
Raka kini tengah disibukkan dengan beberapa berkas di
kantornya, apalagi ada beberapa kontrak kerjasama yang akan diperbarui, membuat
Raka harus lebih berhati-hati dan mempelajari berkas-berkas agar tidak
menimbulkan kesalahan fatal. Saat Raka terngah disibukkan dengan beberapa berkas miliknya, Nabila datang
dengan gaya manjanya.
“Sayang ….” Nabila langsung berdiri dibelakang Raka dan
mengalungkan tangannya, “kita jalan yuuukkk,” ajak Nabila dengan manja.
“Aduh sayang … maaf banget yaa, aku nggak bisa, aku lagi
banyak kerjaan banget nih,” Raka masih menatap berkas ditangannya, membuat
Nabila mengerucutkan bibirnya.
Namun, Nabila masih punya rencana lain, “ya udah kalau
sekarang kamu nggak bisa, gimana kalau nanti malam?” tanya Nabila.
Alis Raka ternagkat sebelah, “nanti malam? Kemana?” tanya
Raka.
“Kita Have fun, kita kan udah tunangan … jadi …” Nabila
mulai menggoda Raka dengan bermain dileher jenjang Raka.
“Nabila …” Raka menyingkirkan tangan Nabila dari lehernya
dan menggenggam jemari lentik kekasihnya itu, “aku tahu kita sudah bertunangan,
tapi … aku nggak mau merusak kamu, karena biar bagaimanapun juga kita belumk
sah, aku mau menyentuh kamu tapi nanti, saat aku menikahi kamu sayang … lagi
pula kamu tahu aku kan? aku nggak pernah lagi pergi ketempat seperti itu, aku
sekarang fokus untuk masa depan kita nanti, karena aku mau memberikan yang
terbaik buat kamu sayang …” ujar Raka mencoba memberikan pengertian kepada
Nabila.
“Iya sayang … aku minta maaf yaa? Aku pikir kamu nggak
pernah mau nyentuh aku karena aku nggak menarik dimata kamu, tapi ternyata aku
salah … ya udah kalau bagitu akau pergi dulu ya? jalan-jalan sama temen-temen …
kamu semangat kerjanya,” ujar Nabila, dia memeluk Raka sebentar dan berlalu
pergi.
Raka tersenyum manis melihat pundak kekasihnya, apa yang
Raka lakukan sekarang ini adalah, sebagai bentuk perjuangannya untuk bisa
segera menghalalkan Nabila. Dia tidak mau bergantung dengan orangtuanya, dia
ingin survive untuk kehidupan masa depannya kelak.
Namun, tanpa Raka ketahui, Nabila bertemu dengan seseorang
yang diluar dugaan Raka .
“Sayang ….” Nabila memeluk pria itu seraya bergelayut manja.
“Kenapa? Raka nggak mau nemenin kamu?” tebak pria itu.
“Iyaa biasalah,” raut wajah Nabila berubah kesal, mengingat
penolakan Raka, “dia lebih mentingin pekerjaannya disbanding aku,” ujar Nabila
kesal.
“Kan aku udah bilang, bahwa cuman aku yang bisa
membahagiakan kamu. Kenapa sih, kamu nggak ninggalin Raka aja dan berpaling ke
aku, aku janji akan selalu membahagiakan kamu Nabila.”
Nabila malah tertawa, “jangan mulai deh, kamu kan tahu kalau
hubungan yang kita jalani ini cuman buat have fun aja, aku sama kamu karena aku
nggak mendapat perhatian dari Raka, dan kamu sama aku karena kamu nggak
mendapat perhatian dari Natasha,” ujar Nabila, iya pria itu adalah Nathan
Sinathirya, anak dari Zahra dan Arya juga kekasih dari Natasha. Entah apa yang
dipikirkan, oleh mereka berdua, sama-sama sudah meiliki kekasih tapi mereka
malah menjalin hubungan dibelakang kekasih mereka masing-masing.
Tidak mendapatkan perhatian dari pasangan, menjadikan alasan bagi mereka untuk mendua, sudah satu
tahun hubungan itu terjalin dan merka
masih betah menjalani hubungan diam-diam itu. Mereka berdua sudah tebuai akan
perasaan mereka masing-masing. Kini Nabila dan Nathan sedang berada di salah
satu hotel tempat biasa mereka bertemu.
Hotel? Iya mereka berdua biasa menghabiskan waktu mereka di
hotel, seperti apa yang kalian pikirkan, hubungan Nabila dan Nathan sudah
sangat jauh, malam panas sering mereka lalui bersama. Tidak ada penyesalan
diantara mereka karena yang mereka pikirkan adalah kepuasan masing-masing,
Seperti saat ini, mereka baru saja sama-sama melakukan
pelepasan, Nabila masih berada dalam dekapan Nathan, mereka berdua bergelung
dalam balutan selimut karena sama-sama telanjang bulat. Nabila menggambar
abstrak didada bidang Nathan.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Natasha?” tanya Nabila masih
menggerakkan jemarinya.
“Hubungan kami baik-baik saja, dan yaaa seperti yang kamu
tahu, membosankan,” jawab Nathan dengan santai.Nabila malah tertawa dengan jawaban Nathan, dia tahu betul
bagaimana jiwa liar Nathan yang haus akan ***, jadi wajar kalau Nathan mengatakan
hubungannya dengan Natasha membosankan karena mereka berdua tidak pernah
melakukan hal-hal yang membuat Nathan bergairah.
dengan Natasha?” tanya Nabila lagi.
“Belum, jangankan melakukan hal panas di ranjang, hanya
untuk mencium saja aku tidak bisa,” keluh Nathan.
“Kenapa?” tanya Nabila.
“Dia bilang, karena kami belum menikah, jawaban yang sangat
malas untuk aku dengar.”
“Itu tandanya Natasha mau kamu menunjukkan keseriusan kamu
dalam hubungan, kenapa kamu tidak melamar Natasha ? hubungan kalian sudah
terjalin cukup lama juga kan?” tanya Nabila penasaran.
“Aku ragu dengan Natasha, aku tidak yakin kalau aku masih
mencintainya,” jawab Nathan yang malah membuat Nabila mengernyitkan alisnya
bingung.
“Aku bahkan kadang berpikir, apakah Natasha bisa seliar kamu
diranjang?” tanya Nathan seraya mengerlingkan matanya.
“Kalau begitu …. Bagaimana kalau kita mencoba satu ronde
lagi?” tanya Nabila dengan menggoda, dan akhirnya mereka pun melanjutkan kegiatan panas mereka disalah satu kamar
hotel tersebut.
^^^
Malam hari Kanaya dan Tama sudah dikamar mereka, Kanaya
tengah memikirkan sesuatu yang harusnya dia katakana tentang Fellycia tadi
siang.
“Mas….” Panggil Kanaya lirih.
“Iya sayang kenapa?” tanya Tama mendekat kearah Kanaya yang
tengah duduk bersandar dikepala ranjang.
“AKu ingin bicara, ini soal Felly,” ujar Kanaya dengan
seiurs.
“Felly? Kenapa dengan Felly? Apa ada laporan dari sekolah?”
Tama takut kalau FGelly membuat keributan di sekolahnya.
“Bukan … bukan tentang itu, tapi tentang kita juga,” ujar
Kanaya yang malah membuat Tama bingung.
“Saat aku dan teman-teman yang lain berada di restaurant
Indira, kami melihat Felly yang tengah memperhatikan seorang ibu membawa dua
anak, satu anaknya yang paling besar aku tafsir usianya diatas Felly satu tahun
dan yang kecil kisaran 1 tahun. Dan entah kenapa, tiba-tiba Felly berkata bahwa
dia tidak mau memiliki seorang adik,” ujar Kanaya menjelaskan , Tama mulai
risau dengan cerita Kanaya.
“Aku juga sempat risau dan terkejut mendnegar pernyataan
Felly, teman-teman ikut membantuku menanyakan tentang apa alasan kenapa Felly
tidak mau memiliki adik, dia takut kalau kita berdua akan melupakannya dan
lebih fokus pada adiknya, dan yang lebih membuat aku terkejut, Felly berkata,
kalau aku bukan ibu kandungnya, jadi aku tidak akan menyayangi Felly lagi saat
aku sudah memiliki anak sendiri. Aku merasa sangat sakit hati, aku yakin bukan
putri ku yang mengatakannya Tama, aku yakin Felly bisa berbicara seperti itu karena
ada dorongan dari orang lain,” isak Kanaya.
“Tapi, aku coba memberikan pengertian kepada Felly, dan aku
sangat bersyukur karena setidaknya aku bisa memberitahukan Felly bahwa aku
sangat menyayanginya, walau aku dan Felly tidak memiliki ikatan darah sekalipun.
Tapi Tama, aku harap kamu bisa membantuku supaya Felly membuang jauh pikira-pikiran
itu,” pinta Kanaya.
Tama mengelus puncak kepala Kanaya dengan sayang, “tentu
sayang, tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya, bagaimanapun mendidiki anak
adalah tugas kita berdua sebagai orangtua. Ya sudah, ayo kita temuai putri
kita.” Ajak Tama, Kanaya pun tersenyum dan melangkah bersama menuju kamar
Fellycia.
Meskipun ke kamar putri mereka sendiri, namun Kanaya dan
Tama selalau mengajarkan kesopanan salah satunya mengetuk pintu kamar orang
lain lebihb dulu dan meminta izin untuk masuk. Seperti yang Tama lakukan saat
ini, sebelum masuk kedalam kama putrinya pasti dia akan mengetuk pintu lebih dulu dan menayakan apakah boleh masuk.
“Papah? Mamah?” Felly yang berniat tidur begitu senang
karena kedua orangtuanya datang kekamar Felly.
“Belum tidur sayang?” tanya Tama kepada putrinya.
“Belum Pah …” jawab Felly.
“Mamah sama Papah boleh nemenin Felly tidur?” tanya Kanaya
meminta persetujuan Felly lebih dulu.
“Boleh dong Mah, malah Felly seneng banget,” ujar Felly
mengekspresikan rasa senangnya membuat Tana dan Kanaya tersenyum, padahal hal
remeh yang mereka lakukan, namun bagi Felly itu sudah sangat membahagiakan.
`