
Akhirnya setelah Keysha siuman, dia pun mengganti pakaian
kebayanya, dan menuju ke rumah sakit bersama Marvel dan Raka, sesampainya di
rumah sakit, mereka melihat Alena dan yang lain berdiri dengan sendu didepan
ruang jenazah.
“Siapa yang selamat?” tanya Keysha.
“Sebaiknya kamu masuk Key,” jawab Zahra sendu, dia tidak
bisa menahan isak tangisnya.
Akhirnya Keysha, Marvel dan Raka berjalan dengan lengkah
yang sangat berat, mereka masuk keruang jenazah, 3 mayat pun dibuka oleh
perawat membuat Keysha langsung menangis histeris.
“Bu Desi !! Aditya, Bella … Ya Allah kenapa jadi begini,”
Keysha benar-benar lemas tak berdaya melihat orang-orang yang pernah hadir
dalam kehidupannya sudah terbujur kaku dengan wajah pucat.
“Sabar Mah …” Raka dan Marvel mencoba menangkan Keysha.
Marvel pun tidak menyangka, kalau bu Desi , Aditya dan Bella harus meninggal
dengan cara yang sangat tragis. Mendengar Keysha yang menangis dengan pilu,
membuat sahabat Keysha juga tidak tega, bagaimana pun mereka semua pernah
sangat dengan Bella, dan kini mereka menyaksikan Bella, Aditya dan Desi
terbujur kaku.
Keysha keluar dari ruang jenazah, dan menurut mereka
bagaimana pun Kanaya dan Tama harus tahu soal hal ini, karena biar Kanaya juga
beberapa kali terlibat masalah dengan Bella, jadi sebaiknya Kanaya datang
supaya jalan Bella bisa lebih tenang.
“Bagaimana Indira dan Nando?” tanya Marvel.
“Kondisi Indira dan Nando masih sama-sama kritis, dan anak
–anak yang menjagam,” jawab Alena.
“Bagaimana dengan pemakaman Vel?” tanya Alby.
“Kita harus tetap melakukan pemakaman besok, kita tidak bisa
menunggu Indira, karena itu juga tidak baik,” ujar Marvel.
“Ya sudah, karena memang sebaiknya jenazah cepat
dimakamkan,” timbal Farel.
“Kita sama-sama ya? mengurus pemakaman, karena keluarga
almarhumah bu Desi sudah tidak ada,” ujar Marvel dan diangguki oleh semuanya.
Disisi lain, Kanaya dan Tama baru saja selesai mandi, tapi
mereka masih sama-sama canggung, Tama sendiri merasa kaku dan bingung harus
apa. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari bibir Kanaya.
“Apa maksud kamu berkata seperti tadi?” tanya Kanaya, yang
dia maksud adalah pengakuan Tama dihadapan para Tamau undangan tentang
perasaannya.
“Pengakuan,” jawab Tama singkat.
“Pengakuan apa?” tanya Kanaya tidak paham.
Tama tersenyum dan menggeser tubuhnya tepa di samping
Kanaya, “pengakuan kalau aku mencitai kamu Kanaya, apa yang aku lakukan semua
itu benar dari dalam lubuk hati ku yang paling dalam,” jawab Tama.
Kanaya terpaku, dia menatap mata Tama mencari kebohongan
dari sana, namun nihil Kanaya tidak menemukannya, mata mereka saling menatap dan terkunci, tubuh mereka
sudah semakin dekat, dan tinggal sedikit lagi bibir mereka akan bertemu, namun
… ponsel Kanaya mengejutkan mereka berdua, sampai Tama terkejut dan mejauhkan
tubuhnya. Tama dan Kanaya sama-sama dibuat salah tingkah, tapi karena dering
ponsel Kanaya, dia kembali tersadar apa yang membuat kegiatan mereka gagal.
“Mamah?” Kanaya mengernyit bingung karena Keysha
menghubunginya.
“Hallo Mah ..”
“….”
“Apa? iya .. iya aku segera kesanah,”
“….”
“Baik Mah.”
“Ada apa?” tanya Tama yang melihat Kanaya begitu panic.
“Keluarga Indira mengalami kecelakaan, dan kita harus ke
rumah sakit, kamu hubungi Mamah Anisa ya?” ujar Kanaa, Tama pun langsung
Kanaya dan Tama langsung menuju ke rumah sakit bersama
dengan Oki dan Anisa, sedangkan Natasha bersama dengan Felly tetap berada di
rumah. Mereka begitu terkejut setelah mendengar kabar tentang kecelakaan yang
terjadi.
Kanaya dan Tama langsung diarahkan ke ruang jenazah, melihat
hal itu Kanaya sudah memiliki firasat buruk, rupanya benar tidak semua korban
selamat, Kanaya begitu terpukul atas meninggalnya Desi , Aditya dan Bella.
Bagaimanapun mereka pernah sanga dekat selayaknya saudara, namun sayang
beberapa bulan ini hubungan mereka tidak terjalin baik.
Kanaya mendekat kearah jenazah Bella, “tante … Kanaya minta
maaf atas apa yang terjadi pada kita, pertengkaran dan lain sebagainya, Kanaya
benar-benar minta maaf. Begitu pula sebainya, Kanaya sudah memaafkan semua
kesalahan tante, dan semoga tante bisa beristirahat dengan tenang.
Akhirnya Keysha menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya
jenazah Aditya, Bella dan Bu Desi kepada para perawat, sedangkan kini mereka
berbagi tugas, para orangtua akan ke rumah Aditya mala mini dan menginap disana
untuk mengurus pemakaman besok, juga untuk lapor kepada pengurus RT dan RW
tempat Aditya tinggal. Lalau Kanaya, Tama, Raka dan yang lain akan di rumah
sakit menjaga Indira dan juga Nando yang masih kritis sampai sekarang.
Saat mereka tengah duduk di kursi ruang tunggu, dengan keadaan mata sembab dan lesu tiba-tiba saja Dokter datang dan menanyakan siapakah yang
menjadi wali dari pasien Indira, dan akhirnya semua rekan-rekan menunjuk Tama
dan Kanaya untuk berbicara dengan Dokter, nampaknya ada hal serius yang terjadi
pada kondisi Indira.
“Ada apa Dok?” tanya Kanaya.
“Begini Dokter Kanaya, ternyata Dokter Indira tengah hamil,”
ujar Dokter yang menangani Indira.
“Iya, dan tidak salah 3 minggu usianya,” jawab Kanaya yang
memang tahu kehamilan Indira.
“Dan janinnya tidak bisa diselamatkan Dok.”
Kanaya nampaknya sudah bisa menebak kalau hal ini pastinya
akan terjadi.
“Tapi ada satu masalah lagi Dok.”
“Apa itu?” tanya Kanaya penasaran.
“Rahim Dokter Indira rusak parah Dok, dan kami harus meminta
persetujuan dari wali Dokter Indira untuk melakukan tindakan operasi
pengangkatan rahim.”
Sebagai seorang Dokter, Kanaya tahu hal ini tentu sangat
urgent dan Rahim yang sudah rusak memang harus diangkat segera atau akan fatal
bagi Indira, setelah berunding bersama Tama, dan memikirkan kondisi Indira,
akhirnya mereka menandatangani surat tersebut, surat pernyataan bahwa mereka
setuju Indira melakukan pengangkatan Rahim.
‘Malang selaki nasib kamu Indira, kamu harus kehilangan
orang-orang yang kamu sayangi secara bersamaan, dan kamu juga harus kehilangan
calon buah hati kamu, kini kamu harus merelakan Rahim kamu diangkat, maaf
Indira aku tidak bisa melakukan apapun,’ isak Kanaya, dia merasa gagal sebagai
seorang Dokter, karena tidak mampu melakukan apapun untuk Indira.
Kanaya sudah berjanji dalam dirinya, bahwa dia akan selalu
berada disamping Indira apapun yang terjadi, dia akan menjadi sahabat Indira,
dan kakak yang akan menjaga Indira, kini Indira hanya hidup sebatang kara,
meski Indira memiliki ibu dan ayah mertua, namun Kanaya akui Indira tidak
seberuntung dirinya yangmendapatkan kasih sayangdari mereka, Indira malah
dibenci dan tidak dianggap menantu oleh mertuanya sendiri.
Gimana? Yang dari kemarin nanya karma Indira? author sudah
memberikan karma yang sangat menyakitkan Indira, sampai author nangis sendiri
ngetiknya …
Pasti sedih kan diposisi Indira, harus kehilangan orangtua
dan nenek nya dalam waktu yang bersamaan, dia juga harus merelakan kehilangan
calon buah hatinya, bahkan sampai pengangkatan Rahim, kira-kira kalau Nando
bakal selamat nggak???