
Kanaya menumpahkan semua tangisnya dalam mobil, Kanaya merutuki dirinya sendiri, dia merasa menjadi wanita paling bodoh karena terus berharap dengan hati yang sudah pasti bukan untuknya.
"Gue bodoh, bodoh, bodoh," Kanaya memukul stir mobilnya.
"Seharusnya gue nggak Dateng tadi," ucap Kanaya seraya menghapus kasar air matanya. Dia kembali memikirkan kata-kata Tama, yang mengatakan bahwa Tama dan Vanes akan menikah, membuat hati Kanaya semakin pedih ketika mendengar nya.
Kanaya menghela napas panjang, "ini adalah ikhlas gue yang paling serius Tam, gue bener-bener ikhlas ngelepas loe, mulai sekarang gue nggak mau ketemu loe lagi, apapun yang terjadi." ucap Kanaya tersenyum getir, Kanaya juga menatap restoran tempat nya bertemu dengan Tama tadi.
Dia melirik jam tangannya, sebentar lagi jam makan siang selesai, Kanaya pun bergegas menuju kembali ke rumah sakit.
Di sisi lain Tama masih memikirkan Kanaya yang langsung pergi begitu saja tanpa menyentuh makanan nya, ada raut khawatir dari wajah Tama, yang sangat terlihat jelas.
"Kanaya pasti marah dan benci sama gue," lirih Tama, ***** makan nya langsung hilang, ketika mengingat ucapan Kanaya yang tersirat akan kekecewaan.
"Harus nya gue nggak perlu ngomong gitu," sesak Tama, dia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari restoran.
Kanaya baru saja tiba di rumah sakit, dia langsung mencari Indira, dia butuh teman yang bisa mengerti perasaan nya sekarang, dan Indira adalah orang yang tepat.
"Indira," Kanaya masuk ke dalam ruangan indira, tadi suster bilang Indira sedang tidak ada pasien.
"Nah loe kenapa?" tanya Indira khawatir, pasalnya Kanaya datang dengan terisak.
"Tama Ngapain loe?" tanya Indira khawatir.
"Gue bodoh Ra, gue harus nya nggak datang kesana."
"Nay, loe tenang dulu ya ... setelah loe tenang,baru loe cerita," ucap Indira. Setelah beberapa menit Kanaya akhirnya sudah lebih tenang, Indira pun memberikan air mineral kepada Kanaya.
"Sekarang loe cerita, sebenarnya ada apa?" tanya Indira.
"Tadi, Tama ngajak makan siang, terus sampai sana dia bilang, makasih karena berkat gue, Tama sama Vanes mendapatkan restu sama Tante Anisa, yang waktu itu gue cerita ke loe Ra, masalah Tante Anisa pergi. Tapi, berikut nya dia bilang, kalau gue harus ngejauhin Tante Anisa demi Vanes, supaya Vanes bisa lebih dekat sama Tante Anisa, karena Tama dan Vanes akan segera menikah," lagi-lagi Kanaya terisak.
Indira merasa iba dengan Kanaya, dan Indira juga sangat kesal dengan sikap Tama, "sabar Nay," Indira hanya bisa menenangkan Kanaya, dia juga bingung harus berbuat apa.
"Jadi Tama mau nikah?" tanya Indira lagi memastikan.
"Iya, bahkan mereka sudah menentukan tanggal," jawab Kanaya sendu.
"Gue bener-bener akan melupakan Tama, gue nggak mau terus-terusan mengharap yang nggak pasti," ujar Kanaya.
"Itu memang yang terbaik Nay," jawab Indira.
Sedangkan Tama, baru saja sampai di kantornya, Anggela, atau lebih akrab disapa Anggel, sebagai sekretaris Tama pun langsung menunduk kan kepala hormat.
"Siang Pak Tama, nona Vanes sudah menunggu anda di dalam," ujar Anggel.
"Terimakasih," ujar Tama, dia pun langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Sayang," Vanes langsung bergelayut manja di lengan Tama.
"Kok kamu lama banget sih, dara mana?" tanya Vanes dengan nada manjanya.
"Habis ketemu Kanaya," jawab Tama lesu.
"Kanaya? kok lama banget?" nada suara Vanes berubah kesal, sangat terlihat bahwa Vanes tak suka Tama bertemu dengan Kanaya.
"Kamu bilang aku harus menyampaikan apa yang kamu mau," ucap Tama.
"Ya tapi kenapa lama banget? aku kan nungguin di sini dari tadi," kesal Vanes.
"Aku ajak Kanaya makan siang juga," jawab Tama.
"Apa? makan siang?!" seru Vanes.
"Iya," jawab Tama.
"Kamu tuh apa-apaan sih, masa cuman bilang ke Kanaya buat ngejauhin mamah kamu aja, kamu ajak makan siang," ucap Vanes kesal.
Tama yang sedari tadi memikirkan Kanaya pun mulai terpancing emosi, "ya terus gimana? masa aku harus ngomong to the point ke Kanaya, jangan lupa ya Nes, kita dapet restu dari mamah, juga berkat Kanaya, ada campur tangan Kanaya," seru Tama kesal.
Vanes tertegun, ini pertama kali Tama membentaknya, "kamu bentak aku?" tanya Vanes tak percaya.
Tama mengacak rambut nya frustasi, "maaf sayang ... maaf," Tama langsung memeluk Vanes erat.
"Aku minta maaf ya...." ucap Tama lagi, Vanes pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku memang harus menjauh," ucap Kanaya yakin. Dia pun masuk kembali kedalam selimut dan mencoba untuk memejamkan mata, mencoba untuk melupakan lara.
Keesokan paginya, Kanaya melihat Keysha yang tengah menyiapkan sarapan seperti biasa. Dia pun langsung mendekati Keysha.
"Mah," sapa Kanaya.
"Hai sayang, berangkat shift apa hari ini?" tanya Keysha.
"Siang mah," jawab Kanaya.
"Ya sudah, duduk dulu, sambil nunggu yang lain ya?" ucap Keysha.
"Ada yang mau aku omongin sama Mamah," ucap Kanaya lagi.
Keysha pun mengangguk, dan meminta asisten rumah tangganya untuk melanjutkan menyiapkan sarapan, kemudian Keysha dan Kanaya menuju Gazebo, tampar yang nyaman untuk berbicara.
"Ada apa sayang?" tanya Keysha halus.
"Mah, aku mau ke luar negeri," ujar Kanaya to the point. Dia sudah memikirkan hal ini sejak semalam.
"Kemana?" tanya Keysha.
"Aku mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu rumah sakit terbaik di Amerika, aku rasa ingin mengambilnya," jawab Kanaya yakin.
"Kamu sudah memikirkan ini?" tanya Keysha.
"Sudah kok Mah ... tinggal meminta persetujuan dari Mamah, dan papah," jawab Kanaya.
"Baiklah, jika itu memang yang kamu ingin kan, tapi nanti kamu coba bicara dengan papah ya, siapa tahu papah punya pendapat lain," ujar Keysha.
"Iya Mah, makasih ya," Kanaya memeluk Keysha, rasanya nyaman sekali berada di pelukan sang ibu. Meskipun berat bagi Kanaya untuk meninggalkan semua kenangan itu, namun dia harus tetap melakukannya, Kanaya tidak mau terus terjebak di cinta bertepuk sebelah tangan.
Saat sarapan, Kanaya juga menyampaikan rencananya kepada Marvel dan juga Raka, Marvel sempat merasa keberatan dengan keinginan Kanaya mengambil tawaran dari Amerika, namun Kanaya meyakinkan, dia ingin pergi ke sana.
Akhirnya Marvel pun menyetujui, dia berjanji, akan sering datang mengunjungi Kanaya disana, namun Raka nampak kurang setuju dengan hasil akhir nya, dia tidak mau jauh dari kakaknya, dia ingin melindungi kakak perempuan nya itu.
Namun Raka tidak bisa berbuat banyak, karena itu sudah menjadi keputusan Kanaya, bahkan Kanaya sudah memikirkan semuanya dengan matang. Keysha, Marvel, dan juga Raka tak ada yang tahu sebenarnya apa penyebab Kanaya ingin pergi dan menerima tawaran pekerjaan di Amerika, yang mereka tahu, Kanaya hanya ingin menambah pengalaman dan pengetahuan nya supaya lebih luas wawasan.
Besok adalah pernikahan Tama dan Vanes, pernikahan akan di gelar di salah satu gedung, namun dilaksanakan secara tertutup, karena mereka belum mempersiapkan untuk resepsi, besok hanya akan ada ijab qobul, yang dihadiri oleh keluarga, dan kerabat dekat, untuk resepsi rencananya akan digelar 2 Minggu lagi, dan mereka juga akan mengundang beberapa media, serta mengundang semua kolega-kolega Tama.
Kanaya sudah memegang sebuah surat pengunduran diri yang dia buat, dia menghela napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang kepala rumah sakit, atau dokter Oki Pratama.
Kanaya masuk, dan duduk di salah satu kursi setelah dipersilahkan oleh Oki.
"Ada apa Kanaya?" tanya Oki.
"Ini dok, surat pengunduran diri saya," Kanaya menyerahkan surat pengunduran dirinya. Beberapa hari lalu, Kanaya memang sudah berkonsultasi terlebih dahulu kepada Oki tentang keputusan nya, sebenarnya Oki juga merasa berat melepas Kanaya, karena Kanaya merupakan salah satu dokter bedah terbaik di rumah sakit milik Oki.
Namun Oki mengerti, Kanaya ingin lebih mengembangkan lagi karir nya, serta pengalaman nya, jadi Oki pun memahami dan menyetujui pengunduran diri Kanaya.
"Baiklah, kalau kamu memang sudah yakin, saya terima." Oki menerima surat pengunduran diri tersebut.
"Terimakasih dok, saya harap dokter menepati janji, untuk tidak mengatakan kepada Tama atau yang lain," ujar Kanaya.
"Saya janji," jawab Oki.
"Terimakasih dok, untuk kesempatan yang dokter berikan kepada saya," Kanaya berdiri dan menjawab tangan Oki.
"Saya yang berterimakasih kepada kamu Kanaya, terimakasih atas dedikasi kamu selama ini di rumah sakit, saya harap Karir kamu akan lebih cemerlang nantinya," ujar Oki tulus.
"Terimakasih dok, kalau begitu saya permisi." Kanaya pun keluar dari ruangan Oki, dia sudah membawa beberapa barang-barang nya, karena jam praktek nya juga sudah usai.
Para rekan kerja di rumah sakit, sudah berbaris, mereka menunduk sedih karena Kanaya sudah menyerahkan surat resign, tak terkecuali Indira.
Indira bahkan sudah menangis dengan terisak, melihat sahabat nya menangis membuat Kanaya ikut bersedih, dia pun memeluk Indira sebagai pelukan perpisahan.
"Kamu jaga diri ya Nay, jangan lupa kabarin aku," ujar Indira terisak.
"Iya Ra, pasti."
Setelah berpamitan dengan rekannya, Kanaya pun keluar dari rumah sakit, dia menatap gedung rumah sakit dengan pandangan sendu.
"Selamat tinggal semuanya," batin Kanaya. Dia melangkah kan kaki menuju mobilnya, dan meninggalkan pekarangan rumah sakit.