
Bella terus menatap Indira dengan curiga, dia tahu ada suatu hal yang terjadi, dan itu menyangkut video yang tengah menjadi perbincangan hangat.
"Katakan ada apa?" desak Bella kepada Indira.
"Kami dirumahkan selama 7 hari Mah," jawab Indira seraya menunduk.
Bella memejamkan matanya sejenak, kemudian berkata, "kalian yang sabar ya, mungkin ini salah satu ujian dalam pernikahan kalian."
"Iya Mah," jawab Nando dan Indira bersamaan.
"Eem Mah, jadi kita ada rencana selama aku dan Nando dirumahkan, kami ingin meresmikan pernikahan agar sah secara negara juga, dan kami juga ingin menggelar pesta pernikahan," ujar Indira.
"Mamah sih setuju, karena mamah juga nggak mau kalau anak perempuan mamah satu-satunya hanya menikah secara siri, kalau kalian ada pikiran kesana mamah lebih senang," jawab Bella.
"Syukurlah kalau begitu Mah, aku minta tolong ya Mah, nanti Mamah bantu jelasin ke papah soal rencana ini," pinta Indira.
"Iya sayang," jawab Bella seraya mengelus pipi Indira halus.
"Kalau begitu, aku dan Indira akan menyiapkan berkas untuk kami bawa ke KUA mah, karena aku dan Indira hanya punya waktu satu Minggu," jelas Nando.
"Mamah berharap semoga acara kalian lancar ya?" ucap Bella penuh harap.
"Kalian akan mengadakan pesta?" suara yang sangat familiar terdengar dengan nada bicara yang kurang bersahabat.
"Nenek?" ucap Indira dan Nando bersamaan.
"Iya Bu, anak-anak akan mengadakan pesta pernikahan," ujar Bella kepada Desi yang baru saja duduk.
"Kalian ini tidak punya malu atau apa? berita kalian sudah viral dimana-mana, dan kalian akan mengadakan pesta resepsi pernikahan? apa kalian tidak berpikir kalau hal itu hanya membuat suasana semakin panas?" Hardik Desi, nada bicara Desi yang tidak lembut seperti biasanya membuat Indira termangu, dia tahu pasti neneknya kurang suka dengan pemberitaan tentang nya selama beberapa hari ini, belum lagi pernikahannya dengan Nando yang jelas membuat Kanaya sakit hati.
"Nek, justru di resepsi pernikahan kami nanti, aku ingin meluruskan semuanya, agar Indira tidak terus menerus disalahkan," ujar Nando halus.
"Tidak terus menerus disalahkan?" Desi berbicara seraya menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya dengan jawaban Nando.
"Jadi kalian memang tidak merasa bersalah? kalian sudah menyakiti Kanaya, apa lagi kamu Indira," Desi menunjuk tepat diwajah Indira, yang membuat Indira sedikit terkejut, pasalnya baru kali ini Indira melihat neneknya semarah ini.
"Kamu dan Kanaya sudah bersahabat sedari kecil, dan dengan teganya kamu melakukan itu kepada Kanaya? kamu rebut Nando dari Kanaya yang pada saat itu masih menjadi sepasang kekasih, apa hal seperti itu masih bisa dimaklumi?" tanya Desi dengan dingin.
Indira sudah tidak tahan lagi, dia sudah cemooh dan banyak dari mereka yang mengatakan Indira adalah pelakor dan lain sebagainya, dan Indira masih tetap diam, namun nampaknya kali ini emosi Indira sudah diambang batas, dia sedih karena neneknya yang selama ini sangat menyayanginya bisa mengatakan hal seperti itu, Indira merasa neneknya lebih menyayangi Kanaya dibanding dengan Indira.
"Cukup Nek !!" seru Indira, sontak Bella dan Nando pun terkejut mendengar Indira membentak Desi.
Nando memegang pundak Indira sembari mengatakan, "Indira, kamu tidak boleh berbicara dengan nada keras seperti itu," ucap Nando menasehati.
"Aku lelah Nando, semua orang menyudutkan aku, semua orang menghakimi aku, kalau itu orang lain aku tidak masalah, tapi kali ini yang berbicara adalah nenek ku sendiri," ucap Indira seraya terisak.
"Kamu itu memang keras kepala," ucap Desi, kemudian dia pergi meninggalkan Bella, Nando, dan Indira.
"Nando, titip Indira ya, tenangkan dia, mamah mau kejar ibu dulu," pamit Bella, dia pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Desi kekamar.
Nando membawa Indira kekamar untuk beristirahat, Nando tahu pasti Indira lelah, lelah batin dan fisiknya.
"Aku tahu kamu kesal, marah dan kecewa, aku paham itu sayang, tapi bagaimanapun kamu harus menjaga sikap kamu didepan orang tua," ucap Nando menasehati Indira.
"Aku tidak tahu harus bagaimana Nando, aku lelah karena aku merasa sendirian, semua orang menyudutkan aku, tidak ada yang mengerti aku," jawab Indira seraya terisak.
Nando menangkup kedua pipi Indira, "hei jangan bicara begitu, kamu nggak sendirian sayang, ada aku dan mamah Bella, kamu tahu kan? jadi aku mohon jangan merasa sendirian, kita akan hadapi semuanya bersama," Nando menggenggam tangan Indira mencoba meyakinkan kepada Istrinya, bahwa dia akan selalu berada disamping Indira apapun yang terjadi.
Indira pun mengangguk pelan, entah kenapa mendengar penuturan Nando membuat Indira lega.
Nando tersenyum dan berkata, "Kamu istirahat ya, untuk urusan ke KUA biar aku sendiri," ucap Nando, bagaimana pun dia harus menyerahkan berkas berupa bukti bahwa dia dan Indira sudah menikah secara siri, agar nanti dia juga cepat mengabari wedding organizer untuk menyiapkan rencana pesta pernikahan.
"Kamu yakin?" tanya Indira ragu.
"Aku yakin, kamu tenang saja," Nando mencoba meyakinkan Indira.
"Ya sudah, aku bantu siapkan berkas yang dibutuhkan ya? oh iya kamu jangan lupa kabari mamah dan papah," Indira mengingatkan kembali kepada Nando, bagaimanapun orang tua Nando juga harus tahu tentang rencana pesta pernikahan yang akan mereka gelar.
"Eemm iya, nanti aku kabari mereka ya sayang, ya sudah ayo siapkan berkasnya." Kemudian Indira pun menyiapkan berkas yang dibutuhkan.
Sedangkan disisi lain, Bella tengah berada dikamar Desi, dia tengah berbicara dari hati kehati, mencoba memberi pengertian kepada Desi, agar Desi tidak lagi menyudutkan Indira.
"Bu, atas nama Indira, Bella minta maaf ya, maaf kalau tadi perkataan Indira ke ibu cukup kasar," ucap Bella dengan sungguh-sungguh, namun Desi sama sekali tidak menjawab.
"Bu, boleh tidak kalau ibu jangan menyudutkan Indira lagi, kasihan Bu Indira dia juga pasti merasa menyesal atas semua kejadian ini, tapi mungkin ini takdir Allah mempertemukan jodoh Indira dengan Nando, meskipun mungkin dengan cara seperti, dan mungkin dengan ini juga sebagai ujian pernikahan mereka Bu, kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan kepada mereka." Jelas Bella.
"Kamu bisa sesantai itu mengatakan hal ini? apa kamu tidak malu Bella? dengan apa yang sudah Indira lakukan?" tanya Desi.
"Bu, ini takdir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, aku sedih karena sekarang semua teman-teman ku menjauhiku Bu, tapi apa boleh buat, yang bisa kita lakukan hanya menjalani nya dengan tabah," jawab Bella.
"Ibu rasa percuma berbicara dengan kamu, pergilah ibu ingin istirahat," Desi pun membaringkan tubuhnya, membelakangi Bella. Dengan berat hati Bella keluar dari kamar Desi, nampaknya pembicaraan nya dengan Desi tidak membuahkan hasil.