Keysha

Keysha
Akhirnya..



Marvel begitu penasaran dengan keputusan apa yang Farel ambil tentang hubungannya dengan Lavanya.


"Saya memutuskan akan menemui keluarga Lavanya malam ini tuan, dan saya akan mengatakan tentang keseriusan saya dengan Lavanya" Ucap Farel.


"Benarkah? Apa kamu sudah memikirkan nya dengan matang Farel?" Tanya Marvel, pasalnya dia tidak mau jika Farel memutuskan untuk segera menikah karena terpengaruh oleh nya. Pasalnya menikah adalah sebuah keputusan besar dalam hidup, jadi Marvel tidak mau kalau Farel belum yakin dengan keputusannya sendiri.


"Saya sudah memikirkan ini dengan matang tuan, saya yakin dengan keputusan saya. Anda benar, saya seharusnya tidak selalu melihat masa lalu kedua orang tua saya" Jelas Farel.


"Jika memang kamu sudah memutuskan, maka aku akan mendukung kamu Rel, aku ikut bahagia dengan kabar kamu ini" ujar Marvel.


"Terimakasih tuan" Ujar Farel.


Malam harinya Farel benar - benar datang ke kediaman orang tua Lavanya, dia sangat gugup sekarang. Berulang kali Farel menatap dirinya lewat pantulan kaca spion mobil memastikan dia sudah rapih sekarang.


"Ayo Farel, demi masa depan " batin Farel menyemangati dirinya sendiri.


Farel menekan bel rumah dua kali, dan akhirnya pintu pun terbuka, pertama kali yang Farel lihat adalah seorang perempuan cantik memakai dress panjang, penampilan yang sangat jarang Farel lihat sebelum nya.


Wanita itu adalah seseorang yang sudah mengisi relung hatinya, dan akan Farel perjuangkan, dia adalah Lavanya.


Lavanya tersenyum melihat Farel di hadapan nya, tatapan kagum Farel membuat Lavanya tersipu malu.


"Ayo masuk" Ajak Lavanya.


"Terimakasih" Ujar Farel.


"Ayah, ibu Farel datang" Ucap Lavanya pada kedua orang tuanya itu.


"Wah calon menantu sudah datang" Ucap Andre ayah Lavanya.


"Selamat malam ayah, ibu" Sapa Farel, dia sudah membiasakan diri memanggil Andre dan Keke ibu Lavanya dengan panggilan Ayah dan ibu.


"Malam nak Farel" Jawab Keke. Farel mencium punggung tangan Andre dan Keke sopan.


"Mari nak silahkan duduk" Ujar Andre mempersalahkan Farel untuk duduk di ruang tamu.


"Terimakasih ayah" Ucap Farel gugup. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Tidak lama seorang ART membawakan minum dan camilan ke ruang tamu dan menghidangkan di meja.


"Silahkan di minum nak Farel" Ucap Keke menawarkan.


"Terimakasih Bu" ucap Farel, dia pun meminum teh manis hangat untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Lavanya bilang, nak Farel ingin bertemu dengan kami, dan membicarakan sesuatu hal, memang nak Farel ingin membicarakan apa??" Tanya Andre.


"Iya Yah, sebelum nya saya minta maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu ayah dan ibu" Ucap Farel menjeda kalimatnya.


"Tidak mengganggu sama sekali kok nak" Jawab Keke.


"Terimakasih Bu, dan hal yang ingin saya sampaikan adalah, tentang rencana pernikahan antara Saya dan Lavanya Yah, Bu" ujar Farel.


"Rencana pernikahan?" Tanya Andre, Keke dan Lavanya bersamaan.


"Iya ayah, ibu.. maaf kalau terkesan terburu - buru, tapi saya rasa lebih cepat lebih baik, toh antara saya dan Lavanya sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama meskipun kami baru meresmikannya" ujar Farel.


"Kami ikut senang kalau kalian ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius, namun apa pun itu ayah akan serahkan semua keputusan nya kembali kepada Lavanya, karena kalian berdua yang akan menjalankan" Jawab Andre.


"Benar nak Farel, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mengarahkan keputusan kalian" Ujar Keke menimpali.


"Terimakasih ayah .. ibu" Ujar Farel. "Lalu bagaimana dengan kamu Lavanya??" Tanya Farel.


"Apa Farel benar - benar sudah yakin??" Batin Lavanya.


"Lavanya??" Panggil Keke halus pada Lavanya yang nampak melamun.


"Lavanya perlu berbicara dulu Bu dengan Farel" jawab Lavanya.


"Ya sudah, kalian bicarakan saja berdua dulu" Ujar Andre.


"Baik Yah" Jawab Lavanya.


"Ayo Farel" Ajak Lavanya, setelah berpamitan mereka berdua pun menuju kolam renang, dan mereka duduk di kursi yang ada di tepi kolam.


"Farel.." Panggil Lavanya lirih.


"Iya Lavanya" Jawab Farel.


"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu??" Tanya Lavanya.


"Sudah, aku sudah memikirkan ini sejak semalam Lavanya, dan tadi siang aku sudah membicarakan keputusan ku ini dengan tuan Marvel" Jelas Farel.


"Tapi aku masih ragu dengan kamu" Ucap Lavanya sambil memandang Farel sendu.


"Apa yang kamu ragukan??" Tanya Farel sambil menggenggam tangan Lavanya.


"Aku tidak pernah tahu tentang keluarga kamu, kecuali ayah kamu yang sudah meninggal, aku ingin bertanya namun aku takut akan menyinggung kamu Rel" Ujar Lavanya mengeluarkan isi hatinya selama ini, Lavanya memang belum terlalu tahu tentang keluarga Farel kecuali ayah Farel.


Farel menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Lavanya, "baiklah, aku memang bersalah Lavanya, karena belum sepenuhnya terbuka dengan kamu" Ujar Farel.


"Aku akan menceritakan semuanya, dan aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku membuka luka lamaku" Jawab Farel.


Lavanya melihat di mata Farel, nampak ada luka yang tak dapat di jelaskan, kekecewaan, sepi itu lah yang Lavanya lihat. Lavanya hanya diam, dia menunggu ucapan Farel selanjutnya.


"Ayah dan ibuku bercerai ketika aku duduk di kelas 1 SMA, ayah adalah asisten pribadi keluarga Daguise, dan setelah perceraian aku ikut dengan Ayah tinggal di apartemen yang aku tempati sekarang. Namun ketika aku duduk dikelas 3 SMA ayah meninggal dunia karena penyakit jantung" ucap Farel, dia menahan tangisnya agar tidak keluar.


"Hidupku seakan hancur saat itu, sandaran ku telah pergi untuk selama - lamanya, dan satu harapan ku adalah ibu. Ya aku berharap ibu akan datang dan menemui aku Lavanya, menguatkan aku dan mengatakan bahwa aku tidak sendiri. Namun aku bodoh" ucap Farel tersenyum getir, Lavanya yang melihat senyum itu merasa iba, itu adalah senyum penuh luka.


"Ibu ku sama sekali tidak datang Lavanya, bahkan dia tidak pernah mengunjungi ku sejak mereka berpisah, dan hanya ada keluarga Daguise yang selalu berada di samping ku, dan menguatkan aku. Itu lah sebabnya aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu mengabdi pada kelurga mereka" jelas Farel.


"Lalu dimana ibu kamu Farel??" Tanya Lavanya hati - hati.


"Australia" Jawab Farel.


"Kamu tahu alamat nya?" Tanya Lavanya.


"Aku tahu, tapi aku tidak mau menemuinya. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan nya sejak dia tidak pernah menemui ku lagi" Ujar Farel.


"Tapi dia ibu kamu Rel" ucap Lavanya.


"Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya dan bertahun - tahun tidak menemui anaknya, apa dia tidak khawatir??" Tanya Farel.


"Aku sudah memutuskan Lavanya, saat pernikahan kita dan kehidupan kita selanjutnya, aku tidak mau menyangkut pautkan ibuku, itu adalah keputusan ku yang mutlak" Ujar Farel. Mendengar kata keputusan mutlak Lavanya pun mengangguk paham, karena sudah jelas Lavanya tidak mungkin bisa merubah keputusan Farel.


.


.


...Happy reading 🥰...