
Kanaya tengah diperjalanan menuju rumah sakit, dia memilih mengemudi sendiri sekarang, sebenarnya Kanaya masih belum terbiasa tanpa Nando, bahkan pagi tadi ketika bangun tidur Kanaya sempat lupa kalau hubungan nya dan Nando sudah berakhir, Kanaya sempat ingin mengetik pesan kepada Nando, namun saat ingat kejadian kemarin, Kanaya pun tersadar bahwa dia dan Nando sudah gak memiliki hubungan apapun.
Kanaya melihat kardus yang dia simpan dikursi penumpang, kardus tersebut berisi boneka dan barang-barang pemberian dari Nando ataupun Indira, Kanaya berencana menyumbangkan itu semua kepada panti asuhan, karena barang-barang tersebut masih sangat baik kondisinya.
Kanaya menghentikan mobilnya, tepat saat lampu berganti merah, dia melemparkan pandangan ke samping mobil, dan matanya tak sengaja melihat dua orang yang sangat ingin Kanaya hindari, dia adalah Indira dan Nando. Mereka tengah tertawa bersama, bahkan Indira sudah tak segan lagi untuk merangkul manja lengan suaminya itu, karena kaca mobil yang terbuka, Kanaya bisa melihat dengan jelas, ingin sekali Kanaya mengalihkan pandangannya, namun matanya seolah tak mau mendengarkan perintah, mata Kanaya memanas melihat pemandangan tersebut.
Hingga akhirnya, tanpa diduga Nando menyadari bahwa ada Kanaya disamping mobilnya, pandangan mereka pun bertemu, tatapan penuh cinta yang dulu Kanaya selalu berikan kepada Nando kini berubah menjadi tatapan penuh kecewa.
Rupanya Nando tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Indira istrinya, Kanaya pun langsung memutuskan kontak mata dengan Nando kala Indira juga tersadar akan adanya Kanaya, secepat mungkin Kanaya langsung menutup kaca mobil.
Dari arah luar, terdengar lirih suara Indira memanggil namanya, namun Kanaya seolah menulikan pendengaran nya, tepat saat lampu berganti hijau Kanaya pun langsung menancap gas.
"Ternyata gue belum seikhlas itu, sakit hati yang gue rasakan teramat dalam ke kalian berdua," Kanaya mencengkeram stir mobil nya dengan erat.
Air mata menetes membasahi pipi Kanaya, masih terasa sesak dalam dada Kanaya, kepercayaan yang selama ini Kanaya berikan kepada Nando dan Indira sudah benar-benar mereka hancurkan. Kanaya tak menyangka, Indira sahabatnya sedari kecil yang sudah Kanaya anggap layaknya saudara kandung sendiri bisa setega itu mengkhianatinya.
"Hubungan yang udah terjalin selama 2 tahun semua sia-sia Nan, dan persahabatan yang sudah terjalin sedari kecil dikhianati atas dasar kemunafikan, gue benci, gue benci !!" seru Kanaya seraya terisak.
Indira masih tertunduk lesu setelah melihat kepergian Kanaya, dia merasa bersalah kepada Kanaya, dia tidak menyangka persahabatan nya
kan berakhir dengan cara seperti ini. Namun, ada hal lain yang bersarang dalam benak Indira, cemburu. Indira merasa cemburu saat Nando menatap Kanaya, tatapan itu masih sama seperti dulu ketika Nando masih menjalin hubungan dengan Kanaya.
"Maaf ya Nan, gara-gara aku hubungan kamu sama Kanaya menjadi hancur berantakan," ucap Indira seraya menunduk.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Ra?" tanya Nando.
"Kamu masih mencintai Kanaya kan? seandainya kamu tidak menikahi aku, mungkin hubungan kalian masih berlanjut," ujar Indira, dia tidak berani menatap mata Nando.
Nando menepikan mobilnya, karena akan berbahaya jika terus melanjutkan perjalanan, Nando juga merasa pembicaraan ini penting, agar Indira tidak salah paham.
"Ra tatap aku," pinta Nando, namun Indira tidak menghiraukan Nando. Akhirnya Nando mendekatkan tubuhnya kearah Indira dan menangkup pipi Indira agar menatap nya.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Nando.
"Aku tau dari tatapan mata kamu ke Kanaya, itu masih menyiratkan cinta Nan, dan kamu nggak perlu bohong," ucap Indira.
"Ra, dengarkan aku." Nando menggenggam tangan Indira.
"Aku hanya merasa bersalah kepada Kanaya, apalagi tentang persahabatan kalian yang harus hancur karena aku, hanya sebatas itu Ra," ucap Nando meyakinkan.
"Sekarang, kamu adalah masa depanku, yang harus aku perjuangkan, jadi percaya ya sama aku," pinta Nando.
"Iya Nan," jawab Indira seraya tersenyum, Nando pun memeluk Indira dengan erat.
Kanaya sudah sampai di rumah sakit tempat nya praktek, saat di lobby dia bertemu dengan beberapa teman seprofesinya, mereka secara bergantian mengatakan kalimat penyemangat kepada Kanaya, bahkan ada yang terang-terangan membicarakan tentang videonya yang tengah viral, mereka bahkan menghujat Indira karena telah menghancurkan hubungan Kanaya. Namun, Kanaya hanya menanggapi dengan senyum, sejujurnya Kanaya juga merasa risih akibat viral nya video tersebut.
Natasha yang melihat beberapa teman sejawatnya tengah mengerumuni Kanaya pun langsung bertindak, dia tahu Kanaya pasti merasa kurang nyaman.
"Lagi ngapain? nggak kerja?" tanya Natasha.
"Eemm iya Dok, ini mau kerja kok," mereka pun langsung membubarkan diri. Setelah itu, Natasha pun langsung mengajak Kanaya agar langsung pergi menuju ruangan Kanaya.
"Makasih ya Nat," ucap Kanaya kepada Natasha setelah mereka sampai diruang kerjanya.
"Sama-sama kak," jawab Natasha.
"Aku jadi nggak nyaman banget gara-gara video ku yang viral itu," ujar Kanaya seraya menghembuskan napasnya lelah.
"Pasti sih kak, tapi setidaknya disini kakak nggak bersalah, jadi kakak nggak malu." ujar Natasha, Kanaya pun mengangguk menanggapi ucapan Natasha. Setelah itu, Natasha pun berpamitan untuk menuju keruang kerjanya.
"Apa?" Indira dan Nando begitu terkejut atas putusan dari kepala rumah sakit, karena mereka terpaksa harus dirumahkan lebih dulu akibat video yang tengah viral tersebut.
"Ini adalah keputusan langsung dari direktur utama rumah sakit, jadi kami harap dokter Nando dan dokter Indira bisa memaklumi, mengingat kondisi sekarang sangat tidak memungkinkan."
"Baiklah Dok, kami mengerti dan kami menerima keputusan dari rumah sakit," ucap Nando.
"Kalau begitu, kami permisi Dok," Nando dan Indira pun berpamitan, karena mereka akan dirumahkan selama 7 hari.
Selama perjalanan mereka ke parkiran, semua mata memandang sinis kearah Nando dan juga Indira, membuat mereka berdua menjadi risih. Bisik-bisik mereka membicarakan tentang Nando dan Indira.
Nando dan Indira pun segera mempercepat langkah mereka karena mereka sudah muak mendengarkan bisikan mereka.
"Sekarang kita harus gimana Nan?" tanya Indira setelah mereka berada dalam mobil.
"Kita pulang, dan urus pernikahan kita supaya sah secara negara, dan kita adakan pesta pernikahan," ucap Nando.
Indira menatap Nando dengan tatapan bertanya, "kamu yakin?"
"Aku yakin, satu Minggu aku rasa cukup untuk mempersiapkan semuanya, kita hanya perlu mengadakan pesta pernikahan, untuk wedding organizer aku punya kenalan, kita bisa mengadakan acara dirumah."
"Baiklah, tapi lebih dulu kita minta izin mamah sama papah ya?" ucap Indira.
"Iya, ya sudah kita pulang sekarang." Ajak Nando, dia pun mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sakit.
Saat mereka sudah sampai di rumah, mereka melihat Bella yang tengah duduk melamun diruang keluarga, melihat Bella yang tengah termenung, Indira pun mendatangi Bella dengan perlahan.
"Mah..." Indira memegang pun memegang pundak Bella dengan perlahan.
Bella terkesiap dan heran karena Indira dan Nando kembali ke rumah, "loh kalian kok balik lagi, ada yang ketinggalan?" tanya Bella.
Indira dan Nando saling berpandangan seolah meminta pendapat satu sama lain lewat sorot mata, dan itu dapat diketahui oleh Bella, dia tahu ada yang tidak beres terjadi antara Indira dan Nando.