
berangkat ke rumah sakit, saat tengah berpamitan, Anggela tiba-tiba datang
menemui menemui Indira.
“Nan, pinjem Indira bentar?” ujar Anggela.
“Iya … cie yang udah mau nikah,” Nando meledek Anggela, karena
Indira meminta izin pada Nando bahwa dia akan pergi bersama Anggela denan
alasan untuk menemani Anggela mengambil foto prewedding di daerah puncak. Tentu
saja Nando mengizinkan.
Nando pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan meninggalkan
kediaman Indira, ternyata ada satu mobil yang mengikuti Nando di belakang,
yaitu Kanaya dan Anita. Hari ini sekolah libur, dan Fellycia diajak oleh Keysha
dan Anisa pergi jalan-jalan, sedangkan Tama sedangn dinas ke luar kota bersama
Marvel. Kanaya mengendarai mobil milik Anita mencoba mengikuti kemana arah
Nando.
Disisi lain, Indira dan Anggela hendak pergi, tapi sebelum itu dia meminta Agus untuk tetap
berjaga di rumah, karena Indira beralasan akan pergi cukup lama dan rumah akan
kosong karena asisten rumah tangga Indira sedang pulang kampung, padahal itu
akal-akalan Indira.Dia sendirilah yang meliburkan asisten rumah tangganya,
supaya Agus bisa percaya.
“Baik Bu, saya akan menjaga rumah kalau begitu,” jawab Agus
membuat Anggela dan Indira tersenyum lega.
Mereka pun melajukan kendaraan menuju daerah puncak, karena
Anggela yakin Nando sudaj memasang alat pelacak di ponsel Indira yang langsung
terhubung dengan Nando, Indira sudah memindahkan semua data penting di
ponselnya dengan ponsel Indira yang baru, karena rencnya Indira akan membuang
ponsel itu didaerah puncak supaya Nando tidak curiga, dan alat pelacak itu akan
terus mendeteksi ponsel Indira berada di daerah puncak.
Selama perjalanan Kanay dan Anggela masih saling terhubung
telepon, kini Kanaya mengatakan bahwa Nando tidak pergi ke rumah sakit,
melainkan menuju ke apartement, disini mereka masih berpikir mungkin Nando akan
mampir ke apartement orangtuanya dulu sebelum ke rumah sakit. Tapi, semuanya
salah ketika Nando keluar dari apartement bersama seorang wanita. Mobil Anita
sudah terpasang kamera, jadi ketika Nando keluar dari gedung apartement bersama
seorang wanita pun sudah terekam bahkan ada bukti fotonya.
“Mereka keliatan mesra ya Nay,” ujar Anita, karena Nando
menggenggam tangan wanita itu yang tidak lain Amanda.
“Iya … dan gua juga anehnya kenapa wanita itu ada di
apartement di gedung yang sama dengan orangtua Nando? Gue yakin sih ini ada
sangkut pautnya sama mereka juga,” ujar Kanaya dengan yakin.
“Bener Nay … dan hari ini semua rahasia mereka akan terbongkar,”
ujar Anita lagi, saat mobil Nando hendak melaju, tiba-tiba Lailla datang
menghampiri mereka membawakan papaerbag, semua itu terekam jelas dalam kamera,
dan kedatangan Lailla seolah memperjelas dugaan Kanaya dan Anita bahwa kedua
orangtua Nando jelas tahu tentang siapa dan apa hubungan Nando dengan wanita
itu, yang lebih mengejutkan lagi, Lailla sempat mengelus perut wanita itu
diserta dengan Nando yang mendekatkan wajahnya dan mencium perut wanita itu.
Adegan tersebut sontak membuat Kanaya dan Anita terkejut, dan menimbulkan
pertanyaan bagi Anggela dan Indira yang hanya bisa mendengarkan deskripsi
kejadian.
“Kalian berdua pasti bakalan kaget kalau gue cerita ini,”
ujar Kanaya.
“Loh emangnya kenapa?” tanya Anggela penasaran.
“Mamahnya Nando dateng, dan loe tahu? Dia ngelus perut
wanita itu, bahkan yang lebih bikin kaget lagi, Nando cium perut wanita itu,”
ucap Kanaya masih dengan keterkejutan yang dia lihat.
“Gue yakin, hubungan mereka pasti cukup serius,” ujar
Anggela, Indira mencoba mengatur nafasnya, bagaimana pun dia harus berusaha
kuat untuk mendapatkan semua buktinya, dan Indira harus bisa mempersiapkan
mentalnya untuk kemungkinan terburuk, yaitu Nando memiliki wanita simpanan.
Anggela menatap Indira dengan sendu, dia mencoba menenangkan
sahabatnya, sebagai seorang wanita Anggela juga bisa merasakan bagaimana
perasaan Indira saat ini, pastinya bercampur aduk.
“Ra … boleh gue tanya sesuatu hal sama loe?” tanya Anggela
meminta izin.
“Boleh …” jawab Indira dengan tenang.
“Gimana kalau ternyata Nando udah menikah lagi di belakang
loe? Dan tanpa sepengetahuan loe pastinya,” tanya Anggela, sebagai seorang
sahabat, dia harus tahu apa respone Indira, supaya mereka bisa berjaga-jaga.
Indira tertawa miris, “gue udah siapain hati dan mental gue
untuk semua kemungkinan terburuk Nggel, sakit hati itu pasti dan mungkin dunia
gue terasa runtuh kalau memang hal itu terjad, apalagi … kalau wanita tengah
mengandung anak Nando, gue yakin gue bakalan hancur. Tapi, gue bakalan berusaha
tegar, gue nggak mau jadi wanita lemah, gue mau mereka membayar atas semua yang
udah mereka lakuin ke gue,” jawab Indira dengan tenang.
“Kita semua ada buat loe Ra …” ucap Anita disebrang telepon,
mereka sampai menangis mendengar perkataan Indira, mereka tidak pernah
menyangka kalau pernikahan Indira akan serumit ini.
Kanaya kembali melajukan
mobilnya mengkuti Nando, kini mereka masih belum tahu kemana Nando akan membawa
wanita itu, yang pasti bukan arah menuju rumah sakit tempat Nando praktik.
Sedangkan disisi lain, Nando
tengah berbahagia setelah mendengar kabar dari Amanda bahwa dia sudah melakukan
test pack dan hasilnya positif. Setelah mengetahui hal itu, dia langsung menuju
apartement Amanda untuk membawa istri keduanya itu cek kandungan.
Bukan hanya mereka berdua
yang berbahagia, melainkan kedua orangtua Nando juga sangat bahagia, akhirnya
hal yang mereka nantikan akan segera terwujud, yaitu menimang cucu. Lailla
bahkan langsung meminta Nando untuk mencari rumah, agar Amanda tidak lagi
tinggal di apartement, supaya anak Nando dan Amanda kelak bisa bersosialisasi
dengan baik, bahkan Lailla juga memaksa putranya untuk mencari asisten rumah
tangga, karena mereka tidak mau kalau Amanda kelelahan dan berakibat fatal pada kandungan Amanda. Selama
perjalanan Nando terus mencium tangan Amanda dengan penuh sayang, dia membawa
Amanda ke rumah sakit lain untuk
memeriksakan kandungan Amanda.
Kini mereka sudah sampai di
rumah sakit tujuan, Nando membantu Amanda turun dari mobil dengan perlahan.
Berhentinya Nando di rumah sakit, malah membuat Kanaya dan Anita bingung,
kenapa Nando malah menuju rumah sakit yang bukan tempatnya bekerja, Anita
mencoba menyamar dengan memakai kacamata dan berjalan agak jauh dari Nando dan
Amanda, sedangkan Kanaya tetap dalam mobil.
Anita mengikuti Nando sampai
berhenti disalah satu ruangan dokter spog, dari sini Anita sudah bisa
menyimpulkan kalau Nando mengantarkan wanita itu untuk memeriksakan
kandungannya, karena sedari tadi Anita perhatikan wanita itu mengelus perutnya
yang masih terlihat rata.
“Amanda, aku daftar dulu ya
sayang?” pamit Nando dan diangguki oleh Amanda, dari sini Anita sudah bisa mendengar siapa nama wanita tersebut,
karena tidak mau Nando melihat kehadirannya disana, Anita pun memilih pergi
dari sana dan menemui Kanaya.
“Bagaimana?” tanya Kanaya
pensaran.
“Mereka menuju dokter spog,
dan gue tahu siapa namanya,” jawab Anita.
“Siapa?” kali ini Indira
yang bertanya lewat sambungan telepon.
“Amanda,” jawab Anita
membuat Indira terkejut.
“Amanda? Nama yang sama
dengan wanita yang pernah aku temui di apartement orangtua Nando, tapi mereka
bilang, Amanda adalah tetangga apartement,” ujar Indira.
“Jangan-jangan Amanda ini
sama denga Amanda yang loe temuin Ra,” ujar Anggel.
“Bisa jadi, karena Nando
jemput wanita ini digedung apartement yang sama dengan apartement orangtua
Nando,” Kanaya menimpali. Kini mereka masih sama-sama bingung, ini seolah
sampai mereka mendapatkan bukti yang mereka inginkan.
Indira juga baru saja
membuang ponselnya didaerah puncak tempat biasanya orang-orang manjadikan
tempat itu spot foto prewedding, supaya Agus maupun Nando tidak curiga kalau
sebenarnya hari ini Indira bersama teman-temannya tengah mengikuti kemanapun
Nando pergi.
Disisi lain, Natasha masih
belum bisa menghilangkan pikirannya tentang Raka, sedari tadi dia terus gelisah
memikirkan rasa bersalahnya pada Raka, bahkan bekerja pun Natasha merasa tidak
bisa fokus. Sampai akhirnya Natasha memilih untuk menghubungi Alden kakak dari
Nathan. Natasha meminta bertemu di rumah sakit, tapi lebih dulu Natasha ingin
mengetahui apakah Nathan ada di rumah sakit atau tidak. Dan jawaban Alden
adalah tidak, rupanya Nathan tengah berada di luar kota bersama Arya ayahnya.
Natasha pun lega, akhirnya
Natasha meminta seidkit waktu Alden karena Natasha bilang ada hal yang sangat
penting untuk disampaikan pada kakak mantan pacarnya itu. Alden awalnya agak
bingung, tidak biasanya Natasha meminta bertemu dengannya, tapi mengatakan ada
sesuatu hal yang penting, jadi Alden pikir mungkin Natasha perlu bantuannya.
“Maaf ya kak, aku ganggu
waktu kakak,” Natasha nampak tidak enak.
“Sudahlah Natasha, kakak
juga nggak sibuk kok, eeemm jadi ada apa?” Alden begitu penasaran, apa yang
sebenarnya membuat Natasha begitu ingin bertemu dengannya.
“Boleh aku lihat ruang cctv
kak?” tanya Natasha, “pasalnya disana kakak akan tahu apa penyebab aku meminta
bertemu dengan kakak,” ujar Natasha lagi.
“Baiklah ayo.” Alden pun
mengajak Natasha menuju ruang cctv, kemudian Natasha meminta kepada penjaga
cctv mencarikan rekamana di tanggal dimana Natasha datang menemui Nathan, dan
Natasha hanya ingin lihar cctv yang berada di lantai ruangan Nathan berada.
Akhirnya cctv rekaman
ditanggal yang Natasha minta pun muncul, Natasha melihat kedatangan Nabila 2
jam lebih dulu sebelum dirinya datang.
“Nah kakak lihat siapa yang
datang?” Natasha meminta satpam mempause ketika tepat kedatangan Nabila, dari
mulai keluar dari lift sampai masuk ke dalam ruang kerja Nathan.
“Nabila?” ucap Alden hampir
tidak percaya, dia tidak tahu kalau ternyata Nabila cukup dekat dengan Nathan
bahkan sampi berkunjung.
“Benar kak , naah sekarang
kita lihat, berapa lama Nabila berada disana,” ujar Natasha, dia meminta
satpam sedikit mempercepat rekaman cctv,
dan ketika rekaman memperlihatkan kedatangan Natsha, dia meminta satpam kembali
menghentikan rekaman tersebut.
“Lihat kan kan? rentang
waktu kedatangan Nabila dengan kedatangan ku?” tanya Natasha pada Alden.
“Iya, hampir 2 jam kurang 5
menit, dan Nabila belum keluar kan?” tanya Alden bingung, apa yang sebenarnya
adiknya itu bicarakan dengan tunangan Raka, kenapa bisa memakan waktu selama
itu. Perasaan Alden mulai tidak enak.
“Benar,” Natasha membenarkan
apa yang Alden pikirkan, kemudian Natasha meminta satpam kembali memutar
rekaman cctv dan sedikit dicepati sampai dengan keluarnya Natasha dan disusul
oleh Nabila, kembali Natasha meminta satpam menghentikannya.
“Apa yang kakak lihat?”
tanya Natasha lagi.
“Kamu marah? Dan Nabila
mengejar kamu dengan tergesa,” jawab Alden, hal itu sangat jelas terlihat.
“Pak tolong dibesarka suaranya bisa?” tanya Natasha kepada satpam.
“Bisa Bu,” satpam pun melaksanakan
apa yang Natasha minta, dari rekaman cctv dapat Alden dengar bagaimana
pembicaraan Natasha dengan Nabila, dimana Nabila berkata hubungannya dengan
Nathan hanya sebatas meluapkan rasa bosan mereka terhadap hubungan yang
monoton, bahkan Alden juga mendengar perjanjian yang dilakukan oleh Natasha dan
Nabila. Betapa terkejutnya Alden dengan pengakuan yang keluar dari mulu Nabila
sendiri yang mengakui bahwa Nabila dan Nathan meenjalin hubungan special
dibelakang Raka dan Natasha.
Alden menatap Natasha dengan
tatapan bingung, sedangkan Natasha masih
bersikap santai, tidak lupa Natasha meminta salinan cctv tersebut. Karena sudah
disetujui oleh Alden, satpam pun memberikan salinan cctv tersebut kepada
Natasha.
“Jadi bagaimana hubungan
kamu dengan Nathan?” Tanya Alden, kini mereka sudah berada di ruang kerja
Alden.
“Aku mengakhiri semuanya
kak,” jawab Natasha.
“Kenapa kamu nggak bilang
sama kakak hari itu?” tanya Alden masih tidak habis pikir.
“Aku takut, nggak ada yang
percaya sama aku kak,” jawab Natsha sendu.
Alden menghela napasnya,
“Natasha … dengarkan kakak ya … meskipun Nathan adalah adik kandung kakak, tapi
kalau dia bersalah maka kakak harus mengingatkannya. Apalagi ini masalah yang
cukup serius Natasha, Nabila adalah calon istri Raka …” ucap Alden, “lalu apa
Raka sudah tahu?” tanya Alden lagi.
Natasha menggelengkan
kepalanya lemah, “belum kak, aku bingung untuk mengatakan kepada Raka atau
tidak, aku takut Raka tidak akan percaya, dan aku nggak tega lihat Raka hancur
karena mengetahui pengkhianatan tunangannya dengan orang yang ssangat dia
kenal. Aku juga nggak tga dengan tante Keysha,” ujar Natasha lemah.
“Apapun itu Natasha,
semenyakitkan apapun kenyataan, mereka harus terima,” saran Alden, “ya sudah,
biar kakak bantu kamu menjelaskan semuanya ya kepada Raka dan keluarganya?”
Alden tahu kalau Natasha adalah wanita yang tidak tegaan, jadi Alden akan
membantunya.
Natasha hampir tidak percaya
dengan apa yang dikatakan oleh Alden, “kakak yakin?” tanya Natasha, pasalnya
ini juga menyangkut Nathan yang tidak lain adik dari Alden sendiri.
“Iya, kakak yakin,” jawab
Alden, “kakak akan hubungi Raka beserta keluarganya,” jawab Alden dengan
tenang, dan diangguki oleh Natasha, dia berharap ini adalah jalan yang terbaik,
dengan begitu rasa bersalah yang menggelayuti hati Natasha akan berkurang, dia
tidak akan lagi menanggung beban rasa bersalah akibta perselingkuhan yang
dilakukan Nabila dan Nathan, mereka memang harus membayar apa yang sudah mereka
lakukan.
Nabila sudah berani bermain
api, maka dia harus bisa merasakan panasnya bukan? Nabila yang tidak puas
dengan apa yang dimiliki, keserakahan yang menggerogoti hatinya dan tidak puas
hanya dengan satu cinta, membawanya ke jurang kehancuran. Hal indah yang sudah
dia rancang bersama Raka akan sirna begitu saja, dengan terungkapnya hubungan
gelap antara dirinya dengan Nathan.
Sudah bisa dipastikan, baik
Raka maupun keluarganya tidak bisa lagi menerima Nabila sebagai bagian dari
keluarga Atmadja, karena tentu sebagai orangtua, baik Keysha mauun Marvel ingin
putranya mendapatkan pendamping yang baik. Selama ini keluarga Keysha sudah
sangat baik memperlakukan Nabila, mereka sudah menganggap Nabiala selayaknya
putri kandung mereka sendiri, namun apa balasannya? Nabila malah bermain-main
dengan hati putra mereka.
Selama ini Raka sudah
berusaha menjaga cinta mereka dan menjaga Nabila, karena bagi Raka, kelak dia
bisa merasakan kehangat Nabila, tapi setelah mereka sah menjadi pasangan suami
istri, itu semua Raka lakukan demi menjaga martabat Nabila, tapi ternyata
Nabila memilih ranjang dan pria lain yang bisa merasakan tubuhnya, dia serahkan
semuanya kepada Nathan.