
Kanaya tidak menyangka kalau Papah, adiknya dan juga Tama
sudah merencanakan hal besar ini, sebagai seorang Dokter dan rekan yang juga
berjuang bersam, Kanaya cukup tahu bagaimana Indira memperjuangkan semuanya,
dan pasti Indira begitu sedih, kecewa pastinya down.
“Kenapa kamu tidak memberitahukan kakak? Kenapa kamu tidak
menghentikan papah?” tanya Kanaya.
“Alasan aku kenapa aku tidak memberitahukan kakak, karena
aku nggak mau kakak menggagalkan rencana Papah dan kak Tama, apa yang sudah kak
Indira lakukan kepada kakak dan Mamah sudah terlalu menyakitkan, dan aku mau
dia itu jera dan tahu siapa keluarga kita,” Raka mulai berani menjawab
kakaknya, dia terlalu gemas dengan sikap kakanya yang terlewat baik.
“Lagi pula kakak ngapain mikirin dia, emang waktu dia
nyakitin kakak dia mikirin perasaan kakak? Waktu dia mempermalukan Mamah emang
dia mikirin gimana perasaan mamah? Enggak kan? sekarang kita impas. Lagi pula
papah sudah berbaik hati mencabut tuntutannya, bukankah ini sepadan?” Raka pun
mulai melajukan kendaraannya, sedangkan Kanaya masih terdiam bertarung dengan
pikirannya.
Sesampainya di rumah, Kanaya langsung menuju kedalam kamar,
karena memang baik Keysha maupun Marvel belum pulang, sedangkan Felly sudah
kembali ke rumah Tama. Melihat keadaan yang sudah aman karena kakaknya masuk
kedalam kamar, Raka pun berniat menghubungi seseorang yaitu Tama.
“Ada apa Raka?” tanya Tama diseberang telepon.
“Gawat kak, kak Kanaya tahu,” bisik Raka.
“Tahu apa?” tanya Tama bingung.
“Soal Indira,” Raka berbicara dengan hati-hati.
“Kamu ngasih tahu ya?” tuduh Tama.
“Bukan, tapi seseorang dan aku nggak tahu siapa, apa mungkin
ada yang dateng ke rumah sakit?” tebak Raka.
“Nanti aku tanya Natasha deh,” putus Tama.
Mengetahui Kanaya yang sudah tahu tentang rencanaya dengan
Marvel, Tama yakin Kanaya pasti tengah marah dengannya, namun Tama tidak bisa
mendatangi Kanaya sekarang, pastinya dia tahu kalau Kanaya butuh waktu untuk
menenangkan diri. Walaupun Indira sudah sangat menyakiti hati Kanaya, namun
bawah, tentunya tahu bahwa apa yang sudah India gapai sekarang ini tidaklah
mudah dan butuh perjuangan.
^^^
Nando seharusnya sudah pulang sejak 2 jam lalu, namun dia
memilih untuk mampir terlebih dahulu ke apartement nya yang kini ditempati oleh
kedua orangtua Nando.
“Bagaimana istir kamu?” tanya Harlan, karena dia tahu bahwa
menantunya itu beberapa waktu lalu dilaporkan ke kantor polisi.
“Sudah bebas Pah, tapi ….”
“Tapi apa?” Laila yang baru saja datang dari arah dapur ikut
menimpali. Sejujurnya waktu Indira masuk penjara, Laila sudah akan meminta
Nando untuk menceraikan istrinya yang menurutnya hanya membuat malu.
“Indira dipecat dari rumah sakit,” jawab Nando seraya
menunduk sedih.
“Apa?” baik Harlan maupu Lailla sama-sama terkejut.
“Terus bagaimana? Dia jadi pengangguran? Dan hanya akan
membebani kamu begitu?” tanya Lailla.
“Mah, udahlah masalah nafkah itu juga tanggung jawab aku
karena Indira itu istri ku,” ujar Nando membela, dia merasa kekhawatiran kedua
orangtuanya sangat tidak diperlukan.
“Tapi kan …” Lailla hendak protes.
“Sudahlah Mah, jangan ikut cmapur urusan Nando, biarkan
saja. Menikah dengan Indira itu kan keputusan Nando sendiri, jadi biarkan Nando
bertanggung jawab dengan istrinya,” ucap Harlan menenangkan Lailla.
“Andai saja, kamu masih bersama Kanaya, pasti kehidupan
keluarga kita tidak akan seperti ini. Mamah dan juga Papah tidak perlu
menanggung malu atas apa yang sudah terjadi,” sesal Lailla.
“Aku lelah Mah, aku mau pulang,” Nando beranjak dari
duduknya, berbicara dengan kedua orangtuanya bukannya menghilangkan pening
dikepalanya justru membuat Nando semakin pusing. Dia memilih pergi untuk
menghindari perdebatan dengan kedua orangtuanya.