Renalda

Renalda
Dinner



Tamu-tamu mulai pamit satu persatu untuk meninggalkan area pesta. Beberapa menuju kamar yang telah disiapkan oleh tuan rumah, beberapa lagi memilih langsung ke rumah masing-masing.


Mika sudah melepaskan jasnya, Ivana juga sudah mengganti gaunnya. Kini semuanya berkumpul ditaman hotel yang sudah disulap menjadi tempat untuk dinner.


Semua warga Arunika ada disana, keluarga Maheswari tentu saja. Angel, Rian, Alex, Sandi dan Dian menolak halus undangan tuan rumah. Dian sedikit tidak enak badan, Rian juga memiliki janji dengan keluarganya sedangkan Alex beralasan tugasnya menumpuk.


Alih-alih menggunakan meja makan, mereka malah lesehan. Tikar dibentangkan, diatasnya disimpan beberapa jenis makanan. Hans dan Ares tentu saja membawa istrinya duduk didekat mereka. Sedangkan Erlan dan Arwan juga para istrinya membentuk kelompok. Lathief dan Aina duduk berhadapan dengan Dina dan Raka. Sedangkan Mika, Ivana, Alda ,Angga, Rafa Randi dan Renal duduk dibagian tikar lain.


"Udah lama banget kita gak kayak gini" ucap Arwini yang membantu Aina membawa beberapa camilan ke Gasebo taman.


"Iya, sejak Rina gak ada, kita juga jarang ngumpul" Priska mengiyakan.


"Sabar, doain agar James dan Rina bahagia disana" kata Aina menenangkan kedua sahabatnya.


"Maaf yah Mrs. Maheswari, suasananya jadi mellow gini" lanjut Aina.


Dina menggeleng.


"Gak apa-apa. Mereka pantas untuk dikenang. Mereka begitu baik terhadap sesama. Meskipun saya tidak sering bertegur sapa dengan mereka, tapi saya cukup tahu mereka orang-orang yang baik" ucap Dina.


"Bagaimana kabar Mrs. Gio, nak?" tanya Hans pada Raka.


"Kurang sehat, om. Beberapa hari lagi kami akan segera menjemputnya, Turkey terlalu jauh untuk mama tinggali sendiri" jawab Raka sopan.


"Segeralah jemput mamamu. Kami juga sudah memutuskan untuk menghabiskan masa tua kami disini setelah beberapa tahun menundanya" perintah Karina.


"Baik, bi" kata Raka.


"Masa tua kita akan berwarna bersama anak-anak, cucu dan cicit kita nanti" kata Ares. Ia membayangkan dengan tubuhnya yang renta, ia akan mengejar para cicitnya yang bermain di taman.


"Paman Ares enak sekarang sudah punya cicit, Angga bahkan belum membawa menantu untuk kami. Padahal kami juga begitu ingin menggendong cucu" keluh Arwan.


Semuanya terkekeh mendengar keluhan Arwan. Angga dan Randi cukup tertutup mengenai perempuan.


"Anak-anak memang begitu, Arwan. Biarkan mereka memilih waktunya masing-masing. Jangan tekan mereka, mereka akan membawakan calon menantu untuk kalian" kata Ares bijak.


"Athena manggil aku opa kalau minta cibu doang" lapor Erlan.


"Aku juga gitu, Erlan." keluh Arwan.


"Emang cuman Lathief kok yang terbaik. Ditempelin terus kayak perangko" Erlan mencibir.


"Maafkan mereka yah Mr. dan Mrs. Maheswari, mereka memang begini kalau bertemu. Apa-apa menjadi bahan cibiran" ucap Aina.


Raka dan Dina terkekeh.


"Mereka semua lucu, Bu Aina" kata Dina.


"Lucu, tapi pengen aku pites juga" greget Priska.


Sementara di kelompok lain, para kaum millenial sedang asyik menggoda Mika dan Ivana.


"Pengantin baru, uhhhui" seru Rafa.


"Mukanya berseri-seri" sambung Angga.


Ivana menyembunyikan wajahnya dipundak Mika.


"Udah udah. Ivana malu nih" kata Mika, meminta agar sahabatnya diam.


"Bikin ponakan yang banyak, Ka. Angga pasti suka" kata Randi.


"Ohiya dong. Rich uncle nih" Angga dengan bangga menyugar rambutnya.


"Gimana Ren urusan Lo di sana?" tanya Mika.


"Aman, bang. Selesai tepat waktu" jawab Renal.


Rafa merekam semuanya dalam ingatannya. Ia akan meninggalkan semua ini, meninggalkan anaknya. Anaknya pasti akan sangat beruntung dibesarkan oleh mereka semua. Dan ia akan pergi dengan tenang menyusul papi dan maminya.