
Jam praktek Kanaya sudah selesai, dia pun sudah bersiap
untuk pulang, dan kini Kanaya tengah melangkah keluar dari gedung rumah sakit.
Namun, mata Kanaya menyipit, kala dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Lelaki
itu mendekat kearah Kanaya.
“Kanaya?”
“Nando?” lirih Kanaya
“Aku sudah menunggu kamu dari tadi, ada hal yang ingin aku
bicarakan,”ucap Nando dengan mimic muka serius.
“Aku tidak punya waktu, dan sebaiknya sekarang kamu pergi,
karena aku tidak mau orang-orang salah paham terhadap kita,” setelah mengatakan
itu, Kanaya langsung melangkah menjauhi Nando. Bagaimana pun mereka berdua
pernah dekat dan saling mencintai, meskipun kini semuanya sudah berubah. Kanaya
tidak mau orang-orang menganggap Kanaya masih mengharapkan Nando dan bermaksud
merebut Nando dari tangan Indira yang kini sudah sah menjadi lelaki itu.
“Kanaya tunggu,” Nando mencekal tangan Kanaya.
“Apa lagi!?” Kanaya mengibaskan tangannya, membuat cekalan
tangan itu terlepas, “kamu nggak cape ganggu aku? hidup aku sekarang sudah
cukup tenang Nando, jadi berhenti muncul dihadapan aku dan jangan pernah
sangkut pautkan lagi masalah kalian dengan aku. Apa nggak cukup kalau aku yang
jadi korban? Dan sekarang mamah ku tengah terbaring karena baru keluar dari
rumah sakit, itu semua karena siapa? Karena ulah istri kamu!” seru Kanaya, dia
melampiaskan semua kekecewaannya kepada mantan kekasih yang kini sudah
berstatus menjadi suami sahabat nya sendiri.
Nando menunduk, dia merasa malu dan bersalah dengan apa yang
sudah terjadi, “Kanaya aku minta maaf … tapi aku..”
“Jangan ganggu Kanaya,” suara seseorang datang menghampiri
Kanaya dan Nando, membuat mereka berdua terkejut.
“Tama?” lirih Kanaya,
entah kenapa ada perasaan lega ketika Tama datang.
“Gue nggak punya urusan sama loe,” ketus Nando.
“Loe emang nggak punya urusan Sam a loe punya urusan sama Kanaya
kan? Kanaya adalah calon istri gue, jadi urusan Kanaya adalah urusan gue,”
jawab Nando sembari mendekap pundak Kanaya seolah memerkan kemesraannya.
Hati Nando memanas, dia tidak terima melihat Tama merangkul
pundak wanita yang pernah menjalin kasih
dengannya, rasanya ingin sekali Nando berteriak melarang mereka berdua
berdekatan. Namun, Nando sadar, pilihannya untuk menikahi Indira adalah
keputusannya sendiri.
“Sebaiknya loe nggak perlu lagi ganggu calon istri gue,
karena diantara kalian sudah selesai. Kalau loe emang masih punya muka,
harusnya loe bisa ngerti ucapan gue,” ujar Tama dengan sinis.
“Ayo sayang, kita pulang.” Ajak Tama masih dengan merangkul
pundak Kanaya, tentu saja Kanaya tidak menolak, karena masih ada Nando
dihadapan mereka, tapi … entah kenapa Kanaya merasakan hal lain, debaran itu
ternyata masih ada untuk Tama, debaran jantung ketika berdekatan dengan Tama
rupanya masih tersisa.
Kanaya menurut, dia masuk kedalam mobil milik Tama, namun
tanpa mereka ketahui, tangan Nando terkepal erat melihat bagaimana Tama yang
begitu perhatian kepada Kanaya.
Setelah Tama melajukan mobilnya, Kanaya langsung memukul
lengan Tama dengan cukup keras, sampai Tama mengadu kesakitan.
“Kok mukul sih?” tanya Tama dengan raut wajah bingung.
“Ngapain tadi pagi pegang bahu selaga?” tanya Kanaya dengan
raut wajah sok galak.
“Ya biar Nando tahu, kalau kamu punya aku,” jawab Tama,
nampaknya Tama tidak menyadari kalau dia sudah keceplosan.
“Hah maksudnya?” beruntung, Kanaya belum menyadari maksud
dari perkataan Tama.
“Ma… maksudnya … kamu sama aku mau nika, jadi aku harus
sempat keceplosan, tapi beruntung dia bisa memberikan jawaban yang meyakinkan
dan masuk akal.
“Oh gitu … eh tapi, aneh nggak sih, kenapa tiba-tiba Nando
nemuin aku, aku yakin ada yang nggak beres,” ujar Kanaya curiga.
‘Gawat, Kanaya nggak boleh tahu kalau Indira masuk pencajara
karena laporan om Marvel, atau semuanya akan kacau,’ batin Tama was-was.
“Perasaan kamu aja kali … tapi saran aku ya Kanaya, kalau
Nando coba nemuin kamu lagi, mending kamu langsung menghindar, soalnya takut
kalau orang-orang berpikir salah paham,” ucap Tama.
“Iya itu juga aku tahu,” jawab Kanaya ketus.
“Eeem Nay, boleh nggak aku nitipin Fellycia?” tanya Tama
tidak enak.
“Boleh dong, emang kenapa?” Kanaya begitu bersemangat
mendengar nama gadis kecil cantik itu.
“Mamah dan Papah mau ke Solo ke rumah saudara, ada urusan
sekalian memberitahukan rencana pernikahan kita, terus Natasha dia lagi ada di
luar kota, sedangkan aku sedang sering lembur,” jawab Tama.
“Nggak apa-apa, justru aku seneng bisa main sama Fellycia,
nanti pulang langsung aku bawa ke rumah ya?”
“Makasih ya … kamu emang calon ibu yang baik,” goda Tama.
“Iya baiknya kan Cuma ke Felly, ke kamu OGAH,” Kanaya
mengakhri perkataannya dengan penuh penekanan.
Namun, jauh dalam lubuk hati Tama yang paling dalam, dia
besyukur karena Felly memiliki calon ibu sambung yang begitu menyayanginya,
Tama berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi mereka berdua. Dan
Tama juga berharap, semoga Kanaya bisa mencintainya seperti Tama mencintai
Kanaya.
Sesampainya di rumah, Kanaya Mampir terlebih dahulu di
kediaman Tama, karena dia akan menjemput peri kecilnya. Saat baru turun dari
mobil, Kanaya sudah mendapatkan sambutan berupa pelukan hangat dari Felly.
“Mamah …” dengan manja Felly memeluk Kanaya.
“Waah anak Mamah, mamah kangen banget sama Felly,” ucap
Kanaya, dia juga mencubit pelan hidung gadis manis itu.
“Felly juga kangen sama Mamah,” jawab Felly dengan suara
lucunya.
“Lohh nggak kangen sama Papah?” tanya Tama denga raut wajah
sok cemburu.
“Felly juga kangen,” jawab Felly tidak lupa dia juga
memarkan senyum gemasnya.
Melihat keakraban dan kebersamaan Kanaya, Tama dan Felly
membuat Anisa dan Oki merasa lega sekaligus terharu. Akhirnya Tama akan menikah
dan mempunyai pendamping hidup, serta untuk Felly juga akan merasakan rasanya
kasih sayang seorang ibu dari Kanaya. Mereka sangat berharap kalau pernikahan
Tama dan Kanaya akan berjalan lancar dan kehidupan rumah tangga mereka nantinya
akan selalu diberikahi kebahagiaan.
Felly mengajak Kanaya untuk masuk kedalam kamarnya, karena
membereskan beberapa barang-barang seperti baju sekolah dan perlengkapan
sekolah, karena beberapa hari kedepan Felly akan menginap di rumah Kanaya.
Kanaya berharap dengan kehadiran Felly dirumahnya, akan
membuat Keysha cepat sembuh, karena Kanaya tahu betapa Keysha sangat menyayangi
Felly. Namun mengingat kondisi ibunya, Kanaya kembali teringat tentang Marvel.
Kanaya yakin, tidak mungkin Marvel akan diam saja melihat Keysha sampai pingsan
dan dilarikan ke rumah sakit, karena ulah Indira dan juga Bella.
‘Jangan-jangan kedatangan Nando menemui ku tadi untuk mengatakan
sesuatu tentang Indira,’ batin Kanaya was-was, dia menyesal karena tidak
memberikan Nando kesempatan untuk berbicara dan menjeleskan tadi.
‘Kalau tanya Papah pasti nggak akan jawab,’ batin Kanaya
lagi.