
Pagi-pagi sekali, setelah Kanaya sarapan dia pun langsung
pergi kerumah Tama,karena Kanaya ingin mengantarkan Felly ke sekolahnya, jika
aada yang bertanya dimana Tama? Jawabannya Tama tengah berada di luar kota,
untuk urusan pekerjaan. Kanaya juga sudah meminta izin pada Tama untuk
mengantarkan Felly, untuk pulang nanti aka nada Anisa yang menjemput.
Felly begitu bersemangat ketika melihat Kanaya baru saja
datang, dia langsung berlari dan memeluk Kanaya dengan erat, seolah mereka
sudah lama tak bertemu.
“Mamah…” Felly berlari dan memeluk Kanaya, namun semua orang
terkejut dengan panggilan Felly kepada Kanaya.
“Mamah?” beo Oki, Anisa, dan Natasha.
Kanaya tersenyum kearah Felly, kemudian dia pun mengecek
penampilan Felly yang sudah sangat rapi pergi ke sekolah.
“waahh … anak mamah sudah rapih, sudah siap kesekolah?”
tanya Kanaya halus, seraya mngelus rambut halus gadis kecil dan manis tersebut.
"Sudah mah,” jawab Felly dengan penuh semangat.
“Oh ya? terus tas manah?” tanya Kanaya, pasalnya Kanaya tak
melihat Felly membawa tas punggungnya.
Anisa mendekati Fellysisa dan memegang pundak cucu
kesayangannya itu, seraya tersenyum teduh, “kok manggil aunty Kanaya mamah?”
tanya Anisa.
Felly tersenyum dan menganguk, “iya, karena Felly mau aunty
Kanaya jadi mamahnya Felly,” jawab Felly dengan suara serak menahan tangis, hal
itu memuat Kanaya tak tega, dia pun segera memeluk Felly memberikan ketenangan.
Melihat Kanaya yang nampak sangat menyayangi Felly, membuat
Anisa terharu dan tanpa sadar menitikkan air matanya, dulu Anisa sangat
berharap kalau Tama akan berjodoh dengan Kanaya, namun melihat kondisi Tama
sekarang, Anisa sadar kalau dia tidak bias berharap lebih, pasalnya wanita yang
ingin menikah dengan Tama juga harus bias menerima Felly sebagai putrinya.
Kanaya pun melepaskan pelukannya, kemudian mengusap air mata
Felly dengan lembut seraya berkata, “anak cantik jangan nangis dong.”
“Aunty, bolehkan aku panggil aunty dengan panggilan mamah,” tanya
Felly dengan sorot mata penuh harap.
Kanaya pun tersenyum mendengar pertanyaan Felly, “boleh dong
sayang.”
Senyum Felly terbit, kala Kanaya memperbolehkan Felly untuk
memanggil Kanaya dengan panggilan mamah, bahkan hal itu juga membuat Oki,Anisa,
dan Natasha terkejut. Setelah itu Kanaya mengajak Felly untuk berpamitan Karena
mereka akan berangkat ke sekolah.
Pagi hari setelah sarapan Nando ingin mengajak Indira ke
kantor KUA, untuk mengurus pernikahan mereka, karena Nando sudah mengajukan
pernikahannya secara Negara. Namun Nando melihat ada yang Indira tengah
sembunyikan, karena wajahnya Nampak murung.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Nando sembari duduk disamping
Indira.
“Nggak papa kok,” jawab Indira bohong.
Nando menggeleng pelan seraya tersenyum, “jangan bohong,”
nampaknya Nando tak percaya dengan jawaban Indira, karena dia tahu pasti ada
yang tengah Indira pikirkan.
Nando menggenggam tangan Indira seraya mengelusnya lembut, “jawab
jujur sayang, aku mohon terbukalah, kita kan suami istri, susah senang dan
apapun kita hadapi bersama, kalau kamu saja tidak mau terbuka lalu bagaimana
aku bisa mengerti permasalahannya?” ujar Nando.
“Lalu bagaimana dengan kamu? apa kamu juga terbuka dengan
ku?” tanya Indira dengan raut kecewa.
“Maksudnya? bukannya kamu tahu semua urusanku, apa
keperluanku, masalahku, aku selalu terbuka Indira,” jawab Nando membela diri.
“Oh ya? lalu bagaaimana dengan masalah kedua orang tua kamu,
yang tidak merestui kita?” tanya Indira. Sontak Nando terkejut, karena rupanya
Indira tahu.
“Kenapa kaget?” tanya Indira, dia tahu karena raut wajah
Nando yang berubah.
“Semalam aku mendengar percakapan kamu dengan mamah dan
papah kamu.”
“Sayang, aku tidak membicarakan hal ini karena aku takut
membuat kamu sedih, aku hanya ingin menjaga perasaan kamu,” ujar Nando mkencoba
menjelaskan.
Indira menunduk dalam, rupanya dia tengah terisak, hal itu
membuat Nando tak tega dan memeluk istrinya untuk menenangkan.
“Sudahya jangan dipikirkan, karena apapun yang terjadi aku
akan selalu ada untuk kamu sayang, aku janji,” ujar Nando bersungguh-sungguh.
“Aku percaya dengan kamu Nando, tapi bagaimana dengan
dengan rencana resepsi pernikahan kita.”
“Untuk hal itu tidak perlu kamu pikirkan ya? fokus untuk
masa depan kit berdua, karena kita yang akan menjalaninya, bukan merekam,” ucap
Nando.
Nando pun membiarkan Indira mengeluarkan beban dihatinya
lewat isak tangis, Nando berharap hal ini, bias membuat Indira menjadi lebih
tenang, setelah dirasa tenang Nando pun mengajak Indira untuk bersiap menuju
KUA, setelah dari KUA mereka berenca akan membagikan undangan kepada kerabat
dekat dan juga rekan kerja.
Kini Nando tengah melajukan kendaraannya menuju komplek kediaman
Kanaya dan juga Tama, namun saat sampai di pos satpam mereka diberhentikan.
“Selamat siang Pak,” suara satpam memberi salam.
“Siang Pak, saya ingin ke rumah Kanaya,” ucap Nando.
“Maaf Pak tidak bisa,” jawab satpam tersebut, membuat Indira
dan Nando saling bertatapan bingung.
“Loh kenapa Pak?” tanya Indira bersuara.
“Maaf Pak, Bu, kami tidak tahu alasannya, tapi yang jelas
ini adalah perintah langsung dari pak Marvel.”
Indira dan Nando menebak kalau ini ada sangkut pautnya
dengan kesalahan mereka, padahal Indira dan Nando sudah mempunyai niat untuk
meminta maaf kepada keluarga Marvel seraya mengantarkan undangan pernikahan
mereka, namun diluar dugaan, rupanya Marvel sudah menutup pintu rumahnya rapat.
Indira nampak memutar otak untuk mencari cara agar mereka bisa
masuk kedalam komplek dan bertemu dengan Marvel ataupun Keysha.
“Ya sudah Pak kalau memang kami tidak bisa ke rumah Kanaya,
kami izin untuk ke rumah Tama, karena kami ingin mengantarkan undangan juga
kesanah,” akhirnya Indira mempunyai alasan yang cukup logis.
Kedua satpam saling berpandangan, “baiklah mari kita antar
menggunakan sepeda motor, silahkan mobilnya diparkirkan dulu Pak,” rupanya
dugaan Indira salah, kedua satpam keamanan komplek sangat sulit untuk
diperdaya, Nando pun memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
“Eeemm sebelumnya terimakasih Pak, tapi sepertinya lebih baik
saya menitipkan undangannya disini saja untuk Tama dan Kanaya serta tante
Keysha, karena saya ada urusan mendadak,” kilah Nando.
Setelah menitipkan undangannya, Nando pun bergegas menuju
kediaman Bara, untuk memberikan undangan, dalam perjalanan Nando kembali
menyemangati Indira supaya Indira tidak bersedih atas penolakan kedatangannya
ke kediman Kanaya, namun meskipun begitu sejujurnya Nando juga merasa bersalah,
bagaimana pun dulu keluarga Kanaya sudah sangat baik padanya, apalagi Mravel
danm juga Keysha, Nando merasa bersalah karena dia merasa sudah mengkhianati
kepercayaan yang sudah kedua orangtua Kanaya berikan.
Akhirnya mereka pun sampai dikediaman Bara, saat mereka
mengetuk pintu, yang keluar adalah Nabila adik dari Bara yang tidak lain kekasih
dari Raka adik Kanaya, Nabila Nampak sungkan menyambut kedatangan mereka
berdua, bahkan suaranya pun terkesan ketus.
“Nabila, aku ingin memberikan undangan ini, datang ya?” ucap
Indira penuh harap. Namun belum Nabila menjawab, suara Bara terdengar datang
menghampiri.
“Eh kalian,” ucap Bara setelah melihat siapa yang bertamu.
“Ada apa?” tanya Bara.
“Ini Bara, aku mau mengantarkan undangan untuk kamu dan
Nabila, aku harap kalian datang ya?” jawab Indira.
Bara Nampak melihat undangan itu sekilas dan tanpa minat, “oh
sorry gue gak bisa dating.”
“Loh kenapa Bar?” tanya Indira bingung.
“Gue punya acara yang lebih penting, yaitu kerjaan gue,”
jawab Bara santai.
“Kok loe gitu sih, gue kan sahabat loe dari kecil, mas aloe lebih
mentingin kerjaan loe dari pada hadir di acara gue?” tanya Indira sendu, dia
tak menyangka kalau Nando akan berbicara seperti itu, seolah acara pesta
pernikahannya tak penting sama sekali.
Bara tersenyum remeh begitu pula Nabila, “ogah gue temenan
sama loe, pengkhianat,” Bara sengaja
menekan kata pengkhianat, karena dia ikut kecewa dengan apa yang Indira lakukan
kepada Kanaya.
“Kalian udah dengerkan jawaban gue? jadi lebih baik kalian
pergi,” Bara mengusir Nando dan Indira dari rumahnya.
Melihat Indira yang lagi-lagi mendapat penolakan, Nando pun
mengajak Indira pergi dari rumah Bara tanpa berpamitan, Nando tak terima
melihat istrinya diperlakukan seperti itu.