Keysha

Keysha
Kabar baik Alena



Keysha baru saja tiba di butiknya, semua karyawan menyapa Keysha dengan hormat, saat berada di meja Alena Keysha berhenti sejenak menatap wajah Alena yang nampak berbeda.


"Kenapa ngeliatin gue gitu?" Tanya Alena.


"Loe sakit?" Tanya Keysha, pasalnya wajah Alena nampak pucat.


"Enggak kok" Jawab Alena.


"Jangan bohong" ujar Keysha, "atau loe kebanyakan begadang sama Dimas?" Tanya Keysha berbisik.


"Begadang? Ngapain gue begadang" Ucap Alena.


"Loh, kan proyek Dede bayi" Jawab Keysha seraya menaik turun alisnya beberapa kali.


"Ngarang loe" Ujar Alena seraya tertawa.


"Ya udah, masuk ruangan gue ya sama Dewi" Ujar Keysha.


"Siap, bentar ya gue panggil Dewi" Ucap Alena.


"Iya, gue tunggu di dalam" Setelah mengatakan itu Keysha pun melangkah di ikuti Raisa masuk kedalam ruangan nya.


Sedangkan Alena hendak berdiri mencari Dewi, namun tiba - tiba saja kepala Alena terasa pusing, bahkan Alena juga hendak jatuh, untung saja ada Dewi yang datang dan langsung menyanggah tubuh Alena.


"Kak Alena nggak papa?" Tanya Dewi khawatir.


"Nggak papa kok Wi, duh nggak tahu nih tiba - tiba kepala pusing banget" ujar Alena sembari memegang kening nya.


"Istirahat aja dulu kak" Ujar Dewi memberi saran.


"Nggak papa kok, mungkin ini karena darah rendah, makasih ya" Ucap Alena sembari menegakkan kembali tubuh nya.


"Sama - sama Kak" Jawab Dewi.


"Oh iya, kita di suruh ke ruangan Keysha, kita kesana sekarang ya?" Ajak Alena.


"Iya kak boleh" Jawab Dewi. Mereka berdua pun melangkah menuju ruang kerja Keysha sambil membawa beberapa berkas laporan yang Keysha minta.


Sesampainya dalam ruangan Keysha mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di sofa, sedangkan Keysha memeriksa laporan tentang butik dan beberapa stok yang tersedia.


"Oke semuanya bagus" Ujar Keysha sambil menyerahkan berkas tadi kepada Alena dan Dewi.


"Terimakasih ya atas kerja keras nya selama ini" Ujar Keysha seraya tersenyum.


"Oh iya Dewi kamu bentar lagi cuti kan ya?" Tanya Keysha.


"Iya kak" jawab Dewi.


"Emm... oke kalau begitu, kamu aku beri cuti 14 hari sama seperti Alena, karena kamu sangat jarang mengambil cuti" Ujar Keysha.


"Terimakasih kak" Ucap Dewi seraya tersenyum.


"Sama - sama Wi... semoga acara pernikahan kamu berjalan lancar tanpa halangan yang berarti" Ujar Keysha mendoakan dengan tulus.


"Aammiinn kak terimakasih" Ucap Dewi.


"Ya sudah Key, kami berdua kembali ke meja kerja ya" Pamit Alena.


"Iya... Makasih ya" Ujar Keysha.


Alena dan Dewi pun beranjak dari duduknya, namun Alena merasa kepalanya kembali pusing, Alena melihat sekeliling dan Alena merasa semuanya berputar.


"Alena? Loe nggak papa?" Tanya Keysha khawatir. Namun sebelum Alena menjawab, tubuh Alena sudah ambruk di sofa, membuat Keysha ,Dewi dan Raisa terkejut.


"Alena" Seru Keysha.


"Mbak Alena" Dewi langsung menghampiri Alena, begitupun Keysha dan Raisa.


"Alena bangun" Keysha menepuk - nepuk pelan pelan pipi Alena, namun tidak ada respon.


"Raisa, kamu siapin mobil kita bawa Alena ke rumah sakit" Ujar Keysha.


"Baik Nona" Jawab Raisa, dia pun bergegas keluar dari ruangan Keysha menuju mobil.


"Kak, aku panggil karyawan laki - laki buat bawa kak Alena ya" Ucap Dewi meminta izin, pasalnya kalau perempuan mereka mungkin tidak kuat, malah Keysha takut kalau nanti Alena terjatuh.


"Ya sudah nggak papa" Jawab Keysha, dia berpikir karena Alena memakai jeans panjang.


Dewi pun bergegas keluar ruangan Keysha memanggil beberapa karyawan laki - laki untuk membawa Alena ke mobil.


"Kak Alena kenapa Bu Keysha?" Tanya Roni salah satu karyawan butik.


"Alena pingsan, aku juga nggak tahu kenapa" Jawab Keysha cemas.


"Dibawa ke klinik dulu aja Bu, yang lebih dekat" Ujar Roni memberi saran.


"Oh iya, ya sudah kalian tolong bawa Alena ke mobil ya" Ujar Keysha.


"Baik Bu" Beberapa karyawan pun membawa Alena ke dalam mobil, setelah itu Keysha dan Raisa membawa Alena ke klinik terdekat terlebih dahulu. Tidak lupa Keysha juga menghubungi Dimas agar datang ke klinik yang cukup dekat dengan butik milik Keysha.


Dimas sangat terkejut mendengar kabar kalau istri nya itu pingsan di butik, Dimas pun langsung keluar dari kantor nya dan melakukan kendaraan dengan lumayan cepat agar bisa segera sampai di butik dan mengetahui keadaan Alena.


Sedangkan Keysha masih harap - harap cemas melihat dokter yang tengah memeriksa Alena, setalah beberapa menit nampaknya dokter sudah selesai memeriksa kondisi Alena.


"Bagaimana dok keadaan Alena?" Tanya Keysha khawatir.


"Keadaan ibu Alena tidak apa - apa kok Bu, ini maklum terjadi di awal - awal kehamilan" Ujar dokter menjelaskan.


"Apa? hamil?" Tanya Keysha memastikan.


"Iya Bu" jawab Dokter.


Rupanya benar, Alena mulai menggerakkan jemari nya pertanda dia akan siuman, mata Alena mengerjap pelan melihat sekeliling yang nampak asing.


Keysha pun mendekati Alena,dan hendak bertanya tentang kondisi Alena saat ini, namun sebelum itu Dimas rupanya sudah datang dan langsung mendekati istrinya dengan raut wajah cemas.


"Sayang... kamu kenapa?" Tanya Dimas khawatir.


"Dimas?" Lirih Alena.


"Iya sayang, ini aku" Jawab Dimas.


"Aku dimana? Dan kenapa kamu di sini?" Tanya Alena, nampaknya dia belum sadar betul kalau tadi sempat pingsan.


"Kamu di klinik Alena, tadi kamu pingsan sewaktu di butik" Jawab Keysha menjelaskan kebingungan Alena.


Mendengar jawaban dari Keysha, Alena pun mulai ingat bahwa tadi terkahir Alena berada dalam ruangan Keysha dan hendak kembali bekerja, namun tiba - tiba kepalanya pusing dan pandangan nya kabur, terakhir Alena mendengar suara Keysha yang menanyakan kabar nya dan setelah itu Alena tidak ingat lagi.


"Oh iya aku ingat" Jawab Alena seraya memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Sebenarnya Alena kenapa Key?" Tanya Dimas cemas.


"Alena..." Keysha menggantung ucapan nya seraya memasang wajah sendu.


"Alena kenapa?" Tanya Dimas lagi tidak sabaran, pikiran Dimas mulai kalut, dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada kesehatan Alena.


"Alena hamil" Ucap Keysha, raut wajah sendu yang Keysha perlihatkan tadi berubah menjadi raut wajah bahagia. Namun berbeda dengan Dimas dan Alena yang malah memasang wajah bingung.


"Kok kalian nggak seneng sih, Alena hamil" Ucap Keysha sekali lagi, karena Dimas dan Alena hanya diam.


"Hamil?" Tanya Dimas, kemudian dia beralih menatap istrinya, "Sayang kamu hamil" Dimas dan Alena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya, mereka pun saling memeluk di depan Keysha, Raisa dan dokter pemilik klinik.


Keysha tersenyum kearah Dokter, "maaf ya Bu, maaf suami istri sama otak nya suka loading dulu" Ujar Keysha. Dokter pun hanya tersenyum mendengar ucapan Keysha.


"Dok istri dan anak saya baik - baik saja kan tapi?" Tanya Dimas dengan semangat nya, dia begitu antusias mendengar kehamilan Alena.


"Ibu dan bayinya sehat pak, tapi saran saya ibu di bawa ke dokter kandungan yang lebih memadai peralatan nya, supaya bapak dan ibu bisa mengetahui dengan pasti kondisi kandungan ibu" Ujar dokter menyarankan.


"Baik dok, terimakasih banyak atas sarannya" Ujar dokter.


"Sama - sama Pak" Jawab dokter seraya tersenyum ramah.


"Ayo sayang kita ke rumah sakit" ajak Dimas sambil membantu Alena turun dari brankar.


"Eitss tunggu dulu, loe harus ijin dong sama bosnya" Ujar Keysha dengan memasang wajah sok garang.


"Keysha yang cantik... aku minta izin ya buat Alena, soalnya mau di bawa ke dokter" Ujar Dimas sehalus mungkin, karena sedari dulu ketika Dimas meminta izin kepada Keysha cara ini adalah yang paling tepat.


"Oke... hati - hati ya, jangan lupa kasih kabar" Ujar Keysha.


"Oke" Jawab Dimas, setelah itu dia pun membawa Alena menuju mobil.


Keysha mengelus perutnya seraya berkata, "sayang, nanti kami punya temen baru selain Tama, sama Alden... horee jadi rame kan sayang" ucap Keysha seperti mengajak calon anak nya berbicara.


"Mari nona" Ucap Raisa mempersilahkan Keysha untuk masuk ke mobil.


"Terimakasih" Ujar Keysha.


"Sama - sama nona" Jawab Raisa.


"Kita kembali ke butik nona?" Tanya Raisa setelah dia duduk di kursi kemudi.


"Iya, aku masih ada beberapa yang belum selesai tadi" Ujar Keysha.


"Baik nona" Jawab Raisa.


Sedangkan kini, Dimas tengah memperhatikan dokter kandungan yang tengah memeriksa Alena menggunakan alat. Di layar monitor Dimas dijelaskan bahwa ada janin di perut Alena berusia 3 Minggu.


Yang membuat Dimas merasa lebih lega, kondisi janin dan ibunya sama - sama sehat, namun dokter tetap memberi saran agar Alena tidak terlalu lelah di masa hamil muda ini.


Dokter dan Alena pun pamit setelah diberikan resep vitamin dan penguat kandungan oleh dokter, sebelum pulang Dimas pun menebus resep tersebut, serta membeli susu ibu hamil untuk Alena.


Alena merasa menjadi ratu karena Dimas memperlakukan Alena sangat hati - hati, bahkan ketika berjalan Dimas meminta Alena untuk berjalan sangat pelan membuat Alena ingin tertawa dengan tingkah Dimas.


"Sayang, kamu lagi pengen apa?" Tanya Dimas setelah mereka dalam mobil.


"Aku pengen rujak buah sayang, yang asem - asem" Jawab Alena.


"Emang boleh? Kan pedes" ujar Dimas, nampaknya Dimas agak kurang setuju dengan permintaan Alena, namun ini juga termasuk ngidam, dan kata orang kalau wanita ngidam harus di penuhi.


"Enggak papa kok, lagian gak terlalu pedes, boleh ya??" Tanya Alena dengan memasang wajah manis nya.


"Baiklah kita beli, nanti sekalian buat Keysha ya" Ujar Dimas .


"Horee makasih yaaa" Alena mencium pipi Dimas sangkin senangnya.


Dipinggir jalan Dimas melihat penjual rujak buah, dia pun turun dari mobil sedangkan Alena menunggu di mobil sesuai perintah Dimas. Dimas memesan 4 porsi dan semuanya tanpa nanas, Dimas berencana membeli 2 porsi untuk Keysha dan 2 porsi lagi untuk Alena.


"Ini sayang" Dimas memberikan dua bungkus plastik kepada Alena.


"Terimakasih sayang, kita ke butik kan?" Tanya Alena.


"Iya cuma mampir ngasih rujak buah buat Keysha, setelah itu kita pulang" Ujar Dimas.


"Tapi kan ini masih jam kerja" Ucap Alena.


"Kamu nggak denger kata dokter? Kamu harus banyak istirahat, jadi nurut ya sama suami" Ujar Dimas mengelus pipi Alena.


"Iya deh" Akhirnya Alena pun mengangguk patuh, kemudian Dimas mengemudi kan mobilnya menuju ke butik milik Keysha untuk memberikan rujak buah, maklum Dimas memang sudah menganggap Keysha seperti adiknya sendiri, jadi Alena juga tidak heran Dimas memberikan perhatian kepada Keysha meskipun sekedar rujak buah.


Dimas dan Alena sangat bersyukur karena mereka bisa cepat di beri kepercayaan oleh Allah SWT, Alena berjanji akan menjaga dengan baik kandungan nya ini.