
Okan dan Indi mengantarkan Rafa dan Athena ke bandara. Mereka sudah ditunggu oleh orang-orang utusan Mika. Yah, sehari yang lalu, Mika berhasil mendeteksi keberadaan Alda setelah mencarinya selama 2x 24 jam.
"Athena, sayangnya onti, hati-hati yah nak." Athena masih berada dalam gendongan Indi.
Athena terkekeh.
"Onti Ndiiiii" riang Athena.
"Pinter nih anaknya om Okan" Okan mencubit pipi Athena. Ia begitu gemes. Ia juga tentu saja tak sabar menunggu kelahiran anaknya.
"Raf, fotoin kita bertiga dong" suruh Indi.
Ia ingin mengabadikan momen saat ini. Athena berada dalam gendongannya, sedangkan Okan merangkul bahu Indi.
"Minta orangnya Mika fotoin dong. Biar Lo ikut ambil foto" Indi bertitah lagi.
"Jake, tolong" ucap Rafa.
Jake mengangguk. Ia memotret Rafa dan sahabatnya.
"Okan, makasih banget buat bantuan Lo. Tolong jangan lupain Athena. Sesekali datanglah ke kota A." kata Rafa.
Okan mengangguk.
"Indi, thanks juga. Gue udah repotin Lo banget. Gue pamit" Rafa mengambil Athena dari gendongan Indi. Rafa memeluk Indi dan Okan bergantian.
"Raf, you did. Terima kasih udah berusaha" kata Okan melepas kepergian sahabatnya.
Sesampainya di jet pribadi milik Arunika, Rafa kaget melihat Renal yang sudah duduk dengan tenang.
"Dediii" sapa Athena pada Renal.
Renal terkekeh mendengar sapaan Athena. Ini adalah kali kedua mereka bertemu, dan Athena dengan senang hati memanggilnya Daddy.
"Athena cantik" Renal menggelitik perut Athena sehingga Athena tertawa lepas khas bayi.
Rafa mengangguk.
"Sebelum orang-orang Mika sampai, gue emang udah berencana untuk pulang. Lo ingat kan waktu kita ketemu di rumah sakit?" tanya Rafa.
Renal mengangguk.
"Setelah ketemu dokter dan tahu hasilnya, gue udah yakin untuk pulang." jelas Rafa.
"You okay, bang?" tanya Renal.
"As you see, I'm okay. Bentar lagi gue bakal ngumpul bareng keluarga gue" jawab Rafa.
"Dengan Lo ninggalin Athena?" tanya Renal dengan nada yang sedikit emosi.
"Seandainya bisa memilih, gue pasti bakal memilih untuk sembuh Ren, setidaknya biar gue bisa liat Athena besar" kata Rafa.
"Lo bisa sembuh, bang. Seandainya Lo gak nyembunyiin ini semua, gue yakin om Lathief bakal lakuin hal terbaik buat Lo"
"Ditinggalin papi dan mami, gue juga rasanya pengen nyusul mereka. Dan Tuhan mengabulkan itu saat sudah ada Athena, saat gue memilih untuk bertahan. Hidup gak pernah ketebak Ren" jelas Rafa.
"Pi, sleep" Athena merentangkan tangannya ke arah Rafa, meminta untuk ditidurkan.
Rafa memindahkan Athena kepangkuannya, menepuk pelan paha anak itu.
"Ren, gue bisakan percaya Lo buat jagain Athena?" tanya Rafa setelah membaringkan Athena di kabin.
"Gimana, bang?" tanya Renal.
"Gue tahu Lo sedang memperjuangkan Alda. Jika suatu saat perjuangan Lo berhasil, gue harap Lo bisa bantu Alda buat jagain anak gue." Rafa begitu putus asa.
Ia bisa saja membawa Athena ke mama kandungnya, tapi ia merasa tidak sanggup. Ia tak pernah bisa percaya pada perempuan itu. Satu-satunya harapan Rafa adalah sahabatnya, Alda. Ia sangat mengenal Alda, Alda tentu tak pernah mengecewakan nya , ia bahkan dengan sukarela merawat Athena sejak bayi hingga berumur 9 bulan. Rafalah yang membuat Alda kecewa, ia pergi membawa Athena tanpa pamit.
"Jikalau pun nanti Lo gak ingin Athena hidup bareng Lo dan Alda, Lo bisa minta bantuan om Lathief buat ngurus semuanya. Semua hal tentang Athena dan segala harta punya gue, gue minta om Lathief yang kelola. Thanks, Ren." kata Rafa sebelum meninggalkan Renal.