
Suara burung berkicau, dan udara pagi yang masih sangat segar, Kanaya menghirup udara sedalam-dalamnya, masih pukul 05:30, rasanya waktu tepat untuk joging.
...(Style Kanaya)...
Kanaya memulai pemanasan terlebih dahulu sebelumnya,barulah Kanaya berlari kecil di sekitar komplek rumah nya.
Kanaya termasuk jarang bisa berada di rumah saat weekend seperti ini, biasanya dia berada di rumah sakit, atau tengah bersiap-siap menuju ke rumah sakit, namun Kanaya beruntung hari ini, hari libur nya tepat di hari weekend. Saat tengah asik joging sambil menikmati suasana komplek yang masih cukup sepi, ada tangan yang menepuk pundak Kanaya.
"Naya."
Kanaya sedikit terkejut melihat siapa yang menepuk pundak nya, rupanya Tama. Namun sedetik kemudian dia merubah raut wajah nya menjadi biasa.
"Apa?" jawab Kanaya singkat.
"Tumben joging," ucap Tama sembari mengiringi langkah kaki Kanaya.
...(Style Tama)...
"Biasanya juga joging, loe aja yang baru keliatan," jawab Kanaya.
"Bisa nggak sih dia duluan," batin Kanaya.
"Loe marah sama gue?" tanya Tama.
"Marah? kenapa mesti marah?" Kanaya menghentikan langkahnya, dan diikuti oleh Tama.
"Gue ngerasa loe sekarang beda," ujar Tama.
Kanaya tersenyum remeh, "gue beda? kayanya, pertanyaan itu lebih tepat buat loe," Kanaya melanjutkan kembali langkah nya. Tama pun masih mengikuti, namun di belakang Kanaya.
"Kanaya!" Kanaya menoleh, mencari sumber suara. Karena ada suara wanita yang memanggil nya.
"Tante Anisa?" Kanaya pun mendekati Anisa yang tengah menyiram tanamannya.
"Wah joging bareng sama Tama?" tanya Anisa menggoda.
"Cuman nggak sengaja ketemu kok Tan," jawab Kanaya sopan.
"Oh begitu, Tama lihat deh Kanaya," ucap Anisa kepada Tama yang masih berdiri memperhatikan Anisa dan Kanaya mengobrol.
"Meskipun Kanaya joging, tapi pakaian nya tetap sopan, nggak kaya Vanes," ujar Anisa membandingkan. Sebenarnya Anisa dan Oki kurang setuju kalau Tama menjalin hubungan dengan Vanes, selain karena Vanes seorang model yang sering berpose seksi, Vanes juga tidak bisa menempatkan dirinya.
Contohnya saja ketika bertemu kedua orang tua Tama, Vanes malah memakai dress ketat yang panjang di atas lutut, atau ketika Vanes datang untuk mampir setelah joging, Vanes tanpa malu mengenakan hotpants dan tank top.
Tidak mau membuat Tama dan Anisa bersitegang, Kanaya pun lebih dulu menengahi, "Tante, kan Vanes seorang model, Vanes pasti punya style nya sendiri."
"Benar apa yang dikatakan Kanaya mah," setelah mengatakan itu, Tama pun langsung masuk ke dalam rumah.
"Tante, Kanaya pamit pulang ya? Mau mandi," pamit Kanaya.
"Iya sayang," jawab Anisa. Dia menatap punggung Kanaya yang mulai menjauh.
"Mata Tama tuh di taruh di mana sih? gadis cantik begitu nggak di lirik," Batin Anisa kesal.
Anisa pun masuk ke dalam rumah, dan ternyata Taka menunggu nya tepat di depan pintu.
"Ngapain kamu ngeliatin mamah begitu?" tanya Anisa.
"Mamah tuh bisa nggak sih, nggak membanding-bandingkan antara Vanes dan Kanaya, mereka itu dua orang yang berbeda mah," ucap Tama kesal.
"Kalau kamu tahu mereka dua orang yang berbeda, harus nya kamu bisa menasehati Vanes supaya bisa menempatkan dirinya, kamu nggak malu tubuh pacar kamu dilihat banyak orang?" balas Anisa.
"Mah itu urusan aku, bukan urusan mamah." Seru Tama, tanpa sadar nada Tama naik satu oktaf.
Oki yang baru saja selesai berenang, terkejut melihat anak dan putra sulung nya tengah berdebat.
"Tama," seru Oki, dia tidak suka kalau Tama berbicara kasar pada istri nya, yang tak lain ibu Tama sendiri.
"Mah bukan begitu maksud ku," Tama mencoba menggapai tangan Anisa, dia merasa menyesal telah berkata cukup keras kepada Ibunya.
"Cukup," Anisa mengangkat tangannya, menghentikan Tama yang ingin menggenggam tangan Anisa.
"Mamah turuti permintaan kamu, mamah nggak akan ikut campur tentang kamu, apapun yang akan kamu lakukan, mamah nggak akan mau tahu," setelah itu Anisa pun berlari menuju kamarnya, air mata yang sudah dia bendung tak dapat lagi dia tahan.
"Mamah!!" Tama mencoba mengejar Anisa, tapi langsung di hentikan oleh Oki.
"Tidak perlu di kejar," hanya kata itu yang Oki ucapkan, setelah itu, Oki pun ikut mengejar Anisa.
Tama memandang sendu kedua orangtuanya yang sudah masuk ke dalam kamar mereka, raut penyesalan terlihat jelas di wajah Tama.
Kanaya pulang ke rumahnya, kemudian langsung bersih-bersih, setelah sebelumnya dia beristirahat lebih dulu.
"Sarapan sayang?" tawar Keysha kepada putrinya yang baru saja turun ke lantai satu.
"Iya Mah," jawab Kanaya.
"Pagi kak," sapa Raka, nampak sekali pemuda itu baru bangun tidur.
"Jam segini kamu baru bangun?" tanya Kanaya.
"Iya kak, mumpung weekend" jawab Raka.
Kanaya pun hanya mengangguk kan kepala untuk merespon jawaban adiknya itu. Tak lama Marvel juga ikut bergabung ke meja makan untuk sarapan bersama.
Sore hari Kanaya sudah bersiap untuk pergi, dia berniat pergi mencari angin, lebih tepatnya metime. Kanaya keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga, biasanya mamah dan papah nya ada disana.
"Mah, pah."
"Hai sayang? kamu mau kemana? udah rapih," tanya Keysha.
"Aku mau keluar ya Mah, ketemu temen," ujar Kanaya.
"Ya sudah, jangan terlalu malam ya pulang nya," ucap Marvel menasehati.
"Iya Pah," Kanaya pun mencium tangan ke dua orang tuanya, kemudian berlalu pergi.
Kanaya mengemudikan mobilnya dengan suasana hati yang nampak baik, namun matanya menyipit kala melihat seorang wanita yang nampaknya Kanaya kenal.
"Itu kan Tante Anisa? ngapain Tante jalan kaki sendirian?" batin Kanaya, pasalnya dia melihat Anisa yang tengah berjalan kaki di sekitar komplek rumah tanpa seseorang yang menemani.
Kanaya turun dari mobil dan menghampiri Anisa,"Tante."
"Kanaya?" Anisa menoleh dan langsung memeluk Kanaya, dapat Kanaya dengar Isak tangis dari Anisa.
"Ayo tante, masuk ke mobil Kanaya aja," ajak Kanaya.
Anisa dan Kanaya pun masuk ke dalam mobil, "ini Tante," Kanaya memberikan tisu.
"Terimakasih Kanaya," Isak Anisa.
Kanaya tidak tega melihat Anisa yang nampak sangat bersedih, ini pertama kalinya Kanaya melihat Anisa menangis.
"Tante mau pulang?" tanya Kanaya.
"Jangan," jawab Anisa.
"Mungkin Tante ada masalah di rumah," batin Kanaya. Dia pun mencoba berpikir sejenak.
"Tante mau ikut Kanaya?" tanya Kanaya memastikan.
"Boleh," jawab Anisa sendu.
"Baiklah Tante," Kanaya pun mengemudikan mobilnya menuju salah satu cafe terdekat, supaya Anisa lebih leluasa nantinya. Selama perjalanan, dapat Kanaya lihat, Anisa beberapa kali mengusap air matanya.
"Sebenarnya Tante Anisa ada masalah apa?" batin Kanaya.