Keysha

Keysha
Season 2 (Indira malang)



Dokterpun kini tengah memeriksa kondisi Indira, dan tidak


lama setelah itu, jemari Indira mulai bergerak perlahan. Indira memegang


kepalanya yang berdenyut, cahaya lampu serasa menusuk matanya, begitu


menyilaukan. Mata Indira menatap sekililing, aroma obat-obatan langsung


menyeruak masuk kedalam hidung, dan dapat Indira ketahui dimana dia sekarang,


yaitu rumah sakit. Namun, satu hal yang belum Indira tahu, kenapa dia berada di


rumah sakit? Apa penyebabnya? Bayang-bayang tentang kejadian kecelakaan


berbutar dalam ingatannya, bagaimana sebuah truk besar menabrak mobil mereka,


dan Indira ingat beberapa kali mobil berguling sampai akhirnya dia tidak


sadarkan diri, dan Indira ingat dia tidak hanya sendiri.


Mengingat, keluarga dan suaminya, Indira langsung membuka


matanya dan menatap sekeliling, dia melihat Keysha,Marvel, Zahra dan Alena yang


melihat Indira dengan senyum yang terulas.


“Kamu sudah sadar sayang? apa yang kamu rasakan Nak?”


tanya Keysha dengan lembut, membuat Indira menatap Keysha dengan bingung,


karena Keysha memanggil Indira dengan halus seperti dahulu ketika hubungannya


dengan keluarga Kanaya masih baik-baik saja.


“Mamah … Papah, nenek, Nando? Dimana mereka tante?” tanya


Indira dengen lemas, Keysha dan yang lain pun saling menatap bingung, mereka


tidak tahu harus bagaimana memberitahukan kepada Indira, mereka takut kalau


Indira akan syok setelah mendengar bahwa keluarganya tidak ada yang selamat,


dan hanya dirinya dan juga Nando.


“Tante …” Indira memanggil Keysha lagi dengan suara lirih.


“Kamu istirhata dulu ya sayang? jangan memikirkan hal yang


lain dulu,” ujar Alena.


“Mereka semua baik-baik saja kan?” entah kenapa melihat


sikap semua yang ada diruang rawatnya, membuat Indira takut, Indira takut kalau


semua tidak sesuai harapannya.


“Indira harus sabar, Indira harus tenang,” Keysha mendekat


dan menelus kening Indira, “Indira dengarkan tante ya Nak?” Keysha mulai menahan


air matanya agar tidak keluar, “Mamah, Papah dan Nenek sudah meninggal Nak,”


ujar Keysha dengan suara yang berat, namun masih bisa Indira dengar, “hanya


kamu dan Nando yang selamat.”


Indira menggelengkan kepalanya perlahan, “nggak mungkin …


nggak mungkin tante,” air mata mulai keluar dari pelupuk mata Indira, dia harap


ini semua hanya mimpi.


“Tante tahu ini pasti berat untuk kamu Indira, tapi tante


mohon kamu harus tabah dan kamu harus ikhlas Nak,” kali ini Zahra ikut


menenangkan Indira, dia ikut sedih dan menatap pilu Indira, betapa berat cobaan


yang harus ditanggung oleh Indira.


“Mamah ! Papah! Nenek, kenapa kalian ninggalin Indira!!!”


seru Indira terisak, Keysha langsung memeluk Indira dengan erat dan berusaha


menenangkan Indira.


“Sabara sayang … sabar …” Alena mengelus punggung Indira.


ini baru satu berita duka yang Indira dengar, bagaimana response Indira jika


dia tahu bahwa kini Indira sudah kehilangan janin dan rahimnya?


Karena Indira terus menangis histeris, akhirnya mau tidak


mau dokter memberikan obat penenang.  Melihat


respone Indira yang seperti ini, akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangkan


psikolog untuk Indira, karena takut terjadi sesuatu dengan psikis Indira,


apalagi kejadian kecelakaan yang kemungkinan besar akan menjadi trauma besar


bagi Indira korban selamat kecelakaan itu.


 Tidak lama setelah


Indira suiuman, Nando juga sudah melewati masa kritisnya, dia juga dipindah


keruang perawatan, Nando juga sempat bertanya tentang keluarga Indira serta


istrinya. Dari kedua orantuanya, Nando tahu kalau kedua mertuanya serta nenek


Desi meninggal ditempat, tentu disini Nando merasa bersalah, dia merutuki


dirinya sendiri yang tidak fokus menyetir dan akhirnya mengakibatkan kecelakaan


^^^


Malam harinya, semua sahabat Indira datang menjenguk, juga


Kanaya dan Tama yang masih menjadi pengantin baru, melihat kedatangan teman-temannya


Indira terharu, apalagi kepada Kanaya dan juga Keysha, setelah apa yang sudah


Indira lakukan pada mereka, namun keluarga Atmadja masih sangat perduli pada


Indira, bahkan mereka dengan tulus merawat Indira juga mengurus pemakaman


keluarganya.


“Kanaya, bagaimana dengan kandungan ku …” tanya Indira


sendu.


“Aku benar-benar minta maaf Indira, karena aku tidak bisa


melakukan apapun, calon buah hati kamu tidak bisa diselamatkan, dan ….” Kanaya


menjeda kalimatnya, karena bingung apakah Indira harus tahu sekarang.


“Dan apa?” tanya Indira was-was, soal kandungannya, Indira


memang sudah menduga akan hal ini, kondisi janin yang masih sangat rentan


ditambah Indira mengalami kecelakaan pastinya akan sulit bagi janin untuk


bertahan.


“Maaf Ra … Rahim kamu rusak parah, dan sangat fatal jika


tidak dilakukan tindakan, akhirnya kami menyetujui kamu melakukan operasi


pengangkatan Rahim,: jawab Kanaya.


“Enggak Nay, nggak boleh,” Indira langsung menangis


sejadi-jadinya, dia tidak menyangka cobaan benar-benar datang bertubi-tubi,


baru sebentar dia merasakan kebahagiaan atas kehamilannya, tapi kini Indira


harus kehilangan semua orang yang dia sayangi.


“Apa! Indira keguguran? Dan rahimnya diangkat?” mereka


semua terkejut mendengar suara Lailla yang datang bersama Harun dan Nando yang


duduk di kursi roda, rupanya Nando ingin menemui Indira dan melihat kondiri


Indira, tapi setibanya mereka disana, mereka malah dikejutkan dengan kabar


pengangkatan Rahim Indira.


“Iya Tante, itu semua dilakuakan karena kondisi Rahim sudah


sangat mengkhawatirkan dan akan fatal jika tidak ditangani secepatnya,” kali


ini Tama mencoba memberbikan pengertian kepada kedua orangtua Nando.


“Nando, kamu dengarkan? Apalagi yang kamu harapkan dari


dia? Dia wanita pembawa sial dan bahkan dia tidak akan bisa memberikan kamu


keturunan Nando,” ucap Harlan dengan begitu teganya.


“Bisa nggak sih Om, ngomongnya tuh disaring dulu,” ucap


Anita tak terima, sebagai sesame perempuan rasanya hati semua wanita akan


merasakan sakit hati juga jika mendnegar ucapan kasar seperti yang diucapkan


oleh Harlan.


“Kenapa? memang itu kenyataannya kan? semenjak anak saya


menikah dengan Indira, kehidupan anak saya jadi berantakan, dan sekarang dia


malah tidak bisa memberikan keturunan untuk anak saya? Lalu apa gunanya kamu


sebagai peremouan?” ucap Lailla.


“Stop ya tante! Jangan keterlaluan!” bentak Kanaya, ucapan


Lailla benar-benar sudah diluar batas, wanita mana yang tidak mau memiliki


keturunan, semua istri sama, ingin memiliki keturunan, dan Indira juga tidak


mau hal ini terjadi tentunya, semua hal yang terjadi sudah suratan dari Yang


Maha Kuasa.


“Aku begini juga karena kamu Nando! Kamu adalah pembunuh!”


seru Indira yang membuat semua orang terkejut.


“Apa maksud kamu bicara begitu?” tanya Lailla, sedangkan


Nando hanya diam, dia diam karena memang apa yang Indira katakana benar.


“Kalau saja, Nando bisa fokus pada saat itu, dan melihat


tanda lampu lalu lintas yang berubah merah, mungkin ini semua tidak akan


terjadi,” ujar Indira dan semakin mengejutkan semua orang yang ada disana.


“Benar Nando?” Harlan menanyakan hal ini kepada putranya,


dia harap semua yang dituduhkan Indira adalah bohong.