenalan dengan Nando, untuk pacar Alden dan Bara, tentu Kanaya sudah mengenal mereka, karena Anita dan Anggela adalah putri dari sahabat mamahnya, yaitu Keysha.
Lalu bagaimana dengan Indira? Apa author lupa kalau masih ada Indira? tidak, Indira memang masih betah menjomblo, dia baru beberapa bulan lalu putus dari kekasihnya karena berbeda prinsip. Prinsip apa? mantan kekasih Indira, seorang pengusaha kuliner yang bertempat di Palembang, dan setelah menikah mantan kekasih Indira ingin Indira ikut dengannya dan menjalani bisnis bersama, namun Indira menolak, Indira mau ikut dengan suaminya kelak, namun Indira juga masih ingin berdedikasi untuk masyarakat, sebagai dokter kandungan, bahkan Indira sudah punya cita-cita membangun klinik bersalin untuk orang-orang yang kurang mampu, namun hal itu sudah tidak disetujui oleh mantan kekasih Indira, dan Indira memutuskan mengakhiri hubungan nya.
"Oh iya, loe udah ketemu sama Tama?" tanya Alden, sontak Indira langsung menginjak kaki Alden.
"Dasar ya, mulut nih cowok," batin Indira kesal.
"Udah, gue juga udah ketemu anaknya, cantik banget, tapi gue nggak ketemu Vanes," ujar Kanaya.
Sontak, semua teman-teman Kanaya saling melirik satu sama lain.
"Emang Vanes kemana sih?" tanya Kanaya.
"Tama siapa?" belum teman-temannya menjawab, namun nampaknya Nando penasaran dengan lelaki bernama Tama.
"Oh Tama itu teman kita juga, tapi dia udah menikah ... iya kan?" tanya Keysha meminta penjelasan dari teman-teman nya.
"Iya ..." jawab Indira.
"Eh ngomong-ngomong makanan nya enak banget, kalian disana nggak kangen makanan Indonesia?" tanya Bara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kangen dong, tapi gue lebih sering masak sendiri disana," jawab Kanaya.
"Masakan Kanaya emang enak Nan?" tanya Alden.
"Enak kok," jawab Nando.
"Loe berharap Nando jawab ngga enak ya?" tanya Kanaya, sedangkan Nando hanya tertawa. Sore itu mereka bertemu melepas rindu bersama.
Keesokan harinya Kanaya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, dia tersenyum cerah, karena hari ini sudah mulai beraktivitas seperti biasa.
"Semangat Kanaya," ucap Kanaya menyemangati dirinya sendiri.
Setelah sarapan dan berpamitan, Kanaya pun keluar rumah dan hendak masuk ke dalam mobil, namun Kanaya melihat Felly yang tengah bermain sepeda di depan rumah nya.
"Itu kan Felly sama Tante Anisa," ucap Kanaya, dia pun mendekati Anisa dan Felly sekedar menyapa.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Eh Kanaya, mau kemana?," tanya Anisa.
"Kebetulan hari ini Kanaya sudah mulai beraktivitas di rumah sakit Tante," jawab Kanaya.
"Rumah sakit? kaya aunty Natasha?" tanya Felly, karena memang Natasha juga bekerja di rumah sakit, tapi sebagai dokter anak.
"Iya sayang," jawab Kanaya seraya mengelus pipi Felly.
"Boleh aku panggil dokter cantik?" tanya Felly.
"Boleh dong sayang," ucap Kanaya.
"Ya sudah Tante, Kanaya pamit ya," ucap Kanaya.
"Iya sayang hati-hati."
"Bye Felly..." Kanaya pun melambaikan tangannya ke arah Felly, dan di balas oleh Felly lengkap dengan senyum gemasnya.
Kanaya masuk kedalam mobil sambil masih terus berpikir keras.
"Lagi-lagi Felly nggak sama Vanes, dia lebih sering sama Tama ataupun keluarga Tama, sebenarnya Vanes kemana? apa dia masih melanjutkan modelling nya?" batin Kanaya bertanya-tanya.
Kanaya pun akhirnya sampai di rumah sakit tempat barunya bekerja, dia langsung menanyakan dimana tempat kepala rumah sakit.
Kanaya pun di sambut baik oleh kepala rumah sakit tersebut, dia bahkan diperkenalkan dan langsung mendapat kan apresiasi menjadi dokter bedah senior, karena Kanaya sudah di rekomendasikan oleh rumah sakit terbaik di Amerika secara langsung, Kanaya pun berkenalan dengan beberapa staf rumah sakit lain serta dokter ,dan para perawat, Kanaya juga baru tahu, kalau ternyata Natasha bekerja di rumah sakit yang sama dengan Kanaya.
Selesai berkenalan, Kanaya langsung menghampiri Natasha.
"Kenapa kak?" tanya Natasha seraya tersenyum, "ini kan juga rumah sakit papah," ujar Natasha.
"Benarkah?" tanya Kanaya.
"Iya Kak, dan kepala rumah sakit tadi, adalah orang kepercayaan papah, papah udah jarang datang ke rumah sakit, dia lebih sering di rumah sama Felly" ujar Natasha.
"Pasti dokter Oki sangat bahagia mendapatkan cucu secantik Felly, wajah' nya sangat mirip dengan Vanes ya?" ujar Kanaya. Natasha pun hanya merespon dengan senyum.
"Makan siang nanti, mau makan siang bareng nggak kak?" tanya Natasha.
"Boleh, sekalian aku mau traktir kamu," ujar Kanaya.
"Benar ya, aku tunggu loh," ujar Natasha.
"Iya... ya udah aku masuk dulu ya," mereka pun berpisah, karena Kanaya sudah sampai di ruangannya.
Kanaya merapikan ruangannya, setelah selesai dia duduk di kursi sambil menyenderkan tubuhnya, belum ada pasien hari ini, jadi Kanaya masih bersantai sambil memeriksa beberapa data.
Tiba-tiba Kanaya merasa ada yang janggal, dia mengecek ponselnya dan mengetik nama Tamasha Pratama di pencarian. Kanaya berpikir, karena Tama seorang pengusaha muda yang cukup terkenal, pasti ada beberapa artikel tentang nya.
Dan benar saja, ketika Kanaya mengetik nama Tamasha Pratama, artikel tentang Tama bermunculan, Kanaya mulai menggulirkan layar ponselnya, namun tiba-tiba dia membaca sebuah artikel yang berjudul "pengusaha muda Tamasha Pratama memiliki anak di luar nikah".
"Apa-apaan nih, Tama kan nikah sama Vanes," ucap Kanaya.
Kemudian dia mengetik kan kembali di kolom pencarian "pernikahan Tamasha Pratama" beberapa saat kemudian, tak ada artikel yang muncul tentang pernikahan Tama, yang ada malah artikel yang membahas tentang Tama yang memiliki anak di luar Nikah, dan belum di ketahui identitas nya.
"Kok jadi gini sih, Tama emang nggak ngadain resepsi? atau paling nggak ngumumin kek didepan awak media," Kanaya berpikir seraya mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja.
"Kayaknya ada yang nggak beres," batin Kanaya. "Aku harus menanyakan ke Natasha," ucap Kanaya.
Sedangkan Nando, hari ini, dia juga pertama kali mulai beraktivitas di rumah sakit, dan ternyata Indira juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Nando.
"Nggak nyangka ya Ra, kita di rumah sakit yang sama," ucap Nando.
"Iya," jawab Indira seraya tersenyum.
"Nanti makan siang bareng ya? aku belum terlalu tahu daerah sini," ujar Nando.
"Tenang, nanti kita makan siang sama teman-teman yang lain," ujar Indira.
"Oke," jawab Nando.
Jam makan siang sudah tiba, Indira mengajak Nando makan siang di restoran terdekat, mereka tidak hanya berdua, Indira juga mengajak beberapa teman sejawat nya, ada perempuan dan laki-laki.
"Kalian kok cepet akrab sih," tanya salah satu teman Indira.
"Nando ini pacar sahabat aku, dan secara nggak sengaja kita kerja di rumah sakit yang sama," jawab Indira.
"Oh begitu ... selamat datang ya Nando, semoga kamu betah di sini," ucapnya salah satu dokter laki-laki.
"Iya makasih," jawab Nando.
Kanaya juga kini tengah makan siang bersama Indira, mereka hanya makan siang berdua, karena Kanaya mengajak Natasha makan siang di restoran terdekat, sedangkan yang lain makan di kantin.
"Emm Sha, boleh kakak tanya sesuatu?" ucap Kanaya.
"Boleh kak, tanya aja" jawab Natasha seraya menyuapkan makanan.
"Aku lihat-lihat artikel tadi tentang Tama, dan aku menemukan artikel ini," Kanaya memperlihatkan secree shoot sebuah artikel yang mengatakan bahwa Tama memiliki anak di luar nikah.
Natasha menekan makanannya dengan susah payah, dia pun minum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Kanaya. Ada kebimbangan yang terlihat jelas di wajah Natasha.
"Maaf kalau aku ikut campur Sha, tapi di artikel aku tidak menemukan jejak pernikahan Tama dan Vanes," ujar Kanaya.
"Kakak benar-benar ingin tahu?" tanya Natasha.
"Iya," jawab Kanaya yakin.
"Kak Tama nggak pernah menikah dengan kak Vanes," jawab Natasha.