
Setelah lamaran diterima, Dina dan Aina begitu sibuk kesana kemari mengurus semuanya. Alda meminta untuk menikah di pulau RelFath. Tentu bukan hal yang sulit untuk keluarga Maheswari menyetujuinya. Mereka akan mendatangi langsung pulau RelFath tanpa harus menunggu bertahun-tahun. Dan yang lebih penting lagi, Renal, sang anak akan melaksanakan resepsi disana.
H-7, semua orang dalam perjalanan menuju RelFath, kecuali Renal tentunya. Ia akan menyusul lusa. Lathief meminta mereka untuk berangkat bersama-sama. Tak lupa ia membawa keluarga Arwan dan Erlan untuk menyaksikan hari bahagia untuk putrinya.
Mendengar kabar Alda akan menikah, Arwan dan Erlan mendadak galau. Ia akan melepaskan anak gadisnya untuk menikah, membersamai kehidupan suaminya kelak. Jiwa bapak bapak mereka terasa tersentil. Perasaan mereka membaik setelah Alda mengucapkan bahwa ia akan tetap berada di Arunika. Lathief memintanya untuk tetap berada dalam lingkungan Arunika.
Yang paling bersyukur tentu saja Ares. Ia akan menikmati waktu senjanya bersama istri, anak, menantu, besan dan cucu-cucunya. Ia dan sang istri akan meninggalkan jejaknya di dunia bisnis.
"Rumor tentang Arunika memang tidak pernah main-main." ucap Raka takjub.
Ia baru menginjakkan kakinya di kapal pesiar milik besannya.
Lathief hanya tersenyum kalem mendengarnya.
"Ini hanya titipan. Kebetulan kami diberi titipan ini di dunia" katanya bijak.
"Mulai merendah" cibir Arwan.
"Untuk meroket" sambung Erlan.
Lathief dan Raka terkekeh kecil mendengar cibiran dua bapak-bapak didepannya.
"Dalam rangka apa beli beginian? Bukannya pajaknya juga waw yah?" tanya Raka.
"Dalam rangka anaknya berumur 17 tahun. Tahu-tahu beli beginian sebagai hadiah. Mana alasannya agar mudah kalau mau bepergian apa party" omel Erlan.
"Bukannya kamu juga lebih dari mampu buat beli ginian?" tanya Arwan.
Raka menggeleng.
"Aku belum se-jaya Arunika. Renal aja sempat insecure buat lamar Alda." curhat Raka.
Lathief menepuk bahu calon besannya.
"Sekali lagi aku tekankan, ini semua hanyalah titipan. Kita gak tahu sampai kapan ini akan dititipkan pada kami. Tentang Renal yang insecure, sungguh, aku, papa, aba dan semuanya tidak pernah memandang seseorang dari fisik dan materinya. Kita semua sama" kata Lathief panjang lebar.
Sementara dibagian lain yacht, Alda sedang digoda oleh Priska dan Arwini.
"Bentar lagi jadi bini orang" kata Priska.
Alda memeluk kedua wanita yang disayanginya.
"Nggaklah. Kalian semua mama Alda." katanya.
"Dina, jangan larang Alda yah buat kunjungi kami" pinta Arwini.
Dina mengangguk.
"Ya, nggaklah Win."
"Kalian lebay. Alda juga akan tinggal di Arunika. Jangan lebay deh. Lebih baik pikirin itu dua anak bujang, udah tua kok yah belum nikah. Kalian gak mau juga dapat mantu?" oceh Aina.
"Randi dingin gitu, Na. Mana ada cewek yang tahan sama dia?" ucap Priska.
"Hooh, Na. Angga juga kebanyakan main, mana sempat dia pikirin kayak begituan"Arwini menimpali.
Aina terkekeh.
"Kalian yang sabar dong" katanya.
"Iya dehh yang bentar lagi dapat menantu baru"
Dina juga ikut tertawa mendengar cibiran Arwini.
"Athena mana, Al?" tanya Priska yang tidak melihat keberadaan Athena.
"Lagi tidur dia. Sama mbak Ni" jawab Alda. Ia mengeratkan pelukannya pada Arwini.
"Kok aku rindu sama mama Rina yah?" ucapnya lirih.
Priska mengelus pundak anak gadisnya itu. Menenangkannya.
"Kan kemarin udah ngomong ke mereka. Mereka pasti senang lihat anak gadisnya bahagia. Jangan sedih yah sayang" ucap Priska.
Aina, Dina dan Arwini tentu saja mengerti dengan perasaan rindu Alda kepada Rina. Mereka sangat dekat. Bahkan di detik-detik terakhir sebelum Rina pergi, ia menitipkan Rafa kepada mereka semua. Namun hal lain terjadi, Rafa menyusul kepergian kedua orang tuanya.