
Hari ini Keysha dan Lavanya baru saja selesai fitting gaun terakhir untuk terakhir, karena satu Minggu lagi mereka akan menikah, dan saat ini Keysha, Lavanya dan Raisa tengah di perjalanan pulang. Tapi tiba - tiba Keysha meminta Raisa untuk mengemudi menuju kantor Marvel.
"Silahkan nona" Ucap Raisa membukakan pintu untuk Keysha, karena mereka baru saja sampai di kantor Marvel.
"Terimakasih."
"Mari nona" Ucap Lavanya. Mereka hendak melangkah masuk ke dalam kantor, tapi tiba - tiba saja ada yang menarik Lavanya dan menampar pipi Lavanya dengan sangat keras.
"Loh ibu, apa - apaan ini?" Tanya Keysha yang panik melihat seorang wanita paruh baya mengasari Lavanya.
"Anda tidak perlu ikut campur, ini urusan saya dan dia" Ucap wanita parah baya itu.
"Tapi dia teman saya Bu, saya berhak ikut campur" Ucap Keysha lebih berani.
"Saya tidak mau mengasari anda, karena anda wanita hamil."
Keysha hendak menjawab, namun Lavanya segera menghentikan Keysha.
"Nona, sudahlah.. biar saya yang akan selesai kan" Ucap Lavanya. Keysha benar - benar tidak tega melihat Lavanya, pipi bekas di tampar oleh wanita paruh baya tadi masih membekas.
"Bu, sebenarnya ada masalah apa anda dengan kak Lavanya?" Tanya Raisa, kini dia mulai bersuara.
"Saya hanya ingin mengingat kan tentang derajatnya" Ucap wanita paruh baya itu dengan gaya angkuhnya.
"Maksudnya?" Tanya Keysha dan Raisa bersamaan.
"Kamu Lavanya bukan? Calon istri Farel?" Tanya wanita paruh baya itu sambil bersedekap dada.
"Bagaimana dia bisa tahu?" Batin Keysha.
"Dari mana anda tahu?" Tanya Lavanya.
"Mudah, karena saya ibunya" Ucap nya lagi, yang sontak saja membuat Keysha, Lavanya dan Raisa terkejut.
"Aku hanya ingin mengingat kan kamu, jauhi Farel dan buang jauh - jauh pikiran kamu untuk menikah dengan putraku" Ucap ibu Farel sambil mengacungkan jari di depan wajah Lavanya.
"Bu, kalau bicara bisa biasa aja gak? Bisa lebih sopan? Nggak usah pakai tunjuk - tunjuk" Ucap Raisa, dia sangat tidak suka dengan cara bicara wanita itu.
"Kamu jangan ikut campur ya" Ucap ibu Farel sambil mendorong tubuh Raisa, namun Raisa tidak bergerak sedikit pun.
"Raisa sudah, biarkan aku mengurus ini, kamu bawa nona Keysha masuk ke dalam kantor" Ucap Lavanya memerintahkan kepada Raisa.
"Enggak Raisa, aku mau di sini" Tolak Keysha.
Untung saja saat ini jam operasional kantor, jadi tidak ada karyawan yang berada di luar kantor kecuali beberapa satpam dan anak buah Marvel.
"Sayang..." Tiba - tiba saja, suara yang sangat familiar di telinga Keysha terdengar, Keysha menoleh menuju sumber suara, dan dilihat nya Marvel yang tengah berjalan mendekati Keysha sambil tersenyum, namun berbeda dengan Farel yang berjalan di sisi Marvel, Farel memasang wajah dingin nya.
"Marvel.." Lirih Keysha.
"Kamu datang hmm?" Tanya Marvel setelah dia mendekat pada istrinya, tidak lupa dia mencium kening Keysha.
"Iya.. aku kangen.." Ucap Keysha dengan manja nya.
"Lavanya bawa nona masuk ke dalam" Titah Farel.
"Tapi...." Lavanya hendak menolak, dia ingin di sini dan berbicara dengan ibu Farel, berharap bisa mendapatkan restu dari nya.
"Tidak ada penolakan " Ucap Marvel, dan seketika membuat Lavanya terdiam.
"Raisa, ajak istri ku masuk, dan kamu obati pipi Lavanya" Ucap Marvel.
"Baik tuan" Jawab Raisa patuh.
"Mari nona.. kak Lavanya" Ajak Raisa. Akhirnya mau tidak mau Lavanya dan Keysha pun masuk ke dalam kantor menuju ruang kerja Marvel. Keysha dan Lavanya memiliki pikiran nya masing - masing sekarang tentang apa yang akan terjadi antara Farel dan ibunya.
Setelah sampai di ruang kerja Marvel, Raisa pergi ke tempat OB untuk menanyakan apa kah ada es batu, karena Raisa ingin mengompres pipi Lavanya yang nampak memerah.
"Kak Lavanya.. ayo aku bantu kompres" Ucap Raisa.
"Aku bisa Raisa" Jawab Lavanya, Raisa pun memberikan kompresan kepada Lavanya.
Keysha, Lavanya, dan Raisa masih setia menunggu di ruang kerja Marvel. Raisa sudah sangat bosan karena terus menunggu Marvel dan Farel yang hampir satu jam belum kembali, Lavanya dan Keysha pun nampak tengah berpikir apa yang kini tengah terjadi.
Keysha melihat jam tangannya, dan sebentar lagi jam pulang kantor, "kenapa Marvel dan Farel belum juga datang?" Batin Keysha.
Tidak lama Marvel, dan Farel datang menemui Keysha dan Lavanya, raut wajah Farel datar tak bisa di baca, sedangkan Marvel nampak biasa saja.
"Ayo sayang, kita pulang" Ajak Marvel.
"Sudah selesai?" Tanya Keysha, dia sangat penasaran dengan apa yang di bicarakan dengan ibu Farel, dan berharap Marvel mau bercerita.
"Sudah, ayo pulang.. Raisa kamu bisa pulang lebih dulu" Ucap Marvel.
"Baik tuan" Jawab Raisa.
"Nona.. kak Lavanya, saya permisi yaa" Pamit Raisa.
"Iya Raisa, hati - hati" Ucap Keysha dan Lavanya.
"Ayo" Ajak Marvel lagi, Keysha dan Marvel pun berjalan lebih dulu meninggalkan Farel dan Lavanya.
"Kamu tidak apa - apa?" Tanya Lavanya.
"Ayo pulang" Ucap Farel datar, bukannya menjawab pertanyaan Lavanya, Farel malah membicarakan hal lain. Membuat Lavanya semakin berpikir macam - macam.
"Apa mungkin Farel akan membatalkan pernikahan?" Batin Lavanya.
Keysha dan Marvel sudah lebih dulu pulang menggunakan mobil yang lain dengan Farel.
"Sayang.." Panggil Keysha lirih.
"Ada apa sayang??" Tanya Marvel.
"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Keysha penasaran.
"Tidak terjadi apa - apa kok" Jawab Marvel, Keysha tahu Marvel tengah menutupi sesuatu.
"Jangan bohong.. aku tahu telah terjadi sesuatu, itu aku lihat dari wajah Farel yang nampak tidak bersahabat" Ujar Keysha.
"Baiklah sayang.. aku akan cerita" Ucap Marvel.
"Jadi begini...."
Flashback on
Setelah memastikan Keysha, Lavanya dan Raisa masuk ke dalam kantor Farel langsung mengajak ibunya ketempat lain.
"Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Farel dingin.
"Farel, ini ibu nak, apa kamu tidak rindu ibu?" Tanya Fatma ibu Farel.
"Ibu? Anda yakin anda ibu saya?" Tanya Farel remeh.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Tanya Fatma tak suka.
"Kenapa baru sekarang anda datang menemui saya? Selama ini anda kemana? Saat saya kehilangan ayah, apa anda datang menemui saya? Saya hubungi anda beberapa kali tapi apa? Anda tidak merespon nya sama sekali. Anda lebih memilih hidup bahagia dengan keluarga baru anda, tanpa memikirkan bagaimana kondisi saya saat itu" ucap Farel panjang lebar, napas nya naik turun karena menahan amarah.
"Farel.. ibu.." Fatma bingung harus menjawab apa, dan dia hendak membela diri, namun sepertinya Farel tidak memberi kesempatan itu.
Marvel masih terus menjadi pendengar antara ibu dan anak tersebut, dia nampak sungkan untuk mencampuri urusan mereka berdua, karena Marvel ingin, Fatma menyadari semua kesalahan nya kepada Farel. Farel sendiri nampak sangat muak dengan tangis air mata buaya yang di keluarkan oleh Fatma, Farel tahu Fatma melakukan itu supaya Farel menjadi iba dan bisa memaafkan nya.