Keysha

Keysha
Season 2 (ternyata...)



Raka kini tengah disibukkan dengan beberapa berkas di


kantornya, apalagi ada beberapa kontrak kerjasama yang akan diperbarui, membuat


Raka harus lebih berhati-hati dan mempelajari berkas-berkas agar tidak


menimbulkan kesalahan fatal. Saat Raka terngah disibukkan dengan  beberapa berkas miliknya, Nabila datang


dengan  gaya manjanya.


“Sayang ….” Nabila langsung berdiri dibelakang Raka dan


mengalungkan tangannya, “kita jalan yuuukkk,” ajak Nabila dengan manja.


“Aduh sayang … maaf banget yaa, aku nggak bisa, aku lagi


banyak kerjaan banget nih,” Raka masih menatap berkas ditangannya, membuat


Nabila mengerucutkan bibirnya.


Namun, Nabila masih punya rencana lain, “ya udah kalau


sekarang kamu nggak bisa, gimana kalau nanti malam?” tanya Nabila.


Alis Raka ternagkat sebelah, “nanti malam? Kemana?” tanya


Raka.


“Kita Have fun, kita kan udah tunangan … jadi …” Nabila


mulai menggoda Raka dengan bermain dileher jenjang Raka.


“Nabila …” Raka menyingkirkan tangan Nabila dari lehernya


dan menggenggam jemari lentik kekasihnya itu, “aku tahu kita sudah bertunangan,


tapi … aku nggak mau merusak kamu, karena biar bagaimanapun juga kita belumk


sah, aku mau menyentuh kamu tapi nanti, saat aku menikahi kamu sayang … lagi


pula kamu tahu aku kan? aku nggak pernah lagi pergi ketempat seperti itu, aku


sekarang fokus untuk masa depan kita nanti, karena aku mau memberikan yang


terbaik buat kamu sayang …” ujar Raka mencoba memberikan pengertian kepada


Nabila.


“Iya sayang … aku minta maaf yaa? Aku pikir kamu nggak


pernah mau nyentuh aku karena aku nggak menarik dimata kamu, tapi ternyata aku


salah … ya udah kalau bagitu akau pergi dulu ya? jalan-jalan sama temen-temen …


kamu semangat kerjanya,” ujar Nabila, dia memeluk Raka sebentar dan berlalu


pergi.


Raka tersenyum manis melihat pundak kekasihnya, apa yang


Raka lakukan sekarang ini adalah, sebagai bentuk perjuangannya untuk bisa


segera menghalalkan Nabila. Dia tidak mau bergantung dengan orangtuanya, dia


ingin survive untuk kehidupan masa depannya kelak.


Namun, tanpa Raka ketahui, Nabila bertemu dengan seseorang


yang diluar dugaan Raka .


“Sayang ….” Nabila memeluk pria itu seraya bergelayut manja.


“Kenapa? Raka nggak mau nemenin kamu?” tebak pria itu.


“Iyaa biasalah,” raut wajah Nabila berubah kesal, mengingat


penolakan Raka, “dia lebih mentingin pekerjaannya disbanding aku,” ujar Nabila


kesal.


“Kan aku udah bilang, bahwa cuman aku yang bisa


membahagiakan kamu. Kenapa sih, kamu nggak ninggalin Raka aja dan berpaling ke


aku, aku janji akan selalu membahagiakan kamu Nabila.”


Nabila malah tertawa, “jangan mulai deh, kamu kan tahu kalau


hubungan yang kita jalani ini cuman buat have fun aja, aku sama kamu karena aku


nggak mendapat perhatian dari Raka, dan kamu sama aku karena kamu nggak


mendapat perhatian dari Natasha,” ujar Nabila, iya pria itu adalah Nathan


Sinathirya, anak dari Zahra dan Arya juga kekasih dari Natasha. Entah apa yang


dipikirkan, oleh mereka berdua, sama-sama sudah meiliki kekasih tapi mereka


malah menjalin hubungan dibelakang kekasih mereka masing-masing.


Tidak mendapatkan perhatian  dari pasangan, menjadikan alasan bagi mereka untuk mendua, sudah satu


tahun  hubungan itu terjalin dan merka


masih betah menjalani hubungan diam-diam itu. Mereka berdua sudah tebuai akan


perasaan mereka masing-masing. Kini Nabila dan Nathan sedang berada di salah


satu hotel tempat biasa mereka bertemu.


Hotel? Iya mereka berdua biasa menghabiskan waktu mereka di


hotel, seperti apa yang kalian pikirkan, hubungan Nabila dan Nathan sudah


sangat jauh, malam panas sering mereka lalui bersama. Tidak ada penyesalan


diantara mereka karena yang mereka pikirkan adalah kepuasan masing-masing,


Seperti saat ini, mereka baru saja sama-sama melakukan


pelepasan, Nabila masih berada dalam dekapan Nathan, mereka berdua bergelung


dalam balutan selimut karena sama-sama telanjang bulat. Nabila menggambar


abstrak didada bidang Nathan.


“Bagaimana hubungan kamu dengan Natasha?” tanya Nabila masih


menggerakkan jemarinya.


“Hubungan kami baik-baik saja, dan yaaa seperti yang kamu


tahu, membosankan,” jawab Nathan dengan santai.Nabila malah tertawa  dengan jawaban Nathan, dia tahu betul


bagaimana jiwa liar Nathan yang haus akan ***, jadi wajar kalau Nathan mengatakan


hubungannya dengan Natasha membosankan karena mereka berdua tidak pernah


melakukan hal-hal yang membuat Nathan bergairah.


dengan Natasha?” tanya Nabila lagi.


“Belum, jangankan melakukan hal panas di ranjang, hanya


untuk mencium saja aku tidak bisa,” keluh Nathan.


“Kenapa?” tanya Nabila.


“Dia bilang, karena kami belum menikah, jawaban yang sangat


malas untuk aku dengar.”


“Itu tandanya Natasha mau kamu menunjukkan keseriusan kamu


dalam hubungan, kenapa kamu tidak melamar Natasha ? hubungan kalian sudah


terjalin cukup lama juga kan?” tanya Nabila penasaran.


“Aku ragu dengan Natasha, aku tidak yakin kalau aku masih


mencintainya,” jawab Nathan yang malah membuat Nabila mengernyitkan alisnya


bingung.


“Aku bahkan kadang berpikir, apakah Natasha bisa seliar kamu


diranjang?” tanya Nathan seraya mengerlingkan matanya.


“Kalau begitu …. Bagaimana kalau kita mencoba satu ronde


lagi?” tanya Nabila dengan menggoda, dan akhirnya  mereka pun melanjutkan  kegiatan panas mereka disalah satu kamar


hotel tersebut.


^^^


Malam hari Kanaya dan Tama sudah dikamar mereka, Kanaya


tengah memikirkan sesuatu yang harusnya dia katakana tentang Fellycia tadi


siang.


“Mas….” Panggil Kanaya lirih.


“Iya sayang kenapa?” tanya Tama mendekat kearah Kanaya yang


tengah duduk bersandar dikepala ranjang.


“AKu ingin bicara, ini soal Felly,” ujar Kanaya dengan


seiurs.


“Felly? Kenapa dengan Felly? Apa ada laporan dari sekolah?”


Tama takut kalau FGelly membuat keributan di sekolahnya.


“Bukan … bukan tentang itu, tapi tentang kita juga,” ujar


Kanaya yang malah membuat Tama bingung.


“Saat aku dan teman-teman yang lain berada di restaurant


Indira, kami melihat Felly yang tengah memperhatikan seorang ibu membawa dua


anak, satu anaknya yang paling besar aku tafsir usianya diatas Felly satu tahun


dan yang kecil kisaran 1 tahun. Dan entah kenapa, tiba-tiba Felly berkata bahwa


dia tidak mau memiliki seorang adik,” ujar Kanaya menjelaskan , Tama mulai


risau dengan cerita Kanaya.


“Aku juga sempat risau dan terkejut mendnegar pernyataan


Felly, teman-teman ikut membantuku menanyakan tentang apa alasan kenapa Felly


tidak mau memiliki adik, dia takut kalau kita berdua akan melupakannya dan


lebih fokus pada adiknya, dan yang lebih membuat aku terkejut, Felly berkata,


kalau aku bukan ibu kandungnya, jadi aku tidak akan menyayangi Felly lagi saat


aku sudah memiliki anak sendiri. Aku merasa sangat sakit hati, aku yakin bukan


putri ku yang mengatakannya Tama, aku yakin Felly bisa berbicara seperti itu karena


ada dorongan dari orang lain,” isak Kanaya.


“Tapi, aku coba memberikan pengertian kepada Felly, dan aku


sangat bersyukur karena setidaknya aku bisa memberitahukan Felly bahwa aku


sangat menyayanginya, walau aku dan Felly tidak memiliki ikatan darah sekalipun.


Tapi Tama, aku harap kamu bisa membantuku supaya Felly membuang jauh pikira-pikiran


itu,” pinta Kanaya.


Tama mengelus puncak kepala Kanaya dengan sayang, “tentu


sayang, tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya, bagaimanapun mendidiki anak


adalah tugas kita berdua sebagai orangtua. Ya sudah, ayo kita temuai putri


kita.” Ajak Tama, Kanaya pun tersenyum dan melangkah bersama menuju kamar


Fellycia.


Meskipun ke kamar putri mereka sendiri, namun Kanaya dan


Tama selalau mengajarkan kesopanan salah satunya mengetuk pintu kamar orang


lain lebihb dulu dan meminta izin untuk masuk. Seperti yang Tama lakukan saat


ini, sebelum masuk kedalam kama putrinya pasti dia akan mengetuk pintu lebih  dulu dan menayakan apakah boleh masuk.


“Papah? Mamah?” Felly yang berniat tidur begitu senang


karena kedua orangtuanya datang kekamar Felly.


“Belum tidur sayang?” tanya Tama kepada putrinya.


“Belum Pah …” jawab Felly.


“Mamah sama Papah boleh nemenin Felly tidur?” tanya Kanaya


meminta persetujuan Felly lebih dulu.


“Boleh dong Mah, malah Felly seneng banget,” ujar Felly


mengekspresikan rasa senangnya membuat Tana dan Kanaya tersenyum, padahal hal


remeh yang mereka lakukan, namun bagi Felly itu sudah sangat membahagiakan.


`