Keysha

Keysha
Season 2 (Berita duka 2)



Akhirnya setelah Keysha siuman, dia pun mengganti pakaian


kebayanya, dan menuju ke rumah sakit bersama Marvel dan Raka, sesampainya di


rumah sakit, mereka melihat Alena dan yang lain berdiri dengan sendu didepan


ruang jenazah.


“Siapa yang selamat?” tanya Keysha.


“Sebaiknya kamu masuk Key,” jawab Zahra sendu, dia tidak


bisa menahan isak tangisnya.


Akhirnya Keysha, Marvel dan Raka berjalan dengan lengkah


yang sangat berat, mereka masuk keruang jenazah, 3 mayat pun dibuka oleh


perawat membuat Keysha langsung menangis histeris.


“Bu Desi !! Aditya, Bella … Ya Allah kenapa jadi begini,”


Keysha benar-benar lemas tak berdaya melihat orang-orang yang pernah hadir


dalam kehidupannya sudah terbujur kaku dengan wajah pucat.


“Sabar Mah …” Raka dan Marvel mencoba menangkan Keysha.


Marvel pun tidak menyangka, kalau bu Desi , Aditya dan Bella harus meninggal


dengan cara yang sangat tragis. Mendengar Keysha yang menangis dengan pilu,


membuat sahabat Keysha juga tidak tega, bagaimana pun mereka semua pernah


sangat dengan Bella, dan kini mereka menyaksikan Bella, Aditya dan Desi


terbujur kaku.


Keysha keluar dari ruang jenazah, dan menurut mereka


bagaimana pun Kanaya dan Tama harus tahu soal hal ini, karena biar Kanaya juga


beberapa kali terlibat masalah dengan Bella, jadi sebaiknya Kanaya datang


supaya jalan Bella bisa lebih tenang.


“Bagaimana Indira dan Nando?” tanya Marvel.


“Kondisi Indira dan Nando masih sama-sama kritis, dan anak


–anak yang menjagam,” jawab Alena.


“Bagaimana dengan pemakaman Vel?” tanya Alby.


“Kita harus tetap melakukan pemakaman besok, kita tidak bisa


menunggu Indira, karena itu juga tidak baik,” ujar Marvel.


“Ya sudah, karena memang sebaiknya jenazah cepat


dimakamkan,” timbal Farel.


“Kita sama-sama ya? mengurus pemakaman, karena keluarga


almarhumah bu Desi sudah tidak ada,” ujar Marvel dan diangguki oleh semuanya.


Disisi lain, Kanaya dan Tama baru saja selesai mandi, tapi


mereka masih sama-sama canggung, Tama sendiri merasa kaku dan bingung harus


apa. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari bibir Kanaya.


“Apa maksud kamu berkata seperti tadi?” tanya Kanaya, yang


dia maksud adalah pengakuan Tama dihadapan para Tamau undangan tentang


perasaannya.


“Pengakuan,” jawab Tama singkat.


“Pengakuan apa?” tanya Kanaya tidak paham.


Tama tersenyum dan menggeser tubuhnya tepa di samping


Kanaya, “pengakuan kalau aku mencitai kamu Kanaya, apa yang aku lakukan semua


itu benar dari dalam lubuk hati ku yang paling dalam,” jawab Tama.


Kanaya terpaku, dia menatap mata Tama mencari kebohongan


dari sana, namun nihil Kanaya tidak menemukannya, mata mereka  saling menatap dan terkunci, tubuh mereka


sudah semakin dekat, dan tinggal sedikit lagi bibir mereka akan bertemu, namun


… ponsel Kanaya mengejutkan mereka berdua, sampai Tama terkejut dan mejauhkan


tubuhnya. Tama dan Kanaya sama-sama dibuat salah tingkah, tapi karena dering


ponsel Kanaya, dia kembali tersadar apa yang membuat kegiatan mereka gagal.


“Mamah?” Kanaya mengernyit bingung karena Keysha


menghubunginya.


“Hallo Mah ..”


“….”


“Apa? iya .. iya aku segera kesanah,”


“….”


“Baik Mah.”


“Ada apa?” tanya Tama yang melihat Kanaya begitu panic.


“Keluarga Indira mengalami kecelakaan, dan kita harus ke


rumah sakit, kamu hubungi Mamah Anisa ya?” ujar Kanaa, Tama pun langsung


Kanaya dan Tama langsung menuju ke rumah sakit bersama


dengan Oki dan Anisa, sedangkan Natasha bersama dengan Felly tetap berada di


rumah. Mereka begitu terkejut setelah mendengar kabar tentang kecelakaan yang


terjadi.


Kanaya dan Tama langsung diarahkan ke ruang jenazah, melihat


hal itu Kanaya sudah memiliki firasat buruk, rupanya benar tidak semua korban


selamat, Kanaya begitu terpukul atas meninggalnya Desi , Aditya dan Bella.


Bagaimanapun mereka pernah sanga dekat selayaknya saudara, namun sayang


beberapa bulan ini hubungan mereka tidak terjalin baik.


Kanaya mendekat kearah jenazah Bella, “tante … Kanaya minta


maaf atas apa yang terjadi pada kita, pertengkaran dan lain sebagainya, Kanaya


benar-benar minta maaf. Begitu pula sebainya, Kanaya sudah memaafkan semua


kesalahan tante, dan semoga tante bisa beristirahat dengan tenang.


Akhirnya Keysha menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya


jenazah Aditya, Bella dan Bu Desi kepada para perawat, sedangkan kini mereka


berbagi tugas, para orangtua akan ke rumah Aditya mala mini dan menginap disana


untuk mengurus pemakaman besok, juga untuk lapor kepada pengurus RT dan RW


tempat Aditya tinggal. Lalau Kanaya, Tama, Raka dan yang lain akan di rumah


sakit menjaga Indira dan juga Nando yang masih kritis sampai sekarang.


Saat mereka tengah duduk di kursi ruang tunggu, dengan keadaan mata sembab dan lesu tiba-tiba saja Dokter datang dan menanyakan siapakah yang


menjadi wali dari pasien Indira, dan akhirnya semua rekan-rekan menunjuk Tama


dan Kanaya untuk berbicara dengan Dokter, nampaknya ada hal serius yang terjadi


pada kondisi Indira.


“Ada apa Dok?” tanya Kanaya.


“Begini Dokter Kanaya, ternyata Dokter Indira tengah hamil,”


ujar Dokter yang menangani Indira.


“Iya, dan tidak salah 3 minggu usianya,” jawab Kanaya yang


memang tahu kehamilan Indira.


“Dan janinnya tidak bisa diselamatkan Dok.”


Kanaya nampaknya sudah bisa menebak kalau hal ini pastinya


akan terjadi.


“Tapi ada satu masalah lagi Dok.”


“Apa itu?” tanya Kanaya penasaran.


“Rahim Dokter Indira rusak parah Dok, dan kami harus meminta


persetujuan dari wali Dokter Indira untuk melakukan tindakan operasi


pengangkatan rahim.”


Sebagai seorang Dokter, Kanaya tahu hal ini tentu sangat


urgent dan Rahim yang sudah rusak memang harus diangkat segera atau akan fatal


bagi Indira, setelah berunding bersama Tama, dan memikirkan kondisi Indira,


akhirnya mereka menandatangani surat tersebut, surat pernyataan bahwa mereka


setuju Indira melakukan pengangkatan Rahim.


‘Malang selaki nasib kamu Indira, kamu harus kehilangan


orang-orang yang kamu sayangi secara bersamaan, dan kamu juga harus kehilangan


calon buah hati kamu, kini kamu harus merelakan Rahim kamu diangkat, maaf


Indira aku tidak bisa melakukan apapun,’ isak Kanaya, dia merasa gagal sebagai


seorang Dokter, karena tidak mampu melakukan apapun untuk Indira.


Kanaya sudah berjanji dalam dirinya, bahwa dia akan selalu


berada disamping Indira apapun yang terjadi, dia akan menjadi sahabat Indira,


dan kakak yang akan menjaga Indira, kini Indira hanya hidup sebatang kara,


meski Indira memiliki ibu dan ayah mertua, namun Kanaya akui Indira tidak


seberuntung dirinya yangmendapatkan kasih sayangdari mereka, Indira malah


dibenci dan tidak dianggap menantu oleh mertuanya sendiri.


Gimana? Yang dari kemarin nanya karma Indira? author sudah


memberikan karma yang sangat menyakitkan Indira, sampai author nangis sendiri


ngetiknya …


Pasti sedih kan diposisi Indira, harus kehilangan orangtua


dan nenek nya dalam waktu yang bersamaan, dia juga harus merelakan kehilangan


calon buah hatinya, bahkan sampai pengangkatan Rahim, kira-kira kalau Nando


bakal selamat nggak???