
Kanaya sendiri, baru saja tiba di rumah sakit, hari ini dia shift pagi, saat berjalan di koridor, Kanaya melihat Indira yang juga tengah berjalan menuju ke ruangan nya. Indira dan Kanaya sama-sama kuliah jurusan kedokteran dulu, tapi Kanaya memilih menjadi dokter bedah, sedangkan Indira dokter kandungan.
"Indira," seru Kanaya, membuat Indira menghentikan langkah dan menengok kearah Kanaya.
"Hai," sapa Indira.
"Shift pagi?" tanya Indira.
"Iya nih," jawab Kanaya.
"Wah bisa dong entar malem ikut," ucap Indira.
"Kemana?" tanya Kanya bingung.
"Ke cafe langganan kita, kaya biasa, bedanya sekarang nggak ada Tama," ujar Indira.
"Udahlah Ra, Tama juga yang udah memilih Vanes, gue juga nggak mau, kalau gara-gara persahabatan, hubungan Tama dan Vanes hancur," ujar Kanaya sendu.
"Loe belum bisa move on?" tanya Indira menyelidik.
"Sulit Ra, gue udah coba, tapi nggak bisa," jawab Kanaya kesal.
"Bukan nggak bisa, loe kurang berusaha," ucap Indira, sebenarnya Indira tidak tega melihat sahabat nya terus menerus terjebak dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, dimana Kanaya mencintai Tama, namun Tama malah mencintai wanita lain.
"Dokter Kanaya," saat Indira dan Kanaya tengah berbincang, seorang suster memanggil Kanaya.
"Ada apa sus?" tanya Kanaya.
"Ada pasien darurat dok," jawab Suster.
"Baiklah aku segera kesana," jawab Kanaya.
"Dira, gue pergi ya," ucap Kanaya dengan setengah berlari.
"Semangat Kanaya!" seru Indira.
Meeting baru saja selesai, Tama pun masuk ke dalam ruang kerja nya, dimana tertera nama CEO di atas meja. Muda, tampan, kharismatik, dan pebisnis sukses, semua nampak sempurna dalam diri Tama.
Asisten pribadi nya pun yang bernama Aldo Gunandjar selalu setia menanti tugas dari sang atasan, apa lagi siang ini Tama akan pergi bersama Vanes, kekasih nya yang tengah meniti karir sebagai model.
"Aku akan langsung pergi menemui Vanes, kau tetap di sini handle perusahaan," titah Tama.
"Baik Tuan," jawab Aldo seraya menunduk kan sedikit kepalanya. Tama pun bergegas keluar dari ruang kerjanya, menuju apartemen Vanes, kekasih pujaan hatinya.
Seperti yang sudah di rencanakan, hari ini, Tama akan mengantarkan Vanes ke rumah sakit, Tama membawa ke rumah sakit milik ayahnya,dan langsung masuk ke dalam ruangan Indira, setalah tahu Indira tidak sedang menangani pasien.
"Tama? ngapain ke sini?" tanya Indira kaget, karena Tama langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Aku ingin pasang KB spiral," Vanessa langsung menyela, seolah tidak memberikan ruang kepada Indira untuk berbicara dengan Tama.
Sebagai seorang dokter kandung, Indira sudah bisa menebak, bagaimana gaya Tama dan Indira menjalani hubungan mereka, tidak jauh dari hubungan yang suami istri.
"Baiklah ayo ikut aku jalani pemeriksaan," ucap Indira, Vanes pun mengikuti Indira dan berbaring di brankar, seorang suster juga datang membantu Indira. Sedangkan Tama setia menunggu Vanes sambil duduk di kursi yang tersedia, karena tertutup tirai, jadi Tama tidak tahu seperti bapa Indira menangani Vanes.
Tama melihat dua foto dalam pigura kecil, satu foto Indira dan kedua orangtuanya, dan satu foto adalah Indira, Kanaya, Alden dan Tama. Tanpa sadar, senyum Tama terbit, namun perlahan luntur kembali, setelah dia teringat, persahabatan mereka sudah tak seindah dulu, ini semua karena pilihan Tama sendiri, dia memilih menjauh atas permintaan dari Vanes.
Merasa bosan, Tama pun keluar dari ruangan untuk mencari udara segar,namun saat Tama keluar dia berpapasan dengan Kanaya, sahabat sekaligus tetangga rumah nya.
"Naya," sapa Tama.
Kanaya mengernyit, kenapa Tama berada di dokter kandungan, "kamu ngapain di sini? ketemu Indira?" tanya Kanaya.
"Tidak, aku mengantarkan Vanes," jawab Tama.
"Vanes? dia hamil?" cicit Kanaya.
"Oh bukan ... bukan, Vanes sedang pasang KB spiral," jawab Tama.
Sontak saja, tatapan Kanaya berubah sendu, "itu berati hubungan Tama dan Vanes sudah sejauh itu," batin Kanaya.
"Sudah selesai?" tanya Tama seraya tersenyum teduh kepada kekasih nya.
"Sudah, ayo pulang," ajak Vanes seraya menarik lengan Tama.
"Iya... aku duluan," ucap Tama lirih.
Kanaya menatap punggung Tama yang sudah mulai menjauh, pedih rasanya, melihat pria yang di cintai ternyata mencintai wanita lain.
"Nggak usah di pikirkan," Indira tiba-tiba datang sambil menepuk bahu Kanaya.
"Kata merelakan mungkin mudah di ucapkan, tapi melakukannya itu sulit," ucap Kanaya air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Kanaya, kan aku udah bilang, kamu harus bisa melupakan Tama, semakin kamu terus bertahan dengan perasaan kamu, maka kamu akan terus tersakiti," ucap Indira.
"Aku selalu berusaha," jawab Kanaya.
Malam minggu, seperti apa yang Indira ucapakan, dia mengajak Kanaya pergi ke salah satu cafe langganan mereka, bahkan bukan hanya mereka berdua ada Alden juga.
"Hai Al," sapa Kanaya dan Indira.
"Hai," Alden menegakkan tubuhnya,karena tadi dia tengah menatap ponsel.
"Udah lama?" tanya Kanaya seraya duduk berhadapan dengan Alden.
"Belum kok, gue udah pesenin kesukaan kalian," ucap Alden.
"Wah emang terbaik deh loe," ucap Indira seraya menepuk pundak Alden. Tidak lama pesanan mereka datang, Kanaya dan Indira sangat suka cofe latte, sedangkan Alden suka kopi murni tanpa campuran apapun, dia bilang rasanya enak masih kopi asli.
Namun Kanaya dan Indira menatap bingung, karena ada 4 gelas kopi, sedangkan mereka hanya bertiga.
"Loe pesen 2 kopi Al?" tanya Kanaya, pasalnya ada dua kopi hitam murni.
Sontak Alden menepuk jidatnya, "gue lupa, gue ingetnya ada Tama," ucap Alden.
"Wah kebetulan udah di pesenin," tiba-tiba terdengar suara yang familiar di belakang Indira dan Kanaya.
"Tama?" Indira berkata dengan wajah bingung, sedangkan Tama langsung duduk berhadapan dengan Kanaya, karena Alden sudah geser menjadi berhadapan dengan Indira.
"Kenapa kok bengong?" tanya Tama.
"Kenapa loe di sini?" tanya Alden dengan raut wajah kesal, Alden pikir Tama datang bersama dengan Vanes.
"Kan dari dulu kita suka ke sini, dari jaman kuliah," ucap Tama.
"Itu udah beberapa tahun lalu Tam, sebelum loe kenal sama Vanes," ucap Indira dengan raut wajah kesal.
"Gue minta maaf, karena hubungan gue sama Vanes, kita jadi jauh, tapi sebisa mungkin mulai sekarang gue bakalan ngasih waktu luang buat kalian, ya meskipun harus nunggu Vanes pergi dulu," ucap Tama.
"Emang Vanes lagi kemana?" tanya Alden.
"Amerika, dia lagi pemotretan." jawab Tama seraya menyesap kopinya. Diam-diam Tama memperhatikan Kanaya yang sedari tadi diam, tak ada pertanyaan apapun yang Kanaya lontarkan untuk Tama.
"Nay," panggil Tama lirih.
"Iya?" jawab Kanaya singkat.
"Loe sakit?" tanya Tama penuh perhatian.
"Enggak kok," jawab Kanaya.
"Tumben banget loe diem, ngomong kek." ujar Tama. Kanaya pun hanya membalas dengan senyum nya.
"Kenapa loe harus perhatian begini sama gue Tam, saat gue lagi mencoba ngelupain loe, loe malah mendekat, loe bener-bener susah di mengerti Tam, dan hati gue nggak bisa menggapai cinta loe." Batin Kanaya.
Indira dan Alden menatap Kanaya sendu, mereka berdua tahu bagaimana perasaan Kanaya kepada Tama, bahkan orang tua Tama sendiri sangat mengharapkan Kanaya bisa menjadi menantu mereka.