Keysha

Keysha
Season 2 (Kesempatan dalam kesempitan)



Jam praktek Kanaya sudah selesai, dia pun sudah bersiap


untuk pulang, dan kini Kanaya tengah melangkah keluar dari gedung rumah sakit.


Namun, mata Kanaya menyipit, kala dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Lelaki


itu mendekat kearah Kanaya.


“Kanaya?”


“Nando?” lirih Kanaya


“Aku sudah menunggu kamu dari tadi, ada hal yang ingin aku


bicarakan,”ucap Nando dengan mimic muka serius.


“Aku tidak punya waktu, dan sebaiknya sekarang kamu pergi,


karena aku tidak mau orang-orang salah paham terhadap kita,” setelah mengatakan


itu, Kanaya langsung melangkah menjauhi Nando. Bagaimana pun mereka berdua


pernah dekat dan saling mencintai, meskipun kini semuanya sudah berubah. Kanaya


tidak mau orang-orang menganggap Kanaya masih mengharapkan Nando dan bermaksud


merebut Nando dari tangan Indira yang kini sudah sah menjadi lelaki itu.


“Kanaya tunggu,” Nando mencekal tangan Kanaya.


“Apa lagi!?” Kanaya mengibaskan tangannya, membuat cekalan


tangan itu terlepas, “kamu nggak cape ganggu aku? hidup aku sekarang sudah


cukup tenang Nando, jadi berhenti muncul dihadapan aku dan jangan pernah


sangkut pautkan lagi masalah kalian dengan aku. Apa nggak cukup kalau aku yang


jadi korban? Dan sekarang mamah ku tengah terbaring karena baru keluar dari


rumah sakit, itu semua karena siapa? Karena ulah istri kamu!” seru Kanaya, dia


melampiaskan semua kekecewaannya kepada mantan kekasih yang kini sudah


berstatus menjadi suami sahabat nya sendiri.


Nando menunduk, dia merasa malu dan bersalah dengan apa yang


sudah terjadi, “Kanaya aku minta maaf … tapi aku..”


“Jangan ganggu Kanaya,” suara seseorang datang menghampiri


Kanaya dan Nando, membuat mereka berdua terkejut.


 “Tama?” lirih Kanaya,


entah kenapa ada perasaan lega ketika Tama datang.


“Gue nggak punya urusan sama loe,” ketus Nando.


“Loe emang nggak punya urusan Sam a loe punya urusan sama Kanaya


kan? Kanaya adalah calon istri gue, jadi urusan Kanaya adalah urusan gue,”


jawab Nando sembari mendekap pundak Kanaya seolah memerkan kemesraannya.


Hati Nando memanas, dia tidak terima melihat Tama merangkul


pundak wanita  yang pernah menjalin kasih


dengannya, rasanya ingin sekali Nando berteriak melarang mereka berdua


berdekatan. Namun, Nando sadar, pilihannya untuk menikahi Indira adalah


keputusannya sendiri.


“Sebaiknya loe nggak perlu lagi ganggu calon istri gue,


karena diantara kalian sudah selesai. Kalau loe emang masih punya muka,


harusnya loe bisa ngerti ucapan gue,” ujar Tama dengan sinis.


“Ayo sayang, kita pulang.” Ajak Tama masih dengan merangkul


pundak Kanaya, tentu saja Kanaya tidak menolak, karena masih ada Nando


dihadapan mereka, tapi … entah kenapa Kanaya merasakan hal lain, debaran itu


ternyata masih ada untuk Tama, debaran jantung ketika berdekatan dengan Tama


rupanya masih tersisa.


Kanaya menurut, dia masuk kedalam mobil milik Tama, namun


tanpa mereka ketahui, tangan Nando terkepal erat melihat bagaimana Tama yang


begitu perhatian kepada Kanaya.


Setelah Tama melajukan mobilnya, Kanaya langsung memukul


lengan Tama dengan cukup keras, sampai Tama mengadu kesakitan.


“Kok mukul sih?” tanya Tama dengan raut wajah bingung.


“Ngapain tadi pagi pegang bahu selaga?” tanya Kanaya dengan


raut wajah sok galak.


“Ya biar Nando tahu, kalau kamu punya aku,” jawab Tama,


nampaknya Tama tidak menyadari kalau dia sudah keceplosan.


“Hah maksudnya?” beruntung, Kanaya belum menyadari maksud


dari perkataan Tama.


“Ma… maksudnya … kamu sama aku mau nika, jadi aku harus


sempat keceplosan, tapi beruntung dia bisa memberikan jawaban yang meyakinkan


dan masuk akal.


“Oh gitu … eh tapi, aneh nggak sih, kenapa tiba-tiba Nando


nemuin aku, aku yakin ada yang nggak beres,” ujar Kanaya curiga.


‘Gawat, Kanaya nggak boleh tahu kalau Indira masuk pencajara


karena laporan om Marvel, atau semuanya akan kacau,’ batin Tama was-was.


“Perasaan kamu aja kali … tapi saran aku ya Kanaya, kalau


Nando coba nemuin kamu lagi, mending kamu langsung menghindar, soalnya takut


kalau orang-orang berpikir salah paham,” ucap Tama.


“Iya itu juga aku tahu,” jawab Kanaya ketus.


“Eeem Nay, boleh nggak aku nitipin Fellycia?” tanya Tama


tidak enak.


“Boleh dong, emang kenapa?” Kanaya begitu bersemangat


mendengar nama gadis kecil cantik itu.


“Mamah dan Papah mau ke Solo ke rumah saudara, ada urusan


sekalian memberitahukan rencana pernikahan kita, terus Natasha dia lagi ada di


luar kota, sedangkan aku sedang sering lembur,” jawab Tama.


“Nggak apa-apa, justru aku seneng bisa main sama Fellycia,


nanti pulang langsung aku bawa ke rumah ya?”


“Makasih ya … kamu emang calon ibu yang baik,” goda Tama.


“Iya baiknya kan Cuma ke Felly, ke kamu OGAH,” Kanaya


mengakhri perkataannya dengan penuh penekanan.


Namun, jauh dalam lubuk hati Tama yang paling dalam, dia


besyukur karena Felly memiliki calon ibu sambung yang begitu menyayanginya,


Tama berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi mereka berdua. Dan


Tama juga berharap, semoga Kanaya bisa mencintainya seperti Tama mencintai


Kanaya.


Sesampainya di rumah, Kanaya Mampir terlebih dahulu di


kediaman Tama, karena dia akan menjemput peri kecilnya. Saat baru turun dari


mobil, Kanaya sudah mendapatkan sambutan berupa pelukan hangat dari Felly.


“Mamah …” dengan manja Felly memeluk Kanaya.


“Waah anak Mamah, mamah kangen banget sama Felly,” ucap


Kanaya, dia juga mencubit pelan hidung gadis manis itu.


“Felly juga kangen sama Mamah,” jawab Felly dengan suara


lucunya.


“Lohh nggak kangen sama Papah?” tanya Tama denga raut wajah


sok cemburu.


“Felly juga kangen,” jawab Felly tidak lupa dia juga


memarkan senyum gemasnya.


Melihat keakraban dan kebersamaan Kanaya, Tama dan Felly


membuat Anisa dan Oki merasa lega sekaligus terharu. Akhirnya Tama akan menikah


dan mempunyai pendamping hidup, serta untuk Felly juga akan merasakan rasanya


kasih sayang seorang ibu dari Kanaya. Mereka sangat berharap kalau pernikahan


Tama dan Kanaya akan berjalan lancar dan kehidupan rumah tangga mereka nantinya


akan selalu diberikahi kebahagiaan.


Felly mengajak Kanaya untuk masuk kedalam kamarnya, karena


membereskan beberapa barang-barang seperti baju sekolah dan perlengkapan


sekolah, karena beberapa hari kedepan Felly akan menginap di rumah Kanaya.


Kanaya berharap dengan kehadiran Felly dirumahnya, akan


membuat Keysha cepat sembuh, karena Kanaya tahu betapa Keysha sangat menyayangi


Felly. Namun mengingat kondisi ibunya, Kanaya kembali teringat tentang Marvel.


Kanaya yakin, tidak mungkin Marvel akan diam saja melihat Keysha sampai pingsan


dan dilarikan ke rumah sakit, karena ulah Indira dan juga Bella.


‘Jangan-jangan kedatangan Nando menemui ku tadi untuk mengatakan


sesuatu tentang Indira,’ batin Kanaya was-was, dia menyesal karena tidak


memberikan Nando kesempatan untuk berbicara dan menjeleskan tadi.


‘Kalau tanya Papah pasti nggak akan jawab,’ batin Kanaya


lagi.