
Selama perjalanan pulang, Indira dan Nando hanya diam, Nando
mencoba mengajak Indira bicara, namun nampaknya Indira enggan untuk mengobrol
dengan suaminya, hal itu membuat Nando cemas, Nando berpikir mungkinkah Indira mendengar
pembicarannya dengan Lailla?
“Sayang, apa kamu mendengar obrolan ku dengan mamah?” tanya
Nando hati-hati.
“Iya, semuanya aku dengar, bahkan saat mamah membandingkan
aku dengan Kanaya, dan meminta kamu untuk berpisah dengan ku, aku juga dengar,”
jawab Indira dengan nada suara bergetar.
Nando pun menepikan mobilnya, karena akan sangat bahaya jika
dia tetap menyetir.
“Indira dengarkan aku, apapun yang mamah dan papah ku katakana
tentang kita berdua, jika mereka meminta ku untuk meninggalkan kamu, maka semua
itu tidak akan pernah terjadi, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri
bahwa aku hanya akan menikah sekali seumur hidup,” ujar Nando dengan
bersungguh-sungguh.
“Tapi mereka tidak menginginkan aku Nando,” seru Indira, air
mata sudah membasahi pipi Indira.
“Tapi aku menginginkan kamu sayang,” ucap Nando, dia segera
memeluk Indira dengan erat.
“Aku mohon, bertahanlah dengan ku, dan kita lewati semua ini
sama-sama, kita buktikan kepada dunia bahwa kita tidak mudah untuk dipisahkan,”
Nando berucap seraya mengelus rambut surai milik Indira, Indira hanya mengangguk
disela isakannya sebagai respon.
Disisi lain, Kanaya yang tengah bersantai dirumahnya
menikmati waktu libur, Kanaya mengisi waktu libur dengan mendengarkan music di
gazebo rumah.
“Kanaya…” suara lembut Keysha menyapa pendengaran Kanaya.
“Iya Mah,” Kanaya melepas earphonenya, sebagai tanda
kesopanannya terhadap Keysha, Kanaya yakin ada yang ingin Keysha katakana.
“Mamah ganggu waktu santai kamu nggak?” tanya Keysha.
“Enggak dong Mah, ayo sini Mah duduk.” Ajak Kanaya, Keysha pun
duduk bersebrangan dengan Kanaya.
“Maaf ya sayang, bukannya Mamah ingin ikut campur, hanya
saja Mamah ingin memastikan keputusan kamu menerima Tama, sejujurnya Mamah
merasa keputusan kamu terlalu cepat untuk menerima Tama, karena seperti yang
Mamah tahu kamu tengah patah hati oleh kekasih dan sahabat kamu, dan Mamah
yakin itu tidak mudah. Mamah hanya takut, kamu menjadikan Tama pelampiasan kamu
Nak,” ujar Keysha mengeluarkan apa yang bersarang dalam benaknya.
Kanaya tersenyum kearah Keysha, seolah menunjukkan bahwa apa
yang Keysha takutkan tidak terjadi.
“Mah … makasih banget karena Mamah mau perduli dengan
perasaan ku, dan Mamah juga memikirkan aku, aku tahu Mamah ingin yang terbaik
untuk ku dan tidak mau aku salah dalam mengambil langkah. Tapi Mamah harus
percaya sama Kanaya, kalau apa yang sudah Kanaya putuskan, itu semua sudah
Kanaya pikirkan dengan matang.”
“Soal Indira dan Nando, Mamah tidak perlu khawatir, karena aku sudah benar-benar melupakan
Nando, aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya, yang tersisa sekarang hanya
kekecewaan atas apa yang sudah mereka lakukan pada ku, jadi Mamah nggak perlu
khawatir,” Kanaya menggenggam tangan Keysha, meyakinkan pada mamahnya bahwa
Kanaya mencintai Tama.
Cinta? Bukankah dulu Kanaya mencintai Tama? Lalu apa cinta
itu akan hadir kembali?
“Baiklah, Mamah lega mendengarnya,” Keysha tersenyum kearah
putrinya, “ya sudah Mamah tinggal dulu ya? kamu nikmati meetime kamu,” Keysha pun
memilih meninggalkan Kanaya di gazebo, karena kini Keysha memiliki pekerjaan
yang sangat penting, yaitu mendesign gaun pernikahan untuk putrinya serta jaz
untuk Tama.
Kanaya menatap bunga yang bermekaran di sekitaran gazebo,
dia kembali termenung dan mengingat obrolan adiknya , Yaitu Raka dan Nabila.
“Maaf ya Mah, maaf karena Kanaya berbohong, Kanaya menerima
lamaran Tama bukan karena Kanaya mencintainya, tapi ini semua Kanaya lakukan
demi hubungan Raka dan Nabila. Kanaya tidak mau menjadi penghalang dalam
hubungan mereka berdua, karena Kanaya tahu kalau Raka akan selalu mengutamakan
Kanaya,” batin Kanaya sendu.