
Setelah memastikan Felly sudah bisa ditinggal pergi, Tama dan Kanaya pun berpamitan dengan melambaikan tangan kearah Felly, gadis kecil berkuncir dua itu pun membalas lambaian tangan Kanaya dengan senyum bahagia.
"Makasih ya Nay, udah mau ikut nganterin Felly," ujar Tama dengan tulus.
"Sama-sama Tam, aku juga seneng kok bisa ikut nganterin Felly," jawab Kanaya.
"Maaf juga ya Nay atas ucapan Felly tadi," ucap Tama tak enak setelah mereka berada dalam mobil.
"Nggak papa kok Tam," jawab Kanaya seraya tersenyum.
"Kita ke rumah sakit?" tanya Tama.
"Iya," jawab Kanaya, setelah itu Tama pun melajukan mobil menuju rumah sakit, mengantarkan kembali Kanaya ketempat kerjanya.
Disisi lain, Aditya juga baru saja sampai dikediaman nya, Bella yang melihat Aditya datang bersama Desi langsung menyambut mertuanya dengan senang, rasa khawatir perlahan sirna setelah Desi kembali.
"Ibu, ibu dari mana aja?" tanya Bella dengan penuh rasa khawatir.
"Iya Nek, kita udah cari Nenek kemana-mana tapi nggak ketemu," ujar Indira.
"Ayo Bu kita kekamar," ajak Aditya kepada Desi, dia langsung membawa Desi menuju kamar agar bisa beristirahat, tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar dari Bella dan Indira.
Setelah mengantarkan Desi kekamar nya dan memastikan Desi sudah beristirahat, Aditya kembali keruang tamu, dimana ada Bella dan juga Indira disana yang masih nampak bingung dengan sikap Aditya.
"Jangan pernah mendatangi ibu, atau menanyakan hal apapun ke ibu," titah Aditya penuh penekanan.
"Kenapa mas? apa salahnya kalau aku bertanya pada ibu?" tanya Bella bingung.
"Itu tidak salah, tapi kalau kalian tidak bisa menghargai ibu sebaiknya kalian diam," mata Aditya menyorot anak dan istrinya penuh kekecewaan.
"Aku tahu kamu menyayangi Indira, tapi bisakah kamu juga bersikap bijak Bella? kalau Indira salah harus kamu tegur," ucap Aditya kepada Bella.
"Memangnya aku salah apa Pah?" tanya Indira.
Aditya tersenyum miris, "inilah akibatnya Bella, kamu lihat sendiri kan? Indira saja bahkan tidak menyadari kalau dia itu bersalah."
"Kamu dengar Papah Indira, apa pantas kamu membentak Nenek?" tanya Aditya dengan tajam.
Indira menunduk, "iya Pah maaf Indira memang salah," ujar Indira lirih.
"Bukan kepada papah kamu minta maaf, tapi Nenek. Kamu tahu? Nenek kecewa dengan sikap kamu," hardik Aditya.
"Mas sudah," Bella mencoba membela Indira.
"Cukup Bella," sentak Aditya secara spontan, dan itu membuat Bella dan juga Indira terkejut.
"Berhenti membela Indira ketika dia bersalah, bagaimana pun Indira harus tahu, apa yang dia lakukan itu salah, kamu tahu? Ibu pergi dari rumah karena dia merasa tidak lagi dihargai oleh kamu, dan juga Indira," seru Aditya.
"Berhenti membela diri, seharusnya kalian introspeksi diri, apa yang ibu katakan itu benar," ujar Aditya, dia berusaha mengontrol emosi nya agar tetap berpikir sehat.
"Kamu Indira," Aditya menunjuk wajah Indira yang tengah menunduk, membuat Indira sedikit mendongak kan wajahnya.
"Seharusnya kamu juga bisa berpikir, kamu dirumahkan supaya kasus kalian semakin redup, malah kalian memikirkan untuk membuat pesta pernikahan? jalan pikiran kalian itu bagaimana sih?" tanya Aditya dengan kecewa.
"Aku tidak mau tahu lagi tentang rencana pernikahan, intinya mulai saat ini jaga sikap kalian, aku tidak mau ibu kabur lagi, apa kalian tidak malu? ibu malah lebih nyaman pergi kerumah Keysha di banding dirumah ini?" tanya Aditya dengan wajah tegas.
Indira dan Bella saling menatap bingung, karena mereka belum tahu kalau Desi pergi kerumah Keysha. Dan setahu mereka Keysha sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Aditya.
"Tapi mas, bukannya..." lagi-lagi ucapan Bella terpotong oleh Aditya.
"Apa? apa kamu ingin berbicara bahwa Keysha sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga kita? mungkin Keysha tidak akan menerima aku, apa lagi kamu dan Indira, tapi ibu? sangat tidak mungkin mereka menolak ibu, sedangkan kamu tahu sendiri kan Bel, bagaimana Keysha dan Marvel sudah menganggap ibu seperti ibunya sendiri? jadi tidak perlu heran."
Bella dan Indira terdiam, benar apa yang dikatakan Aditya, disini Desi tak bersalah dengan apa yang terjadi antara Nando dan Indira, jadi wajar kalau keluarga Keysha masih mau menerima Desi dengan tangan terbuka.
"Aku akan pergi ke resto, jangan ada yang mengganggu istirahat ibu, paham?" tanya Aditya penuh penekanan.
Bella dan Indira pun mengangguk lemah sebagai jawaban bahwa mereka memahami perintah dari Aditya. Setelah itu Aditya pun segera melenggang pergi menuju restoran nya.
Indira terduduk lemas, gara-gara Indira semua jadi terkena dampaknya, apalagi pernikahan kedua orangtuanya. Bella juga nampak pusing, nampaknya dampak video viral tentang Indira sangat berdampak pada restoran juga, pasalnya Bella tahu kalau restoran kini mulai sepi pengunjung, mungkin hal itu juga yang membuat Aditya kesal, ditambah lagi mendengar penuturan Desi ketika dibentak oleh Indira.
Malam harinya, Indira membuka mata dan menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 11 malam, Indira melihat sebelahnya dan tak mendapati Nando disamping nya.
Indira pun melihat kearah balkon, rupanya disana Nando tengah duduk, Indira bermaksud ingin mendatangi Nando dan mengajak masuk kedalam kamar, karena cuaca memang cukup dingin, posisi jendela kaca yang lebar tidak tertutup sempurna, Indira pun hendak membukanya, namun belum sempat Indira melakukannya, dia mendengar percakapan Nando dengan seseorang.
"Pah, Mah ... kalian nggak perlu khawatir, aku benar-benar nggak papa kok, dan video itu cuman salah paham," ucap Nando mencoba menjelaskan kepada orangtuanya.
"Nando, salah paham apa? jelas-jelas gadis bernama Kanaya itu mengatakan kalau kamu dan dia masih ada hubungan, tapi kamu malah menikahi sahabat nya? kamu itu gimana sih? kamu mau bikin malu mamah dan papah? kamu tahu kan, kami selalu mengajarkan kamu agar menjadi lelaki yang bertanggung jawab, tapi kenapa kamu melakukan hal memalukan hal seperti ini?"
"Mah, Nando tahu Nando salah, tapi saat itu kondisinya sangat tidak memungkinkan, aku juga akan merasa bersalah kalau aku tidak menikahi Indira saat itu juga, aku juga sudah meyakinkan hatiku mah saat itu, dan aku yakin Indira adalah istri yang baik," ujar Nando membela Indira.
Terdengar helaan napas berat dari sebrang telepon, "istri yang baik? apa kamu tidak sadar akibat dari keputusan kamu itu? kamu dan Indira dirumahkan selama satu Minggu, dan nama baik kalian tercoreng, apa kalian tidak malu? mamah dan papah saja disini sudah sangat malu."
"Mah, pah, aku harap mamah dan papah tidak perlu memikirkan ini, yang aku inginkan mamah dan papah bisa datang di resepsi pernikahan ku nanti dengan Indira, aku mohon." Nada bicara Nando penuh rasa memelas, membuat Indira menjadi tidak tega, apa lagi orang tua Nando juga nampak kurang setuju dengan adanya pesta pernikahan yang akan mereka gelar dalam waktu dekat.
Sebelum Nando menyadari keberadaannya, Indira langsung kembali keranjang dan memejamkan mata, seolah tak terjadi apapun, meskipun sebenarnya hati Indira juga tengah gelisah, dia takut restu yang dulu sudah diberikan oleh kedua orang tua Nando akhirnya berubah menjadi benci setelah mereka tahu yang sebenarnya.
Tak lama, Nando kembali masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya disamping Indira, Nando menatap wajah Indira intens.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu disamping kamu sayang," batin Nando, dikecupnya kening sang istri cukup lama, dan setelah itu Nando pun terlelap disamping Indira seraya memeluk Indira memberikan kehangatan, tanpa sadar Indira menitikkan air matanya.
"Tanpa aku sadari, aku sudah jatuh cinta sebelum aku menikah dengan kamu Nando, dan itu membuat aku merasa bersalah kepada Kanaya," batin Indira.