Renalda

Renalda
Yumah Oma



Alda yang melihat pintu utama terbuka, dengan gesit melewati pintu itu. Rambut sebahunya yang tidak dikuncir naik turun mengikuti langkah Alda.


"Lho, mau kemana nona?" tanya penjaga gerbang.


"Mawu yumah Oma, om." jawab Alda sambil mendongak.


Om-om di depannya tinggi bener.


"Daddy sama mamanya gak ikut?" tanya Om-om itu lagi.


Athena menggeleng.


"Mawuu yumah Oma Na" paksa Alda agar dibukain gerbang.


"Kamu bukain gih, terus ikutin dari belakang. Ntar kita laporan" suruh temannya.


"Yaudah, om temenin yah. Om antar sampai rumah Oma." kata om itu.


Alda mengangguk. Dengan langkah kecilnya ia menelusuri jalan kompleks. Matahari sedang panas-panasnya, dan Athena hanya mengenakan baju kaos dan bawahan rok mini.


Tok tok tok


Pengawal tadi dengan sopan mengetuk pintu.


Aina yang sepertinya memang akan membuka pintu jadi kaget. Ia tahu orang di depannya adalah penjaga rumah Alda. Tapi apa yang membawanya kesini.


"Ada apa?" tanya Aina.


Ia belum melihat keberadaan cucunya yang masih pendek.


"Maaf, nyonya. Saya hanya mengantar nona kecil kemari" ucap orang itu tak enak.


Barulah Aina melihat turun. Cucunya terlihat begitu lepek.


"Lho, mommy Daddy nya kemana?" tanya Aina.


"Maaf, nyonya. Tuan sedang ke rumah tuan Raka, sedangkan nyonya Alda mungkin sedang menjaga tuan kecil" jawab orang itu.


Aina mengangguk.


"Maacii om. Bubayyy tiati" Athena melambaikan tangannya pada om-om yang sudah mengantarnya tadi.


Aina menggandeng tangan cucunya memasuki ruang keluarga. Disana sudah ada Lathief.


"Lho?"


"Opa" Athena lalu nemplok di badan Opanya.


"Cucu opa ada apa kemari? Mommy mana? Daddy juga mana?" tanya Lathief.


Athena mengusap air matanya yang sudah jatuh.


"Tadi mama mayah. Teyiak hiksss"


"Lho lho?!" Aina ikut menenangkan cucunya.


"The cenam, oyah yaga cama dedi. Mama macuk cama Pan, The mawu ciyum Pan, tapi mama teyiak NO The" Athena bercerita dengan versinya sendiri.


"Jadi The ngambek sama mommy nya?" tanya Aina.


Athena menggeleng.


"Yakut mama." lirihnya.


Lathief melihat ke arah istrinya yang kebetulan sedang melihatnya juga.


"Mommy gak sengaja kali." ucap Lathief lembut.


Yah, orang-orang memanggil Alda dengan sebutan mommy karena panggilan mama dan Daddy terdengar tidak cocok. Apalagi Mika dan Ivana juga dipanggil mama papa.


"The yakut" katanya.


Lathief menepuk pelan bahu cucunya yang masih menjadikan dadanya sandaran.


"Opa dan Oma mau pergi. The mau ikut nggak?" tanya Aina.


"Mana mana?" tanya Athena mengangkat kepalanya dari dada sang opa.


"Kita ke puncak. Jemput kakek Hans sama Oma Karina" seru Aina.


Athena bertepuk tangan.


"Tapi The ganti baju dulu yah. Ayo sayang kita pulang ke rumah The dulu buat ganti baju" ajak Aina.


Athena menggeleng. Ia menenggelamkan kembali wajahnya di dada sang opa.


"Ngambek bener dia." lirih Aina.


"Yaudah, kita berangkat sekarang. Ntar bajunya The disiapin sama mbak yah" putus Lathief.


Hari semakin sore, ia takut perjalanan ke puncak akan macet.


Aina menelpon mbak yang di puncak, diminta untuk menyiapkan baju untuk Athena.


Athena duduk dengan tenang di antara Oma dan Opanya.


"Kamu udah kirim pesan ke Renal?" Tanya Aina.


Lathief mengangguk.


"Padahal tadi ia ke rumah Raka bertanya gimana caranya supaya anak gak ngambek lagi." kata Lathief.


"Oma, ada bayoon" tunjuk Athena pada balon yang dijual oleh seorang anak di lampu merah.


Lathief meminta sopirnya membeli balon untuk cucunya.


"Maacii opa, maacii Oma. Maacii om, maacii akak jual bayoon" oceh Athena saat balonnya sudah berada dipangkuannya.