
Karena ditegur oleh Arwini, Alda kini sedang menikmati fasilitas salon kecantikan sambil mendengarkan musik. Kadang-kadang terdengar lirihan suaranya mengikuti alunan lagu tersebut.
"Ini mbak" kata Alda menyerahkan kartu kreditnya untuk membayar biaya salonnya hari ini.
"Maaf mbak, tadi pagi udah dikonfirmasi sama ibu Arwini kok" kata mbak tadi sambil menolak kartu yang Alda berikan.
"Owalaaah, mama Arwini ternyata" Alda lalu memasukkan kembali kartunya, kemudian mengambil dua lembar uang seratus ribuan.
"Untuk mbak. Terimakasih yah" katanya.
Mbak tadi kaget.
"Gak usah, mbak." Katanya.
"Diterima lah, mbak. Makasih yah udah rawat Alda barusan." Alda memaksa. Ia meletakkan uang tersebut di tangan mbak-mbak tadi. Kemudian berjalan keluar meninggalkan salon.
Ia lalu menekan lift untuk sampai di lantai teratas mall tersebut. Ia akan menghabiskan harinya di time zone.
Alda mengelilingi time zone, memainkan satu permainan hingga permainan lainnya. Saat dirasa hari udah sore, Alda kembali ke lantai dasar, mendatangi resto dengan makanan khas daerah.
Ia memesan kemudian mencari tempat duduk. Alda memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.
"Hmmm" seseorang berdehem kemudian duduk di kursi depan Alda.
Alda mendongak.
"Oo hai Ren" sapanya.
"Ngapain kamu disini, kak" tanya Renal.
"Kamu?" Alda menaikkan sebelah alisnya.
"Yah, kamu dong" jawab Renal santai.
"Lagi makanlah" ketus Alda.
Renal terkekeh mendengar jawaban ketus dari seniornya.
"Gak boleh ngomong ketus, nanti gak cantik lagi. Gak manis lagi" goda Renal.
"Terserah Renal dehh" kata Alda putus asa.
Makanan datang dibawa oleh dua orang pelayan.
'Lhoo, makanannya kok banyak. Perasaan tadi Alda pesannya gak banyak gini" heran Alda.
"Ini juga buat aku. Tadi aku juga pesan." Timpal Renal.
Alda hanya mengangguk mengerti.
"Terimakasih, mbak" katanya.
"Suka banget makan coto?" Tanya Renal melihat makanan yang Alda makan.
Alda mengangguk.
"Enak tahu. Daging dengan kuah yang banyak kacangnya. Dikasih sambel dan perasan jeruk, mantap" jawab Alda antusias.
"Pake nasi juga?" Tanya Renal.
"Ya. Makan nasi juga supaya kenyang"
"Gak takut gemuk?"
Alda menggeleng.
"Makan gih" perintahnya.
Mereka makan dalam keheningan. Sesekali Renal memperhatikan Alda yang begitu menikmati coto dengan nasi putih.
"Mbak, bill meja nomor 9" kata Alda.
"Udah dibayar, mbak" jawab pelayan.
Alda heran.
"Yang bayar siapa, mbak?"
"Mas yang depan mbak" jawab pelayan.
Alda hanya mengangguk.
"Berapa, Ren?" Tanya Alda gak enak.
"Apaan sih Al? Udah yuk temanin aku jalan" kata Renal acuh kemudian menarik Alda.
Alda hanya pasrah. Tangannya yang mungil berada dalam genggaman tangan besar Renal. Mereka berjalan menuju stand sepatu.
"Temanin aku beli sepatu, yah" pinta Renal.
Alda hanya mengangguk, mengikuti kemana langkah Renal.
"Suka banget koleksi sepatu?" Tanya Alda.
Renal menggeleng.
"Kalau aku jarang beli sih. Paling mama atau papa yang beliin. Kebetulan pekan depan aku ada pertandingan basket, yah aku beli" jawab Renal.
"Kamu mau tanding?" Tanya Alda memastikan.
"Iya, kamu nonton yah."
"Wajib banget?" Tanya Alda.
"Yah wajib. Biar aku semangat" jawab Renal.
Setelah membayar, Renal kembali menggenggam tangan Alda. Sementara sebelah tangannya yang lain membawa paper bag.
"Bentar Ren, aku telpon Mika dulu biar dijemput" Alda berusaha melepaskan tangannya yang berada digenggaman Renal.
"Aku aja yang antar" kata Renal tak mau melepaskan tangan Alda.
"Lagian tangan kamu pas banget di tangan aku" katanya.
"Apaan sih?" Rona merah muncul di wajah Alda.
"Coba liat ini." Renal membuka telapak tangannya, kemudian membawa tangan Alda untuk menutupi sela jarinya.
"Pas kan?"
"Terserah Renal deh" pasrah Alda.
Renal terkekeh. Ia kemudian megelus rambut Alda lembut.
"Nyalain mobilnya gih. Udah malam" perintah Alda.
"Siap tuan putri" Renal menyalakan mobil, meninggalkan mall.
"Kamu kok bisa ada di resto?" Tanya Alda.
"Ya karna aku liat kamu, aku ikut masuk. Mumpung lagi lapar juga" jawab Renal.
"Emang tujuan awalnya kemana?"
"Beli sepatu. Tapi aku liat ada gadis duduk sendiri di resto, yah aku samperin. Terus aku minta untuk nemenin aku beli sepatu. Kapan lagi coba aku beli sepatu sama gadis manis tapi galak ini" goda Renal.
"Emang aku galak?" Tanya Alda tanpa sadar.
Renal mengangguk.
"Galak banget."
"Kapan aku galakin kamu?"
Renal diam sejenak.
"Waktu MOS sama kalau aku lagi genggam tangan kamu" jawabnya.
"Terserah Renal, deh" Alda membuang tatapannya keluar jendela.
Perjalanan kembali hening sampai mobil berhenti didepan rumah 05.
"Terimakasih" kata Alda ketus sambil berusaha membuka pintu tanpa melihat ke arah Renal.
Renal hanya diam saja.
"Buka kuncinya, Ren" kata Alda masih membelakangi Renal.
"Gak mau sebelum kamu liat aku" Renal mulai penawaran.
Alda kembali memutar badannya menghadap ke depan. Ia lalu menoleh ke arah Renal.
Renal mengelus rambut Alda. Merapikan menggunakan jari-jari nya.
"Kamu galak, Al. Tapi aku suka." Ucap Renal lembut.
Alda hanya diam dengan wajah datarnya.
"Jangan ngambek lagi. Ayok senyum" Renal mencubit pipi Alda agar terlihat seperti orang yang senyum.
"Apaan sih Ren?" Tanya Alda malu-malu sambil berusaha melepaskan tangan Renal dari pipinya.
"Nah kan, senyum gini cantik."
"Udah. Aku masuk dulu. Terimakasih" ucap Alda.
Renal mengangguk kemudian menekan tombol untuk membuka kunci dipintu penumpang.
"Selamat malam" katanya.
"Selamat malam juga, tuan" kata Alda kemudian turun dari mobil.
Ia menunggu mobil itu jalan kemudian memasuki gerbang.
Sementara di rumah 06 di lantai 2, empat orang lelaki kurang kerjaan sedang melihat adegan tadi.
"Pantas aja hp gue gak bunyi. Tuh anak ternyata disopirin anaknya pak Maheswari" kata Mika.
"Pesona kita mulai pudar. Dedek gemesh udah lirik yang lain" galau Rafa.
"Yah gimana lagi. Alda udah besar, kita juga bakal punya kesibukan masing-masing. Biarin Alda bersosialisasi dengan yang lain. Jangan posesif kalian pada" jelas Angga.
Semuanya mengangguk mendengar petuah dari bapak Angga.
"Tapi adek gua gak dicium kan tadi?" tanya Mika ngaco.
Dengan cepat Randi menjitak kepala Mika.
"Sembarang aja kalo ngomong"
"Ya kali tuh anak baik-baik aja kalau dia berani cium dedek gemesh" ucap Rafa.
"Ya kan gua cuma nanya." kata Mika sambil mengelus jidatnya yang habis dijitak.
"Udah yok. Gue mau ke Alda dulu minta makan" Angga berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan ketiga temannya.
Mendengar ucapan Angga, mereka bertiga berlomba menyusul Angga.