
Selama perjalanan Nando juga memikirkan tentang ucapan
Lailla, andai saja Nando masih bersama Kanaya, mungkin semuanya tidak akan
seperti ini. Indira mungkin tidak akan kehilangan pekerjaan yang sudah sia
inginkan sejak dulu, dan Indira masih bisa menggapai mimpinya tentu.
“Dari mana?” suara Indira menyapa pendengaran Nando, namun
suara itu begitu dingin dan ketus.
“Bertemu Kanaya?” tuduh Indira, hal itu tentu saja memancing
kekesalan Nando. Seharusnya rumah tempatnya beristirahat setelah penat dari
aktifitasnya seharian, malah membuat Nando tidak betah karena tuduhan-tuduhan
Indira.
“Kamu bisa nggak sih, suami pulang disambut dengan senyuman
atau apa, ini malah disambut dengan tuduhan yang sama sekali nggak berguna,”
kesal Nando.
“Ohh mentang-mentang sekarang aku pengangguran sekarang,
jadi kamu merendahkan aku?” bukannya introspeksi Indira malah seolah marah
dengan perkataan Nando.
“Kamu kenapa sih? Kenapa kamu seolah menyalahkan aku atas
pemecatan kamu? dan apa salahnya kalau aku meminta kamu menyambut aku ketika
pulang? Apa itu salah?” Nando benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang
dipikirkan oleh Indira.
“Indira!” seru Aditya, dia semua sikap Indira sedari Nando
baru saja sampai di rumah. Dan aditya menilai memang Indira sudah salah.
“Harusnya kamu malu, sampai-sampai suami kamu meminta kamu
menyambut suami pulang kerja dengan senyuman, harusnya kamu sekarang sadar
diri, kamu sudah menjadi seorang istri yang akan dinafkahi sepenuhnya oleh
Nando. Bersikap lembut dan sopan sedikit Indira kepada suami kamu, jangan
mempermalukan Papah seolah-olah Papah tidak pernah mendidik kamu!” hardik
Aditya, meskipun Indira adalah putri kandungnya, namun Aditya tetap mendidik
putrinya dengan tegas, karena Aditya merasa didikan Bella malah membuat Indira
salah kaprah.
“Masuk kamar!” sentak Aditya, dan dituruti oleh Indira.
menantunya.
“Iya Pah,” mereka pun duduk diruang keluarga.
“Papah minta maaf atas sikap Indira yang mungkin kurang
berkenan untuk kamu, Papah mohon kamu bisa lebih sabar, karena mungkin Indira
sedang sensitive karena kasus pemecatannya,” ujar Aditya, dia sudah tahu dari
Bella yang memberitahukan kepadanya bahwa Indira dipecat dari rumah sakit. Awalnya
sebagai seorang Ayah Aditya juga merasa marah, namun kembali lagi ini juga
kebijakan rumah sakit. Aditya sadari, mana ada rumah sakit yang mau
memperkerjakan seorang Dokter mantan napi.
“Iya Pah, Nando paham … tapi Nando juga berharap Indira bisa
bersikpa lebih baik, bagaimanapun juga Nando pulang kerumah ingin melepas semua
penat Nando setlah seharian beraktivitas,” jelas Nando.
“Papah tahu, dan Papah paham … nanti Papah akan meminta
Mamah Bella supaya sedikit demi sedikit bicara dengan Indira,” ujar Aditya
dengan bijak. Sebagai seorang Ayahm Aditya merasa gagal sudah mendidik Indira,
namun tidak ada kata terlambat, dia masih bisa bmerubah Indira agar bisa
berlaku lebih baik lagi.
“Iya Pah … dan terimakasih banyak karena Papah sudah mau
mnegerti Nando.” Setidaknya Nando bersyukur karena dia memiliki ayah dan ibu
mertua yang baik padanya dan mau menerima Nando. Disisni Nando berpikir,
mungkin Indira juga ingin seperti dirinya, ingin tahu bagaimana rasanya
diperhatikan, bagaimana rasanya disayang oleh mertua dan yang pasti mereka
ingin mendapat doa restu tulus dari kedua orangtua Nando yang hingga kini masih
nampak belum setuju dengan keputusan Nando menikahi Indira.
Nando akui, mungkin ini adalah salahnya, andai saja waktu
itu dia tiak mengajukan diri untuk menikahi Indira, mungkin semuanya tidak akan
begini, juga pastinya pershabatan yang sudah terjalin baik antara Indira dan
Kanaya tidak akan rusak seperti sekarang ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur,
baik Nando mupun Indira harus bisa menerima konsekuensi dari keputusan yang
mereka ambil.