
Rupanya undangan pernikahan Kanaya dan Tama sampai juga
ditangan Indira dan Nando, Nando menatap undangan yang bertuliskan nama Kanaya
dan juga Tama tanpa minat. Entahlah Nando juga merasa bingung dengan
perasaannya sendiri, hatinya terasa perih melihat undangan yang dikirim oleh
salah satu anak buah Marvel.
(Contoh undangan)
“Kamu kenapa?” tanya Indira yang merasa tidak beres dengan
ekspresi Nando setelah menerima undangan pernikahan Tama dan Kanaya.
“Nggak apa-apa,” jawab Nando mengelak.
“Jangan bohong, aku tahu kamu cemburu. Kamu masih mencintai
Kanaya?” tanya Indira menatap suaminya penuh intimidasi.
“Nggak usah cari perkara deh Ra, nggak usah ngarang juga.”
Nando mencoba untuk berkilah.
“Kamu …” Indira tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena
perutnya tiba-tba saja merasa mual, dia pun segera berlari menuju ke kamar mandi.
“Loh Indira? kamu kenapa?” Nando masuk kedalam kamar mandi
dan memijit tengkuk Indira agar bisa sedikit membantunya. Setelah mualnya
sedikit mereda, Nando pun mengajak Indira untuk duduk di ranjang dan dia pergi
ke dapur membuatkan teh hangat.
“Minumlah dulu,” Nando memberikan segelas the hangat kepada
istrinya.
“Kamu kenapa?” tanya Nando, dia melihat wajah Indira yang
nampak pucat, namun badannya tidak panas sama sekali.
Indira terdiam dan melangkah menuju kalender, “Nando … aku
terlambat datang bulang,” ujar Indira.
“Artinya?” Nando belum paham apa maksud Indira.
“Bisa jadi aku …. Hamil,” jawab Indira. dia pun mengambil
testpack yang ada di lacinya dan segera masuk ke kamar mandi, Nando pikir
Indira kembali mual.
“Indira kamu kenapa?” Nando mengetuk pintu kamar mandi.
“Sebentar!!” sahut Indira dari dalam, Nando pun menunggu istrinya
dengan harap-harap cemas. Tidak lama, Indira keluar dari kamar mandi dengan
membawa tastpack ditangannya.
“Ada apa?” tanya Nando, karena dia bingung Indira memberikan
testpack itu padanya.
“Lihat,” jawab Indira, setelah Nando melihat testpack
tersebut rupanya terdapat garis dua, yang artinya Indira hamil. Nando langsung
memeluk Indira dengan senyum bahagia.
“Kita ke rumah sakit ya sekarang?” ajak Nando dan diangguki
oleh Indira.
Sebelum ke rumah sakit, mereka memberitahukan terlebih
dahulu kepada kedua orangtua Indira, bahwa Indira positive hamil, tentu saja
keluarga Indira sangat bahagia. Bahkan akhirnya Bella dan Desi pun ikut
mengantar Indira ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kehamilan Indira,
sedangkan Aditya harus mengurus bisnisnya.
“Bagaimana Dok?” tanya Nando pada Dokter yang tengah
memeriksa kandungan dengan usg.
“Nah bisa Bapak dan Ibu lihat disini, ini janinnya ya … dan
menggerakkan alat usg diatas perut Indira. setelah menjelaskan lebih detail,
akhirnya Dokter pun menyudahi.
“Karena kondisi kehamilan yang masih sangat rawan, jadi saya
sarankan agar Ibu bisa lebih banyak beristirahat, jangan melakukan pekerjaan berat, nanti saya
akan berikan resep vitamin dan penguat kandungan ya..”
“Baik Dok terimakasih,” Nando pun mengajak Indira untuk
keluar dari ruang periksa, dan menitipkan pada Bella dan Desi, karena dia akan
ke apotek terlebih dahulu.
Saat Indira, Bella dan Desi tengah duduk menunggu Nando,
tiba-tiba saja Desi memanggil seseorang yang tengah melewati mereka sembari
fokus pada makalah.
“Kanaya,” panggil Desi membuat Kanaya menoleh, karena
ternyata rumah sakit yang mereka datangi adalah tempat Kanaya bekerja.
“Nenek?” tanya Kanaya, dia nampak bingung kenapa bisa Desi,
Bella dan Indira ada disini.
“Ini … kenapa Nenek ada disini, apa ada yang sakit?” tanya
Kanaya dengan hati-hati.
“Ohh enggak kok, kami mengantar Indira, dia sedang hamil,”
bukan Desi yang menjawab melainkan Bella. Dari nada suaranya, sangat kentara
kalau Bella tengah memperlihatkan bahwa pernikahan Indira dan Nando baik-baik
saja bahkan mereka sangat bahagia apalagi dengan kabar kehamilan Indira.
“Ohh begitu, kaalau begitu selamat,” Kanaya mengulurkan
tangannya dan berbicara dengan sangat santai, seolah tidak ada beban lagi.
Indira nampak ragu untuk membalas uluran tangan Kanaya,
namun dengan perlahan akhirnya dia menjabat tangan wanita yang menjadi
sahabatnya dulu.
“Semoga kamu dan calon anak kamu selalu sehat ya? dan bisa dilancarkan sampai hari lahiran
nanti,” ucap Kanaya dengan tulus.
“Terimakasih,” jawab Indira, rasanya sangat canggung bagi
Indira setelah semua yang terjadi kini dia dan Kanaya benar-benar berbeda.
“Saya mengucapkan selamat juga untuk tante Bella dan om
Aditya karena akan kehadiran calon cucunya,” ucap Kanaya.
“Terimakasih ya? Mamah kamu juga sudah memiliki cucu kan
sekarang Kanaya?” ujar Bella.
“Maksud tante?” Kanaya mengernyitkan alisnya, bukan hanya
Kanaya tapi bahkan Desi dan Indira.
“Iya, Fellycia … dia terlihat sangat dekat dengan kamu,
bahkan kalian terlihat mirip, apalagi kamu dan Tama akan segera menikah kan?
jadi Felly juga akan menjadi anak kamu, itu berarti Felly juga cucu mamah kamu,”
jelas Bella.
Kanaya tersenyum, “oh iya tante tentu,” jawab Kanaya
sekenanya, karena ini masih jam kerja jadi Kanaya tidak bisa terlalu lama mengobrol,
dia pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat Kanaya kembali
melangkah, dia berpapasan dengan Nando yang juga baru kembali dari apotek. Kanaya
hanya tersenyum tipis kearah Nando dan kembali melanjutkan langkahnya.
‘Kanaya, dulu kamu menyambut dan menyapaku dengan penuh
cinta, kini itu semua berubah..’ batin Nando.