
Kanaya begitu terkejut mendengar jawaban dari Natasha, "bagaimana mungkin Tama tidak pernah menikah dengan Vanes, sedangkan waktu itu semua sudah dipersiapkan Natasha?" tanya Kanaya.
"Memang kak, tapi bukan kak Tama yang menjadi mempelai pria, melainkan orang lain," ujar Natasha.
Kanaya semakin terkejut mendengar hal ini, jadi banyak sekali yang tidak Kanaya tahu, sampai Kanaya dibuat bingung oleh semua ini.
"Tolong jelaskan secara rinci," ujar Kanaya dengan nada memohon.
"Semua berawal ketika hari pernikahan kak Tama ...."
Flashback on
Tama tengah bingung, karena dia mencoba menghubungi Kanaya kembali dengan ponsel Anisa, namun sekarang ponsel Kanaya sudah tidak aktif. Tak lama Natasha mencari Tama dengan tergesa-gesa.
"Kak Tama," panggil Natasha panik.
"Ada apa?" tanya Tama yang bingung, karena melihat kepanikan dari wajah adik nya.
"Kak Vanes pingsan," ucap Natasha, sontak Tama terkejut, dia pun segera mendatangi Vanes di ruang rias. Rupanya Vanes sudah dibaringkan di ranjang, dan sudah ada Indira yang tengah memeriksa keadaan Vanes.
"Apa yang terjadi?" tanya Tama panik.
"Nona Vanes tiba-tiba pingsan tuan, tadi nona sempat mual-mual, kami sempat menanyakan keadaannya, dan nona Natasha bilang tidak apa-apa," jawab seorang perias.
Akhirnya Indira selesai memeriksa keadaan Vanes, Tama pun langsung menanyakan keadaan Vanes.
"Vanes hamil," jawab Indira.
"Hamil? mana mungkin Ra, kamu kan tahu Vanes memasang KB spiral" ujar Tama.
"Loh, Vanes nggak cerita sama kamu? dia kan nggak jadi pasang KB spiral itu Tam, Vanes membatalkannya," ujar Indira.
"Apa?" ucap Tama. Dia menyugar rambutnya frustasi.
"Gue yakin kok, ini anak loe," ujar Indira lagi.
Tak lama Vanes mulai tersadar dari pingsan nya, dia memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Vanes? Bagaimana keadaan kamu?" tanya Indira.
"Pusing," jawab Vanes, Indira pun memberikan air minum kepada Vanes. Setelah dirasa keadaan Vanes mulai membaik, Indira mulai menanyakan kapan Vanes terakhir datang bulan, awalnya Vanes merasa bingung, namun kemudian dia menjawabnya.
"Berarti usia kandungan Vanes sudah memasuki 6 Minggu," jawab Indira.
"Apa? kandungan?" tanya Vanes bingung.
"Iya, kamu hamil," jawab Tama.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu nggak jadi pasang KB?" tanya Tama.
"Ya udah lah Tama, lagian kan ini anak kamu, kita juga akan menikah," jawab Vanes enteng.
"Dia bukan anak ku," jawab Tama, sontak membuat kedua orang tua Tama dan Vanes terkejut.
"Tama, jangan lari dari tanggung jawab kamu," seru Oki kepada putranya.
"Papah selalu mengatakan kepada kamu, apa yang kamu perbuat, maka kamu harus berani bertanggung jawab," ujar Oki.
"Pah, tapi aku yakin, bayi yang Vanes kandung, bukan anak aku," ujar Tama yakin.
"Jawab pertanyaan aku Vanes, anak siapa ini?" Tama menatap Vanes penuh intimidasi.
"Ini anak kamu," jawab Vanes seraya meraih tangan Tama.
"Bohong," seru Tama seraya melepaskan genggaman tangan Vanes.
"Berikan buktinya," ucap Tama.
"Baik tuan," Aldo pun mengeluarkan ponselnya, dan menampilkan sebuah surat keterangan dari rumah sangat, yang menyatakan Tama telah melakukan operasi operasi vasektomi 1 tahun lalu, dan baru saja melakukan operasi rekanalisasi seminggu lalu.
"Ini adalah surat pernyataan nya, silahkan di baca," ujar Aldo.
"Bagaimana? sedangkan kehamilan kamu 6 Minggu, jadi itu jelas bukan anakku" ujar Tama.
"Katakan siapa ayahnya," Tama menekan kata-katanya.
"Aku," dari arah pintu seseorang masuk dengan santai.
"Serkan?" ucap Tama dan Vanes. Serkan adalah seorang fotografer yang sering memotret Vanes. Dan rencananya Serkan juga yang akan menjadi fotografer di pernikahan Tama dan Vanes.
"Aku datang untuk bertanggung jawab," ujar Serkan.
Tama memukul Aldo tepat di bagian wajah, untunglah Oki dan Marvel sigap memegang Tama agar tidak berbuat terlaku jauh, sedangkan Serkan tak ada niat membalas, karena dia tahu dia salah.
"Arrrggghhh" Tama berteriak seraya mengacak rambutnya frustasi.
"Aku membebaskan kamu untuk berkarir tapi ini yang kamu lakukan?" tanya Tama seraya tersenyum miris.
"Tama, aku minta maaf" Isak Vanes.
"Pernikahan ini harus tetap berjalan, tapi bukan aku mempelai prianya," ucap Tama, dia menatap Serkan, "tapi dia" tunjuk Tama.
"Aku siap." jawab Serkan.
Flashback off
"Akhirnya pernikahan pun terjadi, tapi bukan kak Tama dan kak Vanes, melainkan kak Serkan dan kak Vanes. Kak Tama ikhlas dengan semuanya, bahkan hubungan kak Tama dan kak Serkan terjalin baik." ujar Natasha masih bercerita. Dia menarik napas dalam, sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tapi, saat usia kak Vanes memasuki ke 8 bulan, mereka mengalami kecelakaan mobil, dimana di dalam mobil sedan kak Vanes dan suaminya, serta kedua orang tua kak Vanes, mereka mengalami kecelakaan ketika menuju ke kota Surabaya."
"Kedua orang tua kak Vanes dinyatakan meninggal, dan suami kak Vanes Kritis, kak Vanes sendiri menjalani operasi sesar untuk menyelamatkan bayinya, dan beruntung bayi kak Vanes selamat."
"Tapi, suami kak kak Vanes dinyatakan meninggal, tepat setelah kak Vanes melahirkan, kak Vanes sendiri meninggal setelah dinyatakan komplikasi pasca melahirkan, dan sebelum meninggal, kak Vanes sempat menitip kan pesan kepada kak Tama untuk menjaga bayinya, kak Vanes memberikan nama Inez, setelah mengatakan itu kak Vanes menghembuskan napas terakhir nya." Jelas Natasha, ketika mengingat masa-masa itu, Natasha selalu sedih.
"Lalu dimana bayinya?" tanya Kanaya.
"Felly adalah anak almarhum kak Vanes, kak Tama memberikan nama Fellysia Inez Pratama, kak Tama memberikan marga keluarga Pratama di belakang nama Felly." jawab Natasha.
Kanaya tak menyangka, ternyata Felly bukanlah anak kandung Tama, Kanaya bahkan sampai menutup mulutnya sangkin terkejut.
"Setelah kedatangan Felly, kak Tama berubah kak, kak Tama menjadi lebih dewasa, yang ada di hidup nya, hanya Felly, dan pekerjaan. Bahkan aku nggak tahu, apa kak Tama akan menikah dan mencari pendamping hidup, atau dia akan tetap menjadi singgel Daddy, karena tak nampak, kak Tama dekat dengan wanita."
"Mamah sama papah pernah menanyakan tentang pasangan hidup kepada kak Tama, namun kak Tama bilang, sekarang ini, dia bukan hanya memilih pasangan hidup, tapi juga ibu bagi Fellysia, mungkin banyak wanita yang mau dan bersedia menjadi pendamping kak Tama, tapi apa mereka juga bisa menerima Felly?"
"Apa Felly pernah menanyakan soal mamah nya?" tanya Kanaya.
"Sering kak, kadang Felly sedih ketika melihat teman seusianya tengah bermain dengan orang tua lengkap, ada ayah ada ibu, dan Felly pasti bertanya, mamah Fellysia mana? terkadang aku bingung jawabnya kak, aku juga sedih, nggak mungkin juga aku menjelaskan kepada Felly hal yang sebenarnya." Ucap Natasha.
"Kamu dan keluarga kamu adalah orang hebat, kalian bisa menerima Felly dengan sukacita," ucap Kanaya.
"Felly adalah semangat kami kak, bahkan berkat Felly akhirnya aku memilih menjadi dokter spesialis anak kak," ujar Natasha.
"Terimakasih banyak ya Natasha, atas semua penjelasan nya, berkat kamu aku menjadi mengerti sekarang, maaf kalau dengan kamu menceritakan ini, kembali membuka luka lama," ujar Kanaya tak enak hati.
"Nggak papa kok kak, Kaka juga perlu tahu, supaya tidak ada salah paham," jawab Natasha.
"Ya sudah kita lanjut kan makannya ya..." Mereka pun kembali melanjutkan makan siang bersama. Setelah makan siang, mereka pun kembali ke rumah sakit, melanjutkan pekerjaan mereka, dalam perjalanan Natasha juga bercerita, bahwa dia sekarang memiliki kekasih, bernama Rangga. Yap Rangga Saputra, adik dari Anggela Anastasia, atau putra dari Farel dan Lavanya.