
Dokterpun kini tengah memeriksa kondisi Indira, dan tidak
lama setelah itu, jemari Indira mulai bergerak perlahan. Indira memegang
kepalanya yang berdenyut, cahaya lampu serasa menusuk matanya, begitu
menyilaukan. Mata Indira menatap sekililing, aroma obat-obatan langsung
menyeruak masuk kedalam hidung, dan dapat Indira ketahui dimana dia sekarang,
yaitu rumah sakit. Namun, satu hal yang belum Indira tahu, kenapa dia berada di
rumah sakit? Apa penyebabnya? Bayang-bayang tentang kejadian kecelakaan
berbutar dalam ingatannya, bagaimana sebuah truk besar menabrak mobil mereka,
dan Indira ingat beberapa kali mobil berguling sampai akhirnya dia tidak
sadarkan diri, dan Indira ingat dia tidak hanya sendiri.
Mengingat, keluarga dan suaminya, Indira langsung membuka
matanya dan menatap sekeliling, dia melihat Keysha,Marvel, Zahra dan Alena yang
melihat Indira dengan senyum yang terulas.
“Kamu sudah sadar sayang? apa yang kamu rasakan Nak?”
tanya Keysha dengan lembut, membuat Indira menatap Keysha dengan bingung,
karena Keysha memanggil Indira dengan halus seperti dahulu ketika hubungannya
dengan keluarga Kanaya masih baik-baik saja.
“Mamah … Papah, nenek, Nando? Dimana mereka tante?” tanya
Indira dengen lemas, Keysha dan yang lain pun saling menatap bingung, mereka
tidak tahu harus bagaimana memberitahukan kepada Indira, mereka takut kalau
Indira akan syok setelah mendengar bahwa keluarganya tidak ada yang selamat,
dan hanya dirinya dan juga Nando.
“Tante …” Indira memanggil Keysha lagi dengan suara lirih.
“Kamu istirhata dulu ya sayang? jangan memikirkan hal yang
lain dulu,” ujar Alena.
“Mereka semua baik-baik saja kan?” entah kenapa melihat
sikap semua yang ada diruang rawatnya, membuat Indira takut, Indira takut kalau
semua tidak sesuai harapannya.
“Indira harus sabar, Indira harus tenang,” Keysha mendekat
dan menelus kening Indira, “Indira dengarkan tante ya Nak?” Keysha mulai menahan
air matanya agar tidak keluar, “Mamah, Papah dan Nenek sudah meninggal Nak,”
ujar Keysha dengan suara yang berat, namun masih bisa Indira dengar, “hanya
kamu dan Nando yang selamat.”
Indira menggelengkan kepalanya perlahan, “nggak mungkin …
nggak mungkin tante,” air mata mulai keluar dari pelupuk mata Indira, dia harap
ini semua hanya mimpi.
“Tante tahu ini pasti berat untuk kamu Indira, tapi tante
mohon kamu harus tabah dan kamu harus ikhlas Nak,” kali ini Zahra ikut
menenangkan Indira, dia ikut sedih dan menatap pilu Indira, betapa berat cobaan
yang harus ditanggung oleh Indira.
“Mamah ! Papah! Nenek, kenapa kalian ninggalin Indira!!!”
seru Indira terisak, Keysha langsung memeluk Indira dengan erat dan berusaha
menenangkan Indira.
“Sabara sayang … sabar …” Alena mengelus punggung Indira.
ini baru satu berita duka yang Indira dengar, bagaimana response Indira jika
dia tahu bahwa kini Indira sudah kehilangan janin dan rahimnya?
Karena Indira terus menangis histeris, akhirnya mau tidak
mau dokter memberikan obat penenang. Melihat
respone Indira yang seperti ini, akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangkan
psikolog untuk Indira, karena takut terjadi sesuatu dengan psikis Indira,
apalagi kejadian kecelakaan yang kemungkinan besar akan menjadi trauma besar
bagi Indira korban selamat kecelakaan itu.
Tidak lama setelah
Indira suiuman, Nando juga sudah melewati masa kritisnya, dia juga dipindah
keruang perawatan, Nando juga sempat bertanya tentang keluarga Indira serta
istrinya. Dari kedua orantuanya, Nando tahu kalau kedua mertuanya serta nenek
Desi meninggal ditempat, tentu disini Nando merasa bersalah, dia merutuki
dirinya sendiri yang tidak fokus menyetir dan akhirnya mengakibatkan kecelakaan
^^^
Malam harinya, semua sahabat Indira datang menjenguk, juga
Kanaya dan Tama yang masih menjadi pengantin baru, melihat kedatangan teman-temannya
Indira terharu, apalagi kepada Kanaya dan juga Keysha, setelah apa yang sudah
Indira lakukan pada mereka, namun keluarga Atmadja masih sangat perduli pada
Indira, bahkan mereka dengan tulus merawat Indira juga mengurus pemakaman
keluarganya.
“Kanaya, bagaimana dengan kandungan ku …” tanya Indira
sendu.
“Aku benar-benar minta maaf Indira, karena aku tidak bisa
melakukan apapun, calon buah hati kamu tidak bisa diselamatkan, dan ….” Kanaya
menjeda kalimatnya, karena bingung apakah Indira harus tahu sekarang.
“Dan apa?” tanya Indira was-was, soal kandungannya, Indira
memang sudah menduga akan hal ini, kondisi janin yang masih sangat rentan
ditambah Indira mengalami kecelakaan pastinya akan sulit bagi janin untuk
bertahan.
“Maaf Ra … Rahim kamu rusak parah, dan sangat fatal jika
tidak dilakukan tindakan, akhirnya kami menyetujui kamu melakukan operasi
pengangkatan Rahim,: jawab Kanaya.
“Enggak Nay, nggak boleh,” Indira langsung menangis
sejadi-jadinya, dia tidak menyangka cobaan benar-benar datang bertubi-tubi,
baru sebentar dia merasakan kebahagiaan atas kehamilannya, tapi kini Indira
harus kehilangan semua orang yang dia sayangi.
“Apa! Indira keguguran? Dan rahimnya diangkat?” mereka
semua terkejut mendengar suara Lailla yang datang bersama Harun dan Nando yang
duduk di kursi roda, rupanya Nando ingin menemui Indira dan melihat kondiri
Indira, tapi setibanya mereka disana, mereka malah dikejutkan dengan kabar
pengangkatan Rahim Indira.
“Iya Tante, itu semua dilakuakan karena kondisi Rahim sudah
sangat mengkhawatirkan dan akan fatal jika tidak ditangani secepatnya,” kali
ini Tama mencoba memberbikan pengertian kepada kedua orangtua Nando.
“Nando, kamu dengarkan? Apalagi yang kamu harapkan dari
dia? Dia wanita pembawa sial dan bahkan dia tidak akan bisa memberikan kamu
keturunan Nando,” ucap Harlan dengan begitu teganya.
“Bisa nggak sih Om, ngomongnya tuh disaring dulu,” ucap
Anita tak terima, sebagai sesame perempuan rasanya hati semua wanita akan
merasakan sakit hati juga jika mendnegar ucapan kasar seperti yang diucapkan
oleh Harlan.
“Kenapa? memang itu kenyataannya kan? semenjak anak saya
menikah dengan Indira, kehidupan anak saya jadi berantakan, dan sekarang dia
malah tidak bisa memberikan keturunan untuk anak saya? Lalu apa gunanya kamu
sebagai peremouan?” ucap Lailla.
“Stop ya tante! Jangan keterlaluan!” bentak Kanaya, ucapan
Lailla benar-benar sudah diluar batas, wanita mana yang tidak mau memiliki
keturunan, semua istri sama, ingin memiliki keturunan, dan Indira juga tidak
mau hal ini terjadi tentunya, semua hal yang terjadi sudah suratan dari Yang
Maha Kuasa.
“Aku begini juga karena kamu Nando! Kamu adalah pembunuh!”
seru Indira yang membuat semua orang terkejut.
“Apa maksud kamu bicara begitu?” tanya Lailla, sedangkan
Nando hanya diam, dia diam karena memang apa yang Indira katakana benar.
“Kalau saja, Nando bisa fokus pada saat itu, dan melihat
tanda lampu lalu lintas yang berubah merah, mungkin ini semua tidak akan
terjadi,” ujar Indira dan semakin mengejutkan semua orang yang ada disana.
“Benar Nando?” Harlan menanyakan hal ini kepada putranya,
dia harap semua yang dituduhkan Indira adalah bohong.