Keysha

Keysha
seaseon 2 (Penolakan)



Pagi-pagi sekali, setelah Kanaya sarapan dia pun langsung


pergi kerumah Tama,karena Kanaya ingin mengantarkan Felly ke sekolahnya, jika


aada yang bertanya dimana Tama? Jawabannya Tama tengah berada di luar kota,


untuk urusan pekerjaan. Kanaya juga sudah meminta izin pada Tama untuk


mengantarkan Felly, untuk pulang nanti aka nada Anisa yang menjemput.


Felly begitu bersemangat ketika melihat Kanaya baru saja


datang, dia langsung berlari dan memeluk Kanaya dengan erat, seolah mereka


sudah lama tak bertemu.


“Mamah…” Felly berlari dan memeluk Kanaya, namun semua orang


terkejut dengan panggilan Felly kepada Kanaya.


“Mamah?” beo Oki, Anisa, dan Natasha.


Kanaya tersenyum kearah Felly, kemudian dia pun mengecek


penampilan Felly yang sudah sangat rapi pergi ke sekolah.


“waahh … anak mamah sudah rapih, sudah siap kesekolah?”


tanya Kanaya halus, seraya mngelus rambut halus gadis kecil dan manis tersebut.


"Sudah mah,” jawab Felly dengan penuh semangat.


“Oh ya? terus tas manah?” tanya Kanaya, pasalnya Kanaya tak


melihat Felly membawa tas punggungnya.


Anisa mendekati Fellysisa dan memegang pundak cucu


kesayangannya itu, seraya tersenyum teduh, “kok manggil aunty Kanaya mamah?”


tanya Anisa.


Felly tersenyum dan menganguk, “iya, karena Felly mau aunty


Kanaya jadi mamahnya Felly,” jawab Felly dengan suara serak menahan tangis, hal


itu memuat Kanaya tak tega, dia pun segera memeluk Felly memberikan ketenangan.


Melihat Kanaya yang nampak sangat menyayangi Felly, membuat


Anisa terharu dan tanpa sadar menitikkan air matanya, dulu Anisa sangat


berharap kalau Tama akan berjodoh dengan Kanaya, namun melihat kondisi Tama


sekarang, Anisa sadar kalau dia tidak bias berharap lebih, pasalnya wanita yang


ingin menikah dengan Tama juga harus bias menerima Felly sebagai putrinya.


Kanaya pun melepaskan pelukannya, kemudian mengusap air mata


Felly dengan lembut seraya berkata, “anak cantik jangan nangis dong.”


“Aunty, bolehkan aku panggil aunty dengan panggilan mamah,” tanya


Felly dengan sorot mata penuh harap.


Kanaya pun tersenyum mendengar pertanyaan Felly, “boleh dong


sayang.”


Senyum Felly terbit, kala Kanaya memperbolehkan Felly untuk


memanggil Kanaya dengan panggilan mamah, bahkan hal itu juga membuat Oki,Anisa,


dan Natasha terkejut. Setelah itu Kanaya mengajak Felly untuk berpamitan Karena


mereka akan berangkat ke sekolah.


Pagi hari setelah sarapan Nando ingin mengajak Indira ke


kantor KUA, untuk mengurus pernikahan mereka, karena Nando sudah mengajukan


pernikahannya secara Negara. Namun Nando melihat ada yang Indira tengah


sembunyikan, karena wajahnya Nampak murung.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Nando sembari duduk disamping


Indira.


“Nggak papa kok,” jawab Indira bohong.


Nando menggeleng pelan seraya tersenyum, “jangan bohong,”


nampaknya Nando tak percaya dengan jawaban Indira, karena dia tahu pasti ada


yang tengah Indira pikirkan.


Nando menggenggam tangan Indira seraya mengelusnya lembut, “jawab


jujur sayang, aku mohon terbukalah, kita kan suami istri, susah senang dan


apapun kita hadapi bersama, kalau kamu saja tidak mau terbuka lalu bagaimana


aku bisa mengerti permasalahannya?” ujar Nando.


“Lalu bagaimana dengan kamu? apa kamu juga terbuka dengan


ku?” tanya Indira dengan raut kecewa.


“Maksudnya? bukannya kamu tahu semua urusanku, apa


keperluanku, masalahku, aku selalu terbuka Indira,” jawab Nando membela diri.


“Oh ya? lalu bagaaimana dengan masalah kedua orang tua kamu,


yang tidak merestui kita?” tanya Indira. Sontak Nando terkejut, karena rupanya


Indira tahu.


“Kenapa kaget?” tanya Indira, dia tahu karena raut wajah


Nando yang berubah.


“Semalam aku mendengar percakapan kamu dengan mamah dan


papah kamu.”


“Sayang, aku tidak membicarakan hal ini karena aku takut


membuat kamu sedih, aku hanya ingin menjaga perasaan kamu,” ujar Nando mkencoba


menjelaskan.


Indira menunduk dalam, rupanya dia tengah terisak, hal itu


membuat Nando tak tega dan memeluk istrinya untuk menenangkan.


“Sudahya jangan dipikirkan, karena apapun yang terjadi aku


akan selalu ada untuk kamu sayang, aku janji,” ujar Nando bersungguh-sungguh.


“Aku percaya dengan kamu Nando, tapi bagaimana dengan


dengan rencana resepsi pernikahan kita.”


“Untuk hal itu tidak perlu kamu pikirkan ya? fokus untuk


masa depan kit berdua, karena kita yang akan menjalaninya, bukan merekam,” ucap


Nando.


Nando pun membiarkan Indira mengeluarkan beban dihatinya


lewat isak tangis, Nando berharap hal ini, bias membuat Indira menjadi lebih


tenang, setelah dirasa tenang Nando pun mengajak Indira untuk bersiap menuju


KUA, setelah dari KUA mereka berenca akan membagikan undangan kepada kerabat


dekat dan juga rekan kerja.


Kini Nando tengah melajukan kendaraannya menuju komplek kediaman


Kanaya dan juga Tama, namun saat sampai di pos satpam mereka diberhentikan.


“Selamat siang Pak,” suara satpam memberi salam.


“Siang Pak, saya ingin ke rumah Kanaya,” ucap Nando.


“Maaf Pak tidak bisa,” jawab satpam tersebut, membuat Indira


dan Nando saling bertatapan bingung.


“Loh kenapa Pak?” tanya Indira bersuara.


“Maaf Pak, Bu, kami tidak tahu alasannya, tapi yang jelas


ini adalah perintah langsung dari pak Marvel.”


Indira dan Nando menebak kalau ini ada sangkut pautnya


dengan kesalahan mereka, padahal Indira dan Nando sudah mempunyai niat untuk


meminta maaf kepada keluarga Marvel seraya mengantarkan undangan pernikahan


mereka, namun diluar dugaan, rupanya Marvel sudah menutup pintu rumahnya rapat.


Indira nampak memutar otak untuk mencari cara agar mereka bisa


masuk kedalam komplek dan bertemu dengan Marvel ataupun Keysha.


“Ya sudah Pak kalau memang kami tidak bisa ke rumah Kanaya,


kami izin untuk ke rumah Tama, karena kami ingin mengantarkan undangan juga


kesanah,” akhirnya Indira mempunyai alasan yang cukup logis.


Kedua satpam saling berpandangan, “baiklah mari kita antar


menggunakan sepeda motor, silahkan mobilnya diparkirkan dulu Pak,” rupanya


dugaan Indira salah, kedua satpam keamanan komplek sangat sulit untuk


diperdaya, Nando pun memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


“Eeemm sebelumnya terimakasih Pak, tapi sepertinya lebih baik


saya menitipkan undangannya disini saja untuk Tama dan Kanaya serta tante


Keysha, karena saya ada urusan mendadak,” kilah Nando.


Setelah menitipkan undangannya, Nando pun bergegas menuju


kediaman Bara, untuk memberikan undangan, dalam perjalanan Nando kembali


menyemangati Indira supaya Indira tidak bersedih atas penolakan kedatangannya


ke kediman Kanaya, namun meskipun begitu sejujurnya Nando juga merasa bersalah,


bagaimana pun dulu keluarga Kanaya sudah sangat baik padanya, apalagi Mravel


danm juga Keysha, Nando merasa bersalah karena dia merasa sudah mengkhianati


kepercayaan yang sudah kedua orangtua Kanaya berikan.


Akhirnya mereka pun sampai dikediaman Bara, saat mereka


mengetuk pintu, yang keluar adalah Nabila adik dari Bara yang tidak lain kekasih


dari Raka adik Kanaya, Nabila Nampak sungkan menyambut kedatangan mereka


berdua, bahkan suaranya pun terkesan ketus.


“Nabila, aku ingin memberikan undangan ini, datang ya?” ucap


Indira penuh harap. Namun belum Nabila menjawab, suara Bara terdengar datang


menghampiri.


“Eh kalian,” ucap Bara setelah melihat siapa yang bertamu.


“Ada apa?” tanya Bara.


“Ini Bara, aku mau mengantarkan undangan untuk kamu dan


Nabila, aku harap kalian datang ya?” jawab Indira.


Bara Nampak melihat undangan itu sekilas dan tanpa minat, “oh


sorry gue gak bisa dating.”


“Loh kenapa Bar?” tanya Indira bingung.


“Gue punya acara yang lebih penting, yaitu kerjaan gue,”


jawab Bara santai.


“Kok loe gitu sih, gue kan sahabat loe dari kecil, mas aloe lebih


mentingin kerjaan loe dari pada hadir di acara gue?” tanya Indira sendu, dia


tak menyangka kalau Nando akan berbicara seperti itu, seolah acara pesta


pernikahannya tak penting sama sekali.


Bara tersenyum remeh begitu pula Nabila, “ogah gue temenan


sama loe, pengkhianat,” Bara sengaja


menekan kata pengkhianat, karena dia ikut kecewa dengan apa yang Indira lakukan


kepada Kanaya.


“Kalian udah dengerkan jawaban gue? jadi lebih baik kalian


pergi,” Bara mengusir Nando dan Indira dari rumahnya.


Melihat Indira yang lagi-lagi mendapat penolakan, Nando pun


mengajak Indira pergi dari rumah Bara tanpa berpamitan, Nando tak terima


melihat istrinya diperlakukan seperti itu.