
Nando memarkirkan mobilnya di parkiran apartemennya, Nando terpaksa membawa Indira ke apartemen, karena Nando tidak mungkin membawa Indira pulang dalam keadaan Indira mabuk berat. Nando membaringkan Indira di ranjang kamarnya, karena apartemen Nando tinggal 1 kamar, 1 kamarnya lagi sudah dia gunakan untuk perpustakaan.
Nando memandang wajah Indira, sesekali Indira mengigau membicarakan hal yang tak jelas, Nando sangat yakin Indira tengah menghadapi masalah yang cukup sulit, hingga Indira memilih club' malam untuk melepaskan semua sakit hatinya.
"Kamu punya masalah apa Ra? sampai kamu datang ketempat seperti itu?" batin Nando. Dia pun menyelimuti Indira dan mengambil satu bantal untuknya tidur di ruang tamu.
Sedangkan disisi lain, Aditya tengah bingung, karena Indira tak mengangkat panggilan darinya, padahal ponselnya sudah aktif.
"Belum bisa mas?" tanya Bella khawatir.
"Belum sayang," jawab Aditya sendu.
"Kamu kirim chat aja, aku yakin nanti Indira akan membacanya," saran Bella. Kemudian Aditya pun mengirimkan pesan kepada Indira.
Ponsel Indira dalam mode silent, jadi Nando pun tak tahu kalau ada panggilan tak terjawab dari Aditya yang cukup banyak.
Keesokan harinya, Indira terbangun dari tidurnya, kepala terasa pening sekali, dia melihat ruang sekitar yang nampak asing, Indria mengecek tubuhnya untuk memastikan tidak ada hal yang terjadi semalam.
"Huft syukurlah, masih lengkap," batin Indira. Dia melihat segelas susu di atas nakas serta note kecil
..."Kalau kamu sudah bangun minumlah, untuk mengurangi rasa mual kamu dan efek mabuk semalam"...
Indira melihat sekeliling kamar, dan melihat foto Nando.
"Jadi ini kamar Nando?" batin Indira.
Indira yang sudah tak tahan dengan pening dikepala nya pun segera meminum susu itu hingga tandas, tak lama dia merasa sudah baikan.
"Loe bener-bener lelaki yang baik Nan, padahal semalam loe bisa aja ngelakuin hal yang loe mau ke gue, tapi nggak loe lakuin," batin Indira.
"Pantes Kanaya bisa melupakan Tama yang merupakan cinta pertamanya, itu karena dia bertemu loe Nan," batin Indira lagi. Namun secepatnya dia menggeleng kan kepala.
"Mikir apa sih gue, dari pada mikir yang nggak-nggak mending cuci muka." Indria pun segera bergegas kekamar mandi untuk mencuci mukanya.
Namun di atas ranjang, Indira menemukan sebuah paperbag bertuliskan namanya.
..."Maaf Indira aku cuman bisa siapin ini, silahkan kamu mandi."...
Indira melihat isi didalam paper bag, isinya berupa peralatan mandi, dan dress, serta ada pakaian dalam juga. Sebenarnya Indira merasa malu, namun Indira juga perlu mandi, karena bau alkohol terasa menempel di badannya.
Nando tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Indira, niat Nando nanti dia akan berangkat bersama Indira ke rumah sakit.
"Nando," lirih Indira memanggil Nando. Nando menoleh kearah suara yang memanggil nya.
"Indira?" Nando cukup terpesona dengan kecantikan Indira, dress yang dia belikan untuk Indira sangat pas ternyata.
"Makasih ya dress nya," ucap Indira.
"Sama-sama, maaf ya Ra kalau gue lancang," ucap Nando seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Nando nampak tak enak, karena membelikan hal yang cukup privasi, namun dia tidak punya pilihan lain.
"Nggak papa," jawab Indira malu.
"Ya udah Ra, yuk sarapan sama-sama, gue bikin nasi goreng tadi." Ajak Nando.
"Makasih ya Nan udah bantuin gue, maaf juga gue jadi ngerepotin loe," ucap Indira tak enak.
"Jangan ngerasa gak enak gitu, kita kan teman," jawab Nando seraya tersenyum tulus.
"Ya udah yuk makan." Ajak Nando, kemudian merekapun mulai menyantap sarapan mereka bersama.
"Masakan loe enak juga Nan," puji Indira.
"Oh iya, gimana ceritanya loe tahu gue di club'?" tanya Indira penasaran, Nando pun menceritakan semua nya dari awal hingga akhir.
"Sekarang, boleh nggak gue tahu kenapa loe dateng ke club'malam? gue yakin itu pertama kalinya kan buat loe?" tanya Nando.
Wajah Indira berubah sendu, dia kembali mengingat rahasia besar yang dia ketahui kemarin, tentangnya yang ternyata bukan anak kandung Bella, dan dia adalah anak dari hubungan diluar nikah.
"Gue bukan anak kandung mamah Bella," jawab Indira seraya menundukkan wajahnya.
Nando terperangah mendengar jawaban Indira, "maksud nya? mereka bukan orang tua kandung loe?" tanya Nando.
Indira menggeleng, "papah Aditya memang ayah biologis ku, tapi mamah Bella bukan wanita yang melahirkan ku Nan," jawab Indira seraya terisak.
Melihat Indira menangis, hati Nando tak tega, dia pun mendekat kearah Indira dan memeluknya, memberikan ketenangan. Setelah beberapa saat, akhirnya Isak tangis Indira reda.
"Ini," Nando memberikan tissue kepada Indira.
"Terimakasih," Indira menerima tissue itu, dan menghapus air matanya.
"Ra, maaf tapi gue agak bingung dengan penjelasan loe tadi," ucap Nando.
"Gue ceritain," jawab Indira.
"Dulu, papah Adit pernah memperkosa seorang wanita ketika papah dalam keadaan mabuk, waktu itu papah sudah menikah dengan mamah Bella, namun mamah Bella tidak bisa memberikan keturunan karena rahimnya sudah diangkat." Indira menjeda kalimatnya dan mencoba menguatkan dirinya.
"Wanita yang menjadi korban pelecehan papah hamil, namun wanita itu tidak mau dinikahi oleh papah, wanita itu hanya meminta, untuk disembunyikan selama dia hamil."
"Wanita itu berjanji kepada mamah dan papah, bahwa ketika dia sudah melahirkan nanti, bayinya akan diserahkan kepada mamah dan papah ku, dan wanita itu akan pergi sejauh mungkin. Dan kamu tahu Nan, anak itu adalah aku," ujar Indira kembali terisak.
"Sabar Ra," hanya kata itu yang mampu Nando ucapkan sekarang.
"Aku kecewa Nan, kenapa mereka menyembunyikan semuanya," ucap Indira.
"Ra, dengerin gue, gue yakin mereka sangat menyayangi loe, oleh karena itu mereka nggak mau nyakitin hati loe, mereka mau mengubur rapat-rapat semua masa lalu mereka, dan selama ini nyokap loe baik kan sama loe?" tanya Nando.
Indira mengangguk, "iya mamah baik banget sama gue," jawab Indira.
"Lalu apa yang loe khawatirkan Ra, harusnya loe terimakasih sama mereka, apalagi nyokap loe, gue yakin nggak gampang baut nyokap loe menjalani semua itu, tapi lihat, dia begitu perhatian sama loe, sampe loe bisa sesukses ini."
"Loe bener Nan, harusnya gue berterimakasih ke mamah Bella, dia yang udah besarin gue, dan dengan besar hati dia mau nerima gue," ucap Indira.
"Nanti, gue anter loe pulang dulu, selesaikan semua masalah loe ya, gue yakin keluarga loe cemas banget," ucap Nando.
"Iya Nan, makasih ya karena loe gue jadi tahu kalau gue salah, dan apa yang harus gue lakuin."
"Sama-sama Ra, eemm oh iya Ra, terus loe tahu dimana nyokap kandung loe?" tanya Nando penasaran.
"Dia udah meninggal Nan, sesaat setelah dia melahirkan gue, karena dia mengidap kanker otak, itu juga alasannya kenapa nyokap kandung gue mempercayakan gue ke mamah Bella," jelas Indira.
"Loe yang sabar ya?" ucap Nando seraya menepuk pundak Indira pelan.
"Gue kuat kok, selagi ada nyokap bokap gue dan semua keluarga gue," jawab Indira.
"Ya udah Nan, gue mau pulang, boleh anterin gue ambil mobil nggak?" Indira sudah tahu kalau mobilnya masih diparkiran club' malam, karena Nando sudah menjelaskan.
"Ya udah ayo." Ajak Nando.
"Gue ambil ponsel sama baju kotor dulu," Indira pun masuk kedalam kamar Nando dan mengambil bojo kotor yang sudah dalam paperbag, kemudian mengambil ponselnya.