Renalda

Renalda
Turnamen Basket 2



Pertandingan kian memanas. Mereka saling mengejar point.


"Gila sih ini" komentar Dian.


Alda harap-harap cemas.


"Kok aku greget yah nontonnya" ucap Alda.


"Sama, Al" Dian begitu bersungut.


Priit


Suara sumpritan wasit berbunyi nyaring. Para pemain diberi waktu istirahat 5 menit.


Dengan napas yang tidak teratur, para pemain berjalan ke pinggir lapangan.


Tanpa diminta, Alda memberikan botol minum ke Renal.


"Thanks" ucap Renal.


Keringat bercucuran begitu deras di wajah Renal, orang yang melihatnya bukannya ilfil malah terlihat begitu histeris.


"Kece gila sih Renal"


"Hot banget tuh"


"My future husband gue tuh"


Percakapan terdengar dari berbagai arah.


"Sandi juga tuhh, keren badai"


"Alex kok lucu gitu"


"Hooh, Rian juga"


Alda memperhatikan Renal yang kini sedang mengatur napasnya agar kembali normal.


"Berjuang semampunya" ucap Alda.


Renal menoleh, melihat Alda yang kini sedang menatapnya.


"With my pleasure, nona" katanya.


Bunyi sumpritan kembali terdengar. Babak terakhir dimulai. Pertandingan kian sengit. Dua klub basket dari SMA ternama sedang beradu kemampuan untuk menjadi pemenang.


"REN, AWAS" teriak Alda saat seorang lawan sengaja menabrak nya agar shoot yang Renal lakukan tidak berhasil.


"Lex" teriak Renal siaga sebelum melempar bola pada Sandi dan tersungkur ke lapangan.


PRRRRIIIIT


Bunyi sumpritan menandakan pertandingan berakhir. SMA Maheswari keluar sebagai pemenang. Bola yang Renal oper ke Sandi menjadi penentu kemenangan. Sandi yang menerima operan bola dari Renal pun langsung men-shoot bola orange tersebut hingga mencetak three point. Lawan jengah saat Renal menyebut nama Alex, hingga tidak ada lawan yang mengawasi Sandi.


"YEAAAAY, MAHESWARI THE BEST"


Teriak pendukung dari kubu Maheswari.


"Sorry, Ren" ucap lawan tadi yang menabraknya.


"Santai, Yo" Renal menimpali sambil berhi-five.


Rio Ferdinand. Anak basket dari SMA Angkasa.


Dengan langkah tertatih, Renal mendekati Alda yang berdiri menantinya.


"You okay?" tanya Alda dengan raut cemasnya.


Renal tersenyum.


"I'm okay" jawabnya.


Renal duduk, tak lupa menarik tangan Alda agar ikut duduk didekat nya.


"Kak Alda, punya minum gak? Air gue habis" tanya Rian.


Alda membuka ransel yang tadi dibawanya. Ia mengambil minum untuk Rian. Sengaja ia membawa 5 botol air mineral untuk berjaga-jaga.


"Thanks, kak" kata Rian.


Alda mengangguk.


"Habis ini kita ke resto dulu. Makan-makan cuyy" teriak Ali, sang kapten basket yang sebentar lagi lengser.


"Lo nih kak yang traktir?" tanya Alex.


Ali menggeleng.


"Pak Irwan lah. Iya gak pak?"


Pak Irwan, selaku pelatih basket hanya mengangguk pasrah. Hitung-hitung hadiah karena mereka telah berusaha.


Mendengar percakapan anak basket, Alda mengambil ponselnya.


Tapi baru hendak membuka kunci ponselnya, Renal merebut ponsel itu dari tangan Alda.


"Lhoo kok?"


"Kamu gak boleh pulang. Temanin aku dulu" kata Renal.


"Kamu kan mau kumpul dulu bareng teman basketmu. Aku telpon Brandon dulu biar dijemput" jelas Alda berusaha mengambil ponselnya.


Renal menggeleng.


"Kamu ikut kumpul bareng mereka."


"Yah gak bisa, Ren. Malu aku tuh"


"Ngapain malu sih. Kak Dian juga ikut" Renal kekeuh mengajak Alda.


Dian yang mendengar percakapan kedua anak manusia tanpa status itu ikut nimbrung.


"Iya, Al. Ikut aja. Aku juga ikut kok" kata Dian.


"Emang gak apa-apa? Ntar pak Iwan marah lagi" ucap Alda tak enak.


"Apaan nih sebut-sebut nama bapak?" tanya pak Irwan yang merasa namanya disebut.


"Anak emas bapak nih, malu katanya ikut ke resto" Dian dengan mulut lemesnya mengadu.


"Alda dari dulu emang pemalu, sih. Yok berangkat rame-rame" ajak Pak Irwan.


"Shareloc yah pak. Kami ganti baju dulu" kata Ali mewakili semua temannya.


Pak Irwan menaikkan jempolnya, tanda aman.


Renal menyerahkan kunci mobilnya pada Alda.


"Kamu tunggu dimobil. Nopolnya R 3 Nl" katanya.


"Gampang lah Al, tadi kesininya gue dijemput Sandi. Jadi gue sama Sandi" jawab Dian.


Alda mengangguk.


"Yaudah" katanya sambil berjalan menuju parkiran.


R 3 NL.


Alda menemukannya. Ia membuka pintu penumpang depan. Sebuah coklat dan bucket baby breath tertata rapi di kursi penumpang. Alda memindahkan semuanya ke kursi belakang kemudian duduk.


"Lho kok bunganya gak diterima?" tanya Renal saat melihat bunga dan coklat yang ia siapkan hanya menjadi penumpang kursi belakang.


"Emang buat aku?" tanya Alda


"Ya iyalah, Al. Buat siapa lagi coba?" greget Renal.


"Buat yang lain kali" timpal Alda.


"Emang kamu gak bisa baca? Kan udah aku tulis 'Thanks, Al' dalam kertas di bucket itu."


Alda nyengir.


"Aku gak buka kertasnya. Takutnya bukan untuk aku" kata Alda.


Alda mengambil bunga tersebut, tak lupa cokelatnya juga.


"Ngapain coba ngasih bunga?" tanya Alda.


"Biar kamu seneng sih" jawab Renal.


Ponsel Alda bunyi.


"Ponselku mana?" tanyanya .


Mika menunjuk ranselnya dengan dagu.


Alda membuka tas Mika, mencari ponselnya. Ia melihat id orang yang menelponnya. Ternyata Mika. Ia segera mengangkat.


'adek lagi dimana? pertandingan udah kan?'


Tanya Mika diseberang.


'Adek lagi di jalan.'


'Brandon udah jemput yah!'


Tanya Mika lagi.


'Adek dianterin Renal. Tapi diajak makan dulu sama pak Irwan. Jadi pulangnya agak telat'


Alda memberitahu kakaknya.


'Owalah, ku kira Brandon yang jemput. Bilang Renal hati-hati nyetirnya. Kakak tutup dulu telponnya. Have fun , dek '


'Bye, kak'


Telpon pun terputus.


"Bang Mika, yah?" tanya Renal.


Alda mengangguk.


"Gak apa-apa kan pulangnya agak telat?" tanya Renal.


"Iya, lagian aku udah bilang kak Mika kok" jawab Alda.


Sore sudah menyapa penduduk bumi. Beberapa dari anak club basket mulai berpamitan.


"Yan, aku duluan yah. Sandi, Alex, Rian aku pamit" ucap Alda.


"Hati-hati, Al. Kapan-kapan kita hang out yah" kata Dian sambil memeluk Alda singkat.


Alda mengangguk.


"Gue cabut dulu, bro, kak Dian" kata Renal.


"Hati-hati nyetirnya" pesan Dian.


Alda menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Renal yang sambil menyetir. Renal mengelus kepala Alda.


"Capek banget yah?" tanyanya.


Alda mengangguk.


"Tidur dulu gih. Nanti aku bangunin kalau udah nyampe" saran Renal.


"Gak usah. Udah sore juga" tolak Alda.


Mereka sampai di kediaman Alda saat jingga sudah menguasai langit. Saat Alda sudah turun dari mobil, nampak mobiil lain berhenti dibelakang mobil Renal.


Lathief dan Aina ikut turun dari kursi penumpang bagian belakang.


Tanpa diminta pun, Renal juga ikut turun untuk menyapa Lathief dan Aina. Padahal ia baru akan menginjak gas mobilnya.


"Baru pulang dek?" tanya Aina.


"Iya, ma. Baru aja nyampai" jawab Alda.


"Maaf pak, Bu, tadi saya ngajak Alda makan dulu bareng yang lain" ucap Renal tak enak hati.


Lathief terkekeh melihat ekspresi Renal.


"Santai, nak. Om gak makan orang kok" Lathief mencoba mencairkan suasana agar wajah Renal bisa dikondisikan.


"Sekali lagi, maaf om" kata Renal dengan wajah yang sudah lumayan santai.


"Sini, masuk dulu." ajak Aina.


"Maaf Tante, udah hampir gelap. Saya pamit pulang." ucap Renal sambil menyalaminya Lathief dan Aina bergantian.


"Hati-hati yah, nak" pesan Aina.


Setelah mobil Renal hilang dari pandangan, Alda masuk ke rumah dengan papa dan mamanya.


"Anak papa udah besar ternyata. Pulang-pulang bawa menantu dan bunga"goda Lathief.


Pipi Alda bersemu merah.


"So sweet banget tadi pas dilapangan. Dirangkul gitu. Cowoknya posesif ternyata" Aina ikut menggoda anaknya.


"Apaan deh ma, pa?" lirih Alda.


"Jaga diri yah, dek" pesan Lathief sambil mencium kening anaknya, yang tak lupa Alda balas dengan memeluk papanya.


"Sana gih, bersih-bersih " perintah Aina.


Sebelum menuju kamarnya, Alda menyempatkan mencium pipi mamanya.