Keysha

Keysha
Season 2 (Tidak mau punya adik?)



Felly kini tengah duduk menyantap bekal makan siang yang


dibawakan oleh Kanaya, Felly sangat suka sandwich buatan Kanaya, jadi Felly


sering meminta pada Kanaya untuk membuatkannya sandwich untuk bekal di sekolah.


“Felly …” beberapa teman-teman Felly datang menghampiri.


“Ini mamah kamu yang buatin?” tanya teman sekelas Felly.


“Iya … ini enak banget, kalian mau?” tawar Felly, dan mereka


pun menolak.


“Felly .. sekarang mamah kamu masih bisa sayang sama kamu,


tapi nanti kalau mamah kamu punya dede baru, kamu nggak akan disayang lagi sama


mamah papah kamu,” ujar salah satu teman Felly.


“Kenapa?” dari nada bicaranya tentu saja Felly tidak suka,


Felly tidak akan suka jika apa yang dikatakan temannya adalah benar.


“Kan itu bukan mamah kandung kamu, jadi nanti kalau mamah


kamu punya dede bayi sendiri, mamah kamu bakalan lebih sayang sama dede


bayinya,” timpal teman Felly yang lain, membuat Felly berwajah muram dan sendu.


“Iya Fel .. jadi biar kamu terus disayang, kamu harus bilang


sama mamah dan papah kamu, supaya mereka cuman punya anak kamu aja, jangan ada


yang lain.”


Mendengar ucapan teman-temannya, membuat Felly berpikir,


kalau dia punya adik pasti dia akan dilupakan, dan kasih sayang orangtuanya


tidak lagi untuknya, Felly pun menganggukkan kepalanya, dia bertekad akan


bicara dengan kedua orangtuanya bahwa mereka tidak boleh memiliki adik bayi.


Hampir jam makan siang, Kanaya sudah menunggu putri kecilnya


didepan kelas, hari ini rencananya Kanaya Anita dan Anggel akan pergi ke


restaurant Indira, mereka sudah cukup lama tidak kumpul bersama, dan tentunya


mereka merasa rindu dengan kebersamaan mereka dulu.


“Hai sayang ….” Kanaya langsung memeluk putrinya dengan


sayang.


“Kita mau kemana Mah?” tanya Fellycia.


“Kita pergi ke restaurant tante Indira, ada tante Anggel dan


tante Anita juga loh,” ujar Kanaya menjelaskan kepada putrinya, mereka pun


berjalan beriringan menuju mobil.


Ketika Kanya dan Felly sampai, rupanya Anita dan Anggel


sudah sampai lebih dulu, mereka saling berpelukan melepas rindu, begitu pula


dengan Indira.


“Waah sekarang udah jadi macan ternak ya?” uja Anita


meledek.


“Hah? Macan ternak?” nampaknya Kanaya tidak tahu dengan


cebutan itu.


“Iya, Mamah cantik anatar anak,” timpal Indira diselingi


tawa.


“Eh kalian berdua, udah jadi istri masih santai aja? Emang


nggak bawain makan siang ke suami?” tanya Anggela.


“Udah gede mandiri dong,” jawab Kanaya diselingi tawa.


“Kalau loe Ra?” tanya Anita pada Indira.


“Nando lagi seminar, di Amsterdam,” jawab Indira.


“Oh … jadi Nando yang ikut perwakilan? Dua hari kan ya?” tanya


Kanaya seraya menyesap jus pesanannya dan menyuapi beralih menyuapi Felly.


“7 hari kok Nay,” ujar Indira yang seketika membuat Kanaya


terdiam.


“Ohh iya, perjanlanannya kan jauh yaa???” ujar Kanaya lagi


seolah tidak mau ada kesalah  pahaman


antara Nando dan Indira.


‘7 hari? Perjalanan ke Amsterdam juga nggak selama itu,’


batin Kanaya curiga, tapi dia tidak mau berpikir negative, bagaimanapun itu


adalah urusan Nando dan Indira, dan Kanaya tidak mau ikut campur.


Sedari tadi Kanaya dan teman-temannya denga bercerita


panjang lebar, tapi Felly malah hanya diam dan melihat interkasi seorang ibu


denga membawa dua anaknya, yang satu lebih tua satu tahun dari Felly dan yang


satunya berumur sekitar 1 tahun, hal itu pun disadari oleh Kanaya dan yang


lain.


“Kamu kenapa sayang? kok diem aja?” tanya Kanaya seraya


mengikuti arah pandangan Felly.


membuat Kanaya, Indira, Anita dan Anggel terkejut.


“Kenapa sayang?” tanya Indira, dia yakin ada yang tidak


beres dengan Felly, pasti ada yang mengompori pemikiraannya soal adik.


“Iya, Kalau nanti Felly punya adik pasti Mamah sama papah


lebih sayang sama adik kan? Mamah dan papah nggak akan sayang lagi sama Felly,”


jawab Felly dengan polos.


“Hei … siapa yang bilang begitu sama Felly??” tanya Kanaya,


dia tidak bisa membiarkan Felly terus salah paham dengan pemikirannya.


“Teman-teman Felly Mah,” jawab gadi kecil itu dengan polos.


“Felly sayang … dengar tante ya? apa yang Felly pikirkan itu


salah Nak …” Anggel ikut turun tangan memberikan pengertian kepada Felly.


“Iya sayang … sampai kapan pun, bahkan selama-lamanya Felly


tetap akan menjadi putri kesayangan Mamah dan Papah,” ujar Anita menambahkan.


“Nah … selama ini kan Mamah Kanaya sayang banget sama Felly,


jadi buat apa Felly ragu, kehadiran adik bayi dalam kehidupan Felly nggak akan


bisa menggeser nama Felly dalam hati Mamah dan Papah, karena selamanya, Felly


dan adik akan menjadi kesayangan Mamah dan Papah,” Indira ikut memberikan


pengertian kepada Felly yang sudah termakan oleh ucapan teman-temannya.


“Enggak pokoknya Felly nggak mau punya adik,” tolak Felly


dengan keras, dia bahkan bersedekap dada sekarang.


“Kenapa begitu?” tanya Kanaya dengan halus.


“Kan Mamah bukan mamah kandungnya Felly, jadi nanti mamah


nggak akan sayang lagi kan sama Felly kalau Mamah punya dede bayi?” perkataan


Felly begitu menyakitkan didengar oleh Kanaya, dia tidak menyangka kalau Felly


bisa berkata demikian.


“Felly jangan bicara seperti itu sayang …” Indira mencoba


mengingatkan Felly.


“Nay …” Anita melihat Kanaya menangis dan dengan cepat


menghapus air matanya, namun terlambat, karena Felly juga sudah melihat Kanaya


menangis tadi. Seketika raut wajah Felly berubah sendu.


“Mamah ??? Felly nakal yaa???” tanya Felly dengan raut wajah


penuh penyesalan.


Kanaya menggeleng, “Felly jangan bicara seperti itu ya


sayang?” Kanaya mencoba menahan air matanya, entah kenapa mendengar Felly


mengingatkan kalau Kanaya bukanlah ibu kandungnya, membuat Kanaya sangat


bersedih, karena selama ini Kanaya tidak pernah memikirkan tentang hubungan


darah mereka, bagi Kanaya Felly adalah putrinya, tidak perduli kalau DNA mereka


berbeda, karena memang Felly tidak lahir dari Rahim Kanaya, tapi bagi Kanaya


itu semua tidak penting, bagi Kanaya dia menerima Felly menjadi putrinya itu sudah


lebih dari cukup, dan itu sudah mengalahkan hubungan darah.


“Felly dengar Mamah ya Nak?” Kanaya menagkup kedua pipi


Felly dengan lembut, “meskipun Felly nggak lahir dari rahim Mamah, meskipun


orang berkata bahwa Mamah bukan Mamah kandungnya Felly, tapi Mamah mohon,


jangan dengarkan merekas. Karena Mamah menyayangi Felly dengan tulus dan tanpa


syarat Nak,” ucap Kanaya sembari menitikkan air mata.


“Mamah harap, Felly juga bisa menyayangi Mamah ya ? dan


apapun yang terjadi nanti, Felly akan tetap menjadi anak Mamah, jikalaupun


Mamah punya adik bayi, itu adalah adik Felly karena Mamah adalah Mamahnya


Felly,” ujar Kanaya lagi, “Felly paham?”


“Iya Mah, Felly paham … maafin Felly ya Mah …” Felly merasa


bersalah atas apa yang dia katakan, apalagi sampai membuat Kanaya menangis.


Kanaya begitu lega, karena akhirnya Felly bisa mengerti, dia


pun memeluk putrinya dengan penuh kasih, melihat bagaimana Kanaya dan Felly


berinteraksi, membuat Indira, Anita dan Anggel menangis haru. Mereka tidak


menyangka, Kanaya sahabat mereka yang dulu masih sering terlihat manja kini


bisa bersikap jauh lebih dewasa bahkan bijak dan keibuan, membuat mereka bangga


dengan Kanaya yang bisa langsung memposisikan dirinya sebagai orangtua.


Indira menatap Kanaya dengan sendu, dia berpikir mungkin


jika dirinya mempunyai seorang anak, hari –hari Indira akan jauh lebih


berwarna, memikirkan hal itu, semakin meyakinkan Indira untuk mengadopsi


seorang anak.