
Selesai mengantarkan Kanaya pulang, Nando pun pulang ke apartemen nya, dia langsung menghubungi Indira untuk mengucapkan terimakasih, karena berkat saran dari Indira, permintaan maafnya berjalan lancar.
"Halo Nan kenapa?" tanya Indira yang baru saja selesai mandi.
"Gue mau ngucapin makasih, berkat saran loe, gue sama Kanaya udah baikan," ujar Nando seraya tersenyum.
"Sama-sama, lagian gue cuma ngomong masalah kesukaannya Kanaya doang kok," ujar Indira, dia ikut senang mendengar kabar baik dari Nando.
"Oh iya Ra, Kanaya juga kaya nggak enak sama loe, karena udah berpikir negatif," ujar Nando, namun tak ada respon dari Indira.
"Hallo Ra? loe denger gue kan?" tanya Nando, namun tetap tak ada jawaban, dia pun menatap layar ponselnya.
"Pantes, udah mati telepon nya," ucap Nando.
Indira menatap kesal layar ponselnya yang tiba-tiba mati, karena baterai habis, dia mencari charger ponselnya namun tak menemukan, hanya ada powerbank.
"Pakai ini dulu aja deh," ucap Indira.
"Tapi, charger gue dimana ya?" batin Indira bertanya, setelah mencoba mengingat, Indira tahu dimana charger nya berada.
"Ah iya, kemarin dipinjam mamah, karena charger mamah ketinggalan di butik," Indira pun mengganti pakaiannya dan bergegas mencari Bella.
Indira melangkah menuju kamar Bella dan Aditya, namun tak menemukan keberadaan Bella.
"Mah," Indira masuk kedalam kamar dan kosong, mencoba mengetuk pintu kamar mandi juga kosong.
"Mamah naro charger ku dimana ya?" Indira membutuhkan charger nya, karena power bank Indira juga hampir kehabisan baterai, Indira mencoba mencari di atas nakas, namun tidak ada, kemudian dia membuka laci yang tidak terkunci.
"Ini dia," Indira tersenyum, kala menemukan charger miliknya, namun dia melihat foto yang tersimpan dalam laci.
"Mamah, papah, terus perempuan ini siapa?" ucap Indira, dia membalik foto dan ada tulisan disana.
"Aditya, Bella, Rania, dan ... Indira?" Indira merasa bingung, kenapa namanya tertulis dalam foto tersebut, sedangkan dia tidak ada dalam foto. Yang ada hanya Aditya, Bella, dan Rania yang tengah hamil tua.
"Kenapa namaku tertulis?" batin Indira bertanya, ketika Indira melihat kedalam laci lagi, dia melihat sebuah diary.
"Rania? apa mungkin milik Rania yang ada di foto ini?" ucap Indira seraya menatap foto dan buku diary tersebut. Indira keluar dari kamar Bella, seraya membawa foto dan juga diary yang Indira temukan, dia merasa ada keanehan, terlebih lagi ada nama Indira di keterangan foto tersebut.
Indira langsung mengunci pintu kamarnya setelah dia masuk, Indira begitu penasaran, siapa perempuan yang ada di foto tersebut, karena Indira sendiri tidak pernah melihatnya, apalagi, foto itu seperti sengaja disimpan, karena tidak di pigura sama sekali.
Indira membuka buku diary milik Rania, halaman pertama menceritakan tentang Rania yang lulus SMA, kemudian Indira membaca halaman demi halaman, hingga Indira diterima bekerja di restoran milik Aditya.
"Jadi dia ini pegawainya papah," ucap Indira, rasa curiganya semakin besar, kenapa Rania bisa begitu dekat dengan keluarganya, kalau dia hanya seorang karyawan biasa.
Indira kembali membaca buku diary tersebut, sampai dihalaman yang menceritakan tentang Ardie, lelaki yang Rania sukai. Disini perasaan Indira ikut senang, karena Ardie juga memiliki perasaan yang sama, Ardie mengungkapkan perasaannya kepada Rania, dan saat itu juga mereka resmi berpacaran.
Indira sampai membelalakkan matanya terkejut, "papah? jangan-jangan wanita ini hamil anak papah?" ucap Indira. Dia meyakinkan hatinya untuk membaca kembali buku diary tersebut, hingga akhirnya Indira tahu, Aditya, Bella dan Rania melakukan perjanjian, mereka berjanji akan bertanggung jawab kepada Rania dan baginya, sedangkan Rania memilih untuk tidak dimadu.
Di cerita tersebut, Indira juga tahu, bahwa Indira mengambil keputusan, untuk tidak menikah, namun Aditya dan Bella membawa Indira untuk tinggal bersama mereka, di buku diary tersebut, Rania juga menuliskan bahwa dia mempunyai penyakit kanker otak, Rania sudah memutuskan akan memberikan anaknya kepada Aditya dan Bella. Dibuku diary tersebut, Rania juga menuliskan, kalau Bella akan menjadi ibu yang yang baik kepada anaknya, dan Rania juga berharap, mungkin ini jalan yang Allah kirimkan, supaya Bella bisa memiliki keturunan, pasca pengangkatan rahim.
Sontak, hati Indira mulai berdetak kencang, "pengangkatan rahim?" batin Indira.
"Kalau mamah pernah pengangkatan rahim? jadi aku anak siapa? di buku diary ini, terdapat tanggalnya, dan ini sebelum aku lahir, jadi apa maksudnya?" ucap Indira risau. Dia kembali membaca buku diary tersebut, dalam buku diary tertulis harapan-harapan Indira untuk anaknya.
...Hai anak ibu, ibu berharap kamu nggak akan pernah baca buku diary ini, biarlah ibu yang tahu sebesar apa sayang ibu ke kamu, prediksinya anak ibu ini perempuan ya? Ibu yakin, kamu akan menjadi anak yang cantik. Nak, apapun yang terjadi, jiks suatu hari kamu tahu ibu sudah tidak ada, ibu harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas, percayalah mamah Bella sangat menyayangi kamu, dia mencintai kamu selayaknya anak kandung nya sendiri....
...Ibu punya nama buat kamu nak, namanya Indira, nama yang cantik kan? Ibu harap, kamu akan selalu tumbuh menjadi gadis yang baik, serta perduli pada sesama, ingat nak, apapun yang terjadi jangan pernah menyalahkan keadaan, ibu memang sudah tidak bisa menemani kamu disisi kamu, tapi ingatlah, ibu selalu menjaga kamu di atas....
...Raga ibu mungkin sudah tidak bisa mendekap kamu, memberikan kamu kenyamanan, namun percayalah, cinta dan kasih sayang ibu akan selalu hidup dalam hati kamu....
Salam hangat
Rania
Seketika Indira melemas, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya, Indira terduduk seraya terisak.
"Jadi ... aku bukan anak mamah Bella," ucap Indira seraya menangis tersedu-sedu.
"Arrrggghhh" Rania berteriak dengan kencang dalam kamar, Bella, Desi, dan Harun yang baru saja pulang dari acara pernikahan kerabat mereka, terkejut mendengar suara teriakan yang berasal dari kamar Rania.
"Rania kamu kenapa sayang?" tanya Bella dengan khawatir, dia mencoba membuka pintu tapi tidak bisa.
"Rania, buka pintunya," ucap Harun, namun tak ada jawaban, yang mereka dengar adalah Isak tangis dari Rania.
"Pak, Bu Rania kenapa?" ucap Bella dengan khawatir.
Tiba-tiba Rania keluar dari kamarnya dengan berderai air mata, "aku anak siapa?" tanya Rania serius.
"Kamu itu ngomong apa? kamu anak mamah dan papah," ucap Bella bingung.
"Bohong!" seru Rania.
"Aku anak dia kan?" Rania menunjukkan foto yang dia temukan dari laci kamar Bella dan Aditya.
"Rania dari mana kamu mendapatkan nya?" tanya Desi panik.
"Nggak penting Nek dari mana aku mendapatkan nya, yang penting sekarang aku tahu, siapa aku sebenarnya," ucap Rania. Dia pun melangkah pergi dengan membawa kunci mobil dan ponselnya, sedangkan foto dan diary Rania dia tinggalkan.